
Sejak pagi Ayumi dan Bulan sudah berkemas merapikan semua barang-barang yang akan dibawa pulang hari ini. Kamar mereka dibersihkan semua sprei dan selimut dibawa pulang.
Hari ini sesuai jadwal, Kahfi akan datang menjemput Ayumi, sedangkan Bulan akan dijemput oleh Ayah Sukoco dan Mama Anna.
Sejak Kahfi mengumumkan pilihannya jatuh pada pilihan pertama, Ayah Sukoco segera mencari universitas terbaik di negara yang akan ditinggali oleh Kahfi dan Rara. Ayah Sukoco sebisa mungkin memberikan yang terbaik, terlebih selama disana Rara akan diurus dan dirawat oleh Kahfi. Semua kebutuhan dari apartemen dan mobil sudah disediakan oleh teman Ayah Sukoco yang berada di sana.
"Ay, selamat berlibur ya, nanti kalau mau ke Bandung pasti aku kabari," ucap Bulan pelan.
"Iya Bulan, terimakasih. Ayumi juga akan tinggal dirumah Bunda Icha," ucap Ayumi pelan.
Mereka berdua membawa koper dan tas besar yang berisi peralatan dan perlengkapan mereka yang akan mereka persiapkan untuk berangkat ke Mesir akhir bulan nanti.
"Semangat dan jaga kesehatan selalu, kalau Kak Kahfi sedang apel ke Solo, kamu ikut ya Ay, nanti kita jalan-jalan," ucap Bulan pelan kepada Ayumi.
"Inshaa Allah Bulan, Ayumi gak bisa janji. Bunda Icha sering mengajak Ayumi mencoba resep baru," ucap Ayumi pelan sambil terkekeh.
"Senangnya punya calon mertua yang punya hobby sama," ucap Bulan pelan.
Ayumi tersenyum manis.
"Beruntung namanya," ucap Ayumi singkat.
Sudah berada di depan gerbang depan sekolah. Banyak mobil yang terparkir di halaman sekolah, dua diantaranya milik Kahfi dan Ayah Sukoco.
"Assalamu'alaikum Ukhty Ayumi," panggil seseorang dari samping.
"Waalaikumsalam," jawab Ayumi lalu menoleh ke arah asal suara.
"Apa kabar calon istriku," tanya Afnan dengan senyum melebar.
Ayumi terkejut lalu membalas senyuman itu dengan senyuman termanis yang pernah dimiliki. Ayumi menghampiri Afnan dan mencium punggung tangan Afnan dengan penuh hormat.
"Apa kabar Kak Afnan? Kapan sampai ke Indonesia?" tanya Ayumi lembut.
Pandangan mereka bertemu, ada perasaan rindu di hati keduanya. Tatapan mata seolah ingin saling memeluk namun terhalang oleh dosa.
"Kakak sudah ada tiga hari disini, kita pergi sebentar, temani Kakak belanja, mau?" tanya Afnan pelan.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju dengan ucapan Afnan.
"Kak Fi tidak ikut?" tanya Ayumi pelan sambil melirik ke kanan dan ke kiri mencari Kahfi si penghibur.
"Kenapa? Kamu rindu sama Kahfi?" tanya Afnan menatap tajam kedua mata Ayumi seolah menegaskan bahwa kamu itu milikku, calon istriku, dan bukan milik yang lain.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan. cepat.
__ADS_1
"Bukan itu maksuda Ayumi, maaf kalau membuat Kakak terganggu dengan ucapan Ayumi," ucap Ayumi lirih dan menunduk.
Afnan hanya menghela napas panjang dan menghembuskan pelan. Rasa cemburunya sudah membakar hatinya, hingga kadang tidak berakal sehat dalam bertindak.
"Ay, Bulan duluan ya, itu Ayah sudah datang," ucap Bulan pelan kepada Ayumi.
"Bulan, kenalkan ini Kak Afnan, dia ini ..." ucapan Ayumi terhenti sesaat dan Afnan menakutkan ucapan Ayumi dengan suara tegas.
"Ayumi calon istri saya," tegas Afnan.
Bulan hanya mengangguk pelan dan menatap Ayumi dan Afnan secara bergantian.
"Bulan!!" panggil Ayah Sukoco pelan.
Disaat yang sama, Ustad Ikhsan keluar gerbang sekolah mencari Bulan.
"Bulan?!" panggil Ustad Ikhsan dengan keras.
Bulan menoleh ke arah asal suara dan tersenyum lebar.
"Ustad Ikhsan," ucap Bulan dengan tatapan mendamba pada Ustad Ikhsan.
Ustad Ikhsan menghampiri Bulan dan Ayah Sukoco yang datang bersamaan. Mereka berbincang lama.
Selama dalam perjalanan menuju tempat yang akan dikunjungi oleh Afnan dan Ayumi berbelanja, Afnan banyak bertanya tentang kegiatan dan aktivitas yang selama ini dilakukan oleh Ayumi.
Sikap posesif Afnan sudah mulai nampak jelas.
"Ay, kapan ke Mesir?" tanya Afnan pelan.
"Akhir bulan Kak, sekitar dua Minggu lagi," ucap Ayumi pelan.
"Nanti berangkatnya bareng Kakak ya," ucap Afnan pelan kepada Ayumi.
"Iya Kak" jawab Ayumi singkat.
"Ay, kamu mau menikah muda?" tanah Afnan pelan.
Ayumi menatap Afnan dengan tatapan penuh tanya.
"Ayumi punya cita-cita, bukankah Kakak sudah tahu itu? Bahkan Kakak tidak pernah mmepersalahman itu selama ini," ucap Ayumi pelan.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Afnan pelan.
Ayumi menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Ayumi tidak takut, hanya saja Ayumi tidak siap dan Ayumi masih ingin menjadi dokter Kak," ucap Ayumi menjelaskan.
"Kakak ingin mengkhitbahmu seusai kamu lulus dari Al Azhar. Kamu boleh kuliah ambil jurusan kedokteran, Kakak akan mendukung kamu sepenuhnya," ucap Afnan dengan tegas.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan tatapan tidak percaya.
"Ayumi tidak bisa Kak, mohon ijinkan hingga Ayumi lulus dari kuliah kedokteran," ucap Ayumi pelan.
Afnan menatap lurus ke arah jalanan, pikirannya kacau karena cemburu yang berlebihan.
Afnan tidak bergeming dan tidak menjawab pertanyaan Ayumi.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di pelataran parkir gedung tempat yang dituju.
Afnan ingin membahagiakan calon istrinya itu dengan membelikan kebutuhan Ayumi dari hasil jerih payahnya selama ini sebagai asisten dosen.
"Ayok," ucap Afnan mengajak Ayumi masuk ke dalam pusat perbelanjaan di kota besar itu.
"Kita mau beli apa Kak?" tanya Ayumi polos.
Afnan hanya tersenyum melihat tingkah polos calon istrinya itu.
"Pilihlah pakaian yang kamu suka, Kakak ada sedikit rejeki, kalau Kakak belikan, belum tentu kamu suka, maka pilihlah baju terbaik yang kamu suka," ucap Afnan pelan saat berada dibsalah satu butik ternama di dalam pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
"Ini terlalu berlebihan Kak? Ayumi masih ada simpanan jika untuk membeli pakaian," Ical Ayumi pelan menolak secara halus permintaan Afnan.
"Jangan pernah menolak pemberian Kakak, calon istriku" ucap Afnan pelan lalu terkekeh.
"Kak Afnan selalu buat jantung Ayumi berolahraga tidak tepat pada waktunya," ucap Ayumi pelan kepada Afnan.
Afnan hanya tertawa terbahak-bahak dan menyuruh Ayumi segera memilih pakaian mana yang akan dibelinya.
Sudah dua jam, Ayumi dan Afnan berbelanja kebutuhan Ayumi, dari membeli baju, sepatu, tas dan make up serta beberapa kebutuhan lain yang digunakan sehari-hari oleh Ayumi.
"Sudah cukup? Apa ada yang lain yang mau kamu beli lagi Ay?" tanya Afnan kepada Ayumi.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak Kak Afnan, ini semua sudah banyak, dan cukup untuk Ayumi. Ayumi tidak enak, harus berbelanja sebanyak ini, apa kata Bunda nanti," ucap Ayumi pelan berjalan mengikuti Afnan yang membawa empat kantung belanjaan.
"Bunda sudah tahu, jadi gak usah takut dan khawatir," ucap Afnan pelan menjelaskan.
Ayumi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
Mereka berjalan menuju tangga eskalator untuk turun ke lantai dasar dan kembali pulang ke rumah.
__ADS_1