Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
84


__ADS_3

Sudah dua hari Kahfi berpikir namun hatinya masih bimbang dan ragu pada pilihannya. Sesekali menimbang pilihan pertama dengan mencari kelebihan dan kekurangannya, dan sesekali memilih pilihan kedua juga beserta kelebihan dan kekurangannya.


Akhirnya Kahfi memutuskan salah satu dari kedua pilihan itu dengan keyakinan dan kemantapan hati. Dua hari ini, Kahfi melaksanakan sholat tahajud dan meminta petunjuk kepada Allah SWT atas dua pilihan yang sedang membuat hati Kahfi bingung dan ragu.


Perlahan Allah SWT membuka jalan dan memperlihatkan pilihan mana yang seharusnya Kahfi pilih. Kahfi mencoba ikhlas menerima takdir yang diberikan kepadanya tanpa mengeluh. Walaupun sebenarnya Kahfi belum menyerah pada cintanya.


Pagi ini seperti biasa, Bunda Icha sudah membuat sarapan pagi. Kali ini menu sarapan yang dibuat oleh Bunda Icha adalah nasi uduk kuning dengan telur balado, perkedel, mie kuning, orek tempe dan kerupuk udang.


Kahfi masuk ke ruang makan, melihat banyak makanan tersaji disana, padahal Kahfi hanya tinggal berdua dengan Bunda Icha, kebetulan Kyai Toha sedang ada pertemuan di Jakarta.


"Wah, masak banyak nih," ucap Kahfi pelan sambil mengambil kerupuk udang yang ada di dalam toples besar.


"Mau ada tamu, ikut sarapan disini, sekali-kali masak spesial kan boleh," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi.


"Siapa Bunda?" tanya Kahfi pelan kepada Bunda Icha.


"Nanti kamu juga kamu tahu, Fi, sekarang bantu Bunda menata piring ya," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi.


"Iya, Bunda," ucap Kahfi pelan.


Kahfi mengambil beberapa piring dari rak piring dan menata diatas meja makan berserta sendok dan garpunya.


"Assalamu'alaikum," ucap salam dari seseorang laki-laki dari depan pintu ruang tamu.


Terdengar suara seseorang mengucap salam dari arah pintu ruang tamu.


"Waalaikumsalam, suara siapa itu Bunda?" tanya Kahfi pelan.


"Bukakan pintu, lihat siapa yang datang," ucap Bunda Icha pelan menitah Kahfi.


Kahfi berjalan menuju pintu ruang tamu dan membuka pintu itu. Terlihat sosok pria yang membelakangi Kahfi. Gaya berpakaiannya cukup rapi, bahkan terkesan seperti dosen di kampusnya.


"Maaf anda cari siapa?" tanya Kahfi dengan sopan kepada laki-laki yang ada dihadapannya.


Laki-laki itu terdiam dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Kahfi. Kahfi terkejut melihat sosok laki-laki itu yang ternyata Afnan, Abangnya sendiri.

__ADS_1


"Abang Afnan?" ucap Kahfi setengah berteriak dan memeluk laki-laki itu dengan erat dan penuh kerinduan.


Setengah tahun lebih, Afnan berada di negeri orang dan kini kembali ke Indonesia untuk liburan semester.


"Kahfi, adik Abang yang terkeren," ucap Afnan terkekeh pelan.


Kahfi mendengus kesal.


"Sejak kapan Abang bisa bercanda?" tanya Kahfi pelan.


"Sejak Abang rindu padamu adikku. Bunda mana?" tanya Afnan pelan kepada Kahfi.


"Ada didalam, pantes Bunda masak spesial hari ini, ternyata Abang datang," ucap Kahfi pelan.


Kedua Kakak beradik itu berjalan masuk ke dalam rumah secara beriringan. Afnan meletakkan beberapa barang-barangnya diruang tengah dan berjalan menuju ruang makan.


"Assalamu'alaikum, Bunda cantik," ucap Afnan mendekati Bundanya lalu mencium punggung tangan Bunda dan mengecup pipi Bundanya.


"Waalaikumsalam, anak Bunda sudah besar sekali, sehat Afnan?" tanya Bunda Icha pelan.


"Alhamdulillah sehat Bunda. Wah, nasi kuning, sudah lama tidak makan nasi kuning," ucap Afnan pelan.


"Bagaimana di Mesir, Bang?" tanya Kahfi pelan.


"Sangat menyenangkan, mainlah kesana biar tahu Mesir seperti apa," ucap Afnan pelan kepada Kahfi.


"Ayumi juga akan berangkat akhir bulan ini ke Mesir," ucap Kahfi pelan.


"Oh ya, Ayumi lulus program pertukaran pelajar?" tanya Afnan antusias.


"Lulus Bang, calon istri Abang itu pintar banget," ucap Kahfi memuji Ayumi. Ada rasa sesek saat menyebut calon istrimu, seakan telah mengikhlaskan tapi sebenarnya tidak sama sekali.


"Siapa dulu dong, calon istri Abang," ucap Abang Afnan dengan bangga.


"Kamu kapan mau melamar Ayumi?" tanya Bunda Icha pelan sambil menyuapkan satu sendok nasi kuning ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Uhukk uhuukk ..." Kahfi terbatuk-batuk.


"Ini airnya, minumlah, kamu kenapa Fi?" tanya Afnan pelan sambil menyodorkan satu gelas air minum untuk diminum oleh Kahfi.


"Tidak apa-apa Bang, cuma keselek biji salak," ucap Kahfi sekenanya.


Afnan dan Bunda Icha saling bertatapan seolah bertanya apa yang sedang terjadi. Bunda Icha hanya tersenyum menatap Afnan.


"Tunggu Ayumi pulang, nanti kita gelar acara kecil-kecilan, Bunda mau kan?" tanya Afnan pelan kepada Bundanya.


"Iya, minggu depan Ayumi pulang, kita bisa bikin acara keesokan malamnya," ucap Bunda Icha memberikan solusi.


"Itu juga boleh, Afnan setuju. Menurut kamu gimana Fi?" tanya Afnan pelan meminta pendapat pada Kahfi adiknya.


Kahfi hanya menatap Bunda dan Afnan secara bergantian lalu meneguk air mineral yang ada di dalam gelas.


"Terserah Abang, kan Abang yang mau menjalani, bukan Kahfi," ucap Kahfi pelan dan pergi meninggalkan meja makan menuju kamar tidurnya kembali.


Semua terdiam dan menghabiskan makanannya masing-masing. 'Ada yang janggal dengan sikap Kahfi, yang berbeda saat membicarakan Ayumi, ada apa sebenarnya?' tanya Afnan didalam hatinya sendiri.


Setelah selesai sarapan, Afnan duduk bersila di ruang tengah sambil membuka beberapa tas besar yang berisi oleh-oleh khusus untuk kedua orang tuanya, Kahfi dan Ayumi. Tidak lupa Afnan juga membelikan oleh-oleh untuk Zura dan Rara serta Bulan.


Bunda Icha masuk ke ruang tengah dengan membawa secangkir cappucino untuk Afnan.


"Ini kopi untukmu afnan, apa yang kamu bawa?" tanya Bunda Icha pelan dan meletakkan cangkir kopi itu di atas meja ruang tengah.


"Terimakasih Bunda, ini buat Bunda, ini buat Bapak, ini untuk Kahfi, yang ini untuk Ayumi," ucap Afnan pelan.


Afnan membelikan Bunda Icha dan Ayumi baju gamis lengkap dengan hijab senada serta mukena cantik. Untuk kiyai Toha, Afnan memberikan sarung dan sajadah, untuk Kahfi sebuah kemeja koko dengan warna navy, untuk Zura, Rara dan Bulan diberikan hijab panjang.


"Kahfi kenapa Bunda? Seperti kurang suka dengan Ayumi?" tanya Afnan pelan kepada Bunda Icha yang masih melipat baju gamis barunya itu.


Bunda Icha menatap Afnan dan tersenyum.


"Bukan tidak suka, mungkin Kahfi sedang banyak pikiran. Pilihannya belum ditetapkan sedangkan hari ini adalah penentuan jawabannya," ucap Bunda Icha menengahi.

__ADS_1


Bunda Icha menutup rapat perasaan Kahfi kepada Ayumi. Bunda Icha tidak mau ada perang saudara di rumahnya. Salah satunya harus mundur perlahan dengan keikhlasan.


"Benarkah begitu? Tidak ada yang sedang Bunda sembunyikan dari Afnan kan?" tanya Afnan pelan kepada Bundanya.


__ADS_2