Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 36


__ADS_3

Sigit menjemput Muti seperti biasa. Tapi kali ini Muti meminta menggunakan mobilnya saja. "Mas, gantian pakai mobil aku saja. Nanti kalau gak dipakai malah turun mesin"


Sigit menuruti keinginan calon istrinya itu. "Terus mobil mas ditinggal sini begitu?" Muti mengangguk dan menunjukkan nyengir kudanya.


"Hehehe, biaya servis mobil mahal maas"


Sigit mengangguk. "Oke, ayo cepat. Mas keburu waktu nih" Muti mengeluarkan mobilnya dan memanasi mesin mobil itu. Sigit memasukkan mobil itu di halaman rumah Muti.


Lalu mereka satu mobil dan berangkat bekerja. Mengumpulkan recehan yang ada, demi masa depan bahagia. Muti membaca pesan yang masuk ke chatnya. "Mas, mobilnya aku bawa ya? BPK minta laporan keuangan bulan lalu. Boleh?"


"Mas antar saja" Muti berdecak. "Kamu bakalan telat sayang. Orang nanti berangkatnya selesai apel kok"


Sigit melirik Muti dengan ekor matanya. "Kamu gak lagi membohongi mas kan?"


"Ha? Membohongi? Astaghfirullahaladzim sayaaang, ini lhooo, chat dari bapak kasie kuuu. Dia memberitahu kalau pagi Ini BPK minta laporan bulan lalu dilaporkan" Muti memberikan ponselnya kepada Sigit.


Sigit membaca pesan itu. "Oke, berarti nanti siang kamu jemput mas di polres"


Muti mengangguk. "Iya sayang iyaaa. Jangan menaruh curiga terhadapku. Aku sudah berjanji kan akan tobat? Itu semua karena kamu"


Sigit tersenyum mendengarnya. "Paling bisa kalau suruh godain dan gombalin. Dua kemampuan yang langka untuk kaum hawa. Hahaha"


Muti mencubit perut Sigit. "Aww, sakit yank. Itu ada jahitannya lho"


Muti panik. "Maaf aku lupa" Sigit menahan tawanya. "Kok tertawa?"


"Ya kamu lucu. Orang lukanya ada di sebelah kanan kok. Dan jahitannya juga sudah diambil Hana tadi pagi. Wkwkwk. Kena tipu!" Muti mendelikkan matanya. Lalu memukul keras bahu Sigit berulang-ulang.


"Sakit yank!"


"Sukurin! Itu wajahmu gimana mas? Sudah kamu kompres belum?" Sigit mengangguk.


"Sudah, ehm. Mut, mas boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Sigit hati-hati. Muti mengangguk. "Mau tanya apa sayang?"


"Humam mantan pacar kamu itu orangnya seperti apa sih? Kerjaannya apa? Kalian kenal dimana?"


Muti diam tak menjawab Sigit. "Kok diam?"


"Aku malas bahas masa lalu mas. Setelah dia ditolak Ayah dan memilih menjauhiku, setelah itu aku malas dengannya. Seakan dia itu tidak mau memperjuangkan cinta kami. Bisa kan kita tak membahasnya?" Pinta Muti.

__ADS_1


Sigit tak bisa memaksakan hal itu. Tapi ia butuh informasi mengenai Humam. Apakah Humam yang dimaksud adalah orang yang sama? Atau berbeda?


"Ya sudah lah, itu artinya jodoh kamu ya memang mas, meskipun lantaran maandat, tapi akhirnya cinta kita tumbuh karena mandat yang ada. Betul sayang?" Tanya Sigit sambil tersenyum, menampakkan lesung pipitnya.


Muti gemas melihat calon suaminya. "Iiihhh. aku punya bayi besar sekaraaaang. Gemesin banget sih kamu sayang kalau lagi senyum beginiiii"


Sigit tertawa mendengar ucapan Muti. Akhirnya mereka sampai di polres. Sigit turun dari mobil. Muti menyalaminya seperti biasa. "Hati-hati bawa mobilnya sayang" Muti mengangguk. "Dadah komandan galaaakk"


Muti meninggalkan polres. Dia menuju kantornya.


.


Waktu berputar sangat cepat, tak terasa makan siang segera tiba. Sigit menggeliat, tubuhya kaku akibat terlalu fokus dengan dokumen kasus kejahatan napi semalam.


Muti memberinya kabar bahwa dirinya sudah dalam perjalanan menuju polres. Sigit berpesan untuk tidak ngebut. Seorang perempuan masuk dengan menangis ke ruangan Sigit.


"Bang Sigit, huhuhu, aku kecopetan baaang. Huhuhu" Tangis perempuan itu saat masuk secara paksa.


"Maaf Ndan, mbak nya memaksa masuk" Kata Galih. Sigit mengangguk. "Tak apa"


"Bel, kamu kecopetan dimana?" tanya Sigit kepada Bella. Fans sekaligus adik kelas SMA Sigit di Kalimantan.


"Dalamnya ada apa saja?" Bella mengingat isi tasnya. "Ada ATM 1, kartu kredit 2, uang tunai 300ribu, KTP, sama SIM A"


"Jam berapa kejadiannya?"


"Jam berapa ya? Sekitar jam 11 lah bang"


Sigit menelpon anak buahnya untuk mengecek cctv di jalan proklamasi. "Pulanglah, nanti kalau ada perkembangan kamu akan ditelpon"


Bella berdecak sebal. "Ih, Abang! Aku itu baru saja kecopetan. Tenangin kek kasih perhatian kek!"


Sigit tak menanggapi Bella. Dirinya fokus ke ponselnya. Membuat Bella meradang. Dia merebut ponsel Sigit. "Bel, balikin gak?!" ancam Sigit.


Bella malah menjulurkan lidahnya. Sigit mendekatinya, hendak mengambil ponsel itu. Tapi dengan sengaja Bella menarik bajunya hingga kancingnya lepas dan mereka terjerembab di sofa dengan posisi Sigit menindih tubuh Bella.


Disaat yang sama pintu ruangan Sigit terbuka. ceklek. Dua orang perempuan menutup mulut mereka tak percaya dengan kejadian yang dilihatnya.


Muti dan Luna terkejut mendapati Sigit dengan posisi seperti itu. Hati Muti mendidih. Matanya terasa panas. Seketika ia balik badan dan berlari meninggalkan ruangan Sigit. Ia kembali ke mobilnya dan segera meninggalkan polres.

__ADS_1


Sigit mengejarnya tapi tak bisa. Muti seoerti orang yang kesetanan saat mengemudi. "Sial!"


Sigit kembali ke ruangannya. Luna bersidekap di depan Bella. "Dia tidak kecopetan. Yudi sudah mengecek cctv itu langsung. Dan tidak ada tindak kriminal disana"


Amarah Sigit tak bisa dipendam lagi. Dia membentak Bella dengan keras. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan??! Setan kamu Bel!! Pergi kamu!!!"


Bella ketakutan melihat Sigit dengan amarah yang benar-benar memuncak. Bella pergi terbirit-birit meninggalkan ruangan Sigit. Luna menenangkan sepupunya. "Sabar, istighfar"


Sigit mengatur nafasnya dan beristighfar. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Muti. Tak diangkat. "Pinjam mobil Lun"


Luna tak banyak bertanya, dia mengeluarkan kunci mobil dari dalam sakunya. Sigit segera berlalu dari ruangannya dan mengejar Muti. Luna mencoba mengecek cctv. Ternyata memang mati.


Kabel di bagian belakangnya ada yang memutus dan mengecoh dengan hanya disolasi seperti berfungsi.


Luna mendapati ada yabg aneh dengan lensa cctv Sigit. Ia memastikan hal itu. "Alah, ternyata disini to"


Luna mendapatkan alat penyadap yang dipasang di lensa cctv. Luna segera leluar ruangan Sigit dan membuangnya di saluran air. "Itu berarti dia tahu rencana kami kemarin. Mas Ali!" Luna segera menelpon bodyguard andalannya untuk mencari tahu keberadaan Ali.


Sedang di lain tempat, Muti menemui Danang di bar. Dia meminta kunci apartemen Danang. Ia berpikir bahwa tempat itulah yang tidak akan diketahui Sigit.


Sigit mencari Muti ke kantor tapi tak ada. Di rumahnya juga tak ada. Kembali lagi ke kantor dan bertanya pada Jihan, tapi Jihan juga tak tahu. Ia mulai bingung. Mamahnya menelpon.


Sigit mengatakan kepada mamahnya kejadian yabg baru saja terjadi. Membuat Anin meradang. Cari Muti sampai ketemu! Papah dan Mamah gak mau tahu! Assalamualaikum. Kata Anin di ujung telpon.


Sigit memukulkan kepalanya pada stir mobil "Waalaikum salam"


Sigit melajukan kembali mobilnya dan mencari keberadaan Muti. "Kamu dimana sih sayaaaang?? Mas khawatir sama kamu. Angkat telpon mas? Balas chat dari aku Mutiiiii"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2