
Danang masih berusaha melumpuhkan Yudi. Luna datang bersama Sigit. "Bajingan!" Sigit sudah sangat emosi. Darahnya mendidih melihat Yudi memang benar orang yang telah menculik calon istri dan sepupunya.
Bugh bugh bugh. Baku hantam dilayangkan kepada Yudi. Tendangan dan pukulan melayang. Skill Yudi memang diakui oleh Sigit. Luna membantu mereka.
"Git, cari keberadaan Hana dan Muti. Yudi biar aku dan Danang yang tangani" Ali datang dan langsung menendang perut Yudi. Yudi terjerembab.
Sigit dan Ali masuk mencari keberadaan Muti dan Hana. Galih dan para tetua datang. "Minggir Lun" kata papi Raka. "Anak selingkuhan dari Bakrie Anggoro. Yudistira Pradipta Anggoro. Apa kabar? Kamu ingin balas dendam? Seharusnya yang menerima dendammu adalah kami, bukan anak-anak kami!" Bugh
Satu pukulan melayang tepat dan sangat keras mengenai pipi kiri Yudi dan membuat sudut bibirnya berdarah. Yudi tak mau kalah, ia langsung menendang papi Raka.
Sigit dan Ali menemukan Muti dan Hana diikat disebuah kursi dan sedang dicambuk oleh Mia dan Humam. "Biadab!" Darah Sigit benar-benar mendidih hingga ke ubun-ubun. Ia mendengar rintihan dari para perempuan kesayangannya itu.
Humam berhadapan dengan Sigit, dan Mia menghadapi Ali. Papah Bagas dan Ayah Indra datang. "Mia!" teriak Ayah Indra.
Kakek Umang menyusul di belakangnya. "Hentikan perbuatan biadabmu itu Mia! Jangan pernah kamu melukai cucuku! Kamu tak berhak membalaskan dendam itu padanya"
Humam dan Mia memasang kuda-kuda. "Aku tak berhak??? Hei! Kau lupa?? Dia! Dia yang membunuh suamiku!!"
"Suamimu pantas menerimanya, dia dan aku adalah seorang penjahat. Dia mencoba membunuh Anin hingga Indra melepaskan pelurunya pada suamimu" terang kakek Umang.
Mia tertawa. "Bohong! Mereka (keluarga Anggoro) berkata padaku bahwa kalian sengaja membunuh suamiku"
Mia mengeluarkan pisau lipatnya. "Jangan ada yang mendekat!"
Mereka semua memasang kuda-kuda. Sigit dan Ali saling memberi kode. Sedangkan yang lain mencoba untuk memberi ruang untuk Sigit dan Ali bisa membebaskan Muti dan Hana.
Mereka berputar hingga Sigit dan Ali mencapai posisi Muti dan Hana. Lalu dengan secepat kilat membuka ikatan dan penutup kepala dan lakban yang ada pada para gadis itu. Sigit dan Ali terkejut melihat mereka. Tubuh mereka terkena cambukan. "Maafkan mas sayang, mas telat menyelamatkanmu" kata Sigit sedih tak tega melihat cambukan itu.
Muti menggeleng. "Ayo kita pergi mas, aku takut, hikss huhuhuhu"
Sigit mengangguk. Ali menggendong Hana. Papah Bagas dan Ayah Indra bertarung dengan Humam dan itu membuat Ali bisa leluasa untuk lolos dari orang-orang biadab itu.
__ADS_1
Saat akan menggendong Muti, Mia berlari ke arah Muti dan menancapkan pisau itu tepat di dada kiri Muti. Semuanya terkejut tak menyangka.
Ayah Indra sudah tak bisa mengampuni Mia, ia menembak kaki Mia hingga Mia terjatuh. "Muti! Bertahan yank!" Sigit menggendong Muti dan berlari keluar dari rumah itu.
Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Muti tersenyum kepadanya. Dengan lirih ia berkata "Mungkin kita harus berakhir disini mas"
"Tidak! Kamu akan selamat! Kamu akan baik-baik saja! Jangan tinggalkan mas lagi! Mas gak bisa jauh dari kamu! Dengarkan mas! Ini perintah! Janhan membantah! Bertahan dan berjuanglah untuk kita bersama! Mas sayang sama kamu, Muti. Hikss. huhuhuhu" Sigit berlari dengan cepat sambil menangis. Ia sudah tak memperdulikan lagi sekitarnya.
"I love you mas Sigit" kata Muti terakhir sebelum akhirnya pingsan. "Muti! Bangun sayang! Jangan begini! Mas pengen kamu melihat mas! Muti! Huhuhuhu"
Sigit sampai di mobil yang membawanya tadi. Ayah Tristan yang baru saja tiba di lokasi membantunya. "Pakdhe supiri. Tegarkan hatimu. Beri dia nafas buatan terlebih dahulu, karena disini tidak ada oksigen"
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sigit melakukan saran pakdhenya. Ia memberikan nafas buatan bagi Muti. Entah itu berhasil ataupun tidak, ia tetap melakukannya. Ia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa calon istrinya.
Ayah Tristan membawanya ke RSUD daerah Ambarawa. Muti langsung dimasukkan ke IGD. Dokter melihat keadaan Muti yang sudah mulai drop. "Perbaikan KU! Infus Nacl drip! Pasang oksigen, naikkan saturasinya! Hubungi dokter bedah umum yang berjaga!" perintah dokter jaga disana.
Semua menjadi sibuk dan kalang kabut. Sigit menunggi dengan cemas. Seorang dokter perempuan berlari menuju ruang IGD. Ia segera memeriksa keadaan pasien itu. "Lakukan rontgen, kita harus mengoperasinya. Dimana keluarganya?"
Ais mencari pihak keluarga pasiennya. "Adakah pihak keluarga korban luka tusuk?" teriak Ais. Sigit dan Ayah Tristan mendekat. "Kami keluarganya"
Ais tersenyum. "Perkenalkan nama saya dokter Aisyah Wibisana, dokter bedah umum disini. Jangan dilihat dari usia saya nggih, heheh. Ehm. Jadi pasien perlu tindakan bedah. Saya perkirakan lukanya dalam. Semoga saja tidak melukai organ vitalnya. Jika setuju silahkan tanda tangani surat persetujuan tindakan"
Sigit mengangguk. "Saya mohon dokter, tolong selamatkan calon istri saya. Tolong"
"Tenang mas, saya akan berusaha. Semua keputusan ada pada Allah. Silahkan tanda tangan dahulu. Lalu sholatlah. Insyaallah kamu akan lebih tenang. Doakan kami berhasil melakukan pembedahan itu" jawab Ais dengan tersenyum tulus dan meninggalkan Sigit.
Sigit segera melakukan saran dokter itu. Ayah Tristan juga ikut sholat.
.
Hana dibawa oleh Ali. Saat akan masuk mobil Yudi berlari ke arahnya. Galih yang ada di belakangnya ikut mengejar Yudi. "Setan!" ucap Ali sarkasme.
__ADS_1
Ali menyuruh Hana masuk ke mobil. tapi Hana ketakutan. Ia menggeleng. Baku hantam terjadi lagi. Yudi melawan 2 orang. Bantuan dari Danang dan Luna datang. "Lun, bawa Hana ke rumahku" Perintah Ali. Luna mengangguk.
Luna memapah Hana. Yudi dengan cepat mengeluarkan senjatanya membuat Galih dan Ali ikut menodongkan senjata mereka ke arah Yudi.
Dor. Tanpa pikir panjang lagi, Yudi melepaskan satu pelurunya menuju Hana. Galih melibmhat peluru itu dan mendorong Hana dan Luna. Membuat dirinya terkena tembakan tepat di perutnya.
Hana menoleh. "Galih!" teriaknya. Luna segera bangkit. "Han, ayo!"
Hana menggeleng. "Galih mbak...."
"Yang penting sekarang adalah kamu! Masuk! Bawa dia Lun!" Ali kehilangan kendali emosinya dan membentak Hana.
Yudi berlari menjauh dari area itu. Danang, Ali dan Para anggota kepolisian itu mengejar Yudi. Sebagian lagi membawa Galih ke rumah sakit.
Yudi terkepung. "Mau lari kemana lagi kamu??! Gak.malu kamu sama negara yang kamu lindungi?? Kamu malah menjadi pengkhianat!Serahkan dirimu!" ucap Ali.
Yudi tertawa. "Menyerahkan diri?? Hahaha, todak akan aku lakukan hal itu! Lebih baik aku mati daripada menerima hukuman itu!"
Dor
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip