Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
29


__ADS_3

Hari Minggu pagi itu benar-benar menjadi hari yang bersejarah bagi Afnan dan Kahfi. Bagi Afnan ada kebahagiaan tersendiri namun kini hatinya ragu saat melihat respon Ayumi yang berbeda dari biasanya.


'Kamu sebenarnya kenapa Ay?' jerit Afnan dalam hatinya.


Kedua alis Afnan saling bertaut, tangannya memijit pelipisnya dekat mata. 'Memikirkan Ayumi bisa membuatku pening seperti ini,' batin Afnan dalam hati.


"Bang, tadi Abang kenapa?" tanya Kahfi kepada Afnan sambil menyeruput segelas kopi yang di bawanya dari dapur.


Afnan mendongakkan kepalanya dan menatap Kahfi yang terlihat panik namun disembunyikan.


"Urus aja Rara, gak perlu kan tanya tentang Ayumi," tegas Afnan yang mulai terusik dengan pertanyaan tidak jelas Kahfi.


"Lho Bang, Ayumi akan tetap jadi urusan Kahfi. Rara itu cuma sahabat Ayumi, untuk apa dipedulikan," jawab Kahfi yang mulai kesal.


"Lalu untuk apa menanyakan Ayumi? Teman sekolah bukan, tetangga juga jauh," ucap Afnan yang mulai ketus.


Afnan tidak mau tersaingi untuk mendapatkan Ayumi, Afnan cukup hapal dengan karakter Kahfi yang mudah tebar pesona namun dengan mudahnya dihempaskan jika sudah mendapatkan seseorang yang diinginkan.


"Abang? Sejak kapan perduli dengan Ayumi. Baru jadi wali kelasnya aja sudah belagu gak karuan, gimana jadi kekasihnya," ucal Kahfi memancing pembicaraan.


"Aamiin ya Rabb. Itu yang Abang inginkan, menjadi bagian penting dari hidup Ayumi," ucap Afnan menjelaskan.


"Oh, jadi ini jawabannya. Wali kelas yang mencintai anak didiknya sendiri. Cinta buta gak tuh?" ucap Kahfi yang terus menggoda Afnan.


"Diem kamu anak kecil. Kamu cocoknya pegang tasbih dan baca Qur'an katanya mau tobat jadi playboy. Udah gak usah ikut campur sama urusan Abang," ucal Afnan kesal dan memeloti Kahfi yang terlihat santai.


Kahfi hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, di tatap Seperi itu oleh Afnan. Kedua kakak beradik ini memang seperti tim and Jerry, kalau dekat selalu mengibarkan bendera untuk terus beradu mulut dan berdebat. Namun, bila keduanya berjauhan, mereka saling memperhatikan dan saling mendukung aktivitas yang sedang digelutinya.

__ADS_1


"Ayumi itu beda. Pertama ketemu Ayumi di rumah Nenek Arsy, Kahfi langsung jatuh hati, Bang. Tapi, makin kesini kok, makin sulit untuk di dekati," ucap Kahfi pelan mengingat semua pertemuan awal dengan Ayumi saat memberikan kabar duka kepadanya.


Afnan hanya menyenderkan tubuhnya di sofa ruang tamu, sejak tadi memejamkan kedua matanya dan memijat keningnya dengan tangan kanannya karena pening, tapi tetap saja masih menyimak ucapan Kahfi. Afnan membuka kedua matanya, lalu menatap Kahfi seolah tidak percaya.


Kahfi masih bergulat pada gelas kopi yang ada ditangannya, sesekali ditiup karena panas lalu diseruput pelan-pelan hingga mengeluarkan suara ******* nikmat dari meminum kopi.


Merasa dirinya ditatap sejak tadi, Kahfi mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan tajam Afnan dengan santai.


"Kenapa Bang? Ngeliat Kahfi kayak lihat hantu aja?" ucap Kahfi sekenanya.


Lalu menundukkan kepalanya lagi sibuk dengan kopi panasnya yang tidak kunjung dingin. Gemas rasanya ingin meneguk dan menghabiskan semuanya lalu tidur di kamarnya.


"Kamu beneran suka dengan Ayumi, Fi?" tanya Afnan pelan menatap kedua mata Kahfi dan mencari kejujuran disana.


Walaupun sibuk dengan kopi panasnya, Kahfi masih mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Afnan. Akal sehatnya berpikir untuk menjawabnya tanpa menyakiti perasaan abangnya yang juga sama-sama menyukai Ayumi seperti dirinya.


"Memang cantik dan anggun," ucal Afnan ikut menimpali saat Kahfi menggambarkan Ayumi dan memujinya, saat itu juga Afnan mengingat wajah dan senyum Ayumi yang nampak polos dan alami tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Kayaknya ada yang jatuh cinta nih, cinta kepada murid-muridnya sendiri," ucal Kahfi menggoda dan meneguk habis kopi itu.


"Dasar adik gak tahu di untung," teriak Afnan kepada Kahfi lalu melemparkan bantal sofa didekatnya ke arah Kahfi.


Dengan sigap Kahfi menghindar dan menggeser tubuhnya ke samping agar tidak terkena tembakan maut dari Afnan.


Kahfi hanya tersenyum lalu terkekeh sambil memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Tembakan meleset guys, gak usah naik darah dong, kalau iya katakan ya, kelihatan juga kali," ucap Kahfi kepada Afnan dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Bisa gak kalau mulut kamu itu diem. Unfaedah ngomongin orang. Belajar menata hati buat dapet cewek baik-baik gak bar-bar kayak Diana," ucap Afnan mengungkit masa lalu Kahfi dengan kesal.


"Hum, inget aja sama Diana. Bar-bar itu perlu, buat pengalaman Bang, pernah dapet yang bar-bar, sekarang lagi gaspol cari yang sholehah, dan semuanya ada di Ayumi," ucap Kahfi dengan santainya. Kahfi sengaja membuka rahasianya sendiri agar Afnan tahu. Selain itu Kahfi ingin tahu bagaimana respon Afnan saat Kahfi berusaha jujur mengenai perasaannya dengan Ayumi.


"Jujur sama Abang, kamu suka dengan Ayumi?" tanya Afnan sambil memicingkan kedua matanya.


Kahfi hanya menatap sekilas kepada Afnan.


"Jujur ya Bang, Kahfi memang suka Bang sama Ayumi, tapi Kahfi bisa mengendalikan perasaan Kahfi agar tidak terus memupuk rasa suka Kahfi menjadi rasa cinta," ucap Kahfi pelan. Rasanya memang tidak enak membohongi perasaan sendiri apalagi tidak jujur kepada Afnan saudara kandungnya sendiri.


Kahfi hanya ingin lebih menghargai perasaan Afnan. Lebih baik Kahfi menyimpan semuanya sendiri, mencintai gadis pujaannya dalam diam, dan selalu menyebut nama gadisnya itu di sepertiga malam tanpa lelah.


Hatinya sudah tidak bisa digoyahkan saat Kahfi memohon untuk berhenti menjadi pria pengembara cinta. Namun, saat itu juga Allah SWT mempertemukan Kahfi dan Ayumi dalam dimensi waktu yang kurang tepat.


Semakin lama cinta itu malah tumbuh dan berkembang. Kahfi hanya berpikir mungkin karena gadis ini cantik hingga Kahfi terpesona. Kahfi adalah lelaki yang mudah tertarik pada gadis cantik dan mudah melupakan. Berusaha melupakan Ayumi malah membuat Kahfi makin gila untuk bertemu karena rindu.


Jadi tidak heran, setiap moment pertemuan Kahfi dan Ayumi tanpa sengaja, Kahfi kan lebih terlihat kaku, cuek dan masa bodoh. Tapi sebenarnya rasa kekhawatiran itu melebihi perasaan seorang suami kepada istrinya, sangat dekat dan begitu dekat. Perasaan apa ini sebenarnya.


Anugerah cinta yang Allah SWT berikan itu begitu indah dan dahsyat, hingga Kahfi sulit mengendalikan rasa cinta ini.


Kahfi hanya ingin mencintai gadis pujaannya itu karena ridho Allah SWT dan mencintai gadis pujaannya tidak melebihi rasa cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-nya.


"Fi, kamu gak lagi bercanda sama Abang kan?" tanya Afnan kepada Kahfi.


"Menurut Abang? Kahfi sedang bercanda? Ada waktunya Bang bercanda dan tidak, dan ini bukan waktu yang tepat," ucap Kahfi pelan lalu meninggalkan Afnan sendirian.


Kahfi berjalan menuju kamar tidurnya dengan perasaan yang tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2