
Hari sudah mulai sore, Ayumi sudah lebih tampak tenang setelah diberi air yang telah di do'akan oleh Kyai Toha.
Jiwa Ayumi sangat terguncang, di usia belia sudah harus menjadi seorang yatim piatu dan kehilangan keluarga besarnya. Hidupnya kini benar-benar sebatang kara. Arah tujuan hidupnya sudah tidak semangat seperti kemarin. Rasanya percuma sekolah tinggi dan menggapai cita-cita setinggi langit jika tidak ada yang bangga dengan hasil dan usaha keras Ayumi.
Bunda Icha menyuapi Ayumi dengan pelan. Bubur buatan Kahfi perlahan mulai habis dimakan oleh Ayumi, sesuap demi sesuap dengan pelan dan penuh kesabaran.
Tatapan matanya masih kosong lurus ke arah luar jendela kamarnya sambil memeluk boneka bebek kesukaannya.
"Fi, ini gimana, Bunda malah jadi bingung sendiri," ucap Bunda Icha pelan.
Kahfi menatap Ayumi dengan wajah yang sendu, perlahan di dekati gadis pujaannya itu.
"Ay, mau es krim?" tanya Kahfi pelan. Es krim adalah salah satu makanan favorit Ayumi, biasanya dengan makan es krim, pikiran dan hati Ayumi jadi lebih adem dan jernih.
Ayumi hanya terdiam, wajahnya ditundukkan menangkup boneka bebek yang ada dalam pelukannya.
Kahfi mencari cara agar gadisnya ini bisa lebih berpikir bijak. Kahfi mengambil tasbih yang ada di lehernya kemudian diberikan kepada Ayumi, diletakkan tasbih itu ditangannya. Masih bisa bersholawat, sholawat yang sering kita ucapkan jika berada di motor.
Kahfi bersholawat sambil menatap Ayumi, agar gadisnya itu mau mengikuti sholawat tersebut.
"Allahuma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad," ucap Kahfi berulang-ulang.
Ayumi tidak bergeming, wajahnya masih menempel pada boneka bebek itu, terdengar sesegukan tangisan dari bibirnya.
Tasbih pemberian Kahfi mulai berputar pelan. Kahfi menatap tangan mungil itu memutar tasbih ikut tersenyum bahagia.
Kahfi terus menerus mengulang sholawat itu hingga Ayumi tergerak hatinya ikut menyuarakan sholawat melalui bibirnya yang mungi.
Perlahan namun pasti, dahsyat sholawat yang bisa menggerakkan hati seseorang. Ayumi masih memutar tasbihnya pelan, dan mulai bersuara dibalik boneka bebeknya itu.
Kahfi tidak berhenti dan terus bersholawat hingga Ayumi mau duduk tegak dengan senyum di wajahnya.
Pelan-pelan Ayumi mengangkat wajahnya yang sembab penuh dengan air mata dan cairan dari hidung yang keluar menjadi satu. Dihapusnya semua air mata yang bersisa diwajahnya dengan ujung hijab yang dipakainya.
"Terus bersholawat, senyumlah, Kakak akan belikan kamu esk krim, mau?" tanya Kahfi pelan sambil menatap lembut kedua mata Ayumi.
__ADS_1
Ayumi membalas tatapan teduh dan penuh cinta itu Ayumi hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan tanda setuju dengan ucapan Kahfi.
Ayumi mulai tersenyum manis, bibirnya masih bergerak untuk tetap bersholawat sesuai dengan putaran tasbih yang dipegangnya.
Kahfi berpamitan untuk mencari es krim kesukaan Ayumi. Kahfi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju depan rumah.
Bunda Icha menggantikan posisi duduk Kahfi. Satu tangan Bunda Icha mengusap kening Ayumi dan merapikan hijab Ayumi yang sedikit berantakan.
"Maafkan Bunda, Ay," ucap Bunda dengan memelas. Kedua tangannya menggenggam tangan Ayumi dengan erat.
Bunda Icha sangat perasa sekali. Kejadian ini membuat Bunda Icha merasa bersalah dan orang pertama yang patut dipersalahkan.
Bunda Icha mengakui kesalahannya yang telah mengajak Ayumi hingga menginap dan tidak bisa bertemu Nenek Arsy untuk terakhir kalinya.
"Bunda..." panggil Ayumi sambil memeluk Bunda Icha dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Maafkan Bunda, Ay," ucap Bunda Icha lirih lalu mengusap punggung Ayumi dengan lembut.
"Semua sudah takdir Bunda. Tidak ada yang harus dipersalahkan. Hanya saja Ayumi masih terkejut dengan berita dan kenyataan ini. Ayumi hanya belum siap menerima cobaan ini dari Allah, kalau ditanya akan selalu tidak kuat, lalu kapan kita kuat dan kapan kita menjadi dewasa," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
Allah SWT hanya menguji kepada orang-orang yang penuh dosa dan tidak mau bertobat? Ini suatu kesalahan besar. Allah SWT akan memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya yang taat, yang tawaduk, yang rajin, yang alim dan sebagainya, itu bukti Allah SWT mencintai kita, menginginkan kita untuk tetap berada dalam genggamannya.
Ayumi melepas pelukannya dengan Bunda icja, tepat saat Kahfi membawa satu kantong plastik berisi beberapa es krim dengan rasa yang menjadi kesukaan Ayumi.
Ayumi menerima kantung plastik dingin itu dengan senyum bahagia. Kantung plastik itu dibuka dan senyum Ayumi langsung terbit begitu saja dengan spontan.
"Ini untuk Ayumi semua?" tanya Ayumi kepada Kahfi dengan mata berbinar.
Kahfi hanya mengangguk pelan dengan senyum manis.
"Makanlah Ay, habiskan, itu untukmu semua," ucap Kahfi pelan kepada Ayumi.
"Terima kasih Kak Fi," ucap Ayumi Dengan lembut.
Ayumi membuka bungkus plastik yang membalut es krim itu, dan mulai memakannya dengan sangat nikmat.
__ADS_1
Kebahagiaan seseorang itu tidak bisa diukur dengan banyaknya atau jumlah uang yang dimiliki orang lain. Tapi kebahagian itu diukur dari rasa bersyukur dan menerima apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT.
"Enak?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi yang masih duduk bersila diatas tempat tidurnya yang mungil.
Ayumi menoleh ke arah Kahfi hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Bunda pamit dulu, mau bantu-bantu yang lainnya di dapur," ucap Bunda Icha pelan sambil menatap ke arah Ayumi dan Kahfi secara bergantian.
"Ya Bunda," ucap Ayumi pelan.
Bunda Icha beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Ayumi dan Kahfi berdua dikamar Ayumi dengan posisi pintu kamar tidur di buka lebar.
"Ay, besok kita jalan-jalan yuk," ucap Kahfi mengajak Ayumi.
"Besok Ay kembali ke Pondok Pesantren, Kak Fi," ucap Ayumi pelan.
Ayumi tidak ingin terlambat kembali ke Pondok Pesantren Al Azhar.
"Sebentar aja, kita pergi paling lama sekitar dua jam saja," ucap Kahfi menyakinkan.
"Baiklah Kak Fi," ucap Ayumi pelan dan terdengar pasrah.
"Ikhlas gak tuh, Ayumi jawabnya?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi.
Perjalanan hidup manusia semua Memiliki cerita yang berbeda, kesamaannya adalah sama-sama memiliki ujian dan cobaan, memiliki solusi dari sudut pandang yang berbeda.
Ayumi juga sama seperti mereka, memiliki ujian dan cobaan yang berbeda sudut pandangnya dalam mencari solusi.
"Ay, Kakak senang lihat senyum kamu yang indah ini, sudah lama Kakak tidak melihatnya," ucap Kahfi pelan.
Ayumi hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Kahfi.
"Apakah Nenek Arsy sudah di kuburkan?" tanya Ayumi kepada Kahfi.
"Sudah Ay. Tadi dengan Bapak dan beberapa tetangga yang ikut kesana. Maaf tadi Kakak tidak mengantarkan Nenek Arsy ke peristirahatan terakhirnya," ucap Kahfi dengan pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak," ucap Ayumi pelan dan menghabiskan semua es krimnya yang masih tersisa.