Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 128


__ADS_3

Sigit dan keluarga besarnya pulang ke rumah Sigit. Mereka berganti pakaian dan menyelonjorkan kaki. Mamah Anin memasak bersama besan dan anak mantunya. Sedangkan para lelaki bercengkrama di ruang tamu.


"Hamka, gimana kemarin kamu dan Shanum?" tanya Ayah Indra. Hamka menghela nafasnya sedih. Raut wajahnya berubah menjadi sendu. Membuat Ayah Indra dan yang lain penasaran dan menduga yang tidak-tidak.


"Git, panggillam Shanum kemari" perintah Ayah Indra. Sigit mengangguk dan segera memanhgil Shanum. "Mbak Shanum, dipanggil Ayah. Mimi mendingan ikut sekalian deh" kata Sigit. Membuat heran Shanum dan Mimi Amira.


"Memang ada apa Git?" tanya Mamah Anin. "Berat Mah" Sigit ikut-ikutan berwajah sedih padahal belum tahu apa yang terjadi.


Akhirnya para wanita itu menghentikan aktivitas memasaknya dan ikut menuju ruang tamu. "Lhaaaahhhh...... yang dipanggil Shanum kok yang lain ngikut" kata Papah Bagas.


"Shan, duduk sebelah Hamka. Coba ceritakan kepada kami bagaimana pertemuanmu dengan keluarga Hamka"


Shanum heran dengan wajah semuanya yang sangat penasaran. Ia duduk mengikuti kata Ayah Indra. "Kemarin ya....." ucapan Shanum terpotong oleh Hamka


"Haduh....." kata Hamka sambil menggelengkan kepala dan menghela nafas berat. Membuat Sigit semakin penasaran. "Kenapa sih?? Buruan cerita kingkong! Bikin orang penasaran saja deh!"


"Jadi.... kemarin itu.... Aku dan Shanum..... Huft, gimana ya ngomongnya. Aku ora sanggup e Git... Ora tegel ngunu lho (Jadi.... kemarin itu.... Aku dan Shanum.... Huft, gimana ya ngomongnya. Aku tidak sanggup Git..... Gak tega gitu lho)" kata Hamka.


Shanum menatap heran dengan Hamka. "Jadi.... kemarin itu Shanum sudah ketemuan dengan Amak dan Apak juga saudara-saudara Hamka. Mereka bercengkrama seperti biasa. Tiba saatnya kami didudukkan berdua. Dan...."


Semuanya menjadi tegang. "Ih, buruan dong bang!" Sigit tak sabar. Hamka mengambil minum. "Bentar dong Si, haus kali dari tadi cerita terus" Hamka meneguk minumannya. "Dan.... kami direstui doooong..... Hahahahah, kesel ya? Kesel kan? Kesel pasti!"


Semua menghela nafas lega. "Kamu ini ya.... dari dulu selalu.... begitu. Heran mamah sama Shanum, kok ya mau sama kamu" kata Mamah Anin.


Shanum tersenyum. "Yang kayak begini yang bikin awet muda Mah, hahaha, tiap hari selalu ada saja ulahnya. Iya kami direstui oleh orang tuanya Abang. Mereka juga tidak mempermasalahkan pekerjaan Shanum sebagai kowad. Mereka hanya berpesan, jika sudah menjadi kemantapan hati disegerakan dan nantinya harus dipertahankan" terang Shanum membuat semuanya mengucap syukur.


"Alhamdulillah, kita kirain kenapa gitu. Sampai masaknya berhenti dulu. Dasar bang Hamka somplak!" ucap Muti. Semuanya tertawa.


"Somplak begini kan ca'em.... Hahaha"


"Hidih,.... ca'em dari mananya coba? Yang bilang ca'em cuma Maryam doang, itu karena dirimu mirip dengan artis korea kesayangannya itu. Siapa lah namanya Sindong atau gerandong!" balas Sigit tak terima jika Hamka memuji dirinya tampan dan rupawan.


Mimi Amira tertawa. "Gerandong itu cucunya mak lampir Git. Segala itu dibawa-bawa. Tapi Mimi setuju sih sama Maryam, memang Hamka ca'em"

__ADS_1


"Tuh kan! Apa kata Mimi bilang, ah,.... Mimi calon mertua paling top deh. Hamka sayang Mimi....." Kata Hamka sambil merentangkan tangannya.


"Istri Ayah nih, jangan macam-macam!" sahut Ayah Indra membuat semuanya tertawa. "Ada korban bucin baru nih" sahut Papah Bagas.


"Hahaha, iya Ih, Ayah bucin ciee......" goda Muti dan yang lain membuat Ayah Indra dan Mimi Amira malu bukan main.


"Abang sih...." kata Mimi Amira. "Tuh kan! Panggilannya saja masih abang lho.... padahal anaknya sudah segede ini, 2 lagi" timpal Mamah Anin.


"Gak anak gak orang tuanya sama semua..." Sahut Ayah Indra.


"Terus kalian kapan pengajuan nikah kantor?" tanya Papah Bagas. Hamka dan Shanum saling toleh dan tersenyum. "Secepatnya Pah, ini kami sudah urus semua berkasnya kok" sahut Shanum.


Mereka semua mengangguk. "Setelah lebaran, keluarga Hamka akan datang menemui Ayah dan Mimi untuk melamar Shanum secara resmi. Ah, akhirnya.... nikah juga guaa..... Hahahah"


Sigit melemparnya dengan bantal sofa. "Dasar kingkong! Seneng banget sih!"


"Iya lah, mereka ketemunya kan langsung ada getaran-getaran gimana gitu mas.... Nah kita? Berantem dulu baru deh saling cinta" sahut Muti.


Sigit tersenyum dan memeluk istrinya. "Jangan pamerrr...... ingat yang masih belum halal dong!"


Para wanita kembali memasak. Sebagian yang sudah matang disajikan di ruang tamu. "Makan lesehan, aseekkk.... enak ya Si, tiap hari ada yang ngurusin" kata Hamka lagi.


"Iya lah! Tujede kato ye jana sanem..... Ada janda lewat bikin hati ademmmm...." Sigit menyanyikan sebuah lagu India yang diganti liriknya di bait akhir. Membuat Muti yang akan kembali ke dapur menghampirinya dan mencubit perutnya


"Coba bilang janda mana???" kata Muti menggeram. Sigit berteriak kesakitan. "Aaaa..... sakit yank! Bukan janda manapun, mas lagi nyindir Ayah....." kata Sigit beralasan.


"Ayah kenanya.... Ya memang sih Mimi kalian bikin hati adem. Hahahahaha" Semuanya tertawa.


"Wes ojo do guyon wae. Ayo madang (Sudah jangan bercanda melulu. Ayo makan)" kata mamah Anin.


Semuanya memposisikan diri, masing-masing dari wanita itu melayani lelakinya masing-masing. Mereka makan dengan penuh khidmat.dan canda tawa.


"Yah, nanti nginap sini kan?" tanya Muti. Ayah Indra menggeleng. "Ayah mau booking kamar hotel"

__ADS_1


Sigit, Hamka, dan Papah Bagas terbatuk. "Kenapa sih kalian? Maklumin dong, orang baru buka puasa.... Ada yang mau ikut?" tanya Ayah Indra.


Hamka paling semangat mengangkat tangannya. "Halal dulu, nanti tiap hari abang mau booking lamar terserah" jawab Shanum. Membuat semuanya tertawa.


"Ayahmu bucinnya parah Git! Sampai gak bisa ngerem itu lho" kata papah Bagas.


"Wes los dol kok pah. Hahaha, yuk ah pada pergi dari sini, biar kami juga bisa segera ngamar"


"Astaghfirullah... makan yang diomongin malah kamar melulu" kata Mamah Anin.


"Lho wajib itu Mah, kita juga nanti nyusul mereka lah" kata papah Bagas. Membuat Sigit dan Muti tertawa.


"Otak lelaki semuanya sama saja.... itu saja yang dipikirkan!" balas Mamah Anin.


"Memang kamu gak mau Mah?" tanya Papah Bagas. Mamah Anin mengangguk. "Mau lah!"


Semuanya kembali tertawa. Percakapan sederhana yang bisa membuat orang lain tertawa adalah sebuah anugerah dalam hidup kita. Mensyukuri apa yang ada tanpa banyak mengeluh. Tampak kebahagiaan tersirat dari wajah semua orang.


Mimi Amira sangat bahagia berada di tengah-tengah mereka. "Nambah bang?" tanyanya pada Ayah Indra. "Jangan disuruh nambah terus dong, seminggu abang kamu suruh makan terus seragamnya nanti gak muat"


Berbeda dengan Ayah Indra, Hamka menyodorkan piringnya ke Shanum. "Hehehe" Shanum tersenyum. Ia mengambilkan lagi makanan untuk calon suaminya itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2