
Rata terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Rara sedikit histeris namun tertahan saat melihat Ayumi yang tergeletak di atas sajadah dalam keadaan bersujud.
Pikiran Rara sudah tak karuan dan parno melihat itu. Rara beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Ayumi. Telunjuk jari Rara menyentuh bagian pinggang Ayumi dan sedikit mendorong, tubuh Ayumi ambruk ke samping membuat Rara benar-benar teriak histeris.
"Awwww... Nenek!!" teriak Rara dengan suara keras, lantang dan histeris.
Rara berlari ke arah pintu kamar dan membuka pintu kamar itu mencari kamar Nenek Arsy.
"Nenek! Nenek Arsy!" teriak Rara seperti orang kebingungan.
"Ada apa Ra? Baru mau sholat shubuh, kamu sudah berteriak, ada apa?" jawab Nenek membuka pintu kamarnya.
"Nenek! Ay .. Ayumi ... Innalilahi," ucapa Rara tertahan dan berlari menuju kamar.
"Apa Ra! Jangan buat jantung Nenek kambuh," ucap Nenek ikut berlari mengikuti Rara ke arah kamar Ayumi.
Rara sudah masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan diikuti Nenek Arsy yang terlihat sedikit kelelahan dan terengah-engah.
Ayumi masih tergeletak menyamping dengan posisi yang sama seperti tadi saat Rara meninggalkannya untuk memanggil Nenek Arsy tepat di atas sajadah milik Bunda Ayumi.
Rara mendekati tubuh Ayumi dan memberanikan dirinya menyentuh wajah Ayumi di bagian kening dan kedua pipi.
Tidak ada respon sedikitpun dari tubuh Ayumi. Tubuh itu tetap diam dan terlihat kaku.
"Lihat Nek! Ayumi tidak bergerak sama sekali. Ayumi! Bangun Ayumi, jangan tinggalkan Rara sendiri di dunia ini," ucap Rara sambil menangis histeris.
"Hust ... jaga bicaramu Ra. Lihat dan pastikan dengan benar. Mungkin saja Ayumi tertidur," ucal Nenek Arsy pelan dan menenangkan dirinya sendiri.
Padahal Nenek Arsy ikut panik dan bingung tapi melihat Ayumi yang cuma diam seperti itu, membuat Nenek Arsy semakin lemas tidak berdaya. Akankah terulang kehilangan untuk kesekian kalinya.
Belum genap satu bulan, Nenek Arsy ditinggalkan anak laki-laki dan menantu kesayangannya. Apakah hari ini juga harus kehilangan Ayumi, cucu kesayangannya.
__ADS_1
Raut wajah Nenek Arsy sudah berubah sedih. Nenek Arsy memberanikan dirinya mendekati cucu kesayangannya dan memastikan semua yang dikatakan Rara itu tidak benar.
Nenek Arsy duduk bersimpuh disebelah Ayumi. Tangan kanannya mengusap kening hingga kepala Ayumi yang tertutup mukena.
"Ayumi ..." panggil Nenek Arsy kepada Ayumi dengan sangat lembut.
Tidak ada jawaban dan tidak ada pergerakkan apapun. Ayumi masih dengan posisi yang sama, tapi jika diperhatikan dengan jelas dan seksama terdengar suara napas yang begitu halus yang nyaris tidak terdengar. Sesekali terdengar dengkuran halus yang sangat lirih.
"Lihat sepertinya apa yang kamu katakan itu tidak benar, Ayumi hanya tertidur pulas, Ra," ucap Nenek Arsy menjelaskan.
Rara menatap Ayumi masih dengan rasa takut lalu kembali menatap Nenek Arsy yang berada di sebwlah Ayumi. Rara mendekati keduanya dan ikut duduk bersimpuh di sebelah sisi Ayumi yang lain.
Mukena Ayumi di singkap dan di sentuh bagian leher Ayumi, lalu berpindah di pergelangan tangan Ayumi. Denyut nadi Ayumi masih terasa jelas. Terakhir Rara menyentuh bagian jantung, detak jantung Ayumi berdetak pelan namun pasti.
"Percaya? Cucuku tidak apa-apa, Ayumi hanya tertidur sangat nyenyak hingga tidak bergerak ada suara-suara yang mengganggu tidurnya. Mungkin Ayumi kelelahan," ucap Nenek Arsy pelan.
"Maafkan Rara, Nek. Rara panik tadi," ucap Rara pelan dengan wajah yang sangat menyesal.
"Iya Nek. Rara akan bangunkan Ayumi," ucap Rara dengan sopan.
Nenek Arsy berdiri dan keluar dari kamar Ayumi lalu melanjutkan untuk melaksanakan sholat shubuh yang sempat tertunda karena insiden kecil yang membuat sedikit panik.
Rara memandang wajah manis Ayumi yang masih tertidur pulas. 'Cantik, ayu dan manis serta anggun,' batin Rara didalam hati.
'Bagaimana para kaum adam tidak menyukaimu Ayumi. Kamu itu sempurna di mata mereka, kamu baik, ramah dan tidak pilih kasih, ditambah kamu punya akhlak yang baik dan berbudi pekerti tinggi, wajahmu cantik, dan kamu pintar. Hanya orang beruntung yang bisa mendapatkan kamu,' batin Rara. Rara menyentuh kulit wajah Ayumi yang lembut seperti kulit bayi.
Seketika Ayumi menggeliatkan tubuhnya karena sentuhan Rara di pipinya.
"Ayumi! Kamu masih hidup?" teriak Rara dengan polosnya.
Ayumi membuka matanya pelan lalu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya karena sorot sinar lampu di kamar tidurnya.
__ADS_1
"Ra? Kamu kenapa?" tanya Ayumi pelan.
"Tidak ada apa-apa Ay. Aku pikir kamu pingsan tadi," ucap Rara sekenanya.
Padahal kalau mau diceritakan kepada Ayumi bagaimana ketegangan shubuh tadi, dan Rara sempat menyebut Ayumi sudah innalilahi karena tidak bergerak sama sekali tanpa mengecek terlebih dahulu.
Rara tersenyum dan tiba-tiba terkekeh mengingat kejadian shubuh tadi.
"Kok ketawanya begitu? Ada apa? Aku ngelindur ya?" tanya Ayumi bingung dengan sikap sahabatnya yang tampak terlihat aneh pagi ini.
"Sudah sana wudhu terus sholat shubuh Ay. Aku lagi ada tamu tak diundang," ucap Rara sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Iya Ra," jawab Ayumi singkat lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu kemudian melaksanakan sholat shubuh.
Rara sudah membersihkan diri dan sudah rapi dengan celana panjang dan kaos untuk berolahraga pagi ini. Ayumi juga sudah rapi dengan pakaian olahraganya, tidak lupa kerudung instan dengan warna yang senada makin membuat Ayumi tampak cantik.
"Cantik banget sih Ay. Kalau aku pakai hijab bisa secantik kamu gak?" ucap Rara pelan yang tampak sedikit itu dengan penampilan baru Ayumi yang semakin enak dipandang dan sejuk di mata.
"Ra, pakai hijab itu dari hati bukan sekedar untuk gaya-gayaan atau ikut-ikutan tren mode saat ini. Pakai hijab itu kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya dan menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang tidak baik. Minimal kalau pakaian yang kita kenakan sudah membuat orang segan, tentu saja orang tersebut juga akan segan mendekati kita," ucap Ayumi menjelaskan.
"Aku mau coba, seperti kamu Ay, seperti Kak Zura juga, tapi aku takut dengan cemooh orang terhadap kita," ucap Rara pelan sambil menatap wajahnya di cermin.
"Kenapa harus takut di cemooh orang, itu tandanya mereka tidak mengerti agama Ra. Lihat Rasulullah, beliau adalah panutan kita, jiwa dan raganya tidak gentar membela agamanya. Hinaan, cemooh, dan kata-kata kasar sudah menjadi bagian konsekuensi seseorang berada dalam lingkaran kehidupan yang baik," ucap Ayumi menjelaskan.
"Wah, Ayumi kamu hebat bisa berkata hal yang aku sendiri tidak tahu. Lalu aku harus gimana, menurutmu Ay?" tanya Rara pelan.
"Yakinkan dulu niat kamu Ra. Lalu perbaiki hal-hal yang masih belum baik, cobalah sesekali untuk berhijab maka lama-kelamaan akan terbiasa. Awalnya panas, gerah dan gak enak. Tapi balik lagi, niat kita untuk apa? Itu kuncinya Ra, yang tahu ya dirimu sendiri bukan orang lain," ucap Ayumi pelan memberikan penjelasan.
Keduanya saling berpandangan dan melempar senyum.
"Terima kasih Ay. Kamu baik banget," ucap Rara dengan tulus.
__ADS_1
"Sama-sama Ra. Kamu juga sahabat terbaik," ucap Ayumi pelan.