Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 34


__ADS_3

Makan siang selesai, Muti hendak kembali ke kantornya. Luna masuk ke ruangan Sigit. Memberikan berkas penyidikan yang dikirimkan oleh Ali.


Luna memberikan hormat kepada Sigit. "Dari mas Ali, terkait kasus penyerangan kalian"


Sigit membukanya. Ada 2 buah berkas penyidikan yang ia temukan. Ia membaca yang pertama kali ditemukan oleh tangannya. Bukan berkas penyelidikan ternyata. Tapi lebih kepada pesan pribadi. Ali menuliskan hasil analisanya.


"Aku mengirimkan ini agar kalian berhati-hati. Benar dugaan kita, mereka bukanlah begal. Mereka adalah anak buah dari seseorang. Mereka memang ditugaskan untuk mencelakai kalian. Mayat yang ditemukan itu diambil oleh seseorang yang mengaku keluarganya, tapi ternyata bukan. KTP dan KK yang ditunjukkan kepada kami dipalsukan. Itu artinya, lawan kalian bukan orang sembarangan. Dia tahu betul seluk beluk kejahatan hingga sampai detailnya. Waspadalah. Tingkatkan keamananmu untuk menjaga calon istrimu kawan"


^^^salam hangat^^^


^^^Ali Zayyed Abdullah^^^


Sigit menatap Luna dan Muti. Tatapan serius. Lalu dia tersenyum.


"Ada apa sih?" tanya Muti penasaran. "Gak papa"


Muti tak percaya begitu saja. "Bohong ih, pak Ali bilang apa?"


"Bilang kalau dia merindukan aku, eh, jam makan siangmu sudah habis lho yank. Buruan balik gih. Nanti kamu dapat teguran lhoooo"


"Bohong lagi. Apa hasilnya mas? Jangan bikin kepo deh" kata Muti.


"Hahahaha, Ali bilang mereka adalah kawanan begal. Mereka mengincar motor mas, makanya kita diikuti pas masuk Ungaran. Buruan balik, nanti kalau dapat teguran bukan salah mas lho yaaa"


Muti memutar bola matanya malas. Sigit sedang menghindari percakapan dengannya yang kepo akan hasil penyidikan itu. Sigit memberi kode pada Luna dengan sorot matanya.


Luna yang paham akan hal itu langsung mengalihkan perhatian Muti. "Ehm Mut, Danang itu anaknya tante Ana sama Om Arka kan ya?"


Muti mengangguk. "Iya mbak Lun, mbak Lun kenal sama Danang? Kenal dimana?"


"Dia teman satu SMA sama aku. Eh, aku antar kamu balik yuk. Nanti pulangnya biar Sigit yang kesana, sekalian aku mau memberikan hasil operasi semalam ke pihak Samsat, banyak yang pada mati STNKnya" Luna menarik tangan Muti hendak pergi dari ruangan Sigit.


"Eh, bentar mbak" Muti menghampiri Sigit dan meraih tangan Sigit untuk disalami. Sigit malu bukan main. Ada Luna yang mendelikkan matanya sambil menahan tawa. "Ooii, aku patung disini ya? Bikin iri saja sih Si!"


Muti tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Sigit. Sigit bergidik ngeri melihatnya. "I love you pak Komandan galak"


Luna sudah tak tahan lagi. Ia tertawa lepas mendengarnya. "Sanaaaa" Sigit mengusir mereka berdua. Mereka hilang disebalik pibtu ruangan Sigit.


Sigit berpikir dan membaca ulang lagi surat itu. Kenapa dia tak menghubungiku lewat ponsel saja? Kan lebih enak. Kenapa malah repot mengirimkan surat kepadaku.

__ADS_1


Sigit melihat lagi berkas itu. Ada berkas lain dalam amplop itu yang belum ia baca. Hasil penyidikan kasusnya. Ali menerangkan bahwa mereka diserang oleh begal. Hanya itu. "Apakah ponsel Ali sedang disadap hingga ia mengirimiku ini?"


Sigit teringat kembali akan malam itu. Malam dimana dirinya baru saja selesai operasi dan mendapati seseorang sedang keluar dari ruangan kerjanya. Dia menghubungi Luna.


"Setelah antar Muti langsung ke ruanganku"


Sigit mengunci ruangannya, ia menyimpan surat dari Ali di laci dan menguncinya. Dia mulai lagi mencari-cari di setiap sudut ruangannya. Memastikan kembali, apakah ada sesuatu di sana?


Hampir 45 menit Sigit mencari, tapi hasilnya nihil. Dia menghela nafasnya dan berkacak pinggang. Luna mengetuk pintu. Sigit segera membukanya.


"Calon ibu komandan sudah kembali ke kursi duduknya Ndan" Sigit mengangguk.


Sigit duduk di sofa dengan Luna. Mereka berdiskusi. "Malam setelah operasi itu, aku melihatnya lagi masuk ruanganku" ucap Sigit.


Luna menganga mendengarnya. "Lhoh, bukannya...." Sigit mengangguk paham.


"Itulah yang aku bingungkan. Aku mencari alat penyadap di ruanganku tak ada. Tadi juga aku cari tak ada. Cctvnya mati karena kemarin aku memutus kabelnya. Meskipun sudah kusambung tapi mati. Kira-kira dia ngapain ke ruanganku Lun?" Wajah Sigit sangat serius. Luna mengangkat bahu tanda tak tahu.


"Mana aku tahu Si, tapi, kamu sudah pastikan dengan benar kalau tidak ada benda yang aneh di ruanganmu?" Sigit mengangguk. "2x aku cari, nihil"


Luna mengedarkan pandangannya pada ruangan Sigit. "Lalu, kenapa dengan surat mas Ali?"


Luna menautkan alisnya. "Kenapa tak pakai hp saja sih? Kan lebih praktis gitu, mas Ali ada-ada saja deh"


Sigit menjentikkan jarinya. "Setuju tuh sama ucapan kamu. Kenapa gak pake hp saja? Kalau dia pakai cara seperti ini, itu artinya dia sedang tak baik-baik saja. Mengerti maksudku?"


Luna mengangguk. "Lalu bagaimana?"


"Aku akan memastikannya sendiri" Luna berdecak. "Mana bisa? Besok kamu itu bukannya rapat?"


Sigit mengambil agendanya. "Ah iya, aku harus mewakili pak kapolres"


"Mending gini saja deh Si, aku suruh orangnya Ayah untuk mengetahui keadaan mas Ali. Gimana?" Sigit mengangguk. "Aku percayakan padamu"


"Oke pak bos, jangan lupa transferan biayanya" Sigit berdecak. "Yaelah Lun, kayak sama siapa saja kamu"


"Hahahah, iya deh iya"


Sigit mengalihkan pembicaraan. "Kamu sama Danang gimana Lun?"

__ADS_1


Luna mengernyitkan dahinya. "Gimana? Gimana apanya?"


"Halah, kamu ini" Sigit menyenggol bahu Luna. Luna berdecak. "Ayah susah Si"


Sigit mulai tertarik dengan pembicaraan ini. "Kamu beneran ada rasa sama Danang? Jujur! Gak jujur kesleo!"


Luna meninju lengan komandannya. "Mulutmu Si, nyumpahin jelek begitu. Nyumpahin yang bagus kek, gak jujur dapat uang segepok! Gitu kan lebih enak! Dari aku kelas satu SMA, Danang itu teman pertama aku. Cewek sama cowok sahabatan, real sahabatan itu gak ada. Aku akui, aku ada rasa sama dia. Dan mungkin... dia juga. Tapi, mamahnya dia dan ayah? Itu rintangannya"


"Memang pakdhe sudah pernah bertemu dengan mamahnya Danang setelah kalian sama-sama dewasa dan pindah lagi ke Semarang?" Luna menggeleng. "Aku gak tahu, tapi, Ayah melarangku dekat dengan anak tante Ana, yaitu Danang"


"Pakdhe agak lebay nih, terus kalau kayak begini terus kamu dan dia gimana? Apa gak sama-sama nyiksa hati tuh?" Luna menghela nafasnya.


"Aku ikut jalannya Allah saja, jalani saja. Urusan nanti apa yang akan terjadi ya hadapi saja. Aku juga ingin merasakan cinta bersatu, seperti kamu dan Muti. Sudah paling sayang-sayangan, pakai acara salaman, bilang I Love You lagi. Di depan jomblo lagi. Sopan kayak begitu??"


Sigit tertawa. "Dia itu agresif banget tahu Lun" Luna gantian tertawa. "Kamunya aja yang kaku pak bos! Jujur! Kemarin di mobil ngapain saja??"


Wajah Sigit merona seperti tomat yang direbus. "Gak ngapa-ngapain! Sana balik ke ruanganmu, bawakan aku berkas napi yang berulah. Nanti malam penggrebekan"


"Berapa orang?"


"10 orang, Aku, pak Kamto, pak Saswi, Yudi, Galih, Hadi, Yoga, Hamdan, Tirta, dan Ari. Informan kita bilang dia bersembunyi di kosan temannya"


Luna mengangguk. "Oke deh"


.


Di ruangan lain, ada yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka melalui headset. "Cctvmu memang aku matikan. Hihihi. Oke alatku kali ini aman" katanya pada diri sendiri.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2