
Hari ini sangat melelahkan, perbedaan waktu membuat kinerja tubuh menjadi tidak stabil.
Malam ini mau tidak mau, suka tidak suka mereka harus tidur dalam satu kamar yang sama tanpa ada ikatan resmi, hanya sebatas tunangan.
Kahfi sudah sejak tadi mondar mandir di depan pintu kamar. Pakaiannya sudah ada didalam dan sudah dirapikan oleh Tina ke dalam lemari pakaian yang ada didalam kamar.
Ceklek ...
Pintu kamar tidur sudah terbuka, Rara keluar dari kamar dengan menggunakan piyama panjang dengan rambut tergerai indah di bahunya.
"Kak Fi, mau ambil pakaian? Masuk saja, pintu tidak pernah Rara kunci," ucap Rara pelan kepada Kahfi dan berjalan menuju dapur kecil yang berada di pojok ruangan.
Rara membuat susu putih untuk dirinya sendiri dan membuatkan Kahfi kopi capuccino kesukaannya. Sebelum berangkat ke negara ini, Rara sempat berkunjung ke rumah Bunda Icha untuk menanyakan apa saja yang tidak disukai dan disukai oleh Kahfi.
Rara membawa satu nampan besar berisi dua gelas minuman dan satu toples cemilan kering sebagai teman menonton TV.
Kahfi sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur lalu duduk di sofa ruang tengah bersama Rara. Pandangannya terarah pada dua gelas minuman yang satu berisi susu putih yang sebagian sudah dihabiskan oleh Rara hingga setengah gelas. Gelas yang satu masih utuh berisi kopi capuccino kesukaannya. Wangi dari kopi itu sangat khas sekali, Kahfi menatap Rara yang masih asyik memindahkan chanel TV dengan santai sambil beberapa kali tangannya mengambil cemilan ke dalam toples tanpa mengindahkan Kahfi yang sudah sejak tadi berada disana.
"Uhukk.." Kahfi mencoba berpura-pura batuk dan melirik ke arah Rara.
Rara hanya menatap sekilas dan tersenyum manis, lalu membawa satu gelas capuccino itu dan diletakkan di meja tepat di depan Kahfi.
"Ini kopi capuccinonya untuk Kak Fi, diminum ya," ucap Rara pelan dengan nada memohon.
Kahfi hanya mengangguk pelan dan membalas senyuman Rara. Kahfi mengambil gelas berisi kopi capuccino itu dan meneguknya hingga habis tak bersisa.
Rara hanya menatap tidak percaya jika kopi buatannya langsung habis diminum dalam satu waktu.
"Kak Fi, haus? Mau Rara ambilkan air atau dibuatkan lagi kopinya?" tanya Rara pelan kepada Kahfi.
__ADS_1
Kahfi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ini sudah cukup Ra. Ini mirip dengan buatan Bunda," ucap Kahfi pelan menatap Rara.
Rara terkekeh pelan menggoda Kahfi.
"Rindu dengan Bunda Icha ya?" ucap Rara menggoda Kahfi yang sedikit tersipu malu.
Kahfi menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, sangat rindu. Kak Fi itu hampir belum pernah terpisah jauh dari Bunda, paling waktu di Pesantren, itu juga satu minggu sekali kan bisa pulang ke rumah," ucap Kahfi pelan kepada Rara.
Suasana di ruangan itu mulai menghangat. Keduanya jauh dari orang tua dan berusaha untuk bisa mandiri dan melakukan semuanya dengan sendiri. Hanya ada Rara dan Kahfi, mereka berdua akan selalu saling bahu membahu untuk melengkapi satu sama lain sebagai best partner.
Rara tersenyum dan tertawa terbahak-bahak, mulutnya di tutup dengan satu tangannya.
"Kak Fi, baru juga semalam, kita disini bakal lama, minimal Rara sembuh atau Kak Fi sudah lulus dan wisuda," ucap Rara pelan menjelaskan.
"Maafkan sikap Kakak selama ini Ra," ucap Kahfi tiba-tiba.
Hati Kahfi mulai tersentuh dan merasa sangat iba saat melihat Rara di pesawat kemarin. Tubuhnya dingin seperti mayat hidup. Hal itu yang membuat Kahfi yakin untuk menjaga amanah kedua orang tua Rara dan juga orang tua Kahfi sendiri.
"Iya Kak Fi tidak apa-apa, Rara paham, Rara tidak akan pernah bisa ada di hati dan pikiran Kak Fi," ucap Rara pelan dengan wajah sendu.
Kahfi menegakkan duduknya dan menatap Rara dengan tajam. Hatinya ikut berdesir saat Rara berucap kata-kata seperti itu, menyerah dan pasrah seolah menjadi tujuannya saat ini.
"Maafkan Kak Fi yang tidak bisa menaruh Rara di dalam hati Kak Fi," ucap Kahfi dengan jujur.
Jujur Kahfi hanya kasihan melihat Rara, namun kagum dengan kegigihannya untuk berusaha sembuh walaupun Kahfi yang menjadi tujuannya, minimal hidupnya lebih memiliki tujuan.
__ADS_1
"Kamu wanita hebat dan kuat Ra, suatu hari kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik dan hebat, bukan laki-laki seperti Kak Fi yang tidak perduli kepadamu, Ra," ucap Kahfi pelan menjelaskan.
Rara yang menyimak penjelasan Kahfi langsung menundukkan wajahnya dengan sedih dan kecewa. Harapannya adalah Kahfi, tujuannya adalah Kahfi, lalu lelaki itu lebih memilih wanita lain yang sudahpasti akan menjadi milik orang lain, yang tak lain saudara kandungnya sendiri.
Sadar pernyataannya itu salah dan membuat kecewa serta sakit hati Rara, Kahfi langsung membungkam mulutnya agar tidak terus berbicara hal-hal yang membuat Rara berpikir berat.
"Maafkan Kak Fi, Ra," ucap Kahfi pelan dengan rasa bersalah.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa Kak Fi. Rara lebih suka Kak Fi jujur dari hati, tidak perlu ada rasa kasihan dan modus. Rara bisa menerima semuanya. Pertunangan kita pun hanya sebatas keinginan Rara, bukan karena kebutuhan dan bukan karena suatu tujuan," ucap Rara pelan. Kedua matanya sudah basah, meratapi nasibnya sendiri.
"Ra, bukan itu maksud Kak Fi," ucap Kahfi dengan pelan.
"Rara ingin tidur Kak Fi," ucap Rara pelan lalu menghabiskan sisa susu putih yang masih ada didalam gelas dan beranjak berdiri menuju kamar tidurnya.
Rara menutup pintu kamar itu dengan rapat, dan menyandarkan tubuhnya di belakang pintu kamar itu. Air matanya luruh begitu saja tanpa hambatan. 'Rasanya sakit sekali, Kak Fi bicara seperti itu,' batin Rara di dalam hati.
Tubuhnya turun dan duduk dilantai yang dingin. Kedua tangannya menutup wajah Rara dan menghapus air mata yang terus saja luruh tanpa henti.
Terdengar suara langkah kaki dan ketukan pelan dari arah luar kamar tidur.
"Ra, maafkan Kak Fi," ucap Kahfi dengan lembut dan mengetuk pintu kamar itu dengan pelan.
Rara hanya mendengar suara Kahfi dari dalam kamar, hatinya sudah kecewa tapi tetap ingin mencinta seolah takdir bisa merubah hubungan ini menjadi suatu hubungan yang nyata bukan hanya angan-angan Rara belaka.
Rara hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Berusaha berdiri dan beranjak menuju ranjang tidurnya.
Selimut tebal sudah menutup tubuh Rara hingga bagian leher, rasanya nyaman dan hangat.
__ADS_1
Kahfi terus mengetuk pintu kamar itu hingga beberapa kali dan tidak ada jawaban. Kahfi pun mengacak rambutnya dengan sedikit frustasi.
'Arghhhhhh... Kenapa aku ini harus membuat Rara menangis, rasanya aku juga ikut tersiksa dengan keadaan ini,' batin Kahfi didalam hatinya.