
Hana diantar oleh Ali pulang ke rumah. Mereka hanya diam tak tahu harus mengobrol apa. Canggung. Ali menghidupkan musik dan juga AC mobilnya, karena biasanya ia tak menggunakan AC mobil.
"Pantesan panas" kata Hana. Ali tak begitu mendengar ucapan Hana. "Hmm?" Tanya Ali menoleh sebentar ke Hana
"Ini, ternyata AC nya gak nyala. Aku kirain hidup tadi. Abang kerja di kantor polisi mana?" tanya Hana.
"Polsek Ungaran. Kenapa?"
Hana menggeleng. "Gak papa, heheh, siapa tahu nanti main ke Ungaran kan bisa mampir". Ali menautkan alisnya. "Mampir ke polsek?"
"Polsek boleh, rumah juga boleh" kata Hana sambil nyengir. "Anak sudah berapa bang?" tanya Hana lagi. Ia mencoba memancing kejujuran Ali.
Ali menggeleng. "Aku duda, tapi belum punya anak. Istriku minta cerai karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Eh, kamu kerja dimana?"
"Di RST" Ali mengangguk. "Bagian?" tanya Ali lagi. "Paru"
"Oooo pantesan aku gak boleh merokok. Perawat?" Hana menggeleng. "Dokter" Ali sedikit terkejut dengan pernyataan Hana. "Oh, ahlinya paru malahan. Maaf bu dokter, heheheh"
Hana hanya tersenyum "Ada yang lebih ahli lagi, Bang"
Apa coba maksud Sigit ini? Dasar anak itu. Awas nanti kalau ketemu. "Kamu berapa bersaudara?"
"Dua, adik aku juga kowad, adik tingkatnya Maryam. Bang Ali sendiri?"
"Aku 3 bersaudara, anak terakhir. Dua kakak ku perempuan, mereka ikut suami mereka tugas. Aku asli Rembang, sudah 5 tahun di Ungaran. Ngajuin pindah belum lolos terus" Hana mengangguk mendengarkannya. Matanya mengantuk, ia menguap.
"Bang, nyetir sendiri gak papa kan? Aku ngantuk"
"Tidur saja kalau ngantuk" Hana mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Ali tersenyum melihat Hana terlelap. Perjalanan terus berlanjut. Saat memasuki kota Semarang, Sigit menelpon.
"Halo assalamualaikum" sapa Ali
Waalaikum salam, sampai mana? Anak orang sudah ditanyakan sama orang tuanya nih. Jawab Sigit dari seberang.
"Bentar lagi sampai, Git, ini nih maksudnya apa?" tanya Ali menahan tawanya.
Apanya yang apa? Aneh deh
__ADS_1
"Wes toh, kamu itu pasti sekongkol sama Maryam kan? Kamu nyuruh aku ke Banaran cuma buat ketemu Maryam doang? Itu hal yang mustahil. Intel kok mbok apusi"
Hahahaha, ketahuan juga ternyata. Ya aku cuma pengen kamu kenal sama Hana, siapa tahu cocok. Jodoh. Kan ya alhamdulillah
"Aku duda, pekerjaanku hanya bisa menggajiku kecil, aku takut kecewa lagi Git. Dia dokter, mapan, beda jauh Git sama aku. Bagai langit dan bumi"
Halah, kamu itu. Gak semua cewek matre Al. Yang benar-benar tulus juga banyak. Eh papinya Hana mau ngomong nih
"Ha? Ngomong apa? Aduuh, gara-gara rencana kamu nih. Git, ngomong opo aku?"
Ali menjadi gugup. Keringat dinginnya mulai keluar. Halo assalamualaikum, nak Ali?
"Waalaikum salam, iya om saya Ali"
Hana sedang apa? Kok om telpon tidak diangkat?
"Hana sedang tidur om, sebentar lagi kami sampai kok om"
Hmm, baiklah, om tunggu di rumah. Assalamualaikum
"Waalaikum salam warahmatullah" jawab Ali dan mengakhiri panggilan itu. Dia melihat Hana menggeliat dan membuka matanya. "Sudah bangun? Sebentar lagi sampai nih"
"Gak papa, kamu sudah dicari sama orang tuamu" tak lama mobil Ali terparkir di halaman rumah Sigit. Hana hendak melepas sabuk pengamannya tapi tak bisa.
"Lhah, macet nih" Ali menoleh. "Oh, iya, maklum mobil lama ya begini. Sini aku bantu" Ali membantu Hana melepaskan sabuk pengaman itu.
Hati Hana kembali berdesir. Ini aku kenapa sih? Kalau dekat dia bawaannya kok begini. "Sudah" kata Ali melihat wajah Hana sebentar dan merona merah.
"M-makasih" Hana cepat-cepat turun dari mobil. Di teras sudah ada papah Bagas, papi Raka, Ayah Tristan, Sigit, Danang, dan Kakek Umang. Hana menyalami mereka satu per satu. Ali juga turun dari mobil.
"Kok turun? Langsung pulang saja sana...." Hana mengusir Ali. "Mau ketemu sama.... orang tua kamu dulu"
Hana menautkan alisnya. "Han, masuk nak. Mami nyari kamu tuh" perintah papi Raka. Hana mengangguk dan segera masuk ke dalam. Ali menyalami semuanya satu per satu.
"Apa kabar Al?" tanya papah Bagas. "Alhamdulillah baik om, om makin muda saja. Bagi rahasianya dong om"
Papah Bagas hanya tertawa. "Rahasianya disayang istri" jawab papi Raka. Ali hanya tersenyum menanggapinya. "Duduk sini, sebelah Danang"
__ADS_1
Ali mengangguk dan duduk di sebelah Danang. "Kalian suka dengan anak perempuan kami?" tanya Ayah Tristan. Danang mengangguk. "Iya om"
"Ali sendiri bagaimana?" tanya papi Raka. Ali bingung. "Duh, gimana ya om? Saya kan baru tahu Hana hari ini"
"Saya masih belum bisa percaya kamu tulus terhadap anak saya, apalagi kamu ini anak dari Ana" kata Ayah Tristan. Danang tersenyum dan mengangguk. "Sayah paham om" jawabnya.
"Kalau paham artinya jauhi Luna" imbuh Tristan.
"Tristaaaan.... jangan seperti itu. Kamu itu orang tua. Cara berpikirnya juga harusnya dewasa. Beri kesempatan bagi Danang. Jika memang mereka berjodoh ataupun tidak, biar jadi ketetapan Allah" kakek Umang menasehati Ayah Tristan.
"Tapi Yah" Ayah Tristan merengek seperti anak kecil. "Ayah tahu, tapi cobalah beri kesempatan" jawab Kakek Umang.
Ayah Tristan menghela nafasnya. "Oke, saya beri kamu kesempatan. Jika kamu membuat Luna bersedih, jangan harap kamu bisa bertemu lagi dengannya" Danang mengangguk senang. Akhirnya restu itu ia kantongi.
"Nak Ali, kalau saya suruh kamu besok menikah dengan Hana mau atau tidak?" Semua melotot ke arah papi Raka. "Apa sih? Aku pengen Hana juga ada yang menjaganya, sama seperti ayahnya Muti yang menginginkan anaknya dijaga oleh Sigit. Bagaimana nak Ali?"
Ali menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Bingung harus menjawab apa. "Saya ini duda om, pekerjaan saya hanya memberi upah kecil. Masih banyak pemuda lain yang pantas mendampingi Hana. Saya tidak ingin mengecewakan hati Hana ataupun om dan keluarga" jawab Ali hati-hati.
"Materi itu bukan segalanya. Namanya bangun rumah tangga itu ya dimulai dari sedikit demi sedikit. Gak bisa langsung sugih itu tidak ada. Semuanya berproses. Mungkin gagalnya nak Ali dulu karena dua belah pihak kurang sabar dalam menjalani kehidupan itu. Bangun rumah tangga juga tak semudah membalikkan telapak tangan nak. Butuh proses dan perjuangan. Om tidak masalah dengan status ataupun materimu. Yang om ingin kamu jadi mantu om. Jadi?"
Ali menatap Sigit. Ingin bertanya bagaimana untuk menjawab tawaran itu. "Jawab iya saja Al, Hana bukan cewek matre kok. Beneran deh. Atau coba pendekatan saja dulu"
Papi Raka menggeleng. "Pendekatan bisa dilakukan setelah kalian menikah. Dosa jika menunda suatu ibadah. Jadi bagaimana nak Ali?"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Hayo apa jawaban Ali kira2?
Yang minta A squad masuk disini maapkeun othor yah, itu untuk bahan othor di cerita A squad. Hehehe. Penghubung cerita ini ya Habib dan keluarganya. Cuma sampai situ. Nanti kebanyakan tokoh bingung 😄😅😅