
"Luna?" Bima juga kaget dibuatnya. Apalagi semua orang tua. "Kalian sudah saling kenal?" tanya Ayah Tristan. Mereka berdua mengangguk.
"Kami satu Polres" jelas Luna. "Oalah.... sak Polres jebule. Makin mudah dong untuk pendekatannya" jelas Bunda Tari.
Luna duduk diantara kedua orang tuanya. Orang tua Bima kagum melihat Luna yang cantik natural. "Anak kamu cantik jeng" Puji mamah Renita. Luna hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ya sudah, kalian ngobrol sana di taman belakang. Lun, ajak mas Bima kesana. Biasakan panggil mas" perintah Bunda Tari. Luna hanya mengangguk.
"Monggo mas.... Bima" kata Luna canggung. Bima tersenyum mendengarnya. Mereka berjalan ke taman belakang. Bima senang bukan main. Tapi, rasa senang itu ia sembunyikan. Berlagak jual mahal terhadap Luna.
"Jadi, kamu anak tante Tari dan Om Tristan? Gak nyangka ya... Ternyata, dunia sempit sekali" kata Bima duduk di samping Luna. Luna hanya tersenyum.
Mereka sama-sama diam. "Kok malah jadi canggung ya?" terang Bima. Luna tertawa mendengarnya. "Iya ya? Aneh ih. Ngomongin apa ya? Kerjaan gak mungkin, identitas kamu juga aku sudah tahu"
"Hehehe, iya juga sih. Eh, ini maksud orang tua kita apaan sih? Kok kita dikenalin begini?" tanya Bima berpura-pura bodoh. Luna juga menjawabnya dengan pernyataan konyol.
"Suruh ngobrol"
"Hahahah, jadi?" tanya Bima. Luna mengerutkan alisnya. "Apanya?"
"Setuji sama perjodohan ini?" tanya Bima. Luna menggeleng. "Jujur ya mas.... Bim, aku hanya tidak mau membuat mereka kecewa, makanya aku mau dikenalkan dengan orang lain. Hatiku masih sakit, rasanya masih gak pengen gitu menjalin hubungan dengan orang lain"
Bima terdiam mendapati jawaban Luna. Ia tahu, dirinya mungkin hadir di saat yang tidak tepat. Harapannya yang lalu pupus karena kata Ali dia akan segera menikah dengan Danang. Dan sekarang, harus pupus lagi mendengarnya sendiri dari orang yang ia sukai langsung. Tapi, kali ini ia tak mau menyerah.
"Kalau gak mau membuat orang tua kecewa, itu artinya kamu harus menjalaninya. Ya... kita coba mikirnya gini deh, mungkin sekarang kita gak ada rasa, tapi nanti?" kata Bima. Luna tertawa dibuatnya.
"Jangan mencinta mas.... Haduh, canggung kalau pakai mas" kata Luna.
"Dibiasakan dong" kata Bima
"Iya iya, jangan mencinta, itu akan membuat kita lemah" terang Luna. Bima menautkan alisnya dan tertawa. "Kamu bilang seperti ini karena sedang oatah hati. Yang lain gak tuh"
"Yang lain?" Bima mengangguk. "Bang Ali, komandan Sigit, mereka malah jadi bucin tuh sama istri-istri mereka. Dan, aku juga yakin, nantinya kita akan begitu"
Mereka sama-sama diam. Saling berpandangan. "Gak tahu lah mas Bim"
__ADS_1
"Sudah, jangan dibuat pusing. Jalani saja dulu. Eh, sudah jam berapa ya? Aku kena piket malam nih" Bima melihat jam di ponselnya. Jam 8 malam.
"Masuk yuk, banyak nyamuk nih" kata Luna. Bima mengangguk. Ia meraih tangan Luna. "Beri aku kesempatan, aku akan menyembuhkan hatimu yang terluka"
Luna menarik tangannya. "Jangan terlalu berharap padaku mas, aku gak tahu kapan hati ini siap untuk menerima seseorang lagi. Yang menjadi fokusku saat ini adalah karirku"
"Jalani saja dulu, kita lihat nanti perkembangan hubungan kita seperti apa" Sungguh, sakit yang dirasakan hati Bima saat Luna menjawabnya seperti itu. Ia hanya berharap semoga cinta segera tumbuh di tengah-tengah mereka.
Sedang di ruang tamu, suasana menjadi tegang. Muti dan Sigit datang bersama Mamah Ana, Papab Arka, dan Danang yang masih terlihat pucat. "Aku.... aku kesini.... untuk minta maaf kepada kalian" jelas Mamah Ana mengungkapkan maksud tujuannya.
"Danang juga minta maaf Yah, Bun, Danang telah membuat semuanya kecewa" ungkap Danang dengan suara masih lemah.
Bunda Tari dan Ayah Tristan saling berpandangan. Mereka menghela nafasnya. "Bukan kami yang seharusnya menerima maaf mu An, tapi putri kami. Dalam hal ini putri kami sungguh terluka" ungkap bunda Tari.
Luna datang bersama Bima dari arah belakang. Sigit dan Muti juga kaget melihat mereka. "Beneran gak ada kesempatan nih buat Danang" bisik Muti kepada suaminya.
Danang melihat mereka berdua. Hatinya memanas. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia lemah, ia kalah. "Lun, duduk sini nak" pinta Ayah Tristan.
Luna duduk kembali diantara orang tuanya. "Ada Danang dan keluarganya mau minta maaf sama kamu" terang bunda Tari.
"Aku... juga minta maaf Lun, maaf membuat hatimu sakit. Tapi, aku tidak pernah berbohong atas perasaanku. Cinta itu tumbuh pertama kali melihatmu, dan aku yakin, kamu juga merasakan hal yang sama"
Luna tersenyum kecut mendengarnya. "Luna sudah memaafkan tante, tapi, jika permintaan menginginkan Luna kembali bersama Danang, maaf, Luna tidak bisa te. Luna sudah mengubur dalam rasa cinta bersama rasa sakit itu. Jadi, tolong jangan ungkit kembali. Permisi semuanya, Luna ingin sendiri" Luna bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamarnya.
Ia menyandarkan dirinya di balik pintu itu. Memegang dadanya yang merasakan sakit kembali. "Kenapa kamu harus muncul lagi? Lebih baik seperti kemarin, kamu menghilang. Ya Allah, kuat Luna kuat! Kamu harus bisa melawan rasa ini, jangan biarkan dia menyakitimu lagi Lun!"
Danang dan keluarganya pamit. Keluarga Ayah Tristan sudah memaafkan mereka. Mereka juga tidak bisa memaksa Luna.
Danang kembali melamun dalam mobil itu. Ia memejamkan matanya. "Pah, Danang ingin ke Bali untuk mengurus bisnis disana. Bisa kan?" katanya.
Papah Arka dan Mamah Ana kaget mendengarnya. "Kenapa tidak kamu perjuangkan Luna?"
"Dia sudah bahagia bersama yang lain" jawabnya.
"Sebelum janur kuning melengkung di depan rumah Luna, dia masih bisa kamu miliki Nang" balas Papah Arka. Danang menggeleng.
__ADS_1
"Hatinya hancur karena Danang, dan sekarang dia berhak menentukan kebahagiaannya pah. Danang ingin ke Bali, besok Danang akan langsung kesana"
Papah Arka hanya bisa menghela nafasnya kasar. "Terserah kamu saja lah"
.
Bunda Tari mengetuk kamar Luna. "Sayang, keluar dulu nak, keluarga Bima mau pulang"
Luna membuka kunci kamarnya dan melenggang gontai. Ia menyalami mamah Renita. Begitu pula sebaliknya, Bima melakukan hal yang sama.
"Muti, Sigit, segera ke butik tante ya? Untuk fitting awal. Oh ya, kemarin mamah kamu telpon, katanya minta bajunya dibuat adat Bugis. Memang kamu ada keturunan Bugis?" tanya tante Renita.
Muti mengangguk. "Ayah keturunan Bugis tante, Insyaallah besok kami ke butik dulu sebelum ke Magelang"
"Ya sudah, jeng kami pamit ya, Assalamualaikum" pamit mamah Renita.
"Waalaikum salam" jawab semuanya.
"Ndan, pamit dulu. Lun, mas pulang dulu ya, gak usah sedih-sedih lagi" kata Bima sambil mengacak-acak rambut Luna.
"Ih, mas Bima! Berantakan! Iya hati-hati" Muti dan Sigit menahan tawa mereka. "Cie yang panggilannya sudah berubah. Ihiiiirrr....."
Luna mengejar Sigit karena diledek olehnya. "Mbak Lun! Suami aku jangan dikejar....".ucap Muti manja. Membuat semuanya tertawa.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip