Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 6


__ADS_3

Indra segera menghubungi Muti. Memberitahu anaknya tentang hal perjodohan itu. Membuat Muti semakin meradang dengan ulah Ayahnya. Malam itu dia mengajak Jihan untuk pergi ke tempat karaoke. Melepas stress nya dengan cara bernyanyi.


"Ayolah Ji, kita ke karaoke yuk. Aku sedang stress berat ini... please, temenin akuuu" bujuk Muti kepada Jihan yang terus menolak ajakannya.


Jihan memanyunkan bibirnya. Tak ingin pergi. Entah mengapa kali ini fisrasatnya jelek. Seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi.


"Lain kali ajalah Tia, aku merasakan firasat tidak enak nih. Lagian kenapa sih kamu pengen banget ke karaoke?" tanya Jihan menyelidik. Tak biasanya Muti memaksa mengajak ke karaoke.


Muti menghela nafasnya kasar. "Ayahku membuat ulah lagi. Masa tadi siang telpon katanya besok sabtu mau kesini, mau ngenalin dan ngejodohin aku sama cowok yang namanya Sigit Nagendra Ardhitama. Kenal aja gak, main jodoh-jodohin"


Jihan menahan tawanya. Pikirnya di tahun yang sudah modern seperti ini? Masih ada perjodohan? Kuno sekali orang tua itu. "Kan besok kenalan dulu Tiaaaaa. Siapa tahu cocok terus jodoh. Tapi aku gak asing sama nama itu. Kayak pernah denger tapi dimana ya?? Cari akun sosmednya dong. Siapa tahu ganteng kan?"


Muti berdecak sebal dengan sahabatnya. Bukannya membantunya atau memberi saran agar perjodohan itu tak terjadi malah mendukung perjodohan ini.


"Ayolah Ji, aku bener-bener butuh penyegaran nih"


"Mandi aja, kan seger" kata Jihan tetap menolak ajakan Muti.


"Ih, ya sudah lah kalau kamu memang gak mau. Aku pergi sendiri saja!" Muti sudah kehabisan cara untuk membujuk Jihan. Jihan tak tega melihat sahabatnya itu. Akhirnya dia mengiyakan ajakan Muti.


"Oke oke, aku ikut. Bentar ambil dompet dan hp dulu" Jihan segera mengambil barang-barangnya. Setelah siap mereka segera menuju tempat karaoke A.


.


Sigit melupakan sejenak masalahnya tentang perjodohan itu. Dia fokus untuk melakukan operasi seperti yang sudah diperintahkan oleh Kapolresnya. Dia bersama timnya menggeledah tempat yang mereka sambangi. Jadwal operasi dan penyidikan mundur dari hari yang dijadwalkan karena ada acara di Polres dan mengharuskan merubah semua jadwal yang telah tersusun.


Luna diberitahu orang suruhannya bahwa perempuan bernama Muti itu sekarang sedang di tempat karaoke A. Dia bersama seorang perempuan sebayanya. "Ndan, calon ibu komandan ditemukan. Dia lagi di karaoke A. Bentar lagi ketemu dong. Penasaran aku sama wajah calon sepupu ipar sekaligus calon ibu komandan ku"


Sigit hanya diam tak menanggapi ocehan Luna. "Dia di ruang VIP. Cantik gak sih? Penasaran aku"


Sigit mulai merespon meski hanya sebuah decakan dan omelan. "Ck, bisa diam gak sih Lun?"


Luna langsung kicep saat Sigit menyuruhnya diam.


Karaoke A? Ngapain dia disana? Seperti apa sih orangnya? Hadeeeh... kenapa malah penasaran banget sih?. Batin Sigit sudah mulai mengingkari kenyataannya.


.

__ADS_1


Jihan sudah bersama Muti di karaoke A. Mereka memilih paket 2 jam untuk melepaskan stress. Saat akan membayar, Muti mencari dompetnya tidak ada di dalam tas. Dia mencari di mobil pun tak ada.


"Ji, kayaknya dompet aku ketinggalan deh. Ngutang dulu sama kamu boleh? Hehehe. Nanti aku ganti tambah bonusnya deeeeh"


Jihan memutar bola matanya malas. Sering sekali Muti melupakan benda penting. "Kebiasaan banget sih kamu Tia? Barang penting main tinggal-tinggal aja"


Muti hanya nyengir. "Yaudah aku bayarin dulu". Setelah mereka melakukan pembayaran barulah mereka diantarkan ke ruangan yang mereka pilih. Muti dan Jihan mulai memilih lagu untuk mereka nyanyikan.


Jihan yang awalnya menolak malah ikut menikmati setiap nyanyian yang mereka tampilkan.


"Tia, aku keluar bentar ya, ada telpon. Disini berisik" Muti hanya mengangguk dan melanjutkan lagunya.


Jihan mengangkat telpon itu. "Halo assalamualaikum mah?"


Waalaikum salam. Jihan pulang nak, nenek jatuh di kamar mandi. Mamah mau bawa ke rumah sakit. ucap mamah Jihan dari seberang telepon.


"Astaghfirullahal adzim. Iya mah, Jihan pulang sekarang" Dengan panik dia meninggalkan karaoke A. Tak ingat lagi dengan temannya yang ada di dalam.


Sedang Muti di dalam ruang VIP itu masih asyik menikmati lagu itu.


"Kau hancurkan aku dengan sikaaaapmuuu...." Seorang perempuan bernyanyi begitu menyayat hati. Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tegap menggunakan kaos berkerah hitam menghampirinya.


"Matikan dulu musiknya" ucap Sigit.


"Apa? Gak denger? Bising!" jawab Muti. Sigit segera meraih remote untuk menghentikan lagu yang sedang diputar itu.


"Ih, apa-apaan ini?? Main nyelonong! Menghentikan lagu saya!" Ucap Muti tak terima sambil berkacak Pinggang.


Sigit ikut berkacak pinggang. Satu tangannya menunjukkan surat operasi itu. Muti membacanya. "Hadeh, ganggu aja sih"


"KTP" Muti mulai panik. Dia tidak membawa dompetnya. Dia mencari-cari ponselnya untuk menghubungi Jihan. "Lhoh kok gak ada" ucapnya dengan wajah bingung kehilangan ponselnya. Dia mencari-cari di kolong sofa. Sigit mengikutinya mencari-cari di kolong sofa, hingga tanpa sadar kepala mereka saling berbenturan.


"Aaaawww" ringis mereka berdua. "Kamu ini apa-apaan sih?" tanya Muti kepada Sigit.


"Kamu yang apa-apaan. Aku itu bantuin kamu. Nyari apa sih? tanya Sigit celingukan.


"Hp aku!"

__ADS_1


"Tuh!" Sigit menunjuk ponsel yang hampir terselip di sudut sofa. "KTP"


"Ih, bentar dong!" bentak Muti.


Sigit menunggu Muti yang sedang menelpon seseorang. "Jihan, kamu dimana sih? Ada operasi nih, alu kan gak bawa dompet. Mereka minta KTP ku"


Ya Allah, Tia maaf, aku sedang dalam perjalanan pulang. Nenek aku jatuh dari kamar mandi. Muti melirik Sigit yang sedang menunggunya memberikan KTP. Dia berpura-pura bahwa Jihan akan datang membawakannya KTP.


Dia meraih tasnya dan mencoba kabur dari hadapan Sigit.


Sigit menghadangnya. "Mau kemana kamu? Kami tak bisa menunjukkan KTP mu, jadi kamu harus ikut ke polres. Sebelumnya tes kencing dulu sana"


Muti melongo mendengarnya. "Ikut ke Polres? Hahah, jangan bercanda! Saya itu anak baik-baik. Saya kesini hanya main melepas stres. Perlu anda tahu, Ayah saya adalah seorang panglima TNI"


Sigit tertawa mendengarnya. Luna menghampirinya. "Ada masalah Ndan?" tanyanya.


"Gadis ini tidak bisa menunjukkan KTP nya, dia ku suruh tes kencing malah bilang ayahnya seorang panglima TNI. Ngawur. Ngehalunya tingkat dewa" ujar Sigit.


Luna membisikkan sesuatu ke telinga Sigit. Membuat mata Sigit melotot seketika. "Jangan bercanda kamu Lun"


Luna menunjukkan wajah sangat serius. Sigit kembali melihat Muti. Sedangkan Muti melipat tangannya di depan dada.


"Bawa dia ke polres" kata Sigit meninggalkan ruangan VIP itu. Dia bergumam saat berjalan. "Yang benar saja aku akan dijodohkan dengan gadis seperti itu. Dia itu kan playgirl yang waktu itu? Mana penampilannya begitu lagi. Kaos ketat, celana diatas lutut, ngetat lagi. Rambutnya gak ditutup pakai jilbab. Aaarrgghhh, mamah sama papah bercandanya keterlaluan nih..."


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Nanti sore lagi ya, sekitar jam 3 an. Othor mau menyelesaikan sesuatu dulu


__ADS_2