
Dengan berat hati Kahfi harus berjalan menemani Rara mengitari taman bahagia itu. Semua itu Kahfi lakukan demi Ayumi.
Sedangkan Ayumi duduk di kursi taman ditemani Afnan disana.
"Kenapa tadi harus naik angkutan umum? Kakak ke rumah untuk menjemput kamu, Nenek bilang sudah berangkat naik angkutan umum," tanya Afnan pelan dan lembut.
Ayumi mendengar pertanyaan Afnan, tatapannya kosong menatap langit bertabur cahaya bintang.
"Ayumi? Kenapa kamu diam? Sikap kamu sangat dingin sekarang, tidak sehangnat kemarin," ucap Afnan pelan memandang wajah Ayumi dari samping.
"Ayumi hanya ingin mandiri Kak. Tidak ingin membuat orang repot, ingin menjalani kehidupan dengan usaha sendiri," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
Afnan mendengar jawaban Ayumi hanya berdecak dan menghela napas panjang. Lalu menatap lekat kedua mata Ayumi.
"Kamu itu gadisku, calon bidadariku. Tidak ada kata repot untukmu. Kakak mengalah jika kamu belum mau serius dengan Kakak. Kakak akan terus menunggu kamu sampai kapanpun, tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan hati kita berdua," ucap Afnan pelan.
"Kak, jangan pernah terlalu mengumbar harapan yang belum pasti. Intinya belajar untuk menjaga saja dulu, tunjukkan keseriusan untuk menjaga hati," ucap Ayumi pelan.
"Akan Kakak tunjukkan keseriusan Kakak untuk menjaga hati Kakak tetap untuk Ayumi seorang. Pegang janji Kakak, Ayumi," tegas Afnan kepada Ayumi.
Ayumi menatap Afnan dengan senyuman termanis.
"Ayumi pegang kata-kata Kak Afnan untuk menjaga hati dan menunggu Ayumi. Kejarlah cita-cita Kak Afnan, kalau Kakak mau melanjutkan study Kakak ke Mesir, silahkan," ucap Ayumi pelan tetap menyejukkan hati.
"Kakak akan berangkat ke Mesir setelah murid Kakak mendapatkan pengumuman kelulusan. Kakak akan melanjutkan S2 disana, dan akan kembali satu atau dua tahun kemudian," ucap Afnan menjelaskan.
"Pergilah Kak Afnan, kejar cita-cita Kakak. Buat bangga orang tua dan keluarga Kakak. Ayumi akan tetap menjaga hati ini sampai pada waktunya nanti. Ijinkan Ayumi untuk melakukan semua hal dengan usaha Ayumi sendiri. Bukan Ayumi menolak bantuan dan perhatian Kakak, yang ada Ayumi akan merasa berat nantinya," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
"Tapi, sesekali Kakak boleh kan menemuimu?" tanya Afnan pelan.
"Alangkah baiknya jangan Kak. Nikmati dan jalani semuanya tanpa mengedepankan hati," jawab Ayumi pelan.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan dan kemauan Ayumi. Kakak hanya bisa menuruti saja. Sukses selalu buat Ayumi agar cepat menyelesaikan studinya dan mendapatkan gelar dokter sesuai dengan cita-cita Ayumi. Kita akan bertemu diwaktu dan tempat serta menjadi orang yang berbeda di kemudian hari, namun tetap dengan rasa cinta yang sama," ucap Afnan pelan.
Hatinya pilu menerima keputusan ini. Afnan menginginkan kebersamaan bukan perpisahan sementara seperti ini. Dengan kebersamaan, mereka berdua bisa saling mendukung, memotivasi, membantu dan melengkapi satu sama lain.
Tapi Ayumi tetaplah Ayumi yang keras, yang menginginkan sebuah kesempurnaan dengan caranya sendiri.
"Beri satu alasan yang paling mendasar kepada Kakak, kenapa kamu lebih memilih melakukan semuanya sendiri?" tanya Afnan kepada Ayumi.
Ayumi tersenyum, lalu menjawab dengan tegas, "Ayumi ingin mendapatkan semuanya dengan ridho Allah SWT. Bukan karena nafsu semata."
Kata-kata Ayumi terasa menghujam jantungku Afnan. Terasa nyeri namun tak tersentuh. 'Apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan?' tanya Afnan pada dirinya sendiri.
Ayumi menoleh dan menatap Afnan seolah tahu dan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Afnan.
"Semua itu bukan kesalahan, itu takdir. Tapi, bagaimana kita menyikapinya," ucap Ayumi pelan lalu tersenyum.
Afnan melongo mendengar penuturan Ayumi barusan.
"Apa yang kamu ketahui tentang isi hatiku saat ini?" tanya Afnan penasaran.
"Kakak berjanji padamu, Ayumi," ucap Afnan penuh keyakinan.
Semesta bisa saja memberikan ujian pada saat yang tidak tepat menurut kita. Bisa terjadi saat kita senang ataupun saat sedih.
"Berjanjilah pada diri Kakak sendiri, jangan kepada Ayumi," ucap Ayumi pelan.
Ayumi beranjak berdiri dan menatap ke sekeliling taman itu, mencari keberadaan Rara sahabatnya dan Kak Kahfi.
"Kita makan dulu Ay, Kakak lapar," ucap Afnan pelan beralasan agar bisa selalu dekat dengan Ayumi.
"Maaf Kak. Ini sudah malam, kita harus pulang. Ayumi mau cari Rara dulu," ucap Ayumi pelan lalu pergi meninggalkan Afnan sendirian.
__ADS_1
Ayumi sudah berputar taman itu sebanyak dua kali, tapi tetap saja tidak menemukan Rara dan Kahfi. 'Apa sebaiknya aku pulang saja, ini sudah larut malam,' batin Ayumi di dalam hati.
Jarak taman itu ke rumah tidak jauh, berjalan kaki secara cepat hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Ayumi menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu.
Dengan cepat Ayumi melangkahkan kakinya berjalan menuju rumah. Tentu saja berjalan di kegelapan dalam situasi jalanan yang sunyi dan sepi membuat bulu kuduk Ayumi berdiri tak beraturan. Hawa dingin dan angin malam yang cukup menusuk kulit membuat tubuh Ayumi sedikit menggigil.
Perasaan Ayumi makin tak karuan, ada rasa takut, was-was dan panik tidak jelas. Ayumi setengah berlari kecil agar cepat sampai di rumah.
"Ayumi!" teriak Kahfi dari samping jalanan yang sepi.
"Kak Kahfi? Rara mana?" tanya Ayumi sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Maafkan Kakak. Kakak ingkar untuk menjaga Rara. Rara sudah lebih dulu kembali ke rumah Nenek Arsy," ucap Kahfi melemah saat Ayumi menatap tajam pada kedua matanya.
Dari kejauhan, Afnan menatap kebersamaan Ayumi, gadis kesayangannya bersama Kahfi, adik kandungnya. Afnan tahu, adiknya juga sudah terpesona dan jatuh cinta kepada Ayumi.
'Pesona apa yang kamu miliki Ayumi, hingga aku harus memperebutkan hatimu agar terpenjara seutuhnya hanya untukku. Bahkan aku harus bertanding dengan adik kandungku sendiri untuk mendapatkan jiwa dan raganya seutuhnya,' batin Afnan.
"Kak Kahfi apakan Rara?!" teriak Ayumi keras.
"Diam Ayumi, nanti dikira orang, Kakak sedang menyakiti kamu," ucap Kahfi pelan.
Raut wajah Ayumi sudah terlihat kesal dan benci terhadap Kahfi.
"Kakak tidak pernah tahu, rasanya tidak dipercayai oleh sahabat sendiri. Saat sahabat kita malah mencurigai kita bermain drama di belakangnya. Pernah berpikir sampai kesana, Kak?" ucap Ayumi dengan lantang.
"Kakak memang tidak pernah berpikir ke arah sana, karena Kakak mencintai kamu Ayumi!" ucap Kahfi dengan suara keras.
Mendengar ucapan Kahfi, Ayumi memejamkan kedua matanya sejenak seakan berpikir.
"Jangan pernah ucapkan kata cinta, kalau Kakak tidak bisa menghargai arti cinta," teriak Ayumi.
__ADS_1
Ayumi pergi meninggalkan Kahfi, dan berlari sekencang mungkin sambil menangis.
Rasanya hancur hatinya saat ini. Dadanya sesak sekali. Aliran darahnya seperti berhenti mengalir. Tangisannya semakin membuat dadanya sakit.