Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
62


__ADS_3

Hari adalah hari Jumat, besok Sabtu adalah hari libur karena tanggal merah, jadi semua aktivitas dan kegiatan belajar mengajar ataupun ekstrakurikuler diliburkan.


Setelah sholat Jumat semua santriwan dan santriwati diperbolehkan pulang kembali ke rumah masing-masing dan kembali ke Pondok Pesantren pada hari minggu sore sebelum pukul empat.


Ayumi dan Bulan sudah bersiap-siap untuk pulang. Sejak kemarin mereka berdua sudah merapikan beberapa pakaian dan barang-barang yang sekiranya tidak terpakai di Pondok Pesantren untuk dibawa kembali pulang.


"Lan, hati-hati ke Solo ya. Salam untuk Mama dan Papa kamu. Hilangkan rasa benci, Mita ridho orang tua agar kita bisa ikut dalam pertukaran pelajar dua bulan lagi," ucap Ayumi pelan sambil memeluk Bulan dengan penuh kasih sayang.


Kebersamaan mereka selama satu bulan lebih ini, membuat keduanya dekat seperti saudara, bukan hanya secara pertemanan namun secara batin mereka juga kuat. Ketulusan hati dalam persahabatan mereka benar-benar terlihat, hingga banyak santriwati lain yang iri terhadap mereka berdua.


"Makasih Ay. Cuma kamu sahabat yang peduli denganku. Suatu saat Bulan akan main ke rumahmu, mau berkenalan dengan Nenek Arsy yang baik itu, penasaran secantik apa Nenek Arsy itu," ucap Bulan pelan dan terkekeh pelan.


"Sama-sama Bulan. Yuk, kita pulang sekarang biar gak kesorean," ucap Ayumi pelan.


Keduanya beranjak keluar Pondok Pesantren menuju lorong yang menghubungkan antara Pondok Pesantren dan sekolah. Langkah pelan keduanya, berjalan sambil berbincang hingga tak terasa sudah berada di depan gerbang masuk sekolah.


Mobil sport Kahfi sudah terparkir di depan gerbang masuk. Ada Bunda Icha dan Kyai Toha yang ikut menemani Kahfi menjemput gadis kesayangannya itu.


Senyum lebar Ayumi terbit mengarah pada Bunda Icha yang juga tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Ayumi.


"Lihat itu, itu Bunda Icha yang Tempo hari aku ceritakan," ucap Ayumi pelan.


"Calon mertua?" goda Bulan sambil menyenggol lengan Ayumi dengan pelan.


Ayumi hanya tersipu malu menoleh ke arah Bulan.


"Bunda Icha, apa kabar? Kenalkan ini Bulan, teman Ayumi," ucap Ayumi pelan memperkenalkan Bulan kepada Bunda Icha.


Ayumi menghampiri Bunda Icha lalu menyalami punggung tangan itu secara bergantian kepada Kyai Toha.


"Alhamdulillah sehat Ayumi sayang. Hai Bulan, mau pulang ke arah mana?" tanya Bunda Icha kepada Bulan.


"Mau ke Solo Bunda," jawab Bulan dengan singkat.


Ayumi menoleh ke arah Kahfi yang sejak tadi hanya terdiam dan tidak bersuara. Wajahnya terlihat murung dan lemas seperti menahan kesal yang tak tersalurkan.

__ADS_1


"Kita juga mau ke Solo, sekalian saja bareng, nanti Bulan mau turun dimana," tanya Bunda pelan.


"Bulan sudah janji dengan Mama dijemput di terminal Solo," jawab Bulan dengan sopan.


"Sepertinya kita lewat terminal juga, ya sudah sekalian saja, yuk masuk ke mobil," ucap Bunda Icha mengajak Bulan dengan ramah.


Bulan hanya menatap ke arah Bunda Icha dan Ayumi secara bergantian.


"Tidak apa-apa Bulan, ikutlah. Bunda, Ay, pulang ya," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.


"Bunda secara khusus jemput Ayumi. Tadi Bunda sudah ijin pada Nenek Arsy," ucap Bunda Icha menjelaskan.


"Keadaan Nenek bagaimana Bunda?" tanya Ayumi pelan.


"Alhamdulillah baik, tadi cuma mengeluh pusing karena beberapa hari ini kurang istirahat," ucap Bunda Icha menjelaskan.


Sebelum menjemput Ayumi, Bunda Icha dan Kyai Toha memang sudah meminta ijin kepada Nenek Arsy untuk membawa Ayumi ke Solo. Sesuai janji Kyai Toha dan Pak Sukoco untuk melancarkan Rara untuk Kahfi. Permintaan ini adalah permintaan terakhir Rara yang saat ini terbaring lemas di rumah sakit karena kelelahan mengikuti praktek hingga sore hari hampir setiap hari.


Nenek Arsy mengijinkan dan meminta agar malam ini Ayumi tidak boleh menginap harus pulang ke rumah. Hanya itu pesan Nenek Arsy kepada Bunda Icha dan Kyai Toha.


Ayumi, Bulan dan Bunda Icha duduk di kursi penumpang di belakang, sedangkan Kahfi yang menyetir mobil itu dan Kyai Toha duduk di samping Kahfi sambil memegang tasbih untuk tetap berdzikir dan bersholawat.


"Fi, pelan-pelan saja, acaranya juga masih setelah maghrib," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi putra bungsunya.


Kahfi hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bunda Icha.


"Kahfi, jangan seperti ini, jawab bila Bunda bertanya," tegas Kyai Toha kepada Kahfi.


Kahfi melirik ke arah Kyai Toha, bapaknya sendiri.


"Iya Pak," jawab Kahfi dengan santun.


Mereka semua kembali terdiam, hingga Ayumi hanya bisa menatap Kahfi yang cemberut melalui kaca spion tengah.


"Bunda Icha masak apa, sejak tadi Ayumi cium wangi masakan," tanya Ayumi pelan sambil mengendus-endus berasal dari mana wangi masakan itu.

__ADS_1


"Waduh, menantu kesayangan Bunda pintar memuji nih," ucap Bunda Icha pelan.


Bulan hanya tersenyum tersipu melihat kedekatan kedua wanita tersebut.


Perjalanan menuju kota Solo di siang hari cukup panas dengan jalanan yang masih melengang sepi, hanya ada beberapa kendaraan roda empat dan roda dua yang ditemui selebihnya adalah truck dan tronton yang membawa muatan berat.


"Kita mau kemana Bunda, Ayumi sampai lupa bertanya," ucap Ayumi pelan dengan kepolosannya.


Bunda Icha menatap wajah Ayumi sendu lalu tersenyum kepada Ayumi.


"Kita akan melamar gadis cantik untuk Kahfi," ucap Bunda Icha pelan namun seakan tertahan di tenggorokan.


"Melamar?! Selamat Kak Fi," ucap Ayumi setengah berteriak di dalam mobil.


"Berisik!!" ucap Kahfi dengan ketus.


Ayumi langsung terdiam lalu menatap Bunda Icha yang menutup mulutnya dengan telunjuk jari kanannya.


Kyai Toha hanya melirik ke arah Kahfi yang kesal dan marah.


"Sama siapa Bunda?" tanya Ayumi berbisik pelan di belakang.


"Rara," jawab Bunda Icha singkat.


"Apa?! Rara!" teriak Ayumi dengan keras tanpa bisa mengendalikan keterkejutannya.


Ayumi mengerjapkan kedua matanya seolah tidak percaya, secepat itu hubungan keduanya harus segera diresmikan. 'Kenapa Ayumi merasa tidak rela, kenapa Ayumi merasa ada yang kosong, kenapa Ayumi merasa kehilangan,' batin Ayumi di dalam hatinya.


"Ayumi?" panggil Bunda Icha pelan.


Ayumi yang tersadar dalam lamunannya hanya bisa tersenyum yang dipaksakan.


'Kenapa harus sakit, mendengar berita ini,' batin Ayumi dalam hatinya.


Kahfi menatap wajah Ayumi yang tersirat sedikit keanehan dan kekecewaan namun tak terungkap. 'Apakah kamu sakit mendengar ini Ay?' tanya Kahfi dalam hatinya.

__ADS_1


Ayumi menyandarkan tubuhnya di sandaran jok. Kepalanya seperti berputar, dan tubuhnya terasa lemas, jiwanya seakan tidak bersemangat.


'Aku ini kenapa? Kenapa aku sakit hati, apakah aku menyukai Kak Kahfi tanpa aku sadari,' teriaknya dalam hati.


__ADS_2