Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 31


__ADS_3

Malam itu Sigit menjemput Muti di rumahnya, Muti memaksa ikut razia dan menginap di tempat Sigit. Sigit hanya bisa pasrah. Tapi sebelumnya dia sudah memberitahu pak RT nya jika Muti, calon istrinya akan menginap disana.


Muti masuk ke mobil mengenakan kaos hitam dan rok jeans selutut. Rambutnya ia kuncir kuda. Make upnya terlihat natural. Dia meletakkan tas ranselnya di bangku belakang mobil.


Sigit menikmati pemadangan indah di depan matanya. Asliii, cantik parah ini anak!. "Oiii, ngapain bengong? Ayo jalan"


Sigit melepas jaketnya dan memberikannya kepada Muti. "Tutup itu rok kamu. Kelihatan pahanya"


Muti meraih jaket itu tapi hanya menyampirkannya ke sandaran mobil. "Aku kan sudah bilang, aku mau menggodamu. Mau menguji keimananmu. Tahan godaan apa gak ya?"


Sigit melirik Muti melalui ekor matanya. "Kalau mau mandang ya pandang saja mas, gak usah melirak lirik begitu. Nanti gak puas lhooo"


"Hish, kamu jangan godain mas lagi deh, mas lagi nyetir nih. Eh, Mut, pertigaan deoan tuh ada memedinya atau gimana sih? Dua kali, pas malam begini, selalu ada penampilan seperti orang seperti memedi pakai hoodie hitam, topi hitam. Cepat banget muncul dan menghilangnya. Hampir ketabrak sama mas dan Luna"


Muti tertawa mendengarkan pertanyaan Sigit. "Ya Allah, mana ada zaman sekarang memedi-memedian begitu sih mas? Jangan halu deh"


"Yeee, dibilangin gak percaya. Terserah. Nanti kamu ikut turun? Apa mau di mobil saja?" tanya Sigit.


"Di mobil, aku mau memantau kamu! Genit apa tidak kalau sama teman perempuanmu!" Sigit tertawa mendengar ucapan Muti. "Kalau mau memantau ya jangan bilang orangnya marmut! Pasti gak bakalan genit lah akunya"


"Mosssooookk?? Biasanya itu naluri playboy sejati akan muncul dengan sendirinya" Muti memicingkan matanya dan menoleh cepat ke arah Sigit. Membuat Sigit terkejut.


"Hish! Matanya biasa sajaaaa. Ngeri kalau tatapanmu begitu"


Tak lama, mereka sudah sampai di polres. Sigit memimpin apel malam itu. Hanya sebentar, dan tim itu sudah bubar menuju kendaraan mereka masing-masing.


Dinda, polwan cantik yang masih junior Sigit menghampirinya. "Pak, saya nebeng mobil bapak ya? Saya gak ada partner nih" ucap Dinda sambil mengedip-kedipkan matanya manja. Muti melihat dari dalam mobil dengan bersidekap tangan di depan perut.


"Pengen tak lempar perempuan itu ke sungai Bengawan Solo biar terbawa arus sama kecentilannya itu. Oke, sabar Muti sabaar. Bukan mas mu yang genit sama perempuan, tapi itu polwan yang genit sama masmu" Muti mengelus-elus dadanya sendiri.


Sigit berkacak pinggang. "Biasanya kamu sama Eka, sekarang Eka sama siapa?"


"Mbak Luna" jawab Dinda. "Ya pak? Bolehlah bolehhhhh???" Dinda tak menunggu jawaban Sigit, dia menuju mobil Sigit. Kebetulan Yudi lewat dan sendirian.


"Yud! Kamu sendirian?" tanya Sigit. "Iya Ndan, Galih absen, kenapa?" tanya Yudi.

__ADS_1


"Dinda biar bonceng kamu. Din, sana sama Yudi" Sigit membuka kunci mobilnya. Dinda menggeleng.


"Gak mau! Saya sama bapak saja" Dinda membuka pintu depan, dan dilihatnya Muti sudah siap menerkamnya.


"Gak dengar atasanmu ngomong apa? Berani kamu bantah sama atasanmu?? Mau dihukum apa? Push up, lari, atau squad 1 jam?? Pilih?" Muti mencecar Dinda dengan pilihan hukuman. Wajah Muti sudah tak bersahabat lagi. Yudi tertawa di atas motornya. Sigit memberi kode agar Yudi segera membawa Dinda pergi.


Yudi turun dari motornya dan menarik tangan Dinda. "Jangan cari penyakit! Dia anak panglima TNI, mau kamu dipindah tugas hanya karena mengganggu calon suaminya?" jelas Yudi membuat Dinda terperangah.


"Jangan bercanda bang Yud, masa sih itu calonnya pak Komandan??" Yudi mengangguk dan menahan tawanya melihat ekspresi wajah Dinda. Ya, Dinda salah satu fans Sigit. Tapi, jatuhnya lebih terobsesi daripada menjadi fans.


"Serius! Kemarin 3 minggu lalu tuh ya, aku disuruh memberikan seragam bhayangkarinya kok" Sigit mengklakson Yudi. Yudi memberikan hormat bagi Komandannya. Lalu dia juga menyusul rombongan melakukan operasi malam.


Muti hanya diam dan menekuk wajahnya. Sigit menahan tawanya. "Cemburumu itu tanda cintamu ke mas. Ahahahaha, ihiiiirrr, marmutku cemburuuuuuu. Sudah ah, mas mau kerja nih. Kasih semangat dong, jangan malah ngambek begini"


Sigit mengelus-elus rambut Muti. Muti mengatur nafasnya dan mencoba melupakan si Dinda genit tadi. "Jangan sering-sering ketemu makhluk begitu mas"


"Iya"


"Kalau bisa menghindar, kamu harus menghindarinya"


"Iya"


Sigit terperangah. Dia menoleh ke Muti. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa. "Terserah kamu lah, Mut"


Muti meraih tangan Sigit yang sedari tadi mengelus kepalanya. Mereka bergenggaman tangan. "Lagian, adaaaa saja cewek yang godain kamu. Itu waktu ke Salatiga, untung mbak Niken kalem orangnya, gak ada bakat jadi pelakor. Yang bahaya 2 orang nih. Si belek sama si itu tadi. Kamu cinta gak sih mas sama aku? Sayang gak sih mas sama aku?"


Hati Sigit berdesir. "Ha? Perlu pakai kata-kata mengungkapkannya? Memang, tindakan mas selama ini belum jadi bukti ke kamu?? Mas gak jago kalau suruh merangkai kata-kataaaa"


"Jawab saja apa susahnya sih?"


"Iya"


"Iya apa?" Muti mulai menahan senyumnya lagi. "Iya ituuuuuu.... mas cinta sama kamu, sayang sama kamu. Wes? Puas? Huh!" Sigit membuang nafasnya seperti orang habis lari.


Muti tersenyum senang. Dia meraih lipstik merah meronanya dari dalam tas dan mengoleskannya di bibir. Sigit heran dengan tingkah Muti. "Ngapain?"

__ADS_1


"Pake lipstik" Muti memencet tombol kemudi otomatis di mobil Sigit. Dia menangkup wajah Sigit. Lalu mengecup bibir Sigit. Sigit kaget, tapi ia membalas ciuman itu. Dirinya membiarkan kendalinya runtuh. Sudah tak tahan lagi untuk tak tergoda oleh Muti.


Tak berapa lama, Sigit melepaskan ciuman itu. "Sudah, nanti lagi. Dasar marmut nakal! Itu ciuman pertama mas yang kamu curi! Duduk yang benar"


Muti tersenyum malu. "Benar ya nanti lagi? Ini juga ciuman pertamaku sayaaaang, huft, akhirnya, kamu tergoda juga olehku. Hahaha" Dia mengecup lagi pipi Sigit. Meninggalkan bekas noda di pipi itu akibat lipstik merah itu.


"Hih, beneran ini anak ya. Telpon Ayah, mas mau ngomong. Bahaya kalau begini terus"


"Gak usah repot-repot. Aku sudah bilang sama semuanya, kalau kita sepakat mempercepat pernikahan kita" Muti menunjukkan chatnya dengan orang tuanya dan juga calon mertuanya. Mereka saling lempar senyum.


Sigit telah sampai di lokasi operasi. Anggotanya sedang mempersiapkan keperluan untuk operasi malam itu. Sigit turun dari mobil. Berpesan kepada Muti untuk menunggunya selesai bekerja.


Muti melihat noda lipstik itu tapi ia sengaja tak memberitahu Sigit, agar memperjelas kepada semuanya bahwa Sigit adalah miliknya.


Sigit mengarahkan para anggotanya. Mereka menahan tawa melihat noda lipstik di pipi kiri Sigit yang terlalu mencolok di bawah sinar lampu jalan itu.


Selesai memberi pengarahan, Luna menarik tangan Sigit untuk mendekat ke spion mobil milik Sigit. Sigit melotot tak percaya. "Dasar marmut nakal! Yank! Ambilin tisu basah!" Sigit membuka pintu mobil dengan wajah kesal.


Muti dan Luna hanya tertawa. Luna meninggalkan mereka berdua. "Cieee panggilannya berubah jadi yank? Aiiih, romantisnyaaa. Pasti tadi lebih dari sekedar kecupan pipi. Ahahahah" ledek Luna.


Sigit menoyor kepala Luna. "Sialan!" Muti mengambil tisu basah dan membersihkan noda lipstik dari wajah Sigit. "Hilang wibawaku marmut nakaaaaal" Muti hanya tertawa membalas ucapan Sigit.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2