Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 53


__ADS_3

Mereka menjadi salah tingkah. Mereka sama-sama membuang muka. "Kak Hana, ini bang Ali. Sahabatnya bang Si. Bang Ali, ini kak Hana, sepupu Maryam, bang Si, dan mbak Lun"


Ali menyodorkan tangannya mengajak salaman. Hana menyambutnya. Mata mereka kembali bertemu. Degup jantung kembali tak beraturan deg deg.... deg deg.... deg deg....


"Ali" kata Ali memperkenalkan dirinya. "H-hana" balas Hana terbata.


"Bang Ali, duduk sini. Kenalkan ini Habib" Maryam memperkenalkan Habib. Ali menyodorkan tangannya ke Habib dan disambut Habib.


"Ali, gimana tadi ketemuannya sama abangnya Maryam? Galak?" tanya Ali lebih santai kepada Habib.


"Habib, ah gak juga kok bang, Bang Sigit terlihat sayang sekali sama Maryam. Kakak cowok kan memang gitu, saya pun kalau adik saya didekati oleh cowok juga bakalan mencecar dengan berbagai pertanyaan" jawab Habib.


Hana merasa dicuekin. Dia akhirnya bermain ponsel. "Kak Han, pesen makan yuk" ajak Maryam. Hana mengangguk.


"Suruh pelayannya kesini saja lah Mar" Maryam memanggil salah satu pelayan. Mereka memesan menu sesuai selera mereka.


"Mohon ditunggu" kata pelayan itu. Mereka kembali mengobrol. Ali mengeluarkan rokoknya. Membuat Hana memandangnya tak suka.


"Ehm, maaf, bang Ali merokok?" tanya Hana, Ali mengangguk. "Bisa tolong jangan merokok? Udaranya sudah cukup sejuk disini jangan dirusak dengan asap rokok. Gak bagus juga buat paru-paru" tegas Hana.


Ali diam sebentar dan menghela nafasnya. "Satu batang saja" katanya. Ia mengambil rokok itu dan mulai menyulut apinya. Hana keukeuh tak suka jika ada orang yang merokok. Ia mengambil paksa rokok itu dari mulut Ali dan membuangnya, lalu bangkit dan menginjak api yang masih menyala.


Maryam dan Habib sampai melotot tak percaya dengan sikap Hana. "Apa-apaan sih?!" Ali terpancing emosi. Ia mengambil lagi satu batang rokoknya. Hana mengambil dan membuangnya lagi.


Mata mereka kembali beradu. "Bisa tolong hargai pendapat orang tidak?" kata Hana dengan nada jengkel dan tegas. Maryam menengahi ketegangan yang terjadi.


"Kita disini mau penyegaran lhoh, bukan bertengkar. Bisakah kalian lebih akrab? Bang Ali, bisa lebih ngalah gak ke kak Hana?" Ali mengepalkan tangannya, lalu menghela nafasnya. "Oke"


Makanan datang. Mereka menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba saja karet ikat rambut Hana putus. Membuat rambutnya terurai.


"Hadoh, pakai acara putus lagi ah, mana makannya udah pakai tangan lagi" kata Hana. Ali yang saat itu makan pakai sendok beranjak ke meja pelayanan.


"Mas, minta karet 1 ada?"


"Ada pak, tapi karet tempe" jawab pelayan itu.


"Wes ora popo" jawabnya lagi. Pelayan itu memberikannya karet itu dan ia kembali ke mejanya.


Dia melihat Hana kesusahan untuk makan. Akhirnya ia mengikatkan rambut Hana. Keadaan menjadi romantis. Hana sampai kaget dibuatnya. Wajahnya merona karena malu.

__ADS_1


Ali selesai mengikat rambut Hana dan ia kembali duduk di kursinya. "M-makasih"


"Sama-sama" ia tak berani menatap Hana. Ia makan dengan menunduk. Maryam memperhatikan sikap keduanya. Hihihihi, semoga kalian berjodoh.


Flash Back On


Maryam duduk di samping Habib yang sedang mengemudi. Ia memeriksa ponselnya karena ada chat masuk.


Bang Si : Ajak Ali, kenalkan dia pada Hana. Gak tahu kenapa Abang ingin mengenalkan mereka berdua


Maryam : Abang mau jadi mak combro ya? 😁


Bang Si : Mak comblang dek. bukan mak combro. Pulangnya biarkan mereka berdua. Biarkan mereka dekat. Kalian pulang terpisah. Awas jangan macam-macam sama Habib 🧐


Maryam : Siap bosque. Kamu yang kasih tahu bang Ali ya? Nanti kalau aku yang suruh pasti nolaknya


Bang Si : oke siap. Nanti kalau sudah sampai di Banaran wa Abang lagi.


Maryam : Nggiiih pak bos


Flash Back Off


"Malam mbak Han, eh mbak Han. Dulu ngambil spesialisasi dimana?" tanya Habib penasaran.


"Di Semarang, nyoba-nyoba eh, alhamdulillah keterima" cerita Hana. Habib mengangguk mendengarnya. "Kamu pengen ambil spesialis juga?"


Habib mengangguk. "Tapi nanti nunggu mas Hilal, maksudku mas ku selesai dulu. Sambil ngumpulin biaya"


Ali menjauh dari mereka. "Mau kemana banb?" tanya Maryam. "Merokok" jawab Ali singkat.


Hana hanya geleng kepala mendengarnya. Ali sudah agak jauh meninggalkan mereka. "Mar, yang nyuruh dia kesini siapa sih?"


Maryam tersenyum. Akhirnya Hana ingin tahu juga. "Bang Si. Bang Si mencoba untuk mengenalkan kalian berdua. Tapi aku buat kalian sama-sama gak tahu, makanya kagok semuanya hehehe"


"Hish kamu sama bang Si memang ya? Aku kan gak minta dikenalin" protes Hana.


Habib dan Maryam saling senyum melihat ekspresi wajah Hana yang tiba-tiba merona. "Siapa tahu saja berjodoh. Tapi, dia duda kak. Dia digugat cerai istrinya karena istrinya gak sanggup hidup pas-pasan dengan dia"


"Gak nanya" kata Hana. Maryam tertawa mendengarnya. "Nanti palingan chat-chatan sendiri"

__ADS_1


Wajah Hana kembali merona. "Apaan sih Mar" jawab Hana mengaduk-aduk minumannya. "Mau balim jam berapa? Papi sama Mami juga besok bakalan datang, yeeee ramai lagi...."


Ali kembali bergabung. Hana menjadi diam kembali. Habib bertanya tentang binsik. "Bang Ali, biasanya kalau binsik disuruh ngapain saja?"


"Hmm? Siapa yang mau ngasih binsik? Sigit?" Habib mengangguk. "Hahahah, siap-siap dikerjain sama calon iparmu ya Bib, lari, push up, sit up, dan masih banyak lagi. Kuatkan mental dan fisikmu. Cinta banget sama Maryam?" tanya Ali.


Habib mengangguk semangat. "Iya lah bang, masa iya gak cinta sih. Pengen cepet-cepet halalin dia"


"Kamu tahu kan Maryam kowad? Dia juga pasti nantinya bakal dapat panggilan untuk satgas lagi. Kamu siap ditinggal pergi istrimu?" tanya Ali lagi. Habib menggeleng.


"Nanti setelah kami nikah, Maryam mundur dari kowad bang. Maryam juga ingin kumpul sama keluarga" jawab Maryam.


Hana dan Ali menautkan alisnya. "Jangan mundur!" kata mereka kompak membuat Maryam dan Habib tertawa lucu melihatnya. "Kamu yakin mau mundur?" tanya Hana Maryam mengangguk mantap.


"Papah dan Mamah sudah tahu?" tanya Hana lagi. "Nanti lah, kalau semua sudah berjalan, restu sudah di tangan baru sampaikan bahwa aku mau mundur dari kesatuan"


"Ya terserah kamu saja sih" balas Hana lagi. Ali melihat jam. "Sudah sore banget, kalian mau balik jan berapa?"


"Sekarang saja yuk. Nanti keburu gelap. Kak Han, kamu diantar bang Ali ya? Aku mau nemenin mas Habib dulu. Heheheh. Daaah" Maryam menarik tangan Habib dan berlari meninggalkan Hana dan Ali.


Hana melongo mendengarnya. "Hei! Kalian ih! Aku pulang sama siapa! Aku gak tahu jalan pulang lhoh" teriak Hana. Ali bersidekap dan mendengarkan ocehan itu.


"Ehm, berisik, bisa tolong mingkem? Mau diantar pulang atau tidak nih?" tanya Ali. Hana diam dan mengangguk. Mereka berjalan ke mobil Ali.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Up dari semalam blm juga direview. Sabar yah pemirsah

__ADS_1


__ADS_2