Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
53


__ADS_3

Kahfi memegang dua gelang itu di telapak tangannya. Gelang yang memang ingin dipakaikan kepada Ayumi sebagai tanda cintanya kepada gadis cantik itu.


Kahfi menatap Ayumi yang dari tadi juga menatap dirinya dengan perasaan kagum.


"Ada yang salah sama Kakak?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi.


Ayumi menggeleng pelan.


"Tidak ada," jawab Ayumi singkat dan masih menatap Kahfi dengan ramah.


Bibir bawahnya digigit, karena Ayumi mulai jenuh dan bosan duduk di kursi taman yang keras itu.


"Ay, pakai ini ya. Biar kamu selalu ingat Kakak," ucap Kahfi pelan.


Ayumi hanya terdiam dan tersenyum.


"Aku takut Kak," ucap Ayumi pelan.


"Takut apa?" tanya Kahfi dengan penasaran.


"Takut jatuh cinta sama Kakak," ucap Ayumi sambil tertawa terbahak-bahak.


Sadar suaranya begitu kencang, Ayumi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Kahfi ikut tersenyum dalam hatinya berkata, 'Itu yang Kakak harapkan, agar kamu bisa membalas untuk mencintai Kakak.'


"Itu yang Kakak harapkan Ay," celetuk Kahfi lirih.


Ayumi terdiam mendengar ucapan Kahfi.


"Itu semua tidak akan pernah terjadi Kak," ucap Ayumi tegas.


"Kakak akan berusaha untuk selalu menjagamu Ayumi Saputri," ucap Kahfi pelan dan tersenyum.


"Terserah Kakak aja, yang penting Ayumi sudah mengganggap Kak Kahfi sebagai Kakak Ayumi," ucap Ayumi pelan.


"Apa? Kakak ini akan jadi adikmu, Ay," ucap Kahfi terkekeh.


"Masa iya mau manggil adik, Kakak suka aneh," ucap Ayumi pelan.


"Mau manggil apapun terserah Ayumi aja. Pakai gelang ini tanda sayang seorang adik untuk calon Kakak iparnya," ucap Kahfi lirih.


"Kalau Ayumi tidak mau gimana? Buat Rara aja, Kak," ucapa Ayumi pelan.

__ADS_1


Kahfi melempar pandangannya ke arah lain. Paling tidak suka membahas Rara, disaat yang kurang tepat.


Melihat perubahan wajah Kahfi yang tampak kesal, Ayumi pun mengiyakan permintaan Kahfi.


"Mana gelangnya biar Ayumi pakai," ucap Ayumi pelan.


Kahfi menatap Ayumi, rasanya tidak percaya, gadis pujaannya ini luluh begitu saja.


"Ayumi serius? Ikhlas? Tidak terpaksa? Bukan karena kasihan?" tanya Kahfi pelan.


"Iya Ayumi serius, ikhlas, tidak terpaksa dan bukan karena kasihan, adikku Kahfi Al Kautsar," ucap Ayumi lembut lalu terkekeh sendiri karena menyebut nama adikku, seperti lucu kedengarannya.


Kahfi memasangkan satu gelang yang ukurannya lebih kecil ke pergelangan tangan kiri Ayumi.


"Terima kasih ya Kak. Ayumi akan simpan sebagai kenangan dari calon adik ipar," ucap Ayumi terkekeh.


Kahfi melotot dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Sudah mengaku calon adik ipar bukan calon imam?" ucap Kahfi kepada Ayumi.


"Calon imam Ayumi lagi di Mesir," ucap Ayumi pelan sambil tersenyum.


"Hem, bisa tidak kalau kita lagi bareng tanpa membahas Bang Afnan dan Rara, Kakak tidak suka," ucap Kahfi kesal dan sedikit cemburu.


"Bida bantu untuk pasangkan gelang ini ditangan Kakak?" tanya Kahfi dengan nada memohon.


Ayumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Sini Ayumi bantu," ucap Ayumi pelan lalu memasangkan gelang itu di pergelangan tangan kiri Kahfi.


"Bagus ya Ay," ucap Kahfi pelan melihat gelang yang sudah terpasang dipergelangan tangan kiri Kahfi dan Ayumi secara bergantian.


"Iya bagus Kak Fi," jawab Ayumi singkat sambil menatap gelang cantik yang ada di pergelangan tangannya.


"Simpan ya Ay, jangan pernah kamu lepaskan. Selama gelanh itu ada, selama itu juga cintaku utuh untuk kamu Ay. Biarkan gelanh itu rusak dan terlepas dari tanganmu dengan sendirinya tanpa dipaksa ataupun sengaja kami lepaskan. Biarkan namamu selalu ada di hati dan pikiranku setiap hari," ucap Kahfi dengan lembut.


"Inshaa Allah Kak Fi, Ayumi berusaha amanah," ucap Ayumi pelan.


Kata-kata yang terlihat biasa saja dan tidak romantis tetapi memiliki arti tersendiri bagi keduanya. Saat Kahfi benar-benar ingin merubah dirinya lebih baik lagi dan Ayumi juga ingin lebih fokus dengan hijrahnya.


"Ay, yuk kita lempar koin? Sebenarnya tahayul tali kalau berhasil itu kita punya gairah hidup dan lebih termotivasi," ucap Kahfi pelan.


"Itu kalau berhasil, kalau tidak?" tanya Ayumi pelan.

__ADS_1


"Itu sudah takdir namanya," jawab Kahfi dengan asal dan terkekeh pelan.


Keduanya beranjak dan berjalan beriringan menuju air mancur indah itu yang sejak tadi sudah membuat mata sejuk dan hati lebih adem. Suara gemericik air saat jatuh ke bawah jatuh ke dalam kolam yang bersih membuat pikiran menjadi jernih.


Di dalam kolam itu ada tiga bagian lingkaran, lingkaran bagian luar berisikan batu-batu apung yang bagus, lingkaran kedua berisi ikan-ikan hias yang cantik, can lingkaran ketiga berisi koin-koin cinta yang dilemparkan oleh pengunjung berharap mereka langgeng hingga akhir penantian.


"Ini koinnya, Ayumi lempar duluan ya, nanti baru Kakak yang lempar koin Kakak," ucap Kahfi menjelaskan.


Ayumi menerima satu koin dari tangan Kahfi. Ayumi melemparkan satu koin itu dengan sekuat tenaga berharap lemparannya tepat pada sasaran, dalam hatinya hanya berharap mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari orang yang tulus kepada dirinya.


Blup ....


Koin itu masuk ke dalam kolam di lingkaran yang paling dalam. Agak sulit menggapai lingkaran itu, karena diameter kolam itu cukup luas.


Melihat koin yang masuk tepat sasaran, Ayumi dan Kahfi berteriak senang seperti anak-anak yang mendapatkan perhatian permen dari Ibunya.


Ayumi menatap Kahfi dengan wajah berbinar.


"Ayumi berhasil Kak. Sekarang gantian Kakak, Ayumi mau lihat, Kakak berhasil atau tidak," ucap Ayumi dengan senang lalu terkekeh pelan.


"Kalau Kakak berhasil, Ayumi traktir Kakak ya," ucap Kahfi sambil menatap sempurna ke arah Ayumi.


Ayumi tampak berpikir dan menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu mengacungkan jempolnya ke arah Kahfi tanda setuju dengan permintaan Kahfi.


Kahfi itu ramah dan lucu, ada saja tingkah anehnya yang bikin suasana jadi lebih ramai dan asyik.


"Lihat Kakak, Ay." teriak Kahfi dengan keras sambil mengambil ancang-ancang untuk melempar koin tersebut.


Ayumi menatap gaya Kahfi melempar dengan tertawa keras. Gaya khas yang lucu dan unik.


"Ayumi, I LOVE U!!" teriak Kahfi dengan lantang hingga semua pengunjung menatap ke arah mereka berdua.


Blup...


Lemparan koin Kahfi tepat ditempat yang sama saat koin Ayumi jatuh ke dalam kolam. Senyum Kahfi terbit bagai fajar menyingsing, ada rasa bahagia dan kepuasan batin tersendiri saat melihat koin itu masuk di tempat yang sama.


Ayumi terkejut mendengar teriakan Kahfi yang membuat dirinya malu pada pengunjung taman. Kepalanya menunduk rasanya tidak sanggup untuk ditegakkan kembali.


"Ay, koin Kakak masuk dengan tepat," teriak Kahfi bahagia seperti anak-anak.


"Kak, malu dilihat orang banyak," ucap Ayumi lirih menarik lengan kaos oblong Kahfi.


Tersadar menjadi pusat perhatian, Kahfi pun tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh pengunjung taman.

__ADS_1


__ADS_2