Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
125


__ADS_3

Rara dan Bunda Latifa masih saja terus berbincang di ruang tamu, hingga minuman yang disediakan oleh asistennya itu harus diisi ulang kembali karena pembahasan terus saja mengalir tanpa ada rundingan terlebih dahulu semua terjalani dengan spontanitas.


Asisten rumah tangga itu sudah mengerjakan semua pekerjaan yang ada apartemen itu mulai dari mencuci, menyetrika, memasak, dan bersih-bersih.


"Umi Latifa, Rara itu sebenarnya belum menikah dengan Kak Fi, pernikahan adalah keinginan dan selalu menjadi impian Rara sejak dulu. Menikah muda dengan orang yang Rara cintai lalu hidup bersama dengan bahagia itu sangat sesuatu sekali, rasanya pasti seperti berada di awan," ucap Rara pelan menjelaskan.


Umi Latifa menyimak penjelasan Rara, tidak ada keterkejutan semuanya terlihat datar. Umi Latifa sudah hapal sejak awal jika Rara dan Kahfi belum ada ikatan halal, hanya bertunangan saja. Ayah Sukoco sudah menceritakan sejak awal, tapi dengan berpura-pura mengetahui keduanya telah menikah agar tetap aman tinggal bersama di apartemen itu.


Umi Latifa tersenyum manis lalu memeluk Rara dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.


"Kalau saat ini kalian harus menikah, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Umi Latifa pelan sambil mengendurkan pelukannya lalu menatap Rara dengan lekat.


Rara membalas tatapan Umi Latifa lalu tersenyum manis.


"Menurut Umi Latifa, jika Rara sudah memberikan penjelasan seperti tadi, Rara akan bersikap seperti apa? Tentu itu adalah suatu kebahagiaan yang hakiki, tidak ada kebahagiaan lain selain bisa menikah dengan Kak Fi dan hidup bersamanya di akhir sisa hidup Rara, lalu memiliki anak yang lucu-lucu," ucap Rara pelan dengan mengkhayal apa yang ada di pikirannya.


Umi Latifa memeluk Rara kembali, kali ini pelukannya lebih dalam lagi, sambil mengusap-usap punggung Rara dengan pelan dan lembut.


"Semoga semua impian Rara terwujud jika itu memang keinginan Rara dengan niat baik. Allah SWT pasti akan mengabulkan setiap doa yang baik," ucap Umi Latifa dengan suara pelan.


"Aamiin ya Allah, semoga terwujud semua Umi Latifa," jawab Rara pelan mengaminkan setiap ucapan Umi Latifa.


"Aamiin, kamu yang sabar ya Ra," ucap Umi Latifa dengan suara lembut kepada Rara.


"Umi Latifa sebenarnya ada apa kesini, maksud Rara mungkin Umi Latifa ada keperluan lain?" tanya Rara pelan agar tidak menyinggung Umi Latifa.

__ADS_1


Rara masih dalam pelukan Umi Latifa lalu tersenyum bahagia pada gadis cantik itu.


"Mau tahu banget apa mau tahu aja," jawab Umi Latifa pelan dengan menggoda Rara lalu mencolek hidung gadis cantik itu.


Rara ikut tersenyum lalu terkekeh pelan, tepat saat itu satu tendangan di perut Umi Latifa begitu terasa hingga ke kulit Rara yang menempel karena berpelukan.


Dug ...


Satu tendangan yang begitu kuat dari calon bayi Umi Latifa.


"Wah, tendangan sangat kuat Umi Latifa, mungkin jenis kelaminnya laki-laki, sehat-sehat didalam ya," ucap Rara pelan sambil mengusap perut itu dengan lembut.


"Terima kasih Tante Rara yang cantik atas doanya," ucap Umi Latifa pelan dengan suara menyerupai anak bayi yang baru bisa bicara.


Rara tersenyum manis, rasanya sangat iri sekali dengan perempuan yang bisa mengandung dan bahagia bersama suaminya, sedangkan dirinya, mencintai tanpa berbalas itu tidak ada kemungkinan untuk bisa melewati jenjang yang lebih halal lagi.


"Apakah bisa mengandung tanpa ada suami? Rara ingin sekali bisa merasakan jadi wanita sempurna, mengandung dan melahirkan anak dari laki-laki yang Rara cintai," ucap Rara pelan menjelaskan.


"Bisa saja, dengan cara memasukkan benih ke dalam rahim wanita yang sudah siap untuk dibuahi, tapi itu juga beresiko, untuk apa seperti itu Ra, lebih baik menikah dan menghalalkan hubungan kalian. Rara dan Kak Fi itu pasangan yang sangat ideal sekali, sangat cocok sekali, Umi Latifa saja sampai itu dengan keromantisan kalian," ucap Umi Latifa pelan menjelaskan.


Umi Latifa belum mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, Umi Latifa berpikir jika seseorang sudah bertunangan itu tandanya pasti akan menikah dan berumah tangga mengarungi bahtera secara bersama-sama. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu, tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh Umi Latifa.


Rara hanya menundukkan kepalanya dan mencari kenyamanan di pelukan Umi Latifa yang terganjal oleh perut Umi Latifa yang mulai membesar.


"Sebenarnya tidak seindah itu cerita cinta kita hingga bisa bertunangan, Umi Latifa," ucap Rara pelan menjelaskan.

__ADS_1


"Maksud Rara apa, kalian bahagia kan? Kalau tidak bahagia mana mungkin kalian bisa hidup bersama dengan terlihat mesra," tanya Umi Latifa malah menjadi bingung dengan penjelasan Rara.


Rara tertawa kecil, berusaha menenangkan hatinya bila mengingat kejadian yang kurang mengenakkan itu saat pertunangan mereka.


"Umi Latifa, Kak Fi itu hanya cinta kepada sahabat Rara, cinta pertama dan cinta sejatinya hanya untuk sahabat Rara yang bernama Ayumi. Namun, cintanya tidak bersambut, Ayumi sudah memiliki kekasih dan saat ini juga sudah bertunangan dan akan menikah dengan Kakak Kandung Kak Fi yang bernama Kak Afnan. Kak Afnan ini yang dulu ta'aruf dengan Kak Zura," ucap Rara menjelaskan dengan pelan.


Umi Latifa nampak menganggukkan kepalanya pelan tanda paham dengan semua penjelasan Rara.


"Tidak ada yang tidak mungkin kan Ra?" ucap Umi Latifa dengan pelan.


Rara menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum kecut.


"Rara tidak ingin dicintai karena kasihan, iba dan karena sakit yang Rara derita," ucap Rara pelan.


"Rara, harus yakin, Allah SWT itu maha membolak-balikkan hati dan perasaan seseorang, bisa jadi Kak Fi akan mencintai kamu sepenuh hatinya," ucap Umi Latifa dengan lembut untuk menenangkan hati Rara.


"Tidak, Umi Latifa, itu semua tidak akan terjadi, kalaupun itu terjadi semuanya semu, hanya kepura-puraan dan fana," ucap Rara dengan suara lirih dan parau.


Umi Latifa hanya mengangguk pelan tanda paham.


"Biarkan seperti ini saja Umi Latifa, hubungan kami berdua baik seperti ini saja, Rara sudah sangat bahagia. Melihat senyum Kak Fi setiap hari juga sudah membuat Rara senang menjalani hidup ini," ucap Rara dengan pelan kemudian.


"Asal kamu bisa ikhlas menerima semuanya, Inshaa Allah, hati Kak Fi pasti akan luluh dengan perasaan yang tulus dari kamu Ra," ucap Umi Latifa dengan lembut sambil mengusap kepala Rara dengan pelan yang terbalut dengan hijab panjang.


"Rara akan menerima semuanya dengan ikhlas dan tulus, walaupun memang kenyataannya tidak akan pernah sesuai dengan keinginan Rara, tapi Rara akan selalu berusaha dan berjuang untuk tetap menjadi yang terbaik dimata Kak Fi," ucap Rara pelan dengan suara lembut menjelaskan.

__ADS_1


Umi Latifa sangat bangga dengan kesabaran dan ketulusan Rara dalam menghadapi kehidupannya. Menerima dengan ikhlas rasa sakitnya, mencintai dengan tulus orang yang mencintai sahabatnya. Itu sesuatu yang sulit dan bahkan tidak pernah bisa dibayangkan oleh Umi Latifa.


__ADS_2