Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
35


__ADS_3

Pak Sukoco tidak sampai hati melihat anaknya yang menangis memohon seperti itu. Bunda Andara ikut duduk disebelah Zura, dan memeluk anak gadis sulungnya itu. Gadis yang baik dan tidak sombong, harus menerima kenyataan pahit dan kecewa dengan yang namanya cinta.


Afnan masih menatap Zura yang tidak berhenti menangis.


"Apa kamu tidak iba melihat anak sulungnya sampai seperti ini Afnan! Harus menelan pil pahit karena orang yang selama ini Zura inginkan malah menginginkan gadis lain yang tidak selevel denganmu," ucap Bunda Andara dengan geram. Tatapannya tajam ke arah Afnan yang berdiri mematung agak jauh dari Zura dan Bunda Andara.


Afnan masih menyimak dan mendengarkan jelas ucapan yang menyakitkan terlontar dari mulut Bunda Andara. Afnan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, kedua tangannya terkepal kesal. Gadis pujaannya adalah gadis baik-baik dan berasal dari keluarga terhormat.


"Cukup Bunda! Jangan pernah hina lagi calon istriku, 'Ayumi adalah wanita baik-baik dan berasal dari keluarga terhormat. Afnan bukan lelaki yang menginginkan materi, jabatan, atau suatu kehormatan. Afnan hanya ingin orang yang tulus dan ikhlas menerima Afnan," ucap Afnan dengan tegas menjelaskan.


"Persetan dengan hidup! Semuanya butuh uang, gak perlu munafik kamu jadi lelaki!" teriak Bunda Andara semakin keras.


Tangisan Zura semakin keras dan kencang, Zura merasa ada dosa besar yang tersembunyi. Tidak ada satu pun keluarganya yang tahu akan hal ini. Zura memang bukanlah wanita yang baik sesuai keinginan Afnan.


"Sudah cukup! Tolong jangan sudutkan putra kesayangan saya, Dara!" tegas Kyai Toha sambil menunjuk kearah Bunda Andara dengan satu telunjuknya.


"Kamu dan putramu ini sama saja Toha. Kalian tidak punya hati dan perasaan, semua wanita itu sakit dan kecewa bila diperlakukan seperti ini!" ucap Bunda Andara semakin berapi-api.


Pak Sukoco menatap Kyai Toha dengan tajam, apa yang terjadi di masa lalu dengan keduanya hingga mereka berdua bisa saling melempar debat.


Sorot mata Bunda Andara semakin tajam ke arah Kyai Toha. Napas Bunda Andara semakin tidak beraturan dan degub jantungnya semakin cepat berdetak tak karuan.


Aib yang selama ini ditutupi, terbongkar sudah karena ulahnya sendiri yang tidak bisa menahan amarah.


"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Pak Sukoco dengan geram. Wajahnya memerah memendam amarah.

__ADS_1


Kedua matanya menyorot tajam ke arah Kyai Toha dan Bunda Andara secara bergantian.


"Mas Sukoco, kami tidak ada apa-apa. Ini hanya sebuah kesalahpahaman," ucap Bunda Andara lembut. Suaranya makin melemah karena kesalahannya sedikit terbongkar.


Kyai Toha hanya tersenyum kecut menatap Bunda Andara yang terlihat kacau dan bingung.


"Ada apa Toha? Apa kamu tahu sesuatu tentang Dara, istriku? Kamu sahabatku Toha, tentu perkataanmu itu adalah suatu kejujuran dan kebenaran," ucap Pak Sukoco sedikit kesal.


"Tanyakan pada Dara, istrimu. Apa yang terjadi dan apa yang sudah dia lakukan dulu," ucap Kyai Toha pelan.


Nada suara Kyai Toha tidak tinggi namun mengisyaratkan sesuatu yang tidak baik.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku Dara!" teriak Pak Sukoco keras. Tubuhnya kini memanas dan bergetar hebat karena menahan nafsu amarahnya.


Bunda Andara berdiri lalu memeluk Pak Sukoco dengan erat. Pelukannya semakin turun seimbang dengan tubuh Bunda Andara yang ikut turun bersujud di hadapan Pak Sukoco.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku," ucap Bunda Andara memohon.


Drama keluarga itu makin terlihat seru, sedih dan makin komplek permasalahannya.


Bunda Icha dan Ayumi hanya diam tak bersuara menatap kejadian yang sejak tadi terjadi di ruang keluarga. Begitu juga dengan Afnan yang menatap Bunda Andara bersimpuh di kaki Pak Sukoco, suaminya.


Zura yang masih menangis juga ikut menatap iba Sang Bunda yang terus memegangi kedua kaki Pak Sukock, suaminya yang telah Bunda Dara nikahi lebih dari dua puluh tahun lamanya.


Rara, gadis itu hanya diam. Raut wajahnya terlihat biasa saja, tidak ada kesedihan yang ditampakkan.

__ADS_1


"Katakan Dara! Jangan kamu pancing emosiku Dara!" ucap Pak Sukoco keras dan lantang. Suara Pak Sukoco menggelegar di ruang keluarga, nafsu amarahnya sudah mulai nampak tak terkendali.


Bunda Andara terus memegangi kedua kaki suaminya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Bunda Andara tidak sanggup untuk jujur dan mengatakan hal yang akan membuat suaminya kecewa dan sakit hati. Terlebih bila Andara harus melepas nama Sukoco di belakang namanya saat ini.


"Lebih baik jujur Dara. Tidak perlu kamu sembunyikan seperti itu, mau sampai kapan juga, hal itu akan terbongkar dengan sendirinya," ucap Kyai Toha pelan menasehati.


Bunda Andara menatap Kyai Toha lalu menggelengkan kepalanya.


"Jawab Dara!" teriak Pak Sukoco keras membentak Dara, istrinya.


"Mas ..." lirih Bunda Andara yang masih menangis sesegukan. Bunda Andara berusaha tenang dan menghirup napas dalam-dalam dan dikeluarkan melalui mulutnya secara perlahan.


Pak Sukoco menatap tajam Dara, istrinya, menunggu penjelasan tentang apa yang terjadi. Kisah cinta mereka memang sangat singkat, pertemuan mereka juga hanya sebentar, tidak ada waktu untuk mengenal lebih dalam lagi, karena saat itu Ayah Pak Sukoco sedang sakit keras dan menginginkan segera Pak Sukoco menikah.


"Maafkan Dara, Mas. Bertahun-tahun Dara menyimpan rahasia ini sendiri. Dara hancur Mas ..." ucapan Bunda Andara terhenti karena rasa sakit itu kembali terasa walaupun sudah dua puluh tahun lebih kejadian itu ditutup rapat-rapat.


Pak Sukoco menatap Bunda Andara yang terlihat menahan sakit hati dan menjaga emosi batinnya agar tetap stabil. Berkali-kali Bunda Andara menghirup udara segar agar jantungnya tidak berhenti dan dapat memompa darah dengan baik sehingga aliran darah di dalam tubuhnya tetap lancar.


Semua orang hening dan menyimak ucapan Bunda Andara dengan seksama.


"Dara sudah hamil, sebelum menikah denganmu Mas, Zura bukan anakmu, bukan darah dagingnya. Maafkan Dara sudah berbohong dan tidak jujur sejak awal. Dara takut Mas," ucap Bunda Andara dengan bibir bergetar karena takut dengan amukan Pak Sukoco, suaminya.


"Apa yang kamu katakan itu benar Dara! Kenapa kamu mempermainkan aku dan keluargaku yang sudah baik kepadamu! Apa ini balasannya padaku, Dara!" ucap Pak Sukoco lantang memarahi Dara yang hanya tertunduk diam sambil memegang kedua kaki Pak Sukoco.


"Dara tidak tahu, semua berjalan begitu saja. Untuk jujur rasanya sulit sekali, hati Dara tidak tega menyakiti hati Mas Sukoco yang begitu baik dan lembut. Maafkan Dara, Mas," lirih Bunda Andara yang terus saja menangis.

__ADS_1


"Lalu Zura anak siapa Bunda?!" teriak Zura dari tempatnya bersimpuh.


Bunda Andara menatap nanar nasib putri sulungnya yang ternyata hasil perbuatan zina antara Bunda Andara dengan Robby kekasihnya yang selalu Andara banggakan, namun meninggalkan Andara begitu saja seperti sampah.


__ADS_2