
Ayumi sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, mungkin untuk satu atau dua jari ke depan, Ayumi perlu dirawat agar kondisinya benar-benar pulih kembali seperti awal. Lukanya juga harus diganti perban untuk menghindari infeksi atau luka yang basah tidak mengering.
Bulan sejak tadi duduk di sofa tunggu yang ada didalam kamar rawat inap itu. Kedua mata tertuju pada televisi yang menampilkan beberapa tayangan acara dari berbagai negara.
Sesekali kedua mata Bulan menatap Ayumi yang masih memejamkan kedua matanya akibat obat tidur yang diberikan oleh dokter, agar Ayumi bisa lebih banyak istirahat dengan tenang.
Bulan mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan mulai memencet tombol nomor Ustad Ikhsan, suaminya. Satu hari mereka belum berkabar, hanya sekedar chat juga tidak sempat, hanya siang tadi terakhir menghubungi Ustad Ikhsan, suaminya yang sedang sarapan.
Terdengar suara nada dering yang menyambung ke arah nomor tersebut, namun beberapa kali nada sambung itu tersambung, tidak ada sahutan dari pemilik nomor.
'Apa iya sedang sibuk? Ini sudah waktunya pulang dari mengajar, atau ada tambahan belajar?' batin Bulan di dalam hatinya.
Kak Afnan sejak selesai maghrib hingga sudah adzan isya tidak kunjung kembali, dengan alasan mau pulang ke apartemen untuk mengambil pakaian ganti Ayumi dan Bulan.
Beberapa cemilan dan minuman sudah habis dan hanya tinggal bungkusnya saja. Barang belanjaannya sudah dibawa pulang oleh Kak Afnan.
Bulan beranjak dari duduknya dan menatap arah luar jendela kaca rumah sakit. Saat ini, Bulan sedang berada di lantai dua, dikamar VIP. Ruangan yang cukup luas jika hanya dihuni bersua seperti ini. Lampu-lampu menghiasi kota Mesir dengan sangat indah. Beberapa rumah dan gedung terlihat sangat unik berbeda dengan suasana yang ada di negaranya sendiri.
Bulan menatap ke arah parkiran mobil, dan ada dua orang yang sedang beradu mulut, entah apa yang diperdebatkan, namun jelas sekali mereka sedang cekcok karena sesuatu hal.
Bulan menatap lekat kedua orang tersebut, yang satu perempuan yang sudah tidak asing dengan gaya dan penampilannya, lalu hang satu juga laki-laki yang sudah tidak asing dengan warna jaket yang dikenakan. Lalu beralih pada mobil sport mewah berwarna kuning menyala yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
'Itu Kak Zura, dan warna jaket itu adalah jaket yang sering dipakai oleh Kak Afnan. Ada apa sebenarnya ini? Apakah ada sesuatu dengan mereka berdua, tapi kenapa mereka berdua namapak saling acuh dan tidak perduli,' batin Bulan di dalam hatinya.
Sayup-sayup terdengar suara memanggil nama Bulan dengan suara amat lirih.
"Bulan ... Lan..." panggil Ayumi dengan suara teramat pelan.
__ADS_1
Bulan langsung menoleh dan berjalan menghampiri Ayumi yang mencari keberadaannya. Kedua matanya sudah terbuka, raut wajahnya masih terlihat pucat dan lemah.
"Ayumi sudah bangun, mau minum teh panas, biar badan kamu agak enakan?" tanya Bulan pelan sambil mengusap kepala Ayumi.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.
"Ayumi mau teh panas manis, tenggorokan Ayumi terasa kering sekali karena haus," ucap Ayumi dengan suara pelan.
Bulan mengambil satu gelas teh manis panas dengan sendok makan untuk disuapkan kepada Ayumi perlahan. Dengan pelan dan telaten, Bulan memberi suapan demi suapan untuk Ayumi.
"Ayumi mau makan? Ada bubur ayam, baru saja diantar oleh perawat, masih panas, mau? Bulan suapin ya, setelah itu minum obat," ucap Bulan pelan kepada Ayumi.
Lagi-lagi Ayumi menganggukkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum.
"Iya, Ayumi mau," ucap Ayumi pelan.
"Assalamu'alaikum, Ayumi, Bulan. Maaf terlambat, tadi bertemu teman lama, dan sempat bicara agak lama," ucap Kak Afnan pelan dan terlihat sedikit panik.
'Warna jaket itu adalah sama dengan lelaki yang sedang berselisih paham diparkiran tadi, sudah dipastikan itu adalah Kak Afnan,' batin Bulan dalam hatinya saat menatap warna jaket yang digunakan oleh Kak Afnan.
"Kak Afnan, sudah makan?" tanya Ayumi pelan malah menanyakan kondisi Afnan.
"Hei, Ayumi, seharusnya Kak Afnan yang bertanya sama kamu, kamu sudah makan atau belum? Tapi Kak Afnan lihat Bulan sedang menyuapimu, mau Kak Afnan suapi?" tanya Kak Afnan pelan kepada Ayumi.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan. Bulan memberikan mangkuk itu kepada Kak Afnan untuk melanjutkan aktivitas menyuapi Ayumi.
"Bagaimana sudah lebih enakan badannya?" tanya Afnan kepada Ayumi saat menyuapi gadisnya itu.
__ADS_1
Ayumi menerima suapan itu dan menganggukkan kepalanya saat menjawab pertanyaan Afnan.
"Habis ini minum obat ya? Biar cepat sembuh," ucap Afnan pelan sambil tersenyum manis.
Ada perasaan yang janggal di hati Ayumi melihat senyum Afnan yang begitu manis, namun mengandung arti yang tersurat di dalamnya.
"Kak Afnan kenapa? Seperti ada yang beda? Tidak seperti biasanya?" ucap Ayumi pelan saat akan menerima suapan bubur ayam itu kembali.
Afnan menatap lekat kedua mata Ayumi seolah ingin mengatakan kenapa Ayumi bisa tahu apa yang sedang Afnan sembunyikan.
"Kenapa Ayumi bicara seperti itu? Apakah sudah tidak percaya dengan Kak Afnan?" tanya Afnan pelan sambil menyuapkan suapan terakhir untuk Ayumi.
Ayumi mengunyah pelan bubur ayam lembut itu dan menelannya.
"Bukan tidak percaya, tapi seperti ada ynag janggal aja, boleh kan Ayumi berasumsi," ucap Ayumi pelan kepada Afnan sambil membalas tatapan Afnan yang terlihat sedikit cemas.
Bulan sejak tadi duduk di sofa tunggu dan terus menatap gerak gerik Afnan, memang benar, ini semua ada sesuatu hal yang disembunyikan, tapi apa itu, Bulan harus mencari tahu keberadaan Bunda Andara dan Kak Zura.
Ayumi sudah meminum obat yang diberikan oleh Afnan dan menghabiskan satu gelas teh manis itu hingga tidak bersisa.
Mereka berdua berbicara sebentar dan tidak lama tertidur dengan pulas. Afnan mengusap lembut kepala Ayumi dengan pelan dan lembut hingga Ayumi tertidur kembali karena pengaruh obat tidur dan obat pereda rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Afnan beranjak berdiri dan merapikan gelas dan mangkuk itu di atas nakas kembali, lau berjalan ke arah sofa tunggu untuk menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah dan letih karena aktivitas yang padat satu hari ini, ditambah harus bertemu Zura di saat yang tidak tepat.
Afnan sudah dudul di sofa itu sang menyandarkan tubuhnya dengan nyaman sambil memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba saja Afnan menegakkan duduknya dan menatap Bulan sambil tersenyum.
"Kak Afnan sampai lupa mengucapkan terima kasih sudah membantu Ayumi, tetima kasih sudah menjadi sahabat yang baik. Tapi kira-kira, apakah Bulan mengetahui siapa yang menabrak Ayumi? Kenapa orang tidak berhenti dan menolong Ayumi?" tanya Afnan bertubi-tubi kepada Bulan yang sejak tadi menyimak ucapan Afnan.
__ADS_1
"Biarkan kita serahkan pada pihak yang berwajib, sepertinya kecelakaan ini sudah dilaporkan pada pihak kepolisian," ucap Bukan dengan suara pelan.