
Muti mengikuti langkah Sigit keluar dan segera menuju motornya. Sigit mulai memakai jaketnya dan maskernya. Muti berdiri di samping Sigit yang sudah duduk di jok motornya.
"Ngapain? Buruan naik" kata Sigit sambil memakai sarung tangannya.
Muti memakai maskernya. "Pakein" kata Muti menunjuk helm milik Luna. Sigit tersenyum tipis. Memakaikan helm itu dan mengaitkan penguncinya. "Manja!" kata Sigit sambil memukul puncak helm itu.
"Hish, sakit maaas" Muti berpura-pura sakit. "Ha? Sakit? Maaf-maaf, lepas lagi aja helmnya"
Muti tertawa di balik helm itu. "Ketipuuuuu, wkwkwkwk" Sigit tersenyum mendengarnya. "Awas kamu ya?"
Muti naik di jok belakang. "Baca doa dulu mas" ujar Muti.
"Iya, pegangan" Muti memeluk perut Sigit dengan erat. "Kekencengan Marmut! Mas gak bisa nafas"
Muti tertawa lagi. "Dasar marmut nakal. Pengen banget meluk mas erat begitu? Iya kan? Iya kan? Iya pasti" Sigit gantian menggoda Muti.
Muti mencubit keras perut Sigit. "Godain teroooooossss"
"Awawaw, sakit yank!" Sigit kembali tak sadar memanggil Muti dengan sebutan itu lagi. "Kamu panggil apa tadi mas?"
"Ha? Marmut lah. Apa lagi?"
"Ih bohong kan? Tadi kamu panggil aku yank. Iya kan?"
"Gak, mana ada. Salah dengar kali kamunya"
"Besok aku periksa ke THT deh" kata Muti yang sudah dua kali ini mendengar Sigit menyebutnya dengan panggilan sayang.
Sigit menahan tawanya tapi tak bisa. "Ih, malah tertawa"
"Sudah diam, mas mau konsentrasi ke jalan nih" Sigit mulai melajukan motornya kembali ke jalan raya. Melanjutkan ke kota selanjutnya, Salatiga.
Hari ini, memang dia berniat untuk ke Salatiga, karena malam tadi dia menerima chat dari temannya yang mengatakan bahwa dirinya menikah hari ini.
Dalam perjalanan Muti lebih banyak bicara dari saat berangkat. "Mas, teman kamu cewek atau cowok?"
"Cewek" Hati Muti tiba-tiba kecewa. "Dia polwan?"
__ADS_1
"Iya" Muti semakin penasaran. "Dia... Dia... dia mantan kamu?"
Sigit tersenyum menang dibalik helm itu. Karena daritadi Muti seperti mencoba mencari tahu orang yang dekat dengannya. "Mas gak pernah punya mantan. Tapi, pernah saling suka iya"
Deg
Jantung Muti bagai dihantam benda keras. Dia tetiba merasakan sakit di dadanya. "Mmm, mas, bisa gak kita nanti hanya salaman terus langsung pulang? Gak usah makan, langsung cabut ke Jogja?"
Sigit menggeleng. "Mas pengen lihat laki-lakinya"
"Kamu masih ada rasa sama dia mas?" Muti semakin mencecarnya dengan pertanyaan yang mengarah ke rasa cemburu. "Gak, aku bahagia kalau lihat dia bahagia sama orang lain"
Ya Allah, baik sekali hatimu mas, dari jawabanmu saja sudah bisa ditebak rasa itu masih ada meskipun selintas dan kamu memungkirinya. Batin Muti.
Setelah menempuh waktu 1 jam, Muti dan Sigit tiba di acara pernikahan itu. Banyak anggota polisi yang datang. Teman 1 angkatan Sigit. Sigit menggenggam jemari Muti. Membuat Muti sedikit terkejut. "Maaf menggenggam tanganmu, tapi sepertinya harus seperti ini. Banyak mata teman seangkatan mas melirik mengharapmu. Mas gak suka. Oh ya, nama teman mas Niken. Nanti kamu kasih selamat ke dia juga ya"
Muti mengangguk. Wajah Muti merona. Ingin dia melompat-lompat karena senang. Senang karena tangannya digenggam Sigit, dan senang karena Sigit mulai memperlihatkan rasa cemburunya.
"Iya lah pada melirik, aku kan cantiiikk" Jawab Muti untuk menutupi kegugupannya. Sigit hanya tersenyum mendengar jawaban Muti. Ya memang benar Muti itu cantik dan lebih terkesan imut di mata Sigit. Sigit say hello kepada teman-temannya. Dia langsung naik pelaminan memberikan selamat kepada pengantin yang baru saja sah itu.
"Terima kasih" jawab suami Niken.
Niken, teman satu angkatan Sigit, sama-sama pernah pubya rasa diantara keduanya. Tapi tak pernah terwujud karena Sigit pernah dipandang rendah oleh keluarga Niken.
Niken merasakan dadanya sesak melihat Sigit datang dengan seorang perempuan. Membuat matanya membendung cairan kristal bening itu. Muti bisa merasakan rasa cinta Niken untuk Sigit masih ada.
Sigit menyalami Niken. "Selamat menempuh hidup baru, kenalkan, aku datang bersama calon istriku. Anak panglima Indrajaya"
Niken tak kuasa membendung air matanya, Muti memeluknya. "Selamat atas pernikahan mbak Niken. Semoga langgeng hingga akhir hayat. Dan semoga diberikan momongan yang banyak"
"Terima kasih banyak. Tolong cintai dia sepenuh hati. Dia anak bayi yang menyebalkan tapi penuh perhatian" balas Niken memberi pesan kepada Muti. Sigit hanya mematung mendengarnya.
Niken membersihkan air matanya dengan tisue dan mempersilahkan Sigit dan Muti menikmati jamuan yang ada. Sigit mengambil bakso untuknya dan Muti.
"Awas masih panas" pesan Sigit. Muti tersenyum "Iya tahu"
Mereka duduk berdampingan tanpa jarak. Terkadang Muti membersihkan mulut Sigit dengan tisue ditangannya. Membuat semua pasang mata yang melihatnya iri.
__ADS_1
"Ehem, gue kira datang sama Luna. Ternyata sama gandengan baru. Siapa nih? Gak dikenalin ke kita?" Dani, Haris, dan Surya menghampiri sejoli itu.
"Eh, apa kabar loe bro? Sorry gue tadi gak lihat ada kalian. Kenalin, namanya Muti. Calon istri gue" Hati Muti bagai ditaburi bunga satu truck penuh. Benar-benar senang. Dia tersenyum sumringah mendengarnya.
Mereka menyodorkan tangan ke Muti dan disalami satu per satu oleh Sigit sendiri. "Gak usah salaman, tangan dia cuma buat gue"
"Yaelah bro, pelit amat sama kita-kita" ucap Haris.
"Kalian sendirian aja?"
"Bertiga lah. Eh, kalian pakai baju riding mau touring ya?" tanya Surya. Sigit mengangguk. "Iya kami mau ke pantai Barong. Kita duluan ya"
"Ya Allah si Sigit nih memang ya, kalau sudah punya gandengan, jangankan salaman, lihat saja bisa-bisa mata kita dicongkelnya" sahut Dani.
Sigit dan Muti tertawa mendengarnya. "Over protektif banget ya pak Komandan galak ini ternyata?" Tanya Muti sambil menoleh ke Sigit.
Wajah Sigit merona karena malu. Tak bisa ia sembunyikan lagi. Dia hanya menahan tawanya dan mengibas-kibaskan tangannya.
"Gerah disini. Yuk ah lanjut ke Jogja, bisa kelewatan pemandangan indah kita nanti. Oke bro, kami duluan ya, noh, disana banyak cewek pada caper, yang masih jomblo silahkan dipilih satu bawa pulang jadikan istri" Sigit menyalami kawan-kawannya satu per satu. Lalu meraih kembali tangan Muti dan menggenggamnya.
Niken hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Memang sekarang waktunya aku melepaskanmu. Kamu memilih wanita yang tulus hatinya. Semoga kebahagiaan juga mengiringi langkah kalian. Sigit Nagendra Ardhitama. Selamanya kita tak akan menjadi satu. Berbahagialah kawan. Akupun akan menjaga sumber kebahagiaanku
Sigit melangkah meninggalkan acara itu. Niken Sasmita, aku bahagia melihatmu bahagia. Selamat menempuh hidup baru, sahabat.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1