
Hari ini awal masuk ke Sekolah Lanjutan Atas, di Pondok Pesantren Modern Al Azhar. Ayumi sudah berangkat sejak pagi untuk mengikuti orientasi sekolah yang akan diadakan selama satu minggu pertama masuk sekolah.
Keperluan pribadinya sudah dibawa sejak dua hari yang lalu untuk digunakan selama Ayumi berada di Pondok Pesantren tersebut.
Sesuai mandat Bunda Icha, sejak Afnan pergi ke Mesir untuk melanjutkan studinya, Kahfi adalah orang pertama yang harus menjaga dan membantu Ayumi.
Seperti pagi ini, sekitar jam setengah enam Kahfi sudah datang ke rumah Ayumi untuk menjemput dan mengantarkan ke sekolah barunya.
Kahfi sudah duduk di kursi teras rumah Nenek Arsy untuk menunggu Ayumi.
"Kak, yuk sarapan dulu?" ajak Ayumi saat menyiapkan beberapa tas berisi keperluannya selama di Pondok Pesantren.
"Iya Ay, ini titipan dari Bunda buat kamu, Ay," ucap Kahfi pelan memberikan makanan ringan satu kantong plastik besar kepada Ayumi.
"Ini apa?" tanya Ayumi pelan kepada Kahfi.
"Bawa aja, dari Mertua jangan ditolak," jawab Kahfi terkekeh pelan.
Ayumi dan Kahfi masuk ke dalam rumah menuju dapur. Disana sudah ada Nenek Arsy yang sedang menyiapkan piring untuk sarapan pagi.
"Wah, wangi amat Nek," ucap Kahfi pelan.
"Ayumi yang masak, Nenek hanya membantu," ucap Nenek Arsy kepada Kahfi.
Mereka bertiga duduk di kursinya masing-masing lalu mengambil sarapannya.
"Ini nasi pecel kan?" tanya Kahfi yang sedang mengunyah peyek kacang.
"Iya Kak, kurang enak sambal kacangnya?" tanya Ayumi kepada Kahfi.
"Pas mantap, sudah cocok jadi Istri," jawab Kahfi sambil tersenyum.
Mendengar jawaban kahfi, Ayumi hanya tersenyum kecut dan memutar kedua bola matanya dengan malas.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Ayumi dan Kahfi sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah baru Ayumi. Mereka berdua berpamitan kepada Nenek Arsy, kemudian berangkat menggunakan mobil Kahfi.
"Ay, hati-hati disana, belajar yang baik, ingat dengan semua cita-cita yang kamu inginkan," ucap Kahfi pelan tanpa menatap wajah Ayumi yang berada disampingnya.
Pagi ini, Kahfi juga akan menjadi mahasiswa baru di salah satu UniversitasTernama di kota Yogyakarta. Ciri khasnya jika menyetir mobil adalah menggunakan kacamata hitam yang menambah ketampanan dan style gaya yang sangat keren.
__ADS_1
"Iya Kak," jawab Ayumi singkat.
"Setahu Kakak, di Al Azhar sering mengadakan pertukaran pelajar ke Mesir. Dulu Zura itu juga siswi pandai dan beruntung bisa belajar ke Mesir selama satu bulan," ucal Kahfi pelan menjelaskan.
"Benarkah? Serius Kak?" tanya Ayumi dengan semangat.
"Seneng banget sih?" ucap Kahfi kesal.
"Iya seneng dong, bisa sekalian ketemu Kak Afnan," ucap Ayumi dengan pelan dan polos tanpa rasa berdosa.
"Hem..." Kahfi hanya menggumam pelan dengan raut wajah yang sangat kesal.
Ayumi menatap Kahfi dari arah samping. Wajahnya tampannya tertutup sedikit oleh kacamata hitam yang malah menambah ketampanannya.
"Gak usah lihat Kakak, nanti jatuh cinta baru tahu rasa," ucap Kahfi ketus namun terdengar berharap.
Ayumi hanya mengerucutkan bibirnya dan menyandarkan tubuhnya ke jok mobil yang didudukinya.
Senyumnya tenggelam bagai sinar matahari yang selesai bertugas menyinari bumi di siang hari.
"Udah gak usah manyun, jelek tahu," ucap Kahfi pelan sambil melirik ke arah Ayumi yang masih kesal.
"Kamu itu kenapa sih Ay? Tidak ada pembahasan lain selain Rara? Kakak bosen dengernya," ucap Kahfi ketus.
"Lalu, Kakak akan tetap bertahan dengan kondisi dan keadaan yang seperti ini?" tanya Ayumi kesal kepada Kahfi.
"Kalau memang itu yang terbaik, kenapa tidak?" ucap Kahfi masih dengan tenang.
"Tapi kan itu tidak mungkin Kak Fi. Ayumi tidak mau memberikan harapan kalau memang tidak akan pernah ada harapan untuk Kak Fi," ucap Ayumi dengan nada sedikit keras.
"Pernah baca buku? Ada kalimat yang Kakak suka, menikah adalah nasib karena kita bisa memilih dengan siapa kita akan menikah, sedangkan mencintai adalah takdir karena kita tidak bisa memilih kepada siapa cinta itu hadir. Jadi, tidak ada kata tidak boleh atau jangan semua itu takdir, Ay," ucap Kahfi menjelaskan pelan. Ibu jari kanannya digigit pelan karena gemas pada dirinya sendiri.
"Tapi Kak Fi kan bisa mengendalikan perasaan itu agar tidak berlebihan," ucap Ayumi kesal. Tatapannya berpindah keluar kaca jendela yang ada disampingnya.
"Itu semua tidak bisa Kakak tolak Ay, cinta itu hadir tiba-tiba. Kalau Kakak mau pilih cari yang cantik atau yang pintar atau yang bagaimana, ini semua bukan rekayasa tapi anugerah dari Allah SWT," ucap Kahfi dengan nada yang mulai meninggi.
"Ya pilih dong Kak, jangan Ayumi!" ucap Ayumi setengah berteriak.
"Cukup Ayumi, Kakak sedang tidak ingin berdebat dengan kamu," ucap Kahfi pelan, nada suaranya mulai melemah agar Kahfi tidak tersulut emosi.
__ADS_1
Ayumi terdiam, rasanya sangat kesal, memang Kahfi tidak bersalah dalam hal ini, kenapa Ayumi harus bawa perasan tentang hubungannya ini. Kenapa harus panik saat cinta itu memilih dirinya.
'Ada apa dengan diriku sebenarnya,' batin Ayumi di dalam hatinya.
Mobil sportif Kahfi sudah memasuki halaman sekolah Pondok Pesantren Modern Al Azhar. Sudah banyak panitia ospek yang berjaga di depan gerbang masuk sekolah itu.
Ayumi dan Kahfi segera turun dari mobilnya dan mengambil beberapa tas Ayumi untuk di bawa ke kamarnya di Pondok.
"Kak Kahfi?" sapa salah satu panitia perempuan yang bertugas mengecek tas setiap siswa atau siswi baru yang akan mengikuti ospek.
Mendengar namanya dipanggil, Kahfi menoleh ke arah adalah suara.
"Lupa Kak? Aku Mitha, saudara sepupu Rara," ucap Mitha pelan.
Kahfi menatap Mitha sambil berusaha mengingat-ingat kapan mereka bertemu dan dimana mereka bertemu.
"Maaf Mitha, Kakak tidak ingat sama sekali," ucap Kahfi pelan.
Belum juga menjawab, ada seseorang yang memanggil Mitha untuk segera ke ruang panita ospek.
"Nanti ya Kak, Mitha ada kerjaan," ucapnya pelan sambil tersenyum.
Hari ini akan menjadi hari baru bagi Ayumi. Ayumi berjanji dalam dirinya sendiri untuk bisa memperbaiki dirinya menjadi lebih baik dan menggapai cita-citanya sesuai keinginan Nenek Arsy dan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Langkah kaki mungil Ayumi berjalan masuk ke dalam lorong sekolah mencari arah aula tempat berkumpul seluruh siswa dan siswi baru. Ayumi sudah rapi dengan seragam putih biru dan segala atribut ospek yang digunakan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ayumi berjalan masuk ke aula Pondok Pesantren, ikut duduk bersama teman-teman yang lainnya.
Ayumi duduk bersandar pada tembok aula menunggu acara ospek dimulai, kira-kira lima belas menit lagi sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
"Assalamu'alaikum, ukhty, namaku Bulan, kamu?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi yang duduk bersila diatas ubin.
"Waalaikumsalam, aku Ayumi," jawab Ayumi pelan.
Mereka berdua bersalaman lalu berkenalan satu sama lain.
Acara ospek dilakukan dari jam tujuh pagi hingga jam satu siang, dilakukan setiap hari selama satu minggu full.
Kemudian dilanjutkan acara ospek Pondok Pesantren selama tiga hari untuk perkenalan guru pembimbing dan aturan yang berlaku disana.
__ADS_1