Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 29


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa, Sigit mengantarkan Muti ke kantornya. Sesuai permintaan Ayah Indra. Muti sebenarnya kasihan dengan Sigit yang harus bolak balik mengantar jemput dirinya, padahal dirinya bisa sendiri untuk melakukan aktivitas itu.


Muti sudah menggunakan seatbelt nya. "Mas, kamu gak capek apa bolak balik antar jemput aku?"


Sigit menoleh sebentar ke arah Muti. "Kok ngomongnya begitu? Gak suka diantar jemput? Merasa terganggu?"


Muti menggeleng. "Aku kasihan sama kamu, takutnya kamu kecapekan terus nanti sakit gimana?"


Sigit tersenyum mendengar ucapan Muti. "Ada kamu yang siap merawatku. Hehehe"


Muti tersenyum "Lukamu hari ini jangan lupa dikontrolkan mas. Jahitannya sudah bisa diambil atau belum. Gak lupa minum obat kan?"


"Sudah semua, tadi pagi diganti balut sama Hana. Nanti makan siang bareng mau gak?"


Muti mengangguk "Boleh, dimana?"


"Di kantormu saja" Muti menganga mendengarnya. "Beneran?? Kamu gak lagi bercanda kan?"


"Memang salah kalau makan siang di kantormu? Kamu malu?" kata Sigit menebak jalan pikiran Muti.


"Bu-bukan malu, teman sekantor aku tuh mulutnya pada kayak kaleng semua. Ribut kalau ada cowok gan.... Ah gak jadi deh"


Sigit menahan senyumnya. "Gan....teng kan maksud kamu? Cieee, ada yang mengakui aku ganteng"


"Idihhh, siapa yang mengakui. Nggak lah yaw!" Muti mengipas-kipaskan tangannya ke wajah. "Ac mobil rusak apa gimana sih? Panas banget!"


Sigit tertawa. "Pokoknya nanti akunke kantor kamu. Nanti malam yakin mau ikut?" Muti mengangguk. "Jadi lah, malamnya aku nginap di tempat Jihan ya mas? Mau ngerjakan laporan bareng dia sekalian"


Sigit mengangguk. "Terserah kamu saja sih, tapi operasinya malam lho. Apa gak sebaiknya kamu langsung mas antar ke rumah Jihan?"


Muti menggeleng. "Kalau nanti kemalaman ta nginap di tempatmu saja. Kan ada Hana, jadi aman, gak jadi bahan gunjingan. Aku pengen lihat kamu kerja"


"Pengen gak jadi bahan gunjingan ya nikah Mut!"


Muti mulai keluar jahilnya. "Ngebet ya? Sudah gak tahan ya?"

__ADS_1


Sigit bergidik ngeri mendengar ucapan Muti. Si Marmut mulai menggodanya. "Stop, jangan diteruskan. Bener-bener tak terkam sekarang kamu!"


Muti malah senang Sigit menjawab begitu. "Ahahahaha, sudaaaaah, bilang saja ke orang tua kita kalau kamu mau tanggalnya dipercepat. Beres kan?"


"Ck, bilang saja kamu yang ngebet kan?" Sigit ganti menggodanya. Bukan Muti kalau tak bisa membalasnya. "Iya, aku udah ngebet sama kamu, ngebet sama anunya kamu! wkwkwkwk"


"Dasar marmut nakal!" Sigit menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sampai di kantor Muti. "Nanti mas kesini bawakan makan siang, kita makan bareng, di mobil saja kalau kamu malu"


Muti tersenyum sambil melepas seatbeltnya. "Iya, terserah kamu. Kabari kalau sudah sampai polres. Cium" Muti memanyunkan bibirnya.


Membuat hati Sigit berdesir. "Hish! Mas bisa telat kalau kamu godain teruuuus. Sana masuk!" Muti menggelengkan kepalanya sambil terus memanyunkan bibirnya.


"Ya Allaaaah, ini anak memang ya!" Sigit meraih tangan Muti dan mengecupnya. "Wes lah, nanti aku telpon Ayah Indra suruh nyepetin pernikahan saja. Kamunya ngebet begini. Aku wediiiii. Hiiii" Sigit bergidik ngeri. Muti semakin senang menggodanya.


Muti meraih tangan Sigit dan menyalaminya. Dia menempelkan tangannya ke bibir dan menempelkan kembali tangannya ke bibir Sigit. "Begitu caranya. Semangat kerjanya ya Mas Si, ingaaat, jangan genit selain sama aku! Aku selalu tahu apa yang kamu lakukan!"


"Hahahah, macam peramal saja kamu. Sana masuuuukkkk. Gak ada yang genit! Yang genit ke aku cuma kamu!"


Muti masuk ke kantornya. Sigit segera berlalu ke polres. Apel seperti biasa ia lakukan. Selesai apel, Sigit menanyakan kepada Luna tentang mucikari yang membawa para gadis belia itu.


"Gimana Lun? Sudah terlacak?" Luna mengangguk. Dia memberikan berkas yang sedari tadi tak lepas dari tangannya.


Sigit segera berlalu dari kursinya dan menggunting kabel cctv itu. Saat akan turun, dirinya melihat seperti ada alat penyadap suara di dekat pot tanaman dalam ruangannya.


Luna juga mencari-cari alat penyadap itu. Tapi sebelumnya, Sigit menutup tirai jendela dan mengunci pintu. Mereka menemukan beberapa alat penyadap suara yang diletakkan di dekat benda-benda agar tak ketahuan.


Setelah benar-benar bersih dari alat penyadap itu, barulah mereka mengobrol. Itupun dengan minim suara alias berbisik. "Dia sering bergantu identitas, dia juga dicari kepolisian Jakarta, lolos lenyap, selalu seperti itu polanya. Aku yakin dia tak bekerja sendirian. pasti ada yang menjadi backingannya" terang Luna.


Sigit membaca profil itu sambil mendengarkan penuturan Luna. "Lalu siapa yang berani memasang penyadap di ruanganku? Dan bagaimana kamu bisa tahu?"


Luna tersenyum kecut. "Bacalah profil di belakangnya. Ada sesuatu yang aneh. Ini masih dugaanku, tapi pasti ada yang menjadi mata-mata mereka"


Sigit mendongak dan menautkan alisnya. "Maksudmu? Ada yang menyamar disini? Ada polisi palsu disini?"


Luna mengangguk mantap. "Aku merasa aneh saat junior kita masuk kemari, aku hanya merasa ada yang tak beres. Saat aku masuk setelah ia pergi, aku mendapati penyadap ini ada di lantai, mungkin terdorong dari pintu dan jatuh"

__ADS_1


Sigit tersenyum kecut membaca profil itu. "Bajingan! Jika memang junior kita yang melakukan ini, aku tak akan tinggal diam"


"Eeeitss, tenang pak bos! Ini masih dugaan. Tetaplah bersikap wajar terhadapnya. Jangan sampai dia curiga jika kita sudah mengetahuinya. Aku perlu masuk ke rumahnya untuk memastikan sesuatu. Tapi, aku belum menemukan caranya" tutur Luna lagi.


Sigit mengangguk. "Kita pikirkan itu nanti. Aku yakin, buron kita juga sedang bersembunyi. Kamu sudah mengkopi profil mereka? Kasihan Hana kalau sampai dekat dengannya"


Luna menunjukkan ponselnya. Scan profil sudah ada di ponselnya. "Bakar saja seperti biasanya"


Sigit mengangguk dan segera membakar profil itu. Sigit mengganti kabel cctv yang ia putus tadi dengan kabel yang baru.


Luna membuka kuncian pintu dan tirai. Seseorang di luar sana mengepalkan tangannya. Sial, penyadapnya ketahuan. Apakah mereka tahu aku pelakunya? Gawat jika sampai ketahuan lebih dulu. Aku benar-benar akan ditendang dari keluarga kakek. Mana aku ini hanya anak simpanan lagi. Bisa-bisa aku dibunuh oleh kakak tiri sialan itu!


Dia segera pergi dari sana. Sigit mengetik chat kepada Muti dengan senyam senyum sendiri. Membuat Luna tak tahan untuk tak menggoda sepupunya. "Cie, beneran jatuh cinta lu! Udah Si, buruan nikah!" goda Luna.


"Apa sih Lun? Sok tahu deeeh, kamu tadi gak bawa mobil? Kok aku gak lihat mobilmu?" Luna menggeleng.


"Jadi, semalam itu mobil aku mogok, terus dibawa ke bengkel langganan Danang"


Sigit menautkan alisnya. "Danang? Hayoooo ada apa hayoooo?"


Luna tertawa. "Macam anak SD saja sih kamu, dia bantuin aku. Nganterin pulang juga"


"Ihiiiirr, baikan nih ceritanyaaa? Sahabat jadi cinta nanti ujungnya. Tinggal nunggu saja, yang cowok duluan atau cewek duluan"


"Apanya?" tanya Luna. "Jatuh cintanya. Ahahahaha"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2