
Hari semakin sore, semua orang sudah berada di Bawah untuk melepas kepergian Rara dan Kahfi ke luar negeri.
Untuk sementara Rara akan melanjutkan sekolahnya dengan home schooling sedangkan Kahfi melanjutkan semester genapnya di unversitas yang telah menerimanya sebagai mahasiswa.
Rencana kepindahan ini hanya satu, agar Rara mendapatkan pengobatan yang maksimal dan lebih optimal sehingga tingkat kesembuhan Rara bisa lebih terwujud.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, setengah jam lagi adalah jadwal keberangkatan Kahfi dan Rara. Rara terus saja memeluk Pak Sukoco, sesekali bertanya tentang keadaan Bunda Andara yang sudah tidak tahu lagi kemana rimbanya.
Sudah tiga bulan terakhir Bunda Andara dan Zura tidak ada kabar, rumah kontrakan yang disewanya sudah lama ditinggalkan. Nomor ponselnya juga sudah tidak aktif, tempat kerja Zura juga sudah tidak disana, Zura sudah resign empat bulan lalu karena memiliki hubungan spesial dengan salah satu direktur utama tempat Zura bekerja.
Rara kini hanya memiliki Ayah Sukoco, tubuh kurusnya terlihat lemah di pelukan Ayah Sukoco.
Ayah Sukoco juga menitipkan Rara dan Kahfi kepada sahabatnya yang ada di negeri itu. Mereka yang akan membantu Rara dan Kahfi selama berada disana hingga pengobatan Rara itu dinyatakan selesai dan sembuh dengan total.
"Ra, hati-hati disana, jaga kesehatan, kalau ada apa-apa bilang Kahfi atau telepon Ayah agar segera ada tindakan," ucap Ayah Sukoco sambil mengusap kepala Rara dengan penuh kelembutan.
Mama Anna juga duduk bersama menghimpit Rara dan memeluk anak tirinya itu dengan penuh kasih sayang dari samping.
"Rara akan selalu mendengar nasihat Ayah dan juga Mama, kalian berdua baik-baik disini, Mama jaga Ayah untuk Rara dan demi Rara," ucap Rara lirih namun masih terdengar jelas.
Ayah Sukoco dan Mama Anna sangat bersedih melepas Rara, anak gadisnya untuk pergi ke negeri orang.
Rara menatap Ayah Sukoco dengan sangat lekat pada kedua matanya, mata sayu itu sudah memerah dan basah, wajahnya tmyang sudah terlihat agak tua dengan guratan garis yang tercetak jelas disekitar keningnya.
"Ayah sedih? Ayah mau menangis? Rara hanya ingin berobat, kalau sembuh pasti kembali bersama Ayah," ucap Rara lirih dengan terbata-bata dan mengetatkan pelukannya kepada Ayah Sukoco.
Ayah Sukoco hanya mengangguk pelan dan menahan tangisnya agar tidak tumpah ke pipi. Ayah Sukoco berusaha tegar dan kuat di depan anak perempuannya yang notabene lebih lemah karena penyakit seriusnya.
__ADS_1
Rara mengambil tissue dari dalam tas kecil yang dibawanya, lalu menghapus bulir air mata Ayah Sukoco yang sudah berada diujung mata itu.
"Sudah Ra, jangan seperti ini, Ayah akan lebih sedih melepasmu," ucap Ayah Sukoco pelan sambil menundukkan kepalanya.
Rara mengusap lembut punggung Ayah Sukoco, punggung yang lebar dan besar yang kuat untuk melindungi keluarga terlebih anak-anaknya.
"Rara pasti akan merindukan Ayah," ucap Rara pelan sambil menyandarkan tubuhnya di punggung besar milik Ayah Sukoco itu.
Di kursi tunggu depan Rara duduk, ada keluarga Kahfi. Disana sudah ada Kyai Toha, Kahfi, Bunda Icha, Afnan dan Ayumi yang ikut mengantarkan.
"Jaga Rara dengan baik Fi, itu amanah dari Ayah Sukoco jangan sampai kamu lebih mementingkan kuliahmu dibandingkan kesehatan dan pengobatan Rara. Prioritaskan Rara," ucap Kyai Toha memberikan petuah kepada putra bungsunya itu.
Kahfi hanya mengangguk pelan sambil menatap Rara dan keluarganya yang menangis melepas kepergian putrinya.
"Fi, ingat pesen Bunda, kalau ada sesuatu kabari Ayah Sukoco dan sahabatnya disana, jangan sampai teledor, itu yang kamu jaga bernyawa bukan benda mati," tegas Bunda Icha.
"Iya Bunda," ucap Kahfi pelan sambil mengedarkan pandangannya.
"Fi mau beli air dulu, tadi lupa," ucap Kahfi pelan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan gontai ke arah kamar mandi umum bandara, bukan ke kantin sesuai ijinnya kepada Bunda Icha.
Kahfi mengedarkan pandangannya dan menatap ke arah sekeliling mencari sosok Ayumi.
"Kak Fi? Ada apa? Seperti orang bingung?" tanya Ayumi pelan kepada Kahfi yang membelakanginya.
Ayumi tadi memang ke kamar mandi lalu bertemu temannya yang akan kembali ke Jakarta, mereka berbincang panjang lebar hingga lupa diri.
"Kamu kemana aja Ay, Kakak khawatir, ini bandara dan disini sangat luas Ay, kalau kamu hilang lalu bagaimana Kakak akan mencari kamu," ucap Kahfi terus-menerus karena panik.
__ADS_1
"Tadi ada teman Kak Fi, jadi Ayumi malah ngobrol sampai lupa waktu," ucap Ayumi pelan menatap Kahfi yang masih terlihat panik.
"Karena Kakak peduli sama kamu, karena Kakak sayang sama kamu, Kakak tidak mau kehilangan kamu, saat ini saja Kakak berat untuk meninggalkan kamu, tapi ini semua demi seseorang yang ingin hidup dan terlebih ini permintaan dari seseorang yang Kakak cintai untuk selalu menjaga sahabatnya," ucap Kahfi pelan. Tatapannya masih tegas lekat pada kedua mata Ayumi.
Ayumi hanya terdiam mendengar ucapan Kahfi. Entah harus senang atau sedih saat hati merasakan desiran berbeda saat bersama Kahfi.
Ayumi menghela napas panjang dan menghembuskan napas itu perlahan dari mulutnya.
"Kak Fi, untuk apa bicara seperti itu? Kakak itu milik Rara, jangan lupakan itu," ucap Ayumi pelan. Ayumi berusaha memendam perasaan yang kadang timbul untuk Kahfi, sebisa mungkin perasaan itu tidak akan pernah tumbuh lagi karena Ayumi sudah menerima cinta pertamanya.
Kahfi menatap tajam dan berpaling lalu mengacak-acak rambutnya seperti orang gila.
"Apa menurutmu Kakak ini bercanda, Kakak ini mengikuti saranmu untuk menerima Rara karena Rara ingin sembuh dengan catatan Kakak bisa selalu dekat denganmu Ay. Sakit rasanya melihat kamu selalu bermesraan dengan Abang Afnan, apa kamu tidak bisa berpikir sedikit saja tentang hati Kakak, perasaan Kakak, Ay?" tanya Kahfi lirih.
Ayumi menatap Kahfi dengan rasa iba, rasa cinta Kahfi kepada Ayumi terlalu kuat, hingga Kahfi tidak bisa berpaling dan menerima hadis lain kecuali permintaan Ayumi. Sama seperti Rara, Kahfi menerimanya karena Ayumi. Ayumi meminta agar Kahfi mau menerima dan membantu Rara agar segera sembuh lewat rasa bahagia. Tapi, nyatanya rasa cinta dan rasa sayang kepada Rara tidak pernah bisa tumbuh dan hadir dalam hati Kahfi.
"Maafkan Ayumi, jika Kakak merasa terpaksa dengan keadaan ini," ucap Ayumi pelan.
"Maaf katamu, saat semua sudah terlanjur basah dengan keadaam, dan Kakak yang paling tersakiti dengan keadaan ini, kamu gak akan pernah bisa mengerti perasaan Kakak, Ay," ucap Kahfi tegas kepada Ayumi.
Ayumi hanya terdiam menatap mata merah Kahfi yang terlihat kesal, kecewa dan penuh amarah yang terpendam.
"Lalu Ayumi harus bagaimana?" tanah Ayumi lirih.
"Kakak mencintai kamu, Ay. Apa kamu memiliki perasaan yang sama dengan Kakak, Ay?" tanya Kahfi kepada Ayumi pelan.
Ayumi hanya terdiam lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ayumi sendiri tidak pernah sadar dan tidak pernah tahu apakah mencintai Kahfi atau tidak, yang jelas setiap bersama Kahfi memang ada perasaan yang berbeda dan aneh dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu tidak mencintai Kakak? Lalu perhatian kamu selama ini untuk apa? Lalu gerak-gerikmu seolah memberikan celah itu apa? Kakak jatuh cinta saat pandangan pertama di rumah Nenek Arsy, sejak itu Kakak selalu berdoa berharap kamu memang menjadi jodoh Kakak," ucap Kahfi pelan.
Ayumi hanya terdiam seribu bahasa, ada rasa sakit saat bicara yang tidak dengan sesuai hati dan kenyataan yang dirasakan.