
Sigit pura-pura tersedak. "Uhuk uhuk uhuk, ehm. Pantesan gak enak. Keasinan" celanya terhadap masakan Muti. Kakek Umang tertawa mendengarnya.
"Tadi katanya enak, beda dari biasanya. Dasar plin plan! Keasinan karena lidahmu memang yang salah. Kakek aja suka sama masakan Muti. Kamu itu kalau muji ya muji saja. Gak usah ditarik balik kata-katanya"
Sigit sebal. "Kok belain dia sih kek" Muti menjulurkan lidah pertanda dia yang menang. "Kalian ini seperti anak umur 10 tahun yang sedang berebut mainan dan main salah-salahan. Ingat, kalian itu sudah dewasa. Sigit, nanti siang mamah dan papahmu sudah sampai. Jadi, pulang cepat. Jangan sampai membuat mereka menunggu"
"Iya kek, Sigit ingat. Buruan sarapannya, aku gak mau kalau sampai telat. Kita harus jemput Luna dulu" Muti segera menghabiskan sarapannya sebelum si komandan menyebalkan itu berubah pikiran.
Mereka berpamitan berangkat kerja. Sigit menghubungi Luna agar segera bersiap karena akan dijemput.
"Halo assalamualaikum, Lun. Siap-siap aku mau ke rumah kamu nih"
Waalaikum salam. Gak usah Si, aku diantar ayah kok. Ini udah di jalan
"Wah jadi gak enak nih pinjem mobil kamu terus"
Kalau gak enak, makanya mobil dari om Bagas dipakai Si, mau kamu mobil itu turun mesin gegara gak dipakai?
"Iya-iya, ya sudah, aku antar Muti dulu ambil mobilnya. Daaah. Wassalamaualaikum" Sigit langsung mengakhiri panggilan itu. Karena malas dengan pertanyaan yang akan mencecarnya.
Sigit diam mengemudikan mobil. Muti enggan untuk membuka obrolan. Ini cowok normal gak sih? Ada cewek cantik lho disebelahnya. Masa dianggurin gitu aja gak diajak ngobrol?. Batin Muti dalam hati.
"Jangan ngebatin! Kenapa? Mau ngobrol?" ucap Sigit seakan tahu isi hati Muti.
"Kamu sudah nemu alasan belum buat menolak perjodohan ini?" tanya Muti. Sigit menggeleng.
"Sudah lah, jangan bahas itu dulu. Kamu gak kerja?" tanya Sigit.
"Kerja, masih cukup kok waktunya"
"Ooh, kerja dimana?"
"Samsat. Ini arah jalanan rumah Jihan temen aku. Ternyata rumah kamu deket rumahnya ya?" Sigit tak mengenal Jihan. Tapi dia ingat pernah menolong Muti yang kakinya saat itu sedang kram.
"Maksud kamu temen yang sama kamu pas kaki kamu kram saat jogging?"
Muti menautkan alisnya. "Kok kamu tahu kaki aku pernah kram saat jogging?"
__ADS_1
"Lhah, kamu gimana sih? Kamu gak ingat yang nolongin kamu siapa? Nih, orangnya ada di samping kamu" Muti hanya nyengir tak mengingat orang yang pernah menolongnya ternyata adalah Sigit.
"Makasih untuk waktu itu. Dan makasih untuk saat ini"
"Sama-sama. Sudah sampai, sana turun" usir Sigit kepada Muti setelah ia sampai di karaoke A untuk mengambil mobilnya.
"Iya, aku turun ya. Makasih ya mas" Sigit hanya mengangguk. Muti turun dan mengetuk kaca mobil Sigit.
Sigit menurunkan kaca mobil. Muti mengecup pipinya dengan cepat secepat kilat. "Tanda terima kasih aku" Sigit mematung mendapat kecupan itu. Muti segera berlari ke arah mobilnya. Masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan Sigit.
"Haaaaahhh, beneran rasanya jantung aku ada petasannya dan sekarang lagi meletup-letup. Perasaan apa ini? Dulu aku kasih sun ke Humam gak begini amat. Haduuuuuhhhh, Mutiiiii. Berani banget kamu sama komandan galak ituuuuu" Muti tak menyangka dia berani melakukan itu pada Sigit.
Sedang Sigit, menampar kecil pipinya. "Ini nyata lho Git, bukan mimpi. Dia beneran nyium kamu barusan. Alamaaaakkk. Rasanyaaaaa, seperti melayang di udara. Dasar Marmut nakal. Awas kamu ya, godain aku melulu"
.
Luna sudah sampai di ruangannya. Disana ada seorang lelaki yang menunggunya. Yudi datang membawa berkas pemeriksaan dan hasil laporan operasi tadi malam.
"Mbak Lun, mas Danang nungguin kamu dari tadi lho mbak" tutur Yudi. Luna melihat jam tangannya. Masih setengah jam lagi dari yang dijadwalkan.
Yudi mengangguk "Memang, tapi aku juga gak tahu, dia datang 15 sebelum mbak Luna datang"
"Biarkan saja dulu. Apel dulu. Komandan sudah datang?" Yudi menggeleng. Apel sudah akan dimulai dan Sigit baru saja tiba. Segera dia ikut berbaris diantara yang lainnya. Apel pagi ini dipimpin sendiri oleh bapak Kapolres.
"Mengingat kasus yang marak terjadi akhir-akhir ini, yaitu prosti*tusi, narko*ba, dan trek-trekan. Maka setiap malam kita akan melalukan operasi. Pangkas tuntas! Jadwal akan dibagikan sebentar lagi. Sekian dari saya"
Kapolres mengakhiri pidato singkatnya. "Makin sibuk kita Ndan"
"Iya, laksanakan sajalah" Luna mengangguk. Mereka segera membubarkan diri. Luna kembali ke ruangannya. Danang sudah duduk di hadapan meja Luna.
"Assalamualaikum Lun" sapa Danang ramah.
"Waalaikum salam. Belum jadwalnya. Silahkan tunggu di luar" Luna mempersilahkan Danang menunggu di luar.
"Aluna Lestari, lulusan SMAN 3 Semarang. Kelas 10 A, dulu satu bangku sama aku, Danang Putra Arkananta. Kamu lupa itu semua? Bahkan kamu lupa siapa yang menjadi teman pertama bagimu?" tutur Danang karena mendapatkan perlakuan dingin dari Luna.
Sigit yang saat itu masuk ke ruangan Luna mendengar semuanya. Ooh, jadi mereka teman SMA 1 kelas pula? Teman pertama? Tapi kenapa sikap Luna dingin begitu.
__ADS_1
"Ehm, maaf saya mengganggu. Saya mau ngambil berkas yang tadi malam" ucap Sigit. Luna memberikan berkas itu. "Baru saja mau saya antarkan Ndan"
"Tak perlu, pas kebetulan aku lewat ruanganmu makanya aku ambil sendiri. Bersikap lembutlah pada tamu kita. Dia yang memberi informasi kepada" pesan Sigit dan segera berlalu.
Luna bingung bagaimana dia harus bersikap. Di satu sisi dia ingat betul siapa Danang, tapi Ayahnya selalu melarangnya dekat dengan Danang karena dia itu anaknya Ana dan Arka. Meskipun Arka adalah sahabat Tristan.
"Silahkan duduk pak Danang" ucap Luna. Danang mengikutinya sesuai instruksi. Penyidikan dimulai. Danang menjawab sesuai pertanyaan Luna.
Luna tak ingin berlama-lama menginterogasi Danang menurutnya kesaksian yang diberikan Danang ditambah dengan video rekaman cctv di tempat kejadian memberikan bukti bahwa pemilik dan manager ini tak ada sangkut pautnya.
"Oke, penyelidikan selesai. Terima kasih atas kesaksiannya. Mohon diperketat lagi untuk penjagaan di barnya. Jika nanti kami butuh tambahan info. Kami akan menghubungi anda lagi" jelas Luna sambil sibuk menata berkas yang harus diberikan.
Danang hanya diam dan tersenyum kecut dengan sikap Luna. "Ada yang salah sama diri saya hingga anda tersenyum seperti itu?" ucap Luna tanpa melihat Danang sedikitpun.
"Aluna Lestari tidak mau dekat dengan Danang Putra Arkananta karena ibuku pernah mengganggu ayahmu dulu? Benar begitu? Apa aku tidak punya kesempatan sama sekali untuk dekat denganmu?"
Luna menatap Danang. "Pintu keluar ada di sebelah sana. Silahkan tinggalkan ruangan saya. Karena penyelidikan anda sudah selesai"
"Oke. Aku akan keluar. Tidak perlu mengusirku seperti itu. Maaf jika membuatmu tidak nyaman. Aku janji tidak alan mengganggumu lagi. Jadi tidak perlu menjadi sedingin ini terhadapku. Atas nama ibuku, sampaikan maafku terhadap ayahmu. Maaf jika di masa lalu beliau pernah melukai hati kalian"
Danang berdiri dan meletakkan sesuatu di depan Luna. Sebuah coklat kesukaan Luna. "Buang saja jika kamu tidak mau. Aku sudah memberikannya terserah mau kamu apakan barang itu"
Danang pergi meninggalkan Luna dengan kegalauan yang melanda hati. Dia melihat coklat itu. Dia mengambilnya dan hendak dia buang. Yudi masuk dan memberikan berkas penyidikan kepada Luna.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1