Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
73


__ADS_3

Bunda Icha hanya terdiam menatap Kahfi.


"Tidak ada yang salah Fi, hanya saja ini terlihat mencolok sekali, tidak enak dengan Abang Afnan dan Rara, dia itu calon istrimu," ucap Bunda Icha menasehati.


Kahfi tampak terdiam, kini satu tangannya mengambil emping yang ada di toples tepat berada di depannya. Kahfi memakan emping yang terasa pahit di lidah.


"Bunda, kenapa emping rasanya pahit, namun tetap disukai oleh banyak orang?" tanya Kahfi pelan sambil mengunyah dan menatap Bunda Icha yang masih sibuk menyiapkan sarapan pagi di meja makan.


Bunda Icha membagikan mangkok dan sendoknya. Meletakkan semua peralatan makan di meja makan lalu menyiapkan semua makanan dan disajikan di meja makan dengan rapi.


"Bunda tidak jawab pertanyaan Kahfi?" tanya Kahfi pelan. Dari tadi Kahfi menunggu jawaban dari sang Bunda, namun Bundanya hanya sibuk dengan pekerjaannya menyiapkan sarapan tanpa memperdulikannya.


Bunda Icha menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Kamu tadi jawab pertanyaan Bunda? Tidak kan?" tanya Bunda Icha kembali kepada Kahfi.


Kahfi menelan kunyahan terakhir lalu meneguk air putih dalam gelas hingga habis.


"Kahfi sejak awal sudah bilang sama Bunda kan? Kahfi akan menuruti semua keinginan Bunda dan Ayumi untuk menerima Rara, tapi kalau Kahfi harus mencintai Rara, seperti Kahfi mencintai Ayumi itu sulit, dan itu tidak akan pernah bisa," ucap Kahfi dengan tegas.


"Fi, cepat atau lambat, Pak Sukoco pasti akan memintamu menikahi Rara. Jangan kamu sakiti perasaannya karena kamu belum bisa mencintai Rara sepenuhnya," ucap Bunda Icha menasehati.


"Bukan belum bisa Bunda, tapi tidak akan pernah bisa!" tegas Kahfi dengan nada tinggi.


"Kamu belum mencoba Fi, ayo cobalah dulu," ucap Bunda Icha masih dengan tenang.


"Bunda mau sampai kapan memohon seperti ini, hasilnya pun akan tetap sama, tidak akan pernah bisa," ucap Kahfi menjelaskan.


"Kasihan juga tidak?" tanya Bunda Icha pelan.


Kahfi diam menatap Bunda Icha.


"Kahfi harus mencintai Rara karena rasa kasihan? Tidak Bunda, Kahfi yang sakit, karena Kahfi harus berpura-pura selamanya dan seumur hidup Kahfi. Apa Kahfi tidak berhak bahagia?" tanya Kahfi dengan nada sedikit meninggi.


Hatinya kesal luar biasa, Sang Bunda lebih memikirkan perasaan orang lain dari pada perasaan putranya sendiri.

__ADS_1


"Pahalamu besar Fi, jika kamu mau melakukan ini semua dengan rasa ikhlas," ucap Bunda Icha dengan lembut.


Jika api sedang berkobar hendaknya kita tetap tenang dan dingin seperti air, agar mampu memadamkan api tersebut.


"Bunda, bukan Kahfi ingin menjadi anak yang durhaka kepada Bunda dan Bapak karena tidak amanah dan tidak bisa menjaga amanah, tapi tolong pikirkan perasaan Kahfi, jangan paksa Kahfi untuk melakukan sesuatu hal yang tidak bisa Kahfi lakukan," ucap Kahfi pelan dengan nada memohon.


Bunda Icha menyimak penjelasan Kahfi sambil menyiapkan bubur sop ayam ke dalam mangkok untuk Ayumi. Mangkok bubur sop ayam dan satu gelas air teh manis panas sudah tertata rapi di atas nampan besar.


"Bawalah ke kamar Ayumi, suapi dia agar mau menghabiskan bubur sop ayam ini," ucap Bunda Icha memberikan penjelasan kepada Kahfi.


Kahfi hanya mengangguk pelan dan pergi dengan sebuah nampan ke arah kamar tidur Ayumi.


Pintu kamar Ayumi dibuka oleh Kahfi. Nampak gadis pujaannya itu masih tertidur menghadap ke arah luar jendela kamar sambil memeluk boneka bebek kesukaannya.


Kahfi masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju sisi ranjang Ayumi dan meletakkan nampan berisi bubur dan teh pas itu diatas nakas.


Kahfi duduk di tepi ranjang Ayumi dan memanggil nama gadis itu dengan suara pelan.


"Ay, bangun, sarapan dulu. Kakak suapin," panggil Kahfi dengan pelan.


Tidak ada pergerakkan dari Ayumi sama sekali. Satu telunjuk Kahfi menoel lengan Ayumi dengan pelan, tap hasilnya juga nihil, Ayumi Masi tertidur pulas dan tidak ada pergerakkan sana sekali.


Wajah Kahfi mendekat ke arah punggung Ayumi. Ingin memeriksa indera penciuman Ayumi apakah masih ada napas yang berhembus dari rongga hidungnya.


Kahfi menundukkan kepalanya, tepat diwaktu yang bersamaan, Ayumi membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan. Kedua kulit indera pengecap berlawan jenis itu saling bersentuhan, dan bergetar hebat seluruh tubuh keduanya.


Kedua mata Ayumi membola, dan tubuhnya seolah kaku tak bisa digerakkan, saat benda kenyal itu saling menyentuh tanpa ada pergerakan dan reaksi dari keduanya.


Kahfi terkejut dan panik saat melihat kedua mata Ayumi menatap tajam ke arahnya. Hal ini tidak disengaja, dan terjadi karena tanpa kesengajaan.


Ayumi memundurkan tubuhnya hingga ke sandaran ranjang miliknya. Pikiran dan hati Ayumi sudah tak karuan rasanya, jantungnya berdegup kencang, napasnya juga tersengal-sengal seperti sesak napas, tubuhnya terasa dingin seperti es yang masih beku.


Ayumi dan Kahfi saling bertatap dan saling hening tanpa suara, hanya berpandangan yang mengisyaratkan permintaan maaf namun ada rasa bahagia yang terselubung disana.


Kahfi tersadar lalu menegakkan duduknya dan beranjak mengambil bubur sop ayam untuk Ayumi.

__ADS_1


"Maafkan Kakak, Ay, tidak sengaja," ucap Kahfi sangat lirih.


Rasanya malu sekali melakukan hal tidak pantas itu walaupun semua yang terjadi suatu ketidaksengajaan, tapi dibalik itu semua ada rasa ingin terulang kembali pada gadis pujaannya itu.


Kahfi mengaduk-aduk bubur sop ayam itu lalu meniup agar hawa panas menghilang dan menyiapkan pada Ayumi yang masih terdiam menatapnya.


"Makan dulu ya, harus habis, setelah ini kita pergi ke bukit sesuai janji Kakak tadi malam," ucap Kahfi pelan menjelaskan.


Ayumi hanya mengangguk pelan dan pasrah. Rasanya ingin menghilang dari hadapan Kahfi saat ini, wajahnya memerah antara malu dan bahagia. Hatinya berdesir dan berbunga-bunga, 'Rasa apa ini yang sesungguhnya aku rasakan, selalu ada desiran aneh saat bersama Kak Fi. Apa ini cinta? Atau hanya perasaan dan prasangka Ayumi saja karena setiap saat bertemu dengan Kahfi,' batin Ayumi dalam hatinya.


Satu suapan pelan-pelan masuk ke mulut Ayumi. Sejak malam Ayumi tidak mau makan, tubuhnya enggan duduk bersandar, hanya merebahkan diri di kasur empuknya dan memeluk boneka bebek kesayangannya.


Kedua mata Ayumi masih terlihat bengkak dan sembab, matanya terlihat menyipit karena bengkak disekitar area bawah mata. Wajahnya terlihat kusut karena sehari semalam menangisi kepergian Nenek Arsy ke keabadian.


"Mau minum?" tanya Kahfi mengambil gelas teh manis hangat untuk Ayumi.


Lagi-lagi Ayumi hanya mengangguk pelan tanpa berbicara sedikitpun. Ayumi menerima gelas teh itu dari tangan Kahfi. Dengan perlahan ditiup minuman panas itu dan menyeruput dengan nikmat, air teh manis hangat yang mengalir ke dalam kerongkongan hingga ke rongga saluran pernapasan membuat semakin hangat di dalam tubuh Ayumi.


Tidak sampai sepuluh menit, semangkok bubur sop ayam itu sudah habis berpindah ke dalam perut Ayumi, begitu juga dengan segelas teh manis hangat yang membuat perut Ayumi terasa penuh dan sesak karena kekenyangan.


"Bersiap-siaplah kita akan berangkat pagi-pagi, pemandangannya masih bagus dan udaranya sangat sejuk. Kakak akan membereskan semua mangkok dan gelas kotor ini kemudian bersiap diri juga," titah Kahfi dengan lembut.


Ada perasaan sungkan dan tidak enak sejak kejadian tanpa sengaja tadi. Kahfi beranjak dan pergi meninggalkan Ayumi menuju dapur.


"Misi selesai Bunda, habis tak bersisa," ucap Kahfi dengan penuh semangat.


Bunda Icha menatap Kahfi dengan aneh, tadi moodnya tidak baik, sekarang bahagia dan penuh semangat.


"Kamu kenapa Fi?" tanya Bunda Icha pelan.


"Tidak apa-apa, kenapa?" tanya Kahfi penasaran.


"Bunda lihat kamu seperti bahagia?" jawab Bunda Icha pelan.


Seketika Kahfi mengingat kejadian tadi yang membuat dirinya menjadi merasa lebih nyaman dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2