
Kahfi sudah bersiap sejak tadi, memakai kaos oblong berkerah berwarna biru Dongker dan celana Levi's dengan warna senada. Seperti biasa style mahasiswa baru yang selalu harus terlihat keren. Rambutnya di Pomade dan sisir rapi ke arah samping. Kacamata hitam sudah terpakai di wajahnya untuk menutupi mata indah agar semakin terlihat menawan.
Ayumi keluar dari kamar tidurnya sudah dalam keadaan rapi dan bersiap untuk pergi bersama Kahfi.
Kemeja panjang yang tidak begitu longgar berwarna peach dipadukan dengan rok panjang hitam yang lebar di bagian bawahnya.
Tas ransel kecil yang sudah nangkring di punggungnya menambah kesan mungil. Hijab pasmina yang cukup panjang berwarna hitam sudah membalut wajah cantik Ayumi, sempurna sudah makhluk ciptaan Allah ini.
"Bunda, Ayumi pergi dulu bersama Kak Kahfi," ucap Ayumi pelan dan mencium punggung tangan Bunda Icha.
"Hati-hati dijalan, jangan pulang kesiangan, kamu harus kembali ke Pondok Pesantren sore nanti," ucap Bunda Icha mengingatkan.
Bunda Icha berada di ruang tamu sambil membereskan toples yang sudah kosong untuk diisi kembali kue-kue kering sebagai suguhan di ruang tamu.
"Siap Bunda, kata Kak Fi juga cuma sebentar," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.
Ayumi berjalan menuju mobil Kahfi yang sudah siap untuk mengantarkan gadis pujaannya menuju tempat yang indah untuk melepaskan beban. Ayumi membuka pintu mobil itu dan duduk di samping Kahfi.
"Jangan lupa pasang sabuk pengaman," ucap Kahfi pelan sambil melirik ke arah Ayumi.
Mendengar ucapan Kahfi, Ayumi langsung memakai sabuk pengaman yang dilingkarkan ke tubuh mungilnya.
Ayumi duduk bersandar di jok kursi penumpang dan memejamkan kedua matanya. Merasakan laju mobil yang pekan membuat perjalanan menjafi lebih nyaman.
"Kamu masih ngantuk, Ay? Kok merem gitu?" tanya Kahfi pelan.
Ayumi melirik ke arah Kahfi sekilas.
"Tidak apa-apa Kak, Ayumi kayak punya dosa sama Rara," ucapan Ayumi terhenti tepat saat Kahfi menginjak rem mobilnya dengan cepat.
Ayimi panik dan kaget hingga berteriak keras.
"Aww," teriak Ayumi keras yang terkejut dan tubuhnya terayun hingga ke depan.
Kahfi menghentikan laju mobilnya dan duduk menyamping ke arah Ayumi hingga mereka berdua saling berhadapan.
"Memang kamu punya salah apa sampai bilang punya dosa sama Rara?," tanya Kahfi dengan rasa penasaran.
Ayumi diam dan menundukkan kepalanya menatap rok hitam yang dipakainya.
"Itu Kak, yang tadi dikamar," jawab Ayumi lirih.
__ADS_1
"Dikamar siapa? Memang kamu melakukan apa dikamar?" tanya Kahfi kembali seolah ingin tahu, padahal Kahfi sedang menahan tawanya agar tidak terlihat oleh Ayumi jika sedang menggoda gadis pujaannya itu.
"Itu yang tadi kita lakukan Kak, dikamar Ayumi," ucap Ayumi pelan menjelaskan kronologi yang terjadi.
"Perasaan Kakak tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh, apa menyuapi kamu itu perbuatan tidak baik?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi. Senyum Kahfi tertahan kala melihat Ayumi terlihat panik dan takut.
Sesekali menggoda gadis pujaannya ini sangat perlu agar tidak terlalu polos dalam berpikir, tidak terlalu lugu dalam menjalani kehidupan ini, agar lebih semangat jika ada yang membuatnya tidak nyaman.
"Bukan yang masalah menyuapi Ayumi, itu tadi lho Kak, yang itu, masa Kakak lupa," ucap Ayumi pelan sambil menggerakkan kedua tangannya disatukan seperti sedang beradu patuk.
"Yang mana sih," ucap Kahfi pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal agar terlihat seperti berpikir keras.
Tin ...
Tin ...
Bunyi klakson mobil di belakang mobil Kahfi yang menyuruh agar mobil segera melaju, lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.
Kahfi dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap ke depan dan memasukkan kopling lalu menekan gas secara perlahan agar mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Dalam hati Kahfi hanya tertawa terbahak-bahak, sudah mengerjai gadis pujaannya itu, hingga mempunyai rasa bersalah kepada sahabatnya.
Kahfi melirik Ayumi dibalik kacamata hitamnya dan menetralkan mimik wajahnya agar terlihat serius.
"Kapan Kakak senyum-senyum? Perasaan Kakak fokus dengan jalanan, bisa nabrak kalau Kakak gak fokus menyetir," tegas Kahfi tanpa menatap Ayumi disampingnya.
Ayumi sekilas melihat jalan dan kembali menatap Kahfi bergantian.
"Ayumi berdosa gak sih?" tanya Ayumi lirih yang masih terdengar oleh Kahfi yang duduk disampingnya.
"Masih berpikir itu dosa besar? Kejadian itu kan tidak disengaja, lagipula apa hubungannya dengan Rara?" tanya Kahfi dengan kesal.
"Karena Kakak sudah menjadi milik Rara," jawab Ayumi dengan polos.
"Ayumi, Ayumi..." ucap Kahfi terkekeh pelan.
Ayumi menatap tajam kepada Kahfi, 'Orang ini bukannya menjawab malah tertawa gak jelas,' batin Ayumi didalam hati.
"Malah ketawa, Ayumi bicara serius Kak?" ucap Ayumi yang tampak kesal dan sedikit sewot. Bibirnya mengerucut ke depan.
"Tolong kondisikan bibirnya kalau gak mau di kuncir," ucap Kahfi sambil tertawa pelan.
__ADS_1
Mobil Kahfi sudah masuk ke pelataran parkiran tempat wisata Kaliurang.
Ayumi dan Kahfi keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam area wisata. Hawa dingin dan sejuk di sekitar daerah Kaliurang membuat mereka berdua semangat berjalan untuk mencapai bukit diatas.
"Mau lihat air terjun dulu? Main air mungkin?" tanya Kahfi kepada Ayumi pelan sambil menunjuk arah air terjun berada.
Ayumi menatap lurus arah telunjuk yang ditunjuk oleh Kahfi, sebuah tempat bebatuan bertumpuk dengan air terjun yang terlihat bening. Wangi aroma air pegunungan dan bebatuan yang terasa segar di indera penciuman Ayumi.
Ayumi menarik napas dalam-dalam hingga udara segar masuk melalui rongga hidung mengalir ke arah paru-paru dan jantung hingga dikeluarkan kembali melalui mulut mungilnya. Rasanya sungguh segar, sejuk dan dingin di dalam tubuh.
"Segar kan, cobain pegang airnya," ucap Kahfi pelan kepada Ayumi.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan dan berjalan ke arah bebatuan yang lebih tinggi untuk mencapai air terjun itu.
Dipegangnya air yang sudah tertampung di antara tumpukan batu alam yang sudah tertata rapi dan tampak asri.
"Airnya dingin sekali," ucap Ayumi dengan polos sambil memainkan air dengan tangannya.
"Mau foto di bawah air terjun?" tanya Kahfi kemudian kepada Ayumi.
Ayumi melihat ke sekelilingnya, ada beberapa orang yang sudah datang untuk bermain air dan berswafoto di bawah air terjun.
"Siapa yang mau fotoin kita?" ucap Ayumi polos kepada Kahfi.
"Kamu mau foto bareng Kakak? Kirain mau narsis sendiri dan Kakak jadi tukang fotonya," ucap Kahfi pelan.
Ayumi tersenyum simpul dan sedikit malu, karena Ayumi yang meminta untuk berfoto bersama.
"Gimana jadi mau foto gak?" tanya Kahfi pelan sambil menatap Ayumi.
Entah kapan lagi, bisa mengajak gadis pujaannya itu untuk berjalan-jalan seperti ini, apalagi setelah ini Kahfi akan disibukkan dengan dunia perkuliahannya dan segala tugas dari kampus ditambah lagi dengan adanya Rara saat ini sepertinya cukup menguras waktu dan tenaga Kahfi.
"Jadi Kak, yuk kita foto, kita minta tolong orang untuk fotokan kita berdua," ucap Ayumi pelan.
Tidak ada maksud apa-apa dibalik mereka berfoto bersama disana, terlebih memang Ayumi sudah menganggap Kahfi seperti Kakak sendiri. Walaupun ada suatu hal yang masih mengganjal namun belum bisa dirasakan dengan pasti dan yakin, apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh Ayumi.
Ayumi dan Kahfi berjalan ke bawah air terjun dan berpose layaknya pasangan yang sedang memadu kasih.
Ada beberapa foto dengan pose yang berbeda. Foto yang akan tersimpan di galeri ponsel mereka masing-masing. Foto yang tidak akan pernah usang, namun terlupakan dan akan menjadi suatu kenangan yang indah.
Setelah puas berfoto, Ayumi dan Kahfi mulai melanjutkan perjalanannya menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Pemandangan disekitar tempat wisata itu begitu indah. Banyak bunga, taman bermain untuk anak-anak, saung-saung tempat untuk beristirahat hingga beberapa lapak yang berdagang sate kelinci sebagai andalan makanan disana.
__ADS_1