
Pagi ini keluarga besar Ayah Sukoco datang menemui Kyai Toha dan Bunda Icha di kediaman Kyai Toha.
Setelah kemarin mendapatkan jawaban dari Kahfi masalah kesiapannya untuk segera menikahi Rara dianggap suatu keseriusan oleh Ayah Sukoco. Dari jawaban itu, Ayah Sukoco berunding dengan Mama Anna, istrinya.
Mereka berunding secara kekeluargaan, setelah sebelumnya Ayah Sukoco memberikan informasi via sambungan telepon dan kemudian datang ke kediaman Kyai Toha untuk memutuskan masalah hubungan kedua putra dan putrinya.
Mobil mewah berwarna hitam milik keluarga Ayah Sukoco sudah terparkir di halaman rumah Bunda Icha. Ayah Sukoco dan Mama Anna sudah turun dari mobil dan memencet bel yang ada di depan pintu masuk yang menghubungkan dengan ruang tamu rumah itu.
Bunda Icha sejak pagi sudah sibuk di dapur karena akan ada tamu agung yang akan datang mengunjungi kediamannya. Maksud dan tujuan kedatangan Ayah Sukoco dan Mama Anna sudah diketahui dan disambut baik oleh Kyai Toha dan Bunda Icha.
Bunda Icha sudah mempersiapkan beberapa makanan, diantaranya ayam goreng kremes, opor telor, semur jengkol, kerupuk udang, tempe mendoan dan kentang balado. Semua itu adalah makanan favorit Kyai Toha dan Ayah Sukoco.
Berbagai macam kue basah sudah tersaji di ruang tamu dengan satu teko air teh manis panas.
Bunda Icha memang agak kerepotan terlebih tidak ada yang membantunya saat ini, biasanya ada Ayumi yang bisa diandalkan untuk merapikan meja makan dan membuat kue basah dan kue bolu atau memasak beberapa jenis makanan, tapi kini gadis cantik itu sedang mengejar impiannya.
Urusan di dapur sudah selesai, Bunda Icha melepas lelah duduk di sofa empuk rumah tengah sambil duduk berselonjor menikmati satu gelas es sirup frambizen kesukaannya.
Kyai Toha yang sejak tadi membaca koran di kursi favoritnya hanya menatap sekilas ke arah Bunda Icha yang terlihat lelah dan capek.
"Kalau capek itu, duduk. Jangan cari kerjaan aja," ucap Kyai Toha dengan suara tegas sambil membaca koran tanpa menatap ke arah Bunda Icha.
Bunda Icha mendengar suaminya menasehati, hanya tersenyum sambil meneguk es sirup merah hingga habis setengah gelas.
"Kamu itu lho Mas, istrinya capek bukan dipijitin biar lelahnya hilang," ucap Bunda Icha pelan menggoda Kyai Toha yang terus saja betah membaca koran.
Kyai Toha menatap Bunda Icha dan tersenyum lebar.
"Bukannya udah enakkan minum es sirup merah, pakai diam-diam tidak menawarkan Mas?" ucap Kyai Toha pelan sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ini sudah dibuatin Mas, kamu aja yang jauh dari meja jadi tidak bisa langsung menikmati," jawab Bunda Icha pelan.
Sayup-sayup terdengar suara bel pintu berbunyi dengan nada, Assalamu'alaikum. Bunda Icha terdiam dan memasang telinganya untuk mendengarkan dengan seksama.
"Sepertinya ada yang datang Mas? Mungkin Pak Sukoco dan Mama Anna sudah datang," ucap Bunda Icha pelan dan langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Kyai Toha mengikuti Bunda Icha dari belakang dan duduk di sofa ruang tamu terlebih dahulu.
Bunda Icha melihat dari jendela besar dengan menyibakkan hordeng untuk memastikan siapa gerangan yang datang. Bunda Icha tersenyum lebar dan merapikan pakaian gamisnya dan hijabnya yang terlihat kurang rapih.
"Bener kan Mas, Pak Sukoco dan Mama Anna yang datang. Sudah rapih belum Mas?" tanya Bunda Icha kepada Kyai Toha dengan pelan.
Kyai Toha hanya tersenyum melihat tingkah Bunda Icha, istrinya yang terkadang gemas dibuatnya. Kyai Toha hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Bunda Icha.
"Buka pintunya cepat, sudah rapih, sudah cantik, istri siapa dulu," ucap Kyai Toha pelan dan terkekeh.
"Mas itu bercanda saja sukanya," ucap Bunda Icha dengan kesal lalu memutar anak kunci dan membuka pintu besar itu.
Kyai Toha hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Bunda Icha yang kesal.
"Waalaikumsalam, Mama Anna, apa kabarnya? Makin cantik aja, sudah pakai hijab sekarang?" ucap Bunda Icha pelan sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
Mereka berdua berpelukan erat menumpahkan rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu dan tidak bersilaturahmi.
"Masuk Bro Sukoco," teriak Kyai Toha dengan asal memanggil teman akrabnya itu.
Pak Sukoco sejak tadi hanya berdiri mematung melihat kedua wanita yang saling berpelukan dan menumpahkan rasa rindunya.
Pak Sukoco masuk ke dalam terlebih dulu, saat Kyai Toha menyuruhnya masuk dengan segera.
"Masuk ke dalam, yuk Mama Anna," ucap Bunda Icha pelan sambil melepaskan pelukan eratnya itu.
__ADS_1
Pak Sukoco sudah duduk terlebih dahulu di sofa panjang yang menghadap ke arah Kyai Toha. Mama Anna masuk ke dalam rumah dan duduk di sebelah Pqk Sukoco. Begitu juga dengan Bunda Icha yang duduk di samping Kyai Toha.
Seperti biasa kedatangan keluarga Sukoco membuat suasana rumah menjadi lebih hangat dan hidup. Pak Sukoco memang pribadi yang tegas, namun paling suka bercanda, dengan candaan yang berkualitas dan tidak membuat garing dan kaku, hingga Kyai Toha selevel Kyai saja sangat suka berteman dengan Pak Sukoco.
"Bagaimana kabar kalian berdua?" tanya Kyai Toha pelan kepada Pak Sukoco dengan menatap tamunya secara bergantian.
"Kami berdua baik-baik saja, bahkan lebih mesra, betul kan, Ma?" ucap Pak Sukoco pelan kepada Mama Anna, istrinya.
Kyai Toha tertawa melihat kemesraan temannya itu dengan istri barunya.
"Kayak abege ya, Bun?" tanya Kyai Toha pelan kepada Bunda Icha, istrinya dengan nada mengejek bercanda.
"Mas?!!" jawab Bunda Icha pelan sambil mencubit perut Kyai Toha dengan gemas.
"Ampun Bunda. Bro, bini ana ini ganas, apalagi kalau di ranjang," ucap Kyai Toha pelan sambil terkekeh menatap Bunda Icha yang sudah memerah wajahnya karena malu.
Satu cubitan lagi di perut Kyai Toha dan kali ini lebih kecil cubitannya dan tentu lebih sakit rasanya.
"Tuh kan, ganas ya," ucap Kyai Toha pelan dan terus saja menggoda Bunda Icba, istrinya itu.
Bunda Icha sudah merah antara malu dan kesal, namun tetap mencoba biasa saja dan menahan rasa kesalnya.
"Cicipin kuenya Mama Anna, ini buatan saya sendiri. Biasanya kan Ayumi yang membuat, tapi kali ini Ayumi tidak ada, jadi tidak ada yang membantu," ucap Bunda Icha pelan kepada Mama Anna.
Bunda Icha menumpahkan air teh manis panas itu ke dalam empat belas kosong di meja ruang tamu.
Mama Anna mencicipi kue muffin dengan toping kacang almond di atasnya. Kue itu sangat lembut saat dikunyah di dalam mulut.
"Ini sangat enak sekali, ada resepnya?" tanya Mama Anna kepada Bunda Icha yang sedang membuka tutup beberapa toples kaca berisi makanan ringan dan keripik.
__ADS_1
Bunda Icha mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Mama Anna sambil menatap lekat Mama Anna.