
"Ehm, jangan natap aku gitu mas. AC ruangan ini mati apa gimana sih, panas banget" Cerocos Muti mengalihkan pandangan dari Sigit.
"AC nya hidup. Kamunya aja yang salah tingkah. Jadi kamu beneran anaknya panglima TNI, om Indrajaya? Yang mau dijodohkan denganku?" Sigit tak jadi melanjutkan interogasinya.
Muti mengibas-kibaskan tangannya karena ditanya Sigit seperti itu. Dia malah salah tingkah sendiri. "Iya, aku juga baru tahu tadi. Makanya aku ke karaoke. Aku stress dengan perjodohan ini. Jadi kamu anaknya tante Anin?"
Sigit mengangguk. "Jadi bagaimana perjodohan kita? Carilah alasan untuk menolaknya" ujar Sigit.
"Ciih, enak saja main suruh. Kalau kamu bisa nyari alasan, utarakanlah kepada mereka" Sigit menyandarkan kepalanya pada kursi. Jemarinya mengetuk-ketuk meja kerjanya. Dia tidak akan bisa menolak perjodohan ini.
"Perjodohan ini terjadi karena mandat. Sulit bagiku untuk menolaknya"
"Aku mencintai orang lain mas" Sigit menegapkan tubuhnya kembali. "Katakan itu di depan orang tua kita"
Muti menggeleng. "Percuma, ayah menolak pria yang kucintai. Pikirkanlah alasan lain"
"Sudah aku katakan, ini terjadi karena mandat. Jika bukan karena mandat, sudah kutolak kamu! Masih banyak wanita yang lebih baik dari kamu!"
Muti merasa dirinya dihina oleh Sigit. Dia berdiri dan mengutarakan isi hatinya dengan menggebu-gebu. "Picik! Aku kira kamu cuma nyebelin! Ternyata kamu cuma pria bodoh! Kamu tahu? Di luar sana juga ada banyak lelaki yang rela mengantri menjadi pacarku! Haha, dan kamu? Merendahkanku seperti itu? Apa karena kamu banyak digilai cewek-cewek di luaran sana? Atau hanya karena aku ada di karaoke? Atau apa? Ha?"
Muti keluar hendak meninggalkan ruangan Sigit. "Siapa yang nyuruh kamu keluar?"
Muti berbalik. "Aku tidak peduli lagi dengan interogasi ini! Bawa surat penangkapan kepada ayahku jika kamu ingin memprosesku!" Muti berjalan mendekati pintu dan membuka kuncinya. Disaat yang bersamaan Luna masuk dan mendorong pintu itu mengakibatkan kening Muti yang mulus itu mencium bibir pintu.
"Aduuuuuhh" Muti mengaduh dan mengusap-usap jidatnya. Sigit ingin tertawa tapi ditahannya. Dia malah kasihan melihat calon istrinya itu terkena pintu.
Sigit menghampiri Muti dan melihat keadaannya. "Kamu gimana sih Lun? Masuk gak ketuk pintu dulu. Kena si marmut kan?"
"Eh, Muti, maaf ya, saya gak sengaja. Eh bentar, tadi siapa yang komandan sebut? Marmut? Mana marmutnya"
Sigit tak menggubris pertanyaan Luna. Dia melihat kening Muti yang sudah benjol sedikit itu. "Sakit?" tanyanya sambil mengusap-usap kening Muti.
Muti menepis tangan Sigit. "Masih mau kamu nyentuh perempuan yang baru saja kamu hina?" Muti meninggalkan ruangan itu. Sigit memijit keningnya.
__ADS_1
Luna hanya menjadi penonton disana. "Hina? Ada apa sih?"
"Itu tadi aku gak sengaja bilang, kalau perjodohan ini bukan karena mandat sudah aku tolak dia. Dia tersinggung"
Luna berdecak. "Ckckck, seorang komandan merendahkan wanita? Lupa kamu sumpah janjimu?" Luna menyerahkan kunci mobilnya.
"Kejar, minta maaf, antarkan pulang. Aku kesini karena ditelpon mamah kamu, menyuruh memastikan bahwa kamu mengantar Muti pulang. Gih buruan susulin"
Sigit berkacak pinggang dan membuang nafas kasar. "Kenapa harus dikejar sih? Biarin aja, itu kan keinginan dia sendiri. Gak aku gak mau ngejar"
"Hish! Pengen kena damprat sama mamah kamu? Oke aku aduin. Lagian nih ya itu memang salah kamu, semua cewek juga bakalan marah kali Git kalau cara pandang kamu begini. Buruan kejar!" Sigit kembali menghela nafas kasar. Dia segera meraih ponsel, jaket dan tasnya.
"Tolong matikan laptop dan AC. Aku susulin do dulu. Minta antar Yudi kalau mau pulang" Luna mengangguk. Sigit berlari ke parkiran. Menyalakan mobil dan mencari keberadaan Muti dengan bertanya pada petugas jaga.
Muti berjalan kaki dengan sebalnya. Dia bertu dengan segerombolan pria mabuk. Dia menjadi takut. Ingin kembali tapi mereka sudah mulai menggoda Muti.
"Hai cantik. Mau kemana malam-malam sendirian? Mau kita temenin gak?"
Bugh bugh bugh. Dengan sekali pukulan kepada.3 lelaki itu mereka tumbang. Muti berbalik dan dilihatnya Sigit berdiri melindunginya. Muti meneruskan jalannya dan Sigit menghentikan langkahnya.
"Naik ke mobil. Aku antar pulang" ucap Sigit mencoba lembut. Muti tak mendengarkan ucapannya. Dia malah melewati tubuh Sigit.
"Marmut! Berhenti!" Muti masih tak menggubris omongan Sigit. Sigit mulai geram. Dia meraih tangan Muti agar berhenti dan segera menggendongnya ala-ala bridal style.
"Lepasin gak!" ucap Muti dalam gendongan dan memukul dada Sigit dengan satu tangan.
"Gak bakalan!" Sigit membuka pintu mobil dan mendudukkan Muti di kursi depan. Segera ia menuju kursi kemudi. Muti memasang wajah cemberut dan melipat tangannya di depan dada.
Sigit melajukan mobil. "Katakan dimana rumahmu!" kata Sigit dengan sebalnya. Muti masih tetap diam. Sigit melirik dan melihat jika Muti belum menggunakan seatbelt. Dia menepikan mobilnya. Lalu mendekatkan dirinya ke arah Muti. Membuat jantung Muti kembali tak beraturan iramanya.
Bukan hanya Muti, Sigit pun demikian. Semakin dekat tubuhnua condong ke arah tubuh Muti. Mata mereka saling bertemu kembali. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Muti memejamkan matanya. Entah apa yang dia harapkan saat itu.
Sigit meraih seatbelt itu dan menariknya. Memasangkannya ke tubuh Muti. "Pasang seatbeltmu dengan benar jika ingin selamat" bisik Sigit ditelinga Muti. Membuat Muti meremang dan membuka mata menoleh ke arah Sigit.
__ADS_1
Wajah mereka kembali bertemu, tatapan menjadi dalam. Bisa kena serangan jantung kalau begini terus irama jantungku. Huft. Kenapa marmut satu ini imut sih? Sadar Git sadar.
Sigit segera kembali ke posisi duduknya yang semula. "Kenapa mengharap dicium sama komandan nyebelin ini??" ejek Sigit kepada Muti.
"Cih, kamu kali yang pengen nyuri kesempatan biar bisa nyium aku!" Sigit membuang mukanya tak merespon ucapan Muti.
"Katakan, dimana rumahmu"
"Jalan Mawar blok D nomor 29" Sigit melajukan ke alamat yang dituju. Mereka hanya saling diam. Hingga Sigit yang mulai buka suara.
"Ehm, aku... aku minta maaf karena ucapanku. Bukan bermaksud merendahkanmu. Aku pun juga stress dengan perjodohan ini" Muti tak bersuara. "Mut, marmut" Sigit menoleh dan mendapati Muti tertidur.
Dia tersenyum tulus. Entah apa arti senyuman itu. Dia hanya terus melajukan mobilnya hingga sampai di alamat yang dituju. Dia membangunkan Muti. Tapi Muti tak merespon.
"Mut, marmut, Mut bangun. Hei, ayo bangun. Sudah sampai rumah" Muti tak merespon sama sekali.
"Tidur apa pingsan sih ini anak?" Muti malah membalikkan dirinya ke posisi miring menghadap wajah Sigit. Dengan jelas Sigit bisa melihat belahan dada Muti karena kaos ketat itu.
Jantungnya kembali berpacu tak normal. Bagaimanapun dia adalah lelaki normal. Melihat seperti itu membuat geloranya bangkit. "Astaghfirullah, merem Git merem" Akhirnya dia membuka jaketnya dan menyelimuti tubuh Muti dengan jaketnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1