Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
69


__ADS_3

Malam ini, Ayumi, Bunda Icha, Kyai Toha dan Kahfi menginap di hotel yang dekat dengan Rumah Sakit Kasih Ibu.


Sejak sore, mulai datang, hujan tidak berhenti malah tambah deras dan lebat. Sempat terhenti sebentar namun hujan kembali turun semakin deras bahkan semakin lebat hingga jarak pandang dekat pun tidak terlihat dengan baik, jadi dapat membahayakan perjalanan jauh dalam berkendara.


Bunda Icha menyewa dua kamar, satu kamar untuk Ayumi dan Bunda Icha lalu satu kamar lagi untuk Kyai Toha dan Kahfi. Pak Sukoco sudah memberikan kamar kosong di rumahnya untuk menginap, tetapi Bunda Icha menolak dengan cara halus.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Ayumi masih terjaga dalam tidurnya. Rasanya seperti ada yang tidak beres, ada yang membuat hatinya tidak nyaman dan gelisah ingu segera pulang bertemu Nenek Arsy.


Satu bulan lebih sudah Ayumi tidak bertemu Nenek Arsy, hatinya semakin rindu pada senyum dan nasihat Nenek Arsy. 'Apa kabarmu Nek?' batin Ayumi dalam hati.


Suara gemericik air hujan yang masih mengguyur deras kota itu membuat malam itu semakin dingin dan membuat orang-orang tertidur dengan nyenyak dan pulas.


"Belum tidur Ay?" tanya Bunda Icha yang membalikkan tubuhnya hingga berhadapan pada Ayumi.


"Belum Bunda, teringat Nenek Arsy, tiba-tiba Ayumi rindu," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.


"Besok kan kita pulang dan bertemu Nenek Arsy, bukankah masih ada waktu dua hari untuk berada dirumah," ucap Bunda Icha pelan sambil mengusap air mata Ayumi.


Terdengar suara ponsel milik Bunda Icha berdering. Bunda Icha beranjak dari ranjangnya untuk mengambil ponsel yang berada di nakas.


Tertera nama Afnan disana melakukan panggilan video call bersama Bundanya. Bunda Icha dengan cepat menggeser tombol hijau ke kanan. Tersambunglah komunikasi antara Ibu dan anak yang jauh di negeri orang.


"Assalamu'alaikum Bunda, sehat? Bapak dan Kahfi juga sehat?" tanya Afnan di seberang sambil menatap Bundanya yang duduk di balkon kamar hotel itu.


"Waalaikumsalam Alhamdulillah Bunda sehat, Bapak dan Kahfi juga sehat," jawab Bunda Icha lembut dan tersenyum.


"Ayumi apa kabar Bunda?" tanya Afnan pelan dari seberang.


"Ayumi ada, mau bicara, Bunda lagi di Solo, hari ini acara lamaran sekaligus tunangan Kahfi dan Rara," ucap Bunda Icha pelan.


"Mana Ayumi, Bunda, Afnan ingin bicara, Afnan rindu dengan gadis itu," ucap Afnan pelan dengan nada memohon kepada Bundanya.


"Sebentar Bunda panggilkan," ucap Bunda Icha pelan.


Bunda Icha memanggil Ayumi dengan lambaian tangan untuk segera menghampiri Bunda Icha duduk di balkon.

__ADS_1


Ayumi berjalan menghampiri Bunda Icha dan duduk di sebelah Bunda Icha. Bunda Icha pun langsung membuka ponselnya dan menyambungkan kembali kepada Afnan putra sulungnya.


"Assalamu'alaikum gadis Kakak, Ayumi apa kabar?" tanya Afnan kepada Ayumi yang duduk di sebelah Bunda Icha.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik Kak Afnan. Kak Afnan apa kabar?" jawab Ayumi singkat.


Wajahnya terlihat menunduk malu saat harus bertatapan langsung secara online dengan Afnan.


"Kakak baik, gimana sekolahmu?" tanya Afnan pelan sambil menatap wajah Ayumi yang masih tertunduk.


"Alhamdulillah lancar Kak, doain Ayumi masuk dalam program pertukaran pelajar dua bulan lagi ke Mesir," ucap Ayumi pelan.


"Benarkah, kamu sudah mendaftar? seleksinya beres?" tanya Afnan bersemangat.


"Mendaftar sudah, ada tujuh seleksi baru dilakukan tiga seleksi dan lolos semua, satu bulan ini akan ada dua seleksi dan bulan depan dua seleksi lagi untuk pemilihan pelajar yang akan diberangkatkan," ucap Ayumi menjelaskan dengan singkat.


"Semangat terus ya, Ay. Semoga kamu salah satu pelajar yang berangkat ke Mesir, nanti bisa tinggal di dekat apartemen Kakak," ucap Afnan penuh semangat dan bahagia.


"Iya Kak, Makasih doanya," ucap Ayumi singkat tanpa menatap wajah Afnan.


"Menantu Bunda yang ini malu-malu, jadi kamu harus sabar menghadapinya," ucap Bunda Icha menggoda Afnan lalu terkekeh pelan.


"Bunda... Selalu godain Afnan. Tadi gimana acara lamarannya?" tanya Afnan pelan.


"Lancar semua Alhamdulillah, kalian berdua kapan mau lamaran juga, biar terlihat sudah ada yang memiliki," ucap Bunda Icha pelan.


"Nanti saja kalau Ayumi sudah lulus sekolah lanjutan atas, Afnan langsung khitbah aja, biar semua biaya kuliah Ayumi, Afnan yang akan menanggungnya," ucap Afnan pelan.


Ayumi hanya tersenyum mendengar ucapan itu, walaupun hatinya sangat menolak untuk menikah muda. Bagi Ayumi menikah muda akan menghambat semua cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Wanita yang sudah menikah akan lebih berat untuk suami dan keluarganya bukan untuk cita-cita dan karirnya.


Sambungan video call pun sudah ditutup oleh Bunda Icha.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ay, coba terbuka dengan Bunda?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.


Ayumi hanya memandang langit yang masih gelap tanpa taburan bintang.

__ADS_1


Wajahnya tampak sendu.


"Ayumi rindu Bunda Alisha dan Papa Bayu, dan tiba-tiba Ayumi rindu Nenek Arsy, seolah Nenek Arsy sedang memanggil Ayumi saat ini untuk ditemani tidur," ucap Ayumi lirih.


"Maafkan Bunda, Ay. Bunda janji setelah shubuh kita langsung pulang ke Yogya," ucap Bunda Icha menenangkan hati Ayumi.


"Makasih Bunda. Bunda sangat baik pada Ayumi," ucap Ayumi memeluk Bunda Icha dengan penuh kasih sayang.


"Ayumi sudah Bunda anggap anak kandung Bunda sendiri, jangan sungkan kalau mau cerita atau minta sesuatu," ucap Bunda Icha lembut.


Ayumi menganggukkan kepalanya dengan pelan memahami perkataan Bunda Icha.


"Ayumi, Bunda mau tanya kepadamu? Bisa kamu jawab jujur?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.


"Apa itu Bunda?" tanya Ayumi pelan dengan penasaran.


"Apa kamu mencintai Afnan dengan tulus?" tanya Bunda Icha pelan.


Ayumi tersenyum simpul mendengar pertanyaan Bunda Icha.


"Bunda Icha kenapa bertanya seperti itu? Bukankah cinta kita berdua sudah mulai tumbuh sejak sepuluh tahun yang lalu," ucap Ayumi pelan mengingatkan.


"Bukan Bunda tidak percaya, tapi Bunda melihat Ayumi masih bimbang," ucap Bunda Icha pelan.


"Mungkin karena kita berjauhan Bunda, dan kita tidak pernah berkomunikasi secara langsung," ucap Ayumi membela diri.


"Semoga saja memang begitu. Bagi Bunda, cinta itu tidak bisa dipaksakan, jika kami memang tidak nyaman katakan sejalan awal sebelum semuanya itu terlanjur dan menyesal," ucap Bunda Icha pelan.


"Bukan tidak nyaman Bunda, Ayumi memang sedang fokus pada pendidikan Ayumi, jadi mungkin Ayumi kurang peduli dengan Kak Afnan. Masih bisa diperbaiki kesalah pahaman komunikasi seperti ini Bunda," ucap Ayumi pelan menjelaskan agar Bunda Icha tenang dengan jawaban Ayumi.


"Bunda sangat paham dengan semua cita-citamu Ay, ambisi kamu, dan obsesi kamu yang pasti akan berhasil terwujud karena niat kamu, keyakinan kamu dan usaha kamu benar-benar maksimal," ucap Bunda Icha pelan.


"Maafkan Ayumi bila membuat Bunda sedih atau kecewa," ucap Ayumi pelan.


"Tetaplah menjadi anak dan menantu kesayangan Bunda, Ay," ucap Bunda Icha dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2