
Mendengar pengakuan Bunda Andara, hati Pak Sukoco seperti tercabik-cabik rasanya. Wajahnya memerah antara malu, marah, kecewa, sakit hati dan benci terhadap wanita yang telah Pak Sukoco nikahi lebih dari dua puluh tahun.
Usia pernikahan memang tidak menjamin kelanggengan suatu pernikahan itu sendiri. Ada banyak hal yang bisa merusak pernikahan bahkan berujung pada perpisahan dan perceraian.
"Mas ... Maafkan Dara," lirih Bunda Andara.
Hijabnya sudah tidak beraturan, pakaiannya juga sudah basah karena leleran air mata dan cairan dari hidung yang menyatu. Keringat Bunda Andara yang terus mengucur karena rasa takut dan panik menjadi satu.
Tubuhnya masih bersimpuh di kaki suaminya, bahkan seperti kaku dan tidak bisa bergerak.
Pak Sukoco hanya diam, tidak mengangkat tubuh istrinya untuk berdiri. Bunda Andara didiamkan begitu saja tanpa ada kepedulian sama sekali.
Sesekali kedua matanya memandang ke atas, agar air matanya tidak ikut tumpah. Sejak tadi Pak Sukoco sudah menahan air mata yang akan menetes, mungkin dengan satu kedipan mata, air mata itu akan luruh turun ke pipinya.
Pak Sukoco tetaplah seorang Ayah yang tegas dan terkesan arogan namun hatinya tetap lembut, hanya saja Pak Sukoco tidak suka dibohongi. Lebih baik jujur apa adanya, mungkin akan lebih ikhlas menerimanya saat itu.
Bukan perkara, Zura anak siapa? darah daging siapa? Kalau ada kejujuran di kedua belah pihak mungkin keduanya akan lebih legowo menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya.
"Maafkan aku, Dara, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan kita karena satu kebohongan yang sangat fatal. Mungkin jika kamu bercerita dari awal, cerita kehidupan kita juga akan berbeda," ucap Pak Sukoco pelan, suaranya nampak bergetar menahan sesak di dadanya.
"Mas Sukoco? Tidak adakah maaf untuk Dara?" tanya Bunda Andara memohon.
"Ada Dara, aku selalu memaafkan, maafku sangat mudah aku berikan bagi orang-orang yang mau mengakui kesalahannya. Tapi, itu masalah kejujuran Dara. Sekali ada kebohongan maka akan ada kebohongan lainnya," ucap Pak Sukoco pelan namun sedikit menyentil Bunda Andara.
Deg ...
Deg ..
Deg ...
Bunda Andara bungkam mendengar ucapan Pak Sukoco. Ada benarnya apa yang dikatakan Pak Sukoco, suaminya. Bunda Andara adalah wanita misterius dengan sejuta pesona.
__ADS_1
Di manapun Bunda Andara bergaul, disana Bunda Andara akan menemukan seseorang untuk membuatnya senang dan bahagia.
Dosa? Sudah pasti. Namun, setan itu lebih hebat dengan sejuta cara untuk menggoda umat manusia. Celah kecil bisa dijadikan pancingan untuk menyentuh dosa besar.
"Mas ..." panggil Bunda Andara lirih.
Zura merangkak ke arah Bunda Andara. Ada rasa iba dan prihatin saat Ayah Sukoco tidak mau lagi bersama dengan Bunda Andara untuk mengarungi mahligai pernikahan di sisa usia senjanya.
"Bunda ..." ucap Zura dengan suara tertahan.
Zura menangis tanpa henti, jika tadi Zura harus menangisi Afnan yang telah menolaknya. Kini, Zura menangisi Bundanya yang harus ikhlas melepas Ayah Sukoco sebagai suaminya.
Zura menghampiri Bunda Andara lalu memeluk erat tubuh Bundanya tanpa celah sedikitpun. Mereka berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain.
"Maafkan Bunda, Zura. Bukan maksud Bunda menyembunyikan semuanya tapi Bunda tidak mau masa lalu Bunda terkuak di keluarga besar Ayahmu," ucap Bunda Andara dengan pelan.
"Zura mengerti Bunda. Bunda melakukan ini semua untuk kebaikan. Tidak ada orang tua yang menginginkan suatu perpisahan kecuali itu takdir. Zura mengerti sekarang apa arti ikhlas yang sebenarnya," ucap Zura sambil mengusap air matanya yang saja turun ke pipinya.
Bunda Andara menatap Zura dan mengusap pipi gadis itu perlahan. Gadis cantik yang dikandungnya selama sembilan bulan dengan penuh kasih sayang tanpa mendapatkan kasih sayang dari Ayah kandungnya sendiri.
Tangisan Bunda Andara semakin pecah. Dadanya semakin sesak mendengar ucapan Pak Sukoco, suaminya.
"Pergi dari hidupku sekarang! Aku tidak ingin melihatmu lagi," ucap Pak Sukoco dengan suara lantang.
"Ayah ... Kami harus kemana?" ucap Zura lirih kepada Ayahnya.
"Aku bukan Ayahmu! Cari Ayahmu dan tinggal bersama Ayahmu bukan aku. Paham Zura!" ucapan Pak Sukoco semakin menyakitkan.
Tapi ucapan itu tidak sesakit kebohongan yang telah dilakukan Bunda Andara. Dua puluh tahun lebih, menyimpan sebuah rahasia penting.
"PERGI ANDARA! AKU SUDAH MUAK!!" teriak Pak Sukoco lebih keras lagi.
__ADS_1
"Tega sekali kamu Mas?" lirih Bunda Andara.
"PERGI! PERGILAH DARI HIDUPKU," jerit Pak Sukoco yang kemudian melemah. Suaranya tertahan dan bergetar. Hatinya bagai ditusuk-tusuk jarum besar, nyeri di dada.
"Ayah, jangan usir kami dari kehidupan Ayah. Zura sayang sama Ayah," teriak Zura yang ikut memegang kedua kaki Ayah Sukoco tanda memohon.
"Cukup Zura! Jangan panggil aku Ayah!" ucap Ayah Sukoco keras lalu menarik kakinya dan meninggalkan kedua wanita yang pernah menemaninya hidup hingga saat ini.
"AYAH!!" panggil Zura dengan berteriak memanggil Sang Ayah yang pergi begitu saja meninggalkan Zura dan Bunda Andara tanpa rasa kasihan.
Pak Sukoco seakan menutup kedua telinganya, dia tidak mendengar apapun itu, tangisan, teriakan, permintaan maaf bahkan umpatan Zura kepada dirinya. Hatinya sudah dingin dan beku, sudah tidak ada lagi yang harus dipertahankan.
"Mas Sukoco ..." teriak Bunda Andara yang berusaha beranjak berdiri dan mengejar Pak Sukoco.
Bunda Andara berlari mengejar Pak Sukoco yang masih berjalan menuju ke luar rumah Kyai Toha. Sudah tidak ada yang bisa menghentikan langkah Pak Sukoco untuk diajak bicara baik-baik.
Bunda Andara memeluk Pak Sukoco, suaminya dari belakang untuk menghentikan langkah kakinya.
"Lepaskan aku, kamu itu wanita tidak tahu malu Dara!" tegas Pak Sukoco.
"Bunda, sudah cukup, bila Ayah memang ingin mengusir kita. Zura terima perlakuan Ayah seperti ini, Zura akan tetap hormat kepada Ayah karena selama ini Ayah yang sudah menjaga Zura. Maafkan Bunda dan semua kesalahan Bunda dimasa lalu. Zura hanya berharap Ayah tetap sehat dan baik-baik saja," ucap Zura pelan dan terbata-bata.
Sulit berkata hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, namun mencoba menerima dan mengikhlaskan semuanya. Proses panjang dan berliku tentu akan memberikan pelajaran dan pengalaman yang indah dan nikmat untuk dikenang.
Hidup itu bukan mengenai suka duka, susah senang, ataupun sulit dan bahagia. Tapi bagaimana kita berusaha mencapai suatu tujuan dengan seimbang antara doa dan ikhtiar.
Perjalanan hidup memang kadang kita semulus yang kita harapkan, tapi hanya dengan doa apa yang kita jalani akan terasa nikmat.
"Rara!! Kita pulang sekarang! Toha, saya pulang dulu," ucap Pak Sukoco dengan nada yang masih kesal. Pak Sukoco hanya berpamitan tanpa mengucapkan salam.
Rara berlari mengejar Ayah Sukoco dan menggandeng tangan Ayahnya.
__ADS_1
Wajah Rara menoleh ke belakang menatap sedih dan nanar kepada Bunda Andara serta Kak Zura.
Rara berjalan tertunduk lesu. Hari ini adalah hari yang paling menegangkan. Rara harus kehilangan orang-orang yang selama ini sayang kepadanya. Bagaimanapun juga Bunda Andara adalah Bunda kandungnya, dan Kak Zura akan selamanya menjadi Kakak terbaik untuk Rara.