
Bima mendapati seorang wanita yang sudah tak sadarkan diri karena mabuk. "Mbak, hei, mbak bangun" Bima mencoba membangunkan perempuan itu.
Perempuan itu mencoba bangkit dan duduk. Ia mengumpat Bima. "Cowok brengsek! Bisa-bisanya aku jatuh hati sama kamu! Huhuhu... hiks...."
Bika menggaruk keningnya. "Dasar! KTP mana KTP?" tanya Bima. Seketika perempuan itu berdiri terhuyung dan muntah di dada Bima. "Aishhhhh..... Muntah segala lagi"
Luna datang membantunya. "Kenapa Bim?"
"Lun, tolong Lun, dia mabuk dan muntah kena kaos aku nih"
Luna membantu mendudukkan perempuan itu. Ia melihat-lihatnya. "Kayak kenal? Pernah ketemu dimana ya?" Luna mencoba berpikir keras mengingatnya.
"Astaghfirullah, Jihan! Ini Jihan, teman sekantor Muti. Ngapain dia sampai mabuk begini? Ya Allah nduk..."
Bima sibuk membersihkan muntahan itu. "Bim, bawa pulang lah"
Bima menunjuk dirinya. "Kemana?"
"Rumah dinas kamu lah. Aku gak tahu alamatnya, kasihan juga kalau kita tinggalkan sendirian"
Bima menggeleng. "Bawa ke tempat komandan saja lah. Hish.... jadi bau deh bajuku"
"Ih, masih sempat mikir baju lagi. Bantuin gih kasihan"
Bima berdecak. "Iya iya bawel" Bima akhirnya menggendong Jihan ke mobil Luna. Razia selesai dilakukan. Seperti biasa, dari pihak kepolisian akan menerangkan hasil sementara pada pihak pengelola kafe. Bima menyuruh Luna untuk memberikan hasik itu pada manager kafe.
"Kok aku sih Bim?" protes Luna.
"Aku capek Lun, beneran deh. Ini baju kena muntahan cewek tadi bau benar"
Akhirnya Luna mengalah. Ia masuk ke ruabg manager itu tapi tak ada siapapun. Ia mencari pelayan kafe. "Tolong sampaikan ini kepada pemiliknya ya?"
Pelayan itu mengangguk. Akhirnya Jihan dibawa pulang ke rumah Sigit, Bima tak mau mencari masalah membawa Jihan ke rumah dinasnya.
"Jihan?" kata Muti kaget melihat sahabatnya. "Kenapa jadi begini sih Han?"
"Bawa masuk dulu Bim, bawa ke kamar tamu. Shan, kamu gak papa kan tidur sama Jihan?" tanya Sigit. Shanum mengangguk.
"Ndan, mataku rasanya sudah sangat berat. Bisakah aku tidur dimari? Dan bolehkah aku pinjam baju? Bajuku kena muntahan cewek tadi tuh" Pinta Bima memelas pada Sigit. Sigit menghela nafasnya.
"Jadi penampungan deh rumahku, yawes lah. Sebentar aku ambilkan baju dulu" Sigit mengambilkan kaos untuk dipakai Bima.
Bima segera berganti baju dan tidur di sofa. Seketika matanya terpejam.
__ADS_1
Subuh menjelang, Jihan bangun karena rasanya sangat mual. Ia akhirnya muntah di tempat. Shanum membantunya untuk ke kamar mandi. Lalu memberikan obat anti mabuk.
Hari itu minggu, jadi selesai subuh mereka kembali tidur. Jihan menguap dan berjalan keluar dari kamar. Shanum sudah tak ada lagi disana. Ia sedang jogging bersama Maryam.
"Kok rasanya kayak rumah Muti ya? Hoammm....." Ia melihat foto Muti yang tertempel di dinding rumahnya. "Benar itu foto Muti dan Mas Sigit"
Ia melihat orang yang masih tidur di sofa. Ya Bima sangat lelah hingga enggan bangun dan pulang selesai sholat subuh. "Maling??" kata Jihan pelan.
Ia mengambil sapu yang ada di dekat dapur dan mendekati Bima yang masih ngorok. Ia langsung memukul Bima tanpa aba-aba. Dan berteriak maling. "Maling..... Maling..... Muti.... Mas Si..... bangun.... ada maling di rumah kalian" Jihan memukul Bima dengan keras. Membuat Bima langsung kesakitan.
Sigit dan Muti langsung keluar kamar dan menghentikan aksi Jihan. "Jihannnn..... stop!" teriak Muti. Bima mengambil sapu itu. Ia kesal dengan perlakuan Jihan.
"Ini apa-apaan sih??? Main teriak maling dan main pukul pakai sapu! Sakit tahu!"
Muti menarik lengan Jihan. "Ya Allah Jihan.... haduh.... dia ini yang sudah nolong kamu semalam"
Jihan mengernyitkan dahinya. "Semalam?"
"Belaga lupa lagi, gak ingat kamu semalam mabuk di bar? Muntahin baju aku? dan sekarang kamu teriaki aku maling? Waras gak sih?" kesal Bima pada Jihan.
Sigit tertawa akibat ulah sahabatnya. "Minta maaf sana" suruh Muti pada Jihan. Ia menggeleng. "Minta maaf"
Jihan memanyukan bibirnya. Ia menyodorkan tangannya. "Maaf" katanya sambil membuang muka. Bima menghela nafasnya. Ia mengambil kaosnya yang kotor. "Cuci sampai bersih dan wangi lagi, baru aku terima permintaan maaf kamu!"
"Waalaikum salam" jawab semuanya. Muti tak habis pikir dengan sahabatnya. Ia menyuruh Jihan duduk persis seperti memarahi anaknya.
"Kenapa bisa sampai mabuk?" tanya Muti garang.
"Aku akhirnya putus sama Galang sialan itu! Dia selingkuh.... huhuhuhu"
Muti memeluk sahabatnya. "Sudah, biarkan saja si Galang. Lupain dia"
"Huaa..... ngomong gampang, kenyataannya? Huhuhu" Sigit tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kalau Jihan putus sama Galang, itu artinya dia bebas. Dan bisa jadi dia deketin Muti lagi dong! Waduh! Tanda bahaya nih?"
"Mas Si!" bentak Muti. "Eh iya apa yank?" jawab Sigit gelagapan.
"Kamu kenapa sih?"
"Gak papa, Jihan, orang kayak Galang gak perlu ditangisi. Biarin saja dia. Nanti juga nyesel sendiri. Tenang-tenang" Sigit ikut menenangkan Jihan.
Jihan akhirnya lebih tenang dan mengangguk. "Mobil ku masih di bar dong?" Muti mengangkat bahunya.
"Iya, semalam aku ke bar nya Danang, malah ketemu sama dia. Kamu bilang dia di Bali. Tapi semalam beneran dia kok, orang aku sapa dia bilang hai" jelas Jihan.
__ADS_1
Sigit mengernyitkan dahinya. "Berarti tadi malam Luna ketemu sama Danang?" tanyanya. "Aseeekkk.... dapat bahan gibahan baru!" teriak Sigit senang. Muti melemparinya bantal sofa.
"Astaghfirullah, sejak kapan suami aku doyan ghibah!??" Sigit hanya tertawa. "Mas mau mandi dulu. Bikinkan sarapan ya sayang?"
Muti mengangguk. "Aku baliknya piye?" kata Jihan.
"Pakai mobilku, biar mobilmu anak buah mas Si yang ambilkan" Jihan mengangguk. "Yakin bisa nyetir sendiri?" Jihan mengangguk lagi.
"Ya sudah, aku ambillan kuncinya dulu" Muti mengambilkan kunci mobilnya dan Jihan berpamitan pulang.
Sigit mengirim pesan di grup.
Sigit : Cie yang semalam ketemu sama mantan.... Gimana rasanya Lun?
Hana : Mbak Luna ketemu lagi sama Danang? Ahay.....
Luna : Ha? Pada ngomong apaan sih?
Sigit : Tuh kan berlagak goblok! Jangan pura-pura ah, kata Jihan, dia lihat Danang di bar. Kamu tadi malam razia bar nya Danang kan? Satu tim sama Bima kan?
Luna : 🙄 mbuh rak mudeng
Bima : Iya, semalam aku ketemu sama Danang. Waktu kamu ngasihkan hasilnya memang gak ketemu Lun?
Luna : Gak, alhamdulillah lah ya gak ketemu
Bima : Memang kenapa kalau ketemu? Bukannya malah bagus? Kalian bisa saling bertukar pikiran dan mengutarakan perasaan kalian?
Luna sebagai admin grup mengubah setelan. Hanya admin yang bisa mengirim pesan.
"Ih gak asik banget sih Luna! Awas kalau ketemu, aku cecar dia"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip