Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
14


__ADS_3

Afnan memasuki ruang Tata Usaha untuk menanyakan persyaratan pendaftaran dan beasiswa untuk masuk ke sekolah favorit Al Azhar.


"Assalamu'alaikum, maaf saya butuh informasi untuk beasiswa dan syarat pendaftaran ke Al Azhar," ucap Afnan pada salah satu guru yang bertugas menjaga ruang Tata Usaha.


"Waalaikumsalam, Pak Afnan. Sebentar, sepertinya baru masuk datanya kemarin. Untuk siapa Pak Afnan?" tanya seorang guru wanita yang kebetulan juga berada di ruangan tersebut.


"Untuk anak didik saya Bu Nita. Dia pindahan dari Jakarta. Namanya Ayumi, dia murid yang cerdas," ucap Afnan menjelaskan kepada guru wanita tersebut.


"Bukankah Ayumi itu murid baru? Kenapa harus di spesialkan dan diberi rekomendasi. Bahkan kita tidak tahu prestasinya seperti apa?" ucap guru wanita sedikit nyinyir.


Afnan menatap Bu Nita dengan sikap dingin, kedua matanya lekat tajam ke arah guru wanita tersebut.


"Jangan-jangan Pak Afnan ada main ya dengan anak baru itu?" tuduh Bu Nita tak gentar.


"Kenapa Bu Nita mengusik kehidupan saya. Apa saya ada mengusik kehidupan Bu Nita?" tegas Pak Afnan yang mulai merasa risih dengan ucapan Bu Nita yang tidak unfaedah.


"Lho apa yang saya katakan itu fakta dan benar. Tadi berangkat ke sekolah saja, Pak Afnan berboncengan dengan Ayumi, anak baru itu," ucap Bu Nita tidak mau kalah.


"Rumah kami dekat. Apa salahnya saya membonceng anak murid saya sendiri. Ayumi adalah gadis yatim piatu, dan saya adalah wali kelasnya, sudah seharusnya saya membantu Ayumi. Ayumi membutuhkan dukungan dan motivasi bukan malah di intimidasi seperti ini," ucap Afnan dengan tegas menjelaskan.


Bu Nita terdiam kedua matanya masih lekat menatap mata Afnan yang berdiri di hadapannya.


"Saya permisi dulu Pak Afnan," ucap Bu Nita singkat dan meninggalkan ruangan Tata Usaha itu.


Bu Nita keluar ruangan Tata Usaha itu lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napasnya perlahan. Rasa kesal dan cemburu melihat Afnan, pria yang selama ini mencuri hatinya berboncengan dengan anak muridnya sendiri.


Afnan pelan menuju meja untuk mengecek tumpukan brosur sekokah baru yang sudah ikut berpromosi di sekolah. Tumpukan itu ada sekitar lima brosur sekolah dan salah satunya brosur dari sekolah favorit Al Azhar.


Di ambilnya satu brosur itu dan di bawanya kembali ke ruang guru. Di sana Afnan membuka dan membaca apa saja syarat dan cara mendaftar ke sekolah favorit Al Azhar baik menggunakan jalur umum ataupun jalur prestasi agar bisa mendapatkan beasiswa.


Hari ini rencana Afnan adalah datang ke sekolah tersebut dan membawa dokumen Ayumi berbagai piagam dan prestasi yang di raih Ayumi selama bersekolah di sekolah lama. Afnan akan berusaha sekuat tenaga untuk mencarikan beasiswa untuk Ayumi.


"Pak Afnan tidak mendengar bel berbunyi tanda sudah masuk? Apa tidak ada jadwal mengajar pagi ini?" ucap teman sesama guru yang duduk di meja sebelah Afnan.


"Astagfirullah... Saya tidak mendengar bunyi bel masuk, terlalu fokus dengan brosur ini," ucap Afnan menjelaskan dan menunjukkan brosur sekolah Al Azhar kepada teman sesama gurunya itu.

__ADS_1


"Untuk siapa Pak Afnan? Apa dari sekolah kita ada murid yang memiliki kemampuan dan prestasi mumpuni untuk masuk ke sekolah itu? Itu sekolah favorit dan terbaik di kota ini," ucap teman sesama gurunya.


"Ada Pak. Lihat data dan prestasi anak murid saya yang bernama Ayumi. Dia yatim piatu dan memiliki kemampuan luar biasa diatas rata-rata." ucap Afnan menjelaskan dan memberikan bukti-bukti prestasi apa saja yang sudah diraih oleh Ayumi.


"Lomba Matematika, Pidato Bahasa Inggris, Cerdas Cermat, Lomba Sains. Ini murid berbakat dan luar biasa Pak Afnan. Ajukan Pak Afnan, pasti berhasil," ucap teman guru tersebut sambil menepuk pundak Afnan.


"Nanti siang saya akan ke Al Azhar dan menunjukkan dokumen Ayumi kepada kepala sekolah disana. Siapa tahu memang rejeki Ayumi," ucap Afnan pelan. Afnan segera mengambil buku untuk mulai mengajar di kelas.


"Saya dukung dengan doa Pak Afnan," ucap teman gurunya itu sambil terkekeh.


Keduanya lalu berjalan menuju kelas mereka masing-masing untuk memulai pelajaran di pagi hari.


Waktu berjalan sangat cepat dan cukup melelahkan bagi Ayumi dan Rara yang sekarang menjadi sahabatnya. Saatnya mereka beristirahat yang kedua kalinya. Hawa yang panas membuat keduanya beristirahat di bawah pohon yang rindang dekat lapangan sekolah.


"Rencana mau melanjutkan kemana Ayumi?" tanya Rara pelan kepada Ayumi.


Rara dan Ayumi membuka bekalnya masing-masing. Mereka saling bertukar bekal dan mencicipi bekal sahabatnya itu.


"Rencananya ingin ke Al Azhar Ra. Kamu mau kemana?" tanya Ayumi kembali kepada Rara yang sedang mengunyah roti isi selai srikaya pemberian Kahfi.


Ayumi yang mendengarnya juga ikut tersenyum simpul.


"Kamu sudah punya pacar Ra?" tanya Ayumi kembali kepada Rara.


"Belum sih, tapi aku selalu menyebut namanya dalam setiap doa-doaku. Dia lelaki yang baik dan agamis. Tampangnya memang seperti preman tapi hatinya bagaikan malaikat," puji Rara dengan senyum merekah.


"Jujur, Ayumi belum memikirkan hal itu. Ada yang Ayumi suka, mungkin itu cinta pertama Ayumi. Kalau dekat dengan orang itu terasa aman dan nyaman," ucap Ayumi pelan.


"Sekolah Al Azhar itu favorit dan terbaik disini. Kamu sanggup mengikuti aturan disana?" tanya Rara menatap Ayumi.


"Aturan apa?" tanya Ayumi kembali.


"Harus tinggal disana. Harus berpakaian gamis dan kerudungnya panjang menjuntai hingga perut. Itu yang utama," ucap Rara menjelaskan.


"Untuk kebaikan tidak masalah Ra. Kamu tahu, Ayumi sekarang hanya hidup bersama Nenek. Paling tidak Ayumi tidak mau membebani Nenek. Sekolah disana juga mendidik Ayumi agar menjadi wanita yang lebih baik lagi dan mandiri. Tidak mudah menyerah dan pasrah pada keadaan. Dikuatkan iman kita juga," ucap Ayumi menjelaskan kepada Rara.

__ADS_1


"Aku sepertinya sekolah umum saja. Kakakku Zura sedang ta'aruf dengan Pak Afnan, wali kelas kita," ucap Rara kepada Ayumi.


"Apa Ra? Pak Afnan guru kita, sudah ta'aruf dengan Kakak kamu?" tanya Ayumi memastikan dan menatap lekat mata Rara.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu Ayumi? Apa salah ucapanku tadi?" tanya Rara yang merasa aneh dengan tatapan Ayumi.


"Astagfirullah... Cuma kaget aja. Ayumi kenal Pak Afnan karena rumah kami dekat, tapi emang gak pernah tahu maslah itu," ucap Ayumi sedikit beralasan kepada Rara.


Sakit sudah tentu, kecewa sudah pasti, itu yang dirasakan Ayumi saat Rara mengatakan Pak Afnan sudah ta'aruf dengan Zura Kakak Rara. Padahal hatinya sudah terlanjur mencintai Pak Afnan sejak lama.


"Kamu kenpaa Ayumi?" tanya Rara pelan yang melihat gelagat Ayumi mulai berbeda tidak seperti biasanya.


"Ini Ra. Perutku agak mulas, nasi gorengnya pedes banget," ucap Ayumi pelan dan berpura-pura memegang perutnya yang terasa sakit.


"Ini roti enak sekali, seperti roti langganan aku. Kamu beli dimana Ayumi?" tanya Rara kepada Ayumi.


Roti ini sama persis rasa dan tampilannya seperti roti yang Rara titipkan pada ketua Kobong dimana Kahfi tinggal. Roti itu Rara titipkan tadi malam pada saudara sepupu laki-laki yang satu Kobong dengan Kahfi.


"Oh roti itu. Ayumi diberi oleh seseorang, NM namanya Kahfi adik dari guru kita Pak Afnan," ucal Ayumi menjelaskan.


"Uhukkk ... uhukk ..." Rara langsung terbatuk-batuk mendengar jawaban Ayumi.


"Kenapa Ra?" tanya Ayumi pelan kepada Rara.


"Tidak apa-apa. Yuk ke kelas sudah mau bel masuk," ucap Rara singkat. Seketika itu Rara menjadi kurang peduli dengan Ayumi.


Rara kesal, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.


'Kenapa bisa ada di Ayumi, ada hubungan apa mereka berdua. Kemarin juga mereka berboncengan berdua.' batin Rara.


"Ra ... kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Ayumi pelan yang berjalan disamping Rara.


Rara hanya terdiam seribu bahasa. Tidak menggubris apa yang diucapkan oleh Ayumi. Pandangannya terus ke depan berjalan lurus tanpa berkedip.


Jantung Ayumi langsung berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2