
Mobil sport milik keluarga Kahfi sudah membelah jalan raya yang masih lengang di pagi ini. Sudah ada Rara yang duduk di depan samping Kahfi, sedangkan Bunda Icha dan Ayumi duduk di kursi belakang.
Mobil sedan keluaran terbaru, yang dikhususkan untuk Kahfi sebagai hadiah ulang tahun sekaligus sebagai hadiah wisuda untuk 17 juz hapalan Qur'an.
Kyai Toha, Bapak Kahfi sangat bangga dengan prestasi Kahfi anaknya. Setelah kejadian beberapa tahun yang membuat Kahfi jatuh dan terpuruk kini terlihat semangat dan terus termotivasi untuk melakukan hal-hal positif dan baik.
Kahfi memutar lagu yang ada dalam playlistnya. Lagu-lagu yang diputar oleh Kahfi adalah lagu-lagu Religi.
Rara duduk dengan manis terdiam menatap lurus ke depan ke arah jalan raya yang sedang dilaluinya.
Bunda Icha yang duduk di belakang Rara sedang sibuk berkomunikasi dengan Kyai Toha, suaminya, sedangkan Ayumi menatap ke arah luar melalui kaca jendela samping.
Kahfi menatap wajah Ayumi melalui kaca spion tengah, kedua matanya terus memandangi gadis pujaannya yang duduk tepat dibelakangnya.
"Fokus jalan, Fi," ucap Bunda Icha menatap ke arah Kahfi dari samping belakang.
Bukanya tidak tahu dan bukannya membiarkan putra bungsunya itu menatap gadis pujaannya yang akan dimiliki oleh Abangnya sendiri, tapi Bunda Icha lebih tolerir yang penting masih bisa menghargai satu sama lain.
Cinta itu anugerah dari Allah SWT, yang tidak bisa kita tolak kepada siapa cinta itu akan bertandang.
Kahfi menatap Bundanya dari kaca spion tengah. Bunda Icha juga menatap Kahfi melalui kaca spion tengah dan tersenyum.
"Iya Bunda," jawab Kahfi pelan.
Ayumi masih diam dan mengabaikan apa yang diucapkan oleh Bunda Icha kepada Kahfi.
"Ay, bawa minum tidak?" tanya Rara pelan menoleh ke arah belakang dimana Ayumi duduk.
"Ada Ra, tapi hanya air mineral, mau?" tanya Ayumi pelan kepada Rara.
Ayumi merogoh tas besar yang ada di dekat kakinya untuk mengambil sebotol air mineral untuk Rara.
"Mau Ay," jawab Rara lirih seakan menahan rasa sakit. pergelangan tangannya masih diperban dan belum sembuh.
"Ini Ra, mau cemilan? Aku bawa pastel, isi sayur dan telur, mau?" tanya Ayumi pelan kepada Rara.
"Boleh Ay, aku memang belum sarapan, bosen makan bubur aja," ucap Rara pelan.
Ayumi membuka tas besar itu untuk mengambil satu kotak besar isi pastel sayur yang Ayumi buat dari selesai shubuh.
"Bunda, cicipi buatan Ayumi. Kak Kahfi mau?" tanya Ayumi lembut.
"Wah, warna gorengannya cantik," ucap Bunda Icha memuji dan mengambil satu gorengan pastel itu dan memakannya.
__ADS_1
"Mau Ay, mana?" jawab Kahfi pelan. Saty tangannya sudah ke belakang untuk menerima pastel dari tangan Ayumi.
Ayumi mengambilkan satu pastel untuk Kahfi.
"Untukku mana Ay?" tanya Rara kepada Ayumi.
Ayumi menyodorkan satu kotak itu untuk Rara agar mengambil sendiri.
"Enak banget Ay, nambah donk," ucap Kahfi yang masih mengunyah pastel dengan mulut yang penuh.
"Ini Kak. Laper apa doyan?" tanya Ayumi sambil terkekeh, sambil memberikan satu pastel lagi untuk Kahfi.
"Ay, bisa renyah gitu, gimana caranya?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.
"Gimana Bunda, biasa aja yang penting minyaknya menutup semua adonan," ucap Ayumi pelan.
"Jangan lupa, lusa kita ke Semarang untuk acara silaturahmi alumni sekolah Bunda," ucap Bunda Icha pelan lalu mengambil satu pastel lagi.
"Siap Bunda sayang," jawab Ayumi sambil tersenyum.
Kahfi yang mendengarkan pembicaraan kedua wanita kesayangannya ikut tersenyum.
"Bunda Icha mau kemana? Kak Kahfi ikut? Ayumi ikut juga?" tanya Rara dengan semangat.
Kahfi menoleh ke arah Rara dan menatap tajam pada kedua mata Rara.
"Kenapa Kak? Apakah salah, Rara bertanya seperti itu?" tanya Rara kembali lalu menatap Kahfi dengan tatapan menusuk.
"Kakak tidak bilang salah, tapi untuk apa kamu bertanya seperti itu, kamu itu siapa?" ucap Kahfi dengan nada tegas.
"Kahfi!" sela Bunda dengan lantang sambil menatap ke arah Kahfi dengan tajam.
Kahfi mendengar suara Bundanya langsung terdiam dan menghabiskan makanannya yang masih tersisa.
Ayumi melihat Bunda Icha yang terlihat kesal masih menatap tajam Kahfi dari arah belakang.
"Ay, minta air donk?" ucap Kahfi meminta tolong.
Ayumi langsung mengambil satu botol air mineral dari tas besarnya dan memberikannya kepada Kahfi.
Udara sejuk cenderung dingin dari AC mobil membuat tubuh Kahfi terasa panas. Kekesalannya terhadap Rara yang selalu ikut campur dengan urusan pribadi dan keluarga Kahfi.
Kahfi meneguk air mineral itu hingga habis dan meletakkan botol kosong itu di sisi pintu tempat Kahfi menyetir.
__ADS_1
"Bunda Icha, apakah Rara salah? Bertanya seperti tadi?" tanya Rara kepada Bunda Icha pelan.
Bunda Icha terkejut mendengar pertanyaan Rara lalu menatap Rara dari arah belakang.
"Tidak Rara sayang, tidak salah," jawab Bunda Icha singkat.
"Lalu kenapa Kak Kahfi marah?" tanya Rara pelan kepada Bunda Icha.
"Mungkin Kak Kahfi sedang lelah," ucap Bunda Icha sambil terkekeh pelan.
Ayumi yang ikut menyimak juga terkekeh pelan sambil menatap Bunda Icha.
Kahfi hanya terdiam melirik tajam ke arah Rara dan menatap kesal kepada Bunda Icha melalui spion tengah itu.
"Ra, mumpung ada Bunda Icha, minta Restu donk," ucap Ayumi pelan sambil menoleh lengan Rara yang duduk di depan.
Rara menoleh ke arah Ayumi dan melirik ke arah Kahfi yang terlihat dingin dan cuek.
Memang hati dan perasaan tidak bisa dipaksakan. Jika hati sudah terpaut pada satu hati, maka akan selamanya setia hingga dikecewakan atau disakiti.
"Emang boleh Bunda?" tanya Rara pelan dan membalikkan tubuhnya ke arah belakang.
Bunda Icha tersenyum menatap Rara dan Ayumi secara bergantian.
"Kalau anak-anak Bunda sudah memilih kalian berdua, lalu Bunda bisa apa? Kalau bukan merestui, betul kan, Fi?" ucap Bunda Icha kepada Kahfi yang tidak menggubris pertanyaan Bundanya.
"Kahfi!" panggil Bunda Icha kepada Kahfi setengah berteriak.
Kahfi hanya menoleh sebentar sambil tersenyum kecut tanda tidak suka dengan ucapan Bundanya itu.
"Kalian berdua emang sudah jadian?" tanya Bunda Icha kepada Rara pelan.
Rara hanya melirik ke arah Kahfi, tetapi Kahfi menatap Ayumi yang hanya menatap kaca jendela luar mobil.
"Kalian cocok lho," ucap Bunda pelan.
"Cocok darimana sih Bunda. Kalau ketemu aja udah kayak tim dan Jerry," ucap Kahfi dengan sangat kesal.
Mobil sportif itu melaju dengan kecepatan sedang. Rasanya Kahfi ingin menekan gas dalam-dalam agar rasa kesalnya hilang dengan menaikkan adreline saat berkendara.
"Masa sih Bunda? Beneran cocok kita berdua?" tanya Rara dengan rasa bahagia.
Bunda Icha mengangguk pelan.
__ADS_1
"Iya kan Ay, mereka berdua cocok kan?" tanya Bunda kepada Ayumi pelan.
"Cocok banget, tembak donk Kak Fi, mumpung ada Bunda," ucap Ayumi yang memperkeruh suasana.