
Acara makan malam bersama dengan keluarga besar Kyai Toha dan Bunda Icha terasa hangat dan nyaman. Sesekali mereka semua saling bicara, saling menimpali dan saking bercanda tanpa ada batasan asal tetap saling menghargai dan menghormati.
Makan malam ini memang sudah dipersiapkan oleh Bunda Icha dan Kyai Toha sejak beberapa hari yang lalu, dengan alasan agar hubungan kekeluargaan lebih terasa akrab dan semakin hangat.
Bunda Icha mencoba memasak makanan kesukaan masing-masing anaknya dan suaminya, sebagai bentuk rasa sayang Bunda Icha kepada semua anggota keluarga.
"Afnan kapan kamu kembali ke Mesir," tanya Kyai Toha kepada Afnan pelan sambil mengambil ayam goreng dari piring besar yang ada di meja makan.
"Nanti Pak, sekalian dengan Ayumi," ucap Afnan pelan kepada Kyai Toha.
Kyai Toha tampak menganggukkan kepala pelan tanda mengerti.
"Kamu Fi, kapan kamu dan Rara berangkat?" tanya Kyai Toha sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. Sesekali kedua mata Kyai Toha mengedar ke semua anggota keluarganya secara bergantian.
"Kahfi seminggu lagi berangkat Pak. Untuk mengurus administrasi pendaftaran kuliah, dan tempat tinggal serta mengurus pendaftaran ke rumah sakit untuk jadwal kontrol dengan dokter rujukan," ucap Kahfi pelan menjelaskan.
Tidak ada pilihan lain, sejak awal memang hubungann Kahfi dan Rara sudah di bentuk sedemikian rupa agar mereka bisa bersama dengan cara apapun.
"Lalu hubungan kalian semua dengan pasangan kalian bagaimana? Kalian sudah tinggal satu atap walaupun tidak satu kamar, itu juga bisa membuat fitnah bagi keluarga kita. Apa kalian tidak mau menghalalkan hubungan kalian?" tegas Kyai Toha.
Rara dan Ayumi saling berpandangan, begitu juga dengan Kahfi dan Afnan yang merasa ada benarnya perkataan Kyai Toha saat menasehati barusan.
"Maaf Pak Kyai, kalau Ayumi sudah merepotkan keluarga Pak Kyai, alangkah baiknya bila Ayumi tinggal di Rumah Singgah bersama anak yatim piatu lainnya dan bukan disini yang malah akan menimbulkan fitnah dan masalah baru bagi keluarga Pak Kyai," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
Bunda Icha mencubit lengan Kyai Toha, suaminya itu dan menatap lembut ke arah Ayumi.
"Ayumi, kamu tidak merepotkan kami disini, betul kan Pak? Kamu disini sebagai ornag tua hanya ingin yang terbaik untuk putra kami, alangkah baiknya kalian itu dipersatukan dalam ikatan yang lebih halal lagi, agar terhindar dari maksiat dan fitnah. Hanya itu saja, bukan untuk masalah yang lain," ucap Bunda Icha lembut menjelaskan.
"Sejak awal Ayumi hanya menginginkan suatu hubungan yang baik dan lancar yang bisa memahami dan saling mengerti satu sama lain, bukan hal yang dipaksa untuk suatu keegoisan dan hawa nafsu saja. Ayumi memiliki cita-cita yang ingin Ayumi gapai, jika ingin menunggu Ayumi silahkan, kalau Kak Afnan memiliki pilihan lain itu juga silahkan, semua itu hak, dan perasaan itu anugerah sedangkan jodoh itu adalah takdir," ucap Ayumi pelan sambil menatap semua orang lalu menghabiskan seluruh makanannya yang ada di piringnya.
__ADS_1
Rara yang duduk di sebelah Ayumi langsung memegang punggung Ayumi dan diusap dengan pelan.
"Maafkan Bapak Ay, Bapak tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin kepastian dari kalian, karena kalian sudah sama-sama dewasa," ucap Kyai Toha pelan.
"Tidak apa-apa Pak Kyai, Ayumi yang seharusnya tahu diri," ucap Ayumi pelan. Rasanya sudah kecewa mendengar pernyataan Pak Kyai Toha tadi, serasa ada cambuk besar di punggung Ayumi saat ini.
"Kenapa kamu tidak mau Ay? Kenapa harus menunggu waktu selama itu?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi sambil menatap Ayumi dengan tajam.
Ayumi menunduk mendapat tatapan tajam dari Afnan.
"Jawab Ay, kamu ingin Kakak menunggu sepuluh tahun lagi?" tanya Afnan kesal.
Ayumi masih terdiam dan menunduk, kedua matanya sudah basah, rasanya sakit dan kecewa di bentak didepan umum seperti ini.
"Maaf Kak Afnan, Ayumi masih punya cita-cita, biar Bunda dan Papa serta Nenek Arsy bangga dengan Ayumi," ucap Ayumi pelan.
Afnan masih menatap tajam ke arah Ayumi yang tetap menunduk.
Ayumi menegakkan duduknya dan menatap Afnan dengan tidak percaya. Lelaki yang ada dihadapannya ini benar-benar serius kepada dirinya.
Kyai Toha, Bunda Icha, Kahfi, Afnan dan Rara menatap ke arah Ayumi dan menunggu jawaban dari Ayumi dengan rasa penasaran.
"Ay?" panggil Bunda Icha kepada Ayumi dengan lembut.
Ayumi beralih menatap Bunda Icha yang masih setia menunggu jawaban Ayumi dan menatap lembut kedua mata sayu Ayumi.
"Ay?" panggil Rara kemudian dengan suara lembutnya dan memeluk sahabatnya itu.
Wajah Ayumi tampak tegang dan panik seketika, harus menjawab pertanyaan dengan cepat tanpa harus berpikir panjang, rasanya itu tidak mudah dan sangat sulit sekali.
__ADS_1
"Ayumi?" panggil Afnan dengan suara melembut.
"Ayumi terima Kak, tapi ..." ucap Ayumi terhenti seperti ada beban berat mengucap kata itu.
"Tapi apa? Kenapa harus ada syarat?" tanya Afnan pelan sambil menatap wajah Ayumi dengan sendu.
"Bukan syarat Kak, lebih tepatnya Kak Afnan bisa menghargai keinginan Ayumi, hanya itu," ucap Ayumi pelan menatap wajah Afnan.
Semua orang yang berada di meja makan menghela napas lega mendengar jawaban Ayumi yang menerima lamaran Afnan, hanya waktu yang diminta Ayumi untuk bisa ke jenjang yang lebih tinggi dan halal.
"Baiklah demi Kamu Ay, demi cita-citamu juga, Kakak hanya bisa mendukung dan mendoakan kamu yang terbaik. Kakak akan berusaha tidak egois dan bisa menerima keputusan kamu dengan ikhlas," ucap Afnan pelan kepada Ayumi.
"Terima kasih Kak Afnan sudah mau mengerti keadaan Ayumi," ucap Ayumi pelan.
Afnan beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Ayumi yang duduk di hadapannya dengan memutari meja makan.
Afnan berdiri di samping tempat duduk Ayumi dan bersimpuh dibawah dengan memberikan satu kotak merah berbahan beludru, kotak itu dibuka oleh Afnan, sebuah cincin bermata berlian melingkar di kotak merah itu.
Ayumi memutar duduknya hingga menghadap Afnan. Melihat apa yang dibawa Afnan untuk Ayumi membuat Ayumi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan rasa malu.
Semua mata menatap pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Terimalah Kakak sebagai bagian dari hidup Ay, terapkanlah nama Kakak untuk selalu terukir dalam hatimu, sebutlah nama Kakak di setiap doamu Ay, begitu juga dengan Kakak yang akan selalu menjaga kamu Ay," ucap Afnan dengan suara lantang.
Ayumi tersenyum bahagia. Hatinya berbunga-bunga saat ini, walaupun sebenarnya masih ada keraguan dan kebimbangan, Ayumi berusaha untuk menepis segala prasangka buruk yang selalu ada dalam pikirannya.
"Ayumi menerima Kak Afnan, dengan tulus dan ikhlas, jadilah calon imam yang baik dan sholeh bagi Ayumi," ucap Ayumi pelan dan menerima Afnan memasangkan cincin bermata berlian itu melingkar di jari manis Ayumi.
Semua orang tersenyum bahagia, dan bertepuk tangan melihat kebahagian pasangan Afnan dan Ayumi yang bwgitu terlihat romantis.
__ADS_1
Kahfi yang sejak tadi menatap jengah dengan acara ini, rasanya sangat kesal, kecewa dan hancur, saat menatap Afnan, Abang kandungnya itu menatap wajah cantik Ayumi. Ada perasaan tidak rela saat cincin bermata berlian itu melingkar di jari manis Ayumi. Ada perasaan tidak ikhlas saat Ayumi tersenyum bahagia menerima lamaran Afnan. Ada perasaan hancur, saat Ayumi tidak menoleh kepada Kahfi untuk sekedar tersenyum. 'Kakak rindu senyummu itu Ay, senyum penuh ketulusan dan kasih sayang,' batin Kahfi di dalam hatinya.