Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 23


__ADS_3

Sigit memarkirkan mobilnya di area parkir bandara. Indra dan Muti turun terlebih dahulu. Sigit menurunkan koper milik calon mertuanya dan menyusul ke dalam bandara.


Indra memeluk anak semata wayangnya itu. "Jangan bandel dan jangan semakin menjauh dari Ayah. Ayah minta maaf kalau selalu mengekang kamu nak. Baik-baik disini ya. Kabari Ayah kalau kamu ada kesulitan. Hormat sama calon suamimu. Perintahnya adalah mandat dari Ayah, jadi kamu tidak boleh melawan. Oke?"


"Ayah selalu saja begitu. Iya. Ayah disana sehat-sehat. Cari istri lagi kalau perlu. Biar Ayah gak kesepian dan ada yang merawat Ayah, serta mengurus semua keperluan Ayah" jawab Muti mencoba melucu karena sungguh ini adalah momen bahagia untuknya setelah kejadian lalu, saling adu emosi dengan Ayahnya.


"Hahaha, gak mau. Ayah lebih suka jomblo" Indra melepas pelukannya dan mengecup kening anaknya. "Ih, malu Yah, Muti sudah bukan anak kecil lagi"


Indra tertawa. "Bagi Ayah, kamu tetap gadis kecil Ayah. Sigit, jaga Muti seperti mandat yang Ayah berikan kepada orang tua kamu. Jaga dia sepenuh jiwa ragamu. Ayah percaya sama kamu, Muti akan aman bersamamu" Indra memegang bahu Sigit.


"Insyaallah Yah, Sigit akan menjaga marmut nakal ini. Ya meskipun nakal, gemesin siiiih" Ujar Sigit malu-malu.


Indra tertawa. "Ya sudah, Ayah berangkat. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Muti dan Sigit menyalami tangan Indra. Segera Indra masuk untuk check in. Sigit mencari tempat duduk karena dirinya masih harus menunggu orang tuanya yang akan pulang juga.


Dia lupa meminum obatnya sehingga lujanya nyeri kembali. "Kenapa mas?" tanya Muti melihat Sigit meringis menahan sakit.


"Gak papa, kamu sudah sarapan?" Muti menggeleng. "Mas belikan sandwich mau?"


"Boleh" Sigit beranjak dari tempat duduknya dan membeli sandwich di salah satu stand penjual makanan disana.


Saat sedang menunggu, rombongan keluarga Sigit sudah tiba di bandara. Mereka akan segera check in. Sigit menenteng 2 paper bag.


Muti dan Sigit bergantian menyalami para orang tua. "Git, jaga Muti dan Hana. Banyakin waktu buat Muti. Jangan terlalu larut di polres terus" pesan Bagas kepada anaknya.

__ADS_1


Sigit mengangguk. "Iya. Buruan pada check in. Kami juga harus segera berangkat apel pah"


Mereka saling berpelukan. Tari, Tristan, dan Kakek Umang, kembali ke rumah. Luna akan mengantar Hana terlebih dahulu ke rumah sakit. Sigit mengantar Muti ke Samsat.


"Itu apaan?" tanya Hana melihat paper bag dan menciun aroma yang enak. "Mau?" tanya Sigit.


Luna dan Hana mengangguk. "Nih. Satu buat berdua. Males kalau suruh antri lagi. Han, obat nyeri namanya apa? Mas lupa minum obatnya. Mau beli di apotek"


Hana menerima paper bag itu. Dia membukanya. "Mmm, yummy. Aku bawa obat nyeri haid. Nih"


Hana merogih tasnya dan ketemu. Mereka berpisah di parkiran. Muti masuk ke mobil Sigit. Memakai sabuk pengaman dan Sigit segera melajukan mobilnya ke arah Samsat.


Muti mengambil paper bag berisi sandwich itu. Membukanya lalu mengarahkan ke mulut Sigit. "Besok lagi jangan lupa minum obatnya. Makan dulu baru minum obat" Sigit menoleh dan tersenyum.


"Iya, tadi buru-buru. Jangan ngambek melulu ah. Senyum dong" kata Sigit sambil mencubit pipi Muti. Menggigit sandwich itu.


Sigit hanya melahap tanpa menjawab omelan Muti. Sungguh senang bukan main hatinya mendapatkan perhatian dari Muti.


"Tolong obatnya Mut" Sigit menyuruh Muti membukakan obat untuknya. "Habisin dulu sandwichnya" Sigit menggeleng.


"Kamu juga belum sarapan. Habiskan kamu untuk mengganjal perut. Obatnya" Muti membukakan obat itu dan mengambilkan air minumnya. Karena di mobil Sigit tak ada air minum.


Muti memasukkan obat itu ke dalam mulut Sigit dan memberikannya minum. "Makasih"


"Sama-sama. Awas ya besok gak minum obat lagi. Sediakan minum juga di mobil. Jadi kalau darurat begini tidak bingung. Untung aku bawa minum"

__ADS_1


"Iya sayang iyaaaa" Sigit memanggil sayang lagi kepada Muti. "Apa tadi? Sayang?" Muti mencoba menggoda Sigit.


"Eng-enggak, Marmut aku bilang. Jangan ngomel melulu ah, bikin mood mas jelek nanti"


Muti menggigit sandwich dan mengangguk. "Kamu pantas diomelin kok"


Akhirnya saat suapan terakhir sandwich itu Muti tiba di kantornya. "Nanti mas jemput jam 4 terus kita langsung ke Ungaran" kata Sigit berpesan kepada Muti.


Muti mengangguk. "Iya, ya sudah aku turun dulu. Kamu hati-hati di jalan" Muti meraih tangan Sigit dan menciumnya.


Membuat Sigit sedikit terkejut mendapatkan perlakuan itu dari Muti. "Pengennya sih kecup pipi, tapi takut ninggalin bekas noda di pipumu. Hahaha. Aku turun ya sayang. Itu kan panggilan kamu ke aku tadi?"


Sigit tersenyum malu. "Sana buruan turun. Mas bisa telat apel kalau kamu godain terus"


"Iya ih, dasar komandan galak!" Muti turun dan melambai kepada Sigit. "Aih, mau kali dikecup di pipi. Ishh, apaan sih Git? Pagi-pagi halu aja kamu" kata Sigit kepada dirinya sendiri dengan wajah sudah seperti tomat rebus.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2