
Setelah mendapatkan ijin dari Nenek Arsy, Ayumi dan Afnan pergi untuk mencari udara sore dengan motor kesayangan Afnan.
Afnan sudah duduk di atas motor besarnya, dan Ayumi sudah duduk di jok belakang dengan raut wajah yang sumringah.
Hatinya sangat berbunga-bunga dan bahagia, bagaimana tidak, orang yang selama ini Ayumi sukai tepat di sore ini mengajaknya pergi.
"Kita mau kemana?" tanya Afnan pelan sambil menengok ke belakang menatap Ayumi yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Eh anu kemana ya Kak. Kan kakak yang ajak Ayumi, kok malah tanya Ayumi," jawab Ayumi pelan sedikit panik dan tergagap.
Afnan tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Ayumi yang terlihat spontan dan menggemaskan itu.
"Ada request mau kemana? Kakak antar nih," ucap Afnan pelan kepada Ayumi sambil memasangkan helm kepada Ayumi.
"Kemana saja Kak Afnan. Ayumi kan belum tahu kota ini," jawab Ayumi singkat dan tersenyum dengan sangat manis.
Senyum penuh ketulusan ini yang selalu terbayang di pikiran Afnan.
"Baiklah. Ikuti kakak saja ya. Pegangan yang kenceng biar gak jatuh," ucap Afnan singkat dan mengaitkan kaitan helm full face yang di pakainya.
"Siap Pak Guru," jawab Ayumi sambil tertawa terkekeh.
Kedua tangan Ayumi secara spontan melingkar indah di perut Afnan. Rasanya seperti mengalir begitu saja. Kerinduan selama sepuluh tahun akhirnya terbayar sudah dengan kebahagian di sore yang indah ini.
Motor Afnan sudah melaju dengan kecepatan sedang. Afnan sengaja melajukan motornya dengan santai agar Ayumi bisa menikmati perjalanannya. Rasanya kebersamaan seperti ini tidak ingin berakhir begitu saja. Ingin terus dinikmati oleh keduanya.
Dua insan itu sedang di Landa asmara. Jatuh cinta pertama yang berakhir pada kerinduan selama sepuluh tahun lamanya.
Ayumi tersenyum sambil menikmati udara sore yang begitu segar merasuk rongga hidung hingga ke paru-paru. Pemandangan indah yang tidak biasa Ayumi lihat di kota besarnya. Kota ini sungguh luar biasa indah dan menarik, batinnya dalam hati Ayumi.
Sejak tadi keduanya hanya terdiam membisu. Tidak ada pertanyaan, komentar atau apapun yang terlontar dari bibir keduanya.
Afnan sejak awal mengamati sikap dan raut wajah bahagia Ayumi dari balik kaca spion motornya. Hatinya ikut senang dan senyumnya ikut mengembang di balik helm full facenya.
"Kita Sholat Maghrib di Masjid Besar ya. Setelah itu kita makan malam," ucap Afnan membuka pembicaraan.
Ayumi yang masih dengan rasa senang dan bahagianya hanya menganggukkan pelan kepalanya. Terlihat jelas anggukan Ayumi dari kaca spion motor yang membuat Afnan tersenyum puas dari balik helm full facenya.
__ADS_1
Kedua tangannya masih terus melingkar di perut Afnan. Semua terjadi begitu saja tanpa di sadari oleh Ayumi
"Kok gak dijawab?" tanya Afnan sambil menoleh ke arah Ayumi.
Ayumi melempar senyum yang lebar dan menjawab pelan tepat di dekat telinga Afnan.
"Iya Kak Afnan," jawab Ayumi singkat.
"Kira-kira mau makan apa?" tanya Afnan kemudian kepada Ayumi.
"Ekhm .. Apa ya. Apa aja, yang penting enak Kak," ucap Ayumi pelan tanpa berpikir panjang.
"Baiklah," ucap Afnan singkat.
Motor sudah masuk ke pelataran Masjid Besar. Sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Mereka berdua sepakat untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di Masjid Besar.
"Yuk kita wudhu dulu. Setelah ini kita menunggu waktu Maghrib," ucap Afnan pelan dan meletakkan kedua helm tersebut di atas motor besarnya.
"Iya Kak. Ayumi duluan ya," ucap Ayumi pelan dan pergi meninggalkan Adnan yang masih menatap lekat tubuh Ayumi yang sudah pergi menjauh untuk berwudhu.
Afnan berjalan ke area Masjid menuju tempat wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib.
Ayumi sudah duduk di tangga untuk menunggu Afnan yang belum juga keluar dari Masjid. Sesekali Ayumi menatap ke dalam untuk mencari keberadaan Afnan.
Afnan yang sudah selesai sejak tadi dengan sengaja keluar dari pintu samping dan mengamati gadisnya dari kejauhan.
Senyum bibirnya tertarik lebar, mengamati gadisnya yang sedikit panik menunggu Afnan yang belum juga keluar dari Masjid. Terlihat jelas wajah Ayumi yang terlihat takut dan panik.
"Hayo.. nungguin Kakak ya?" tanya Afnan yang mengejutkan Ayumi.
"Kakak ... Ayumi kaget," ucap Ayumi kesal.
"Kenapa? takut Kakak pergi ninggalin Ayumi?" tanya Afnan kepada Ayumi.
Afnan ikut duduk di tangga tepat di samping Ayumi yang masih kesal.
"Ayumi gak tahu kota ini Kak. Lagipula ini sudah malam, kemana Ayumi cari angkutan untuk pulang," ucap Ayumi terbata-bata seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Kakak disini, dan tidak akan meninggalkan Ayumi sendirian. Kakak akan selalu ada untuk Ayumi," ucap Afnan pelan menatap lekat kedua mata basah Ayumi.
"Kak Afnan tidak pernah berubah. Masih sama seperti waktu itu," ucap Ayumi pelan dan menatap ke arah depan menghindari tatapan Afnan yang selalu membuat hati Ayumi berdesir tak karuan.
"Kakak akan tetap seperti ini Ayumi. Menjagamu dan menemani Ayumi agar tidak pernah sendirian," ucap Afnan pelan menatap wajah Ayumi dari samping.
Ayumi merasa di perhatikan akhirnya menoleh dan menatap lekat kedua mata Afnan. Pandangan mereka bertemu, kedua mata mereka saling menatap lekat melihat kerinduan dan cinta yang tertanam dalam hati mereka berdua.
"Kak Afnan. Terima kasih untuk semuanya. Untuk kejadian waktu itu dan untuk hari ini," ucap Ayumi yang menyembunyikan rasa bahagianya.
"Cari makan yuk. Kakak sudah lapar," ucap Afnan pelan.
Hatinya terasa teriris menatap Ayumi dan mendengar penuturan Ayumi yang begitu jujur dan tulus.
Ayumi beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Afnan yang sudah lebih dulu menuju motor besarnya di parkiran.
Keduanya kembali terdiam satu sama lain. Afnan memakaikan helm kepada Ayumi yang hanya terdiam menatap Afnan. Laki-laki yang sudah mengisi hatinya sejak sepuluh tahun lalu. Laki-laki yang selalu menjaganya saat bermain, laki-laki yang selalu membuat Ayumi merasa aman dan nyaman.
"Kak Afnan?" panggil Ayumi lirih. Ayumi memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan dengan memanggil Afnan dengan pelan.
Afnan menatap Ayumi dengan pandangan penuh tanya.
"Ada apa Ayumi? Ada yang bisa Kakak bantu?" tanya Afnan pelan.
"Kakak akan selamanya seperti ini? Tidak akan pernah berubah kepada Ayumi. Kakak tahu kan, Ayumi sekarang hanya memiliki Nenek Arsy. Ayumi yatim piatu, Kak," ucap Ayumi pelan.
"Ayumi, dengar kata-kata Kakak. Kakak akan seperti ini dan tidak akan pernah berubah. Selama Ayumi masih mau Kakak jaga. Tapi bila suatu saat nanti akan ada yang menjaga Ayumi, maka Kakak akan mengikhlaskanmu dengan orang yang ingin menjagamu," ucap Afnan pelan.
Ayumi menatap Afnan dengan raut wajah yang berbeda. Hatinya terluka mendengar penuturan Afnan.
"Kakak ingin pergi dari Ayumi?" tanya Ayumi pelan.
"Ayumi ingin meninggalkan Kakak?" tanya Afnan kembali tanpa menjawab pertanyaan Ayumi.
Keduanya kembali terdiam.
"Ayo naik. Kakak sudah lapar." ucap Afnan pelan kepada Ayumi.
__ADS_1