Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 153


__ADS_3

Semua anggota keluarga itu mengikuti sholat ied bersama di Masjid dekat rumah kakek Umang. Muti bertemu dengan Jihan yang masih berdekatan rumahnya dengan rumah kakek.


"Minal aidzin wal faidzin maaf lahir batin ya Muti" Jihan memeluk Jihan.


"Sama-sama, maaf lahir batin juga. Bima kena ngepam?" Jihan mengangguk. "Nanti siang gantian sama bang Ali kan mbak Han"


Hana mengangguk. "Iya, besok mereka malam berdua kan?" Jihan mengangguk.


Selepas sholat ied, mereka makan bersama, menu wajib yang selalu ada, ketupat lontong, opor ayam, sambal goreng ati. "Masakan mamah memang paling enak" puji Muti kepada Mamah mertuanya.


"Eh, bukan cuma mamah kamu doang yabg masak, Tante dan Budhe juga lhoooo" ucap Mami Salma tak terima. Muti menyengir.


"Ini usia kehamilan kalian sudah berapa minggu?" tanya Bunda Tari. "Muti sudah masuk 15 minggu budhe, minggu depan 4 bulanan. Acara.setelah lebaran padat merayap"


"Hana hari ke 5 lebaran mitoni budhe, Hana dan Abang sepakat hanya selametan seperti kemarin saja. Toh juga lagi suasana lebaran" Mereka semua mengangguk.


"Sudah pesan catering?" tanya Mamah Anin. Muti dan Hana mengangguk. "Budhe Tari..... tara...." kata mereka kompak.


"Git, jangan lupa bacakan surat Maryam dalam 1 minggu ini. Minta pertolongan Allah, minta yang terbaik untuk calon bayi kalian" Papah Bagas mengingatkan Sigit. Sigit memgangguk.


"Ya sudah Pah, kita disini saja dulu sampai seminggu ke depan" kata Mamah Anin. Papah Bagas mengangguk.


"Kita juga Pi?" tanya Mami Salma. "Iya" jawabnya.


Selesai makan bersama, mereka mengunjungi rumah tetangga untuk bersilaturahmi. Suasana lebaran yang sangat hangat.


Waktu cepat berlalu. 7 Bulanan Hana telah digelar, gantian acara 4 bulanan Muti. Agenda demi agenda satu per satu terlewati.


"Habis ini Shanum lamaran, 3 hari lagi, Mbak Luna dan Maryam menikah. Padatnya jadwal bulan ini yank" kata Muti sambil melingkari kalender agar tak lupa.


"Yang penting hari ini USG dulu, Mas pengen lihat dia sayang" kata Sigit sambil melajukan mobil. Muti meletakkan kalender itu di dashbor mobil dan mengelus perutnya.


Setelah beberapa menit mengendarai mobil, tibalah mereka di rumah sakit ibu dan anak yang ada di Semarang. Mereka mengikuti jadwal dokter kandungan yang pertama kali memeriksa Muti, yaitu dokter Taufiqy.


"Assalamualaikum mbak Muti, pak Sigit. Minal aidzin wal faidzin maaf lahir batin" sapa dokter Fiqy biasa ia disapa.


"Waalaikum salam dokter, maaf lahir batin juga"


"Gimana? Ada keluhan gak?" Muti menggeleng. "Alhamdulillah, gak pernah rewel dok. Hehehe"

__ADS_1


"Yang gak rewel itu bapaknya atau dedeknya?" canda dokter Fiqy. Mereka tertawa. Muti dipersilahkan naik ke atas bed. Dibantu dengan asisten dokter Fiqy yang memasangkan selimut dan mengoleskan gel di perut Muti.


Dokter Fiqy menyuruh Sigit untuk mendekat. Mulai memainkan stik USG itu. "Alhamdulillah, janinnya sehat ya pak, mbak? Ini dari taksiran beratnya sesuai umur kehamilannya. Denyut jantungnya juga dalam batas normal. Organnya terbentuk sempurna. Mau dikasih tahu jenis kelaminnya?"


Sigit dan Muti saling pandang, "Jangan dok, biar menjadi rahasia saja. Alhamdulillah jika pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dok. Halo sayang, Assalamualaikum anak papah. Apa kabar? Sehat terus ya di dalam sana" Sigit menyapa calon anaknya. Di monitor jelas sekali bahwa janin tersebut menendang perut Muti.


"Kerasa gak?" tanya dokter Fiqy kepada Muti. Muti menggeleng. "Gak papa, wajar baru hamil pertama. Biasanya nanti usia 20 minggu baru benar-benar terasa" Dokter Fiqy mencetak hasil USG itu dan memberikannya kepada Sigit. Sigit tersenyum memandanginya.


"Senang kan sebentar lagi dipanggil Papah? Dijaga baik-baik amanah dari Allah, dididik sesuai ajaran agama kita, karena sekolah pertama bagi anak kita adalah diri kita sendiri, yaitu orang tua" Dokter Fiqy memberikan nasihat untuk pasutri itu.


"Nggih dok, Insyaallah" jawab Sigit. "Mbak Muti, ini saya resepkan vitamin untuk tambah darah dan juga kalsium. Nanti wajib diminum ya? Tetap makan makanan bergizi tinggi, hindari makanan cepat saji. Sudah bisa makan nasi kan?"


Muti duduk dan mengangguk. "Sampun dok, malah sekarang sering banget pengen makan terus"


"Gak papa, tapi sedikit-sedikit saja. Tetap kontrol gulanya lho ya. Buah sayur ikan masuk semua kan?" Muti mengangguk.


"Nanti kontrol lagi usia 7 bulan. Atau kalau ada keluhan. Semoga tidak ada"


Sigit berdahem. "Ehm.... dok, boleh tanya sesuatu?" katanya sambil malu-malu. Dokter Fiqy tertawa melihat ekspresi Sigit.


"Iya, boleh. Sudah boleh ditengok, tapi perlahan ya. Mainnya secara lembut. Ajak komunikasi dulu dedeknya"


Sigit dan Muti pulang ke rumah mereka. Sigit kegirangan bukan main. Muti tertawa melihat tingkahnya. Ia sengaja memvideo suaminya yang bersenandung dan mengirimbya di grup.


Muti : (Mengirim video Sigit sedang bersenandung berkata, buka puasa alhamdulillah, di bukanya di malam hari, gak dobel pun gak apa-apa, yang penting sudah buka puasa... Aseeekkkk)


Hamka : 🤣🤣🤣 girang amat lu Si!


Ali : Hasek hasek.... baju haram! Muncul lah! Muncul lah!


Luna : 🤣🤣 Dasar! Masih sore Si!


Maryam : Ponakanku jangan digangguin dong di dalam perut emaknya! Bapaknya nih suka... benar! 😅


Sigit : 🤤 pada ngiler ya?? Menu ku enak sekali. Mana menumu? 😜


Bima : Boleh ikut gak Ndan? Misi khusus nih! 😁


Damar : Ngejak gelud Bima ki! Aku yo pengen melu ngono lah! Ben pengalaman!

__ADS_1


Amaris : Mamas??! Mau dijewer kupingnya?? 😤😤


Bima : 🤣🤣🤣 Bu guru lagi menghukum muridnya!


Sigit : Dadah semuanya.... Aku mau menikmati menu yang tersaji di depanku! 😜


Sigit menutup ponselnya. Ia melihat Muti sudah menggunakan lingerie. "Yakin mau sekarang?"


Sigit mengangguk. Muti berjalan mendekat malu-malu. Seperti pengantin baru yang tak tahu harus memulai dari mana.


Sigit menepuk sisi kosong ranjangnya. Muti naik dan berbaring. Sigit menghadap ke perut Muti. "Assalamualaikum anak Papah dan Mamah. Papah tengokin ya nak? Biar kamu juga kenal adik papah"


Muti menjewer telinga Sigit. "Ngomong yang bener ah sama anaknya"


"Iya iya. Dek... sayang.... Papah tengokin bentar ya? Papah kangen berat..... sama kalian"


Muti membelai rambut suaminya. Sigit mengecup perut Muti berulang-ulang. Sigit mulai memandang istrinya. Membelai rambutnya, dan mengecup keningnya. "Mas sangat amat rindu sama kamu yank. Tubuhmu, candu bagiku sayang"


"Aku juga rindu denganmu mas, rindu akan sentuhanmu, belaianmu, ciumanmu yang begitu menggairahkan bagiku, hingga membuat darah di tubuhku mendidih karena gelora asmara. I love you Mas Si"


"I love you too Marmut imutku" Sigit mulai menghujani Muti dengan ciuman lembut. Semakin lama menjadi semakin panas. Mulai meraba-raba tubuh istrinya. "Ingat kata dokter yank, perlahan saja"


Sigit mengangguk. Ia mulai menanggalkan pakaiannya dan pakaian Muti. Mulai menjelajahi setiap inchi tubuh itu. Melwpas kerinduan dalam bara api yang membara.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


"Pelabuhan Hati Si Kembar 4" mulai rilis baru satu ep sih. Monggo sambil dibaca

__ADS_1


__ADS_2