
Sigit dan Muti langsung meninggalkan polres. Mereka menjemput kakek Umang untuk mengurus administrasi nikah agama. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Nanti kita juga harus suntik capeng ya mas?" tanya Muti. Sigit mengangguk sambil menatap lurus ke depan.
"Iya, oh ya, sekalian saja hari ini kita fitting baju untuk resepsi yank. Takutnya gak ada waktu lagi"
Muti mengangguk setuju. "Oke, manut lah"
Sebuah chat masuk ke ponsel mereka masing-masing. Luna telah mengganti pengaturan untuk grup itu.
Luna : Syelamat pagi menjelang siang semuaaa. Yang sedang kerja semangat, yang sedang rindu tahan dulu. 😅
Luna : Calon pengantin online ya? Oke, aku mau ngasih tahu untuk undangannya. aku kirim gambar ya (gambar dikirim oleh Luna, undangan itu berwarna hijau dengan foto mereka berdua di tengahnya. Tertera tanggal tempat dan waktu acara resepsi dan akad digelar. Muti meneliti satu per satu tulisan itu)
Muti : Oke mbak Lun, cetak sesuai jumlah tamu ya?
Luna : Siap ibu komandan! Nang, nanti siang cetak undangan.
Danang : cetak undangan kita sekalian gak? 😘
Yudi : Aih, dulu dingin banget kayak essss, sekarang? Mbak Lun gak sopan nih, disini ada yang jomblo lho mbak
Luna : Ih, kok aku? Danang seriusan ah, bercanda mulu dari semalam 🙄
Danang : 😅😅
Galih : Mbak Lun, mas Danang sudah di depan pos. Mau disuruh masuk apa suruh nunggu di mobil? Atau suruh masuk dan nunggi dihatimu 🤣🤣
Luna : 🙉🙉 Mbuh Lih, sekarepmu. Aku otw. Pak bos Si, ijin keluar demi kelancaran acara anda ya. Hana dan Maryam, nanti jangan lupa ketemuan sama WO
Muti : ijin di acc, sekalian kencan juga boleh kok mbak Lun
Maryam : Aku aku aku? Boleh tidak sekalian kencan? Pleaseee, LDR ora enak, ayolaaaah.... mbak ipar ku yang cuanteeeek, bujuk rayulah abangkuuuu
Muti : 🤫 diam, sana kencaaan, sebelum dr. Habib dikasih binsik sama Papah dan Mas Si
Maryam : Ah, terima kasih sekaliiii 😘
Ali : Abangmu gak ngasih binsik aku yang ngasih binsik. Katakan dia di rumah sakit swasta Ungaran mana? Abang mau temui dia dulu
Maryam : Lah, lupa pula aku ada bang Ali disini
Muti menyimpan ponselnya, ia tertawa membaca chat itu. Sigit sampai di rumah dan heran melihat tingkah Muti. "Apa sih?"
__ADS_1
"Ehm, gak papa, mereka pada lucu. Aku turun dulu jemput kakek" kata Muti. Kakek Umang sudah berjalan menunu mobil.
"Gak usah turun sayang, kakek udah jalan kesini tuh" Sigit menunjuk kakek Umang. "Aku pindah belakang lah mas, masa orang tuan di belakang"
Muti pindah ke belakang tanpa turun dari mobil. Ia melangkah ke kursi belakang. "Astaghfirullah, kelakuanmu nduukk" kata Sigit. Muti hanya tertawa menanggapinya.
Kakek Umang membuka pintu bagian belakang. "Lhoh" katanya. "Kakek di depan saja kek, Muti yang dibelakang" kata Muti. Kakek Umang mengangguk dan menutup kembali pintu mobil itu.
Mobil meluncur ke KUA setempat. Muti mempersiapkan berkas yang diminta oleh kakek Umang. Tak lama mereka sampai, mereka masuk dan bertemu dengan kepala KUA. Sedikit berbasa-basi lalu mereka mengurus administrasinya. Mulai dari mengisi blangko, hingga menyerahkannya kembali.
"Langsung ke puskesmas ya mas Sigit mbak Muti, untuk imunisasi capeng" perintah kepala KUA itu. Mereka mengangguk. Sigit menjabat tangan kepala KUA itu dan segera menuju puskesmas.
"Hmm, tinggal imunisasi, Papah dan Mamah belum datang kek?" tanya Muti. Kakek Umang menggeleng.
"Belum, mungkin nanti sore. Ayahmu sudah datang?" tanya kakek Umang balik. "Belum juga kek, mungkin juga nanti sore atau malam"
"Git, hapalkan itu ijabnya" kata kakek Umang. "Sudah dong"
"Coba mas" pinta Muti. "Nanti saja"
"Ih, coba sekali saja sih, aku mau dengar" rengek Muti. Sigit menghela nafasnya. "Ehm, bismillahirrahmanirrahim. Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Insani binti Indrajaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Tuh kan kek, dia ini yang suka genit ke Sigit. Bukan Sigit yang godain dia"
"Hahahah, kelepasan mas.... Coba kalau gak ada kakek, tak cium habis kamu. Ups.... hehehehe" jawab Muti.
Kakek Umang hanya geleng kepala menyaksikan mereka. "Dasar kalian ini, tahan, sebentar lagi" Mereka hanya tertawa.
Mereka telah sampai di puskesmas. Muti diarahkan untuk diperiksa kencingnya terlebih dahulu. Lalu dia dan Sigit sedikit diberikan nasehat tentang berumah tangga.
Setelah itu baru disuntik capeng. Rangkaian acara pelengkapan administrasi nikah agama pun selesai. "Kita makan dulu setelah itu fitting untuk acara resepsi" kata Sigit.
"Antarkan kakek pulang saja, kita makan di rumah. Maryam sudah masak enak" kata kakek.
Sigit menautkan alisnya. "Tumben dia masak. Ada apa nih?" tanyanya.
"Ya mungkin untuk nyambut papah dan mamah kali mas" Sigit hanya mengangguk.
Akhirnya mereka pulang ke rumah. Maryam berada di dalam dengan seorang pria. Sigit mendengar tawa mereka dari luar.
"Kok ada suara cowok kek?" tanya Sigit. Muti tak sabar melihat suara siapa itu. Ia masuk dengan mengucapkan salam membuat Maryam sedikit terkejut.
__ADS_1
"Siapa niiih?" tanya Muti. Maryam nyengir. "Ini yang namanya dokter Habib mbak Muti"
Sigit menatap tajam Habib. Membuat Habib berkeringat dingin. Maryam memanyunkan bibirnya. "Abang bisa tidak sih kalau natap jangan serem begitu? Mirip anak mak ponti deeeh"
"Kamu sini, kalian siapkan kami makanan" perintah Sigit. "Biar mbak saja yang siapkan. Kamu temani Habib"
Akhirnya kakek Umang, Sigit, Maryam, dan Habib duduk di ruang tamu. Maryam memperkenalkan Habib kepada semuanya. Habib menjabat tangan Sigit. Sigit sedikit meremasnya. Membuat Habib menahan sakit.
"Kenal Maryam dimana? Sudah berapa lama menjalin hubungan dengan Maryam? Kapan siap menikahi Maryam?" tanya Sigit. Kakek Umang hanya tersenyum melihat cucunya over protective terhadap adiknya.
"K-kenal lewat p-pacar sepupu saya bang. H-hampir 6 bulan ini, Insyaallah jika memang saya diminta untuk menikahi Maryam saya siap" jawab Habib tergugup.
"Haish, Bang bang bang, kamu kira aku abang tukang bakso apa gimana? bocah plegak pleguk (jawabnya tidak lancar) seperti ini kok mbok senengi sih Mar"
"Hehehe, macam lagu anak-anak abang tukanh bakso mari-mari sini, aku mau be....li" Habib menyenandungkan lagu anak-anak itu dan lupa akan Sigit yang masih menatapnya tajam.
Maryam mencubit lengan Habib "Gimana gak plegak pleguk, orang abang tanyanya seperti itu. Coba jangan serem begitu"
Muti memanggil mereka untuk makan. "Sudah sih mas, orang Habibnya juga siap nikahin Maryam gitu kok. Itu artinya Habib tidak main-main dengan Maryam"
"Kakek setuju dengan ucapan Muti" kakek Umang beranjak ke ruang makan. "Oke, abang pun setuju, tapi.... besok binsik dulu"
"Aahhhhh, abaaang..... gak usah lah... kasihaaaan" teriak Maryam kepada Sigit yang juga sudah menuju ruang makan.
"Tenang yank, paling nanti disuruh lari doang" Habib percaya diri. "Hmm, karepmu lah mas, iya kalau cuma lari doang. Besok pasti papah dan abang ngerjain kamu"
"Sudah, ayo makan dulu. Nanti biar mbak yang bujuk" kata Muti.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1