
Setelah drama jahit menjahit luka Hamka, kini di ruang tamu itu, Kakek Umang yang diminta oleh Muti untuk melamarkan Ayahnya mulai berbicara.
"Assalamualaikum kami ucapkan kepada keluarga Ibu Amira, disini saya sebagai wakil dari Indrajaya bermaksud ingin meminang Bu Amira untuk diperistri oleh Indrajaya. Tidak usah berlama-lama saya bicara, karena waktunya sudah masuk dzuhur. Monggo saya serahkan kepada pihak keluarga Bu Amira untuk menjawab maksud kedatangan kami kesini" terang Kakek Umang menjadi wakil besan untuk Ayah Indra.
Pak Farid menjawab maksud kedatangan keluarga Ayah Indra. "Waalaikum salam saya balaskan untuk Pak Indrajaya sekeluarga. Saya sebagai wakil dari keluarga Bu Amira mengucapkan terima kasih atas kehadirannya ke Magelang, kalau saya jadi Bu Amira pasti saya terima lamaran Pak Indra, tapi saya bukan orangnya. Heheh. Jadi langsung kita tanya saja sama yang bersangkutan nggih. Mbak Mira, bagaimana? Hari ini ada seorang yang hendak mempersuntingmu untuk dijadikan istri dan pendamping hidupnya. Apakah kamu bersedia mbak?" tanya Pak Farid.
Bu Amira tersenyum. Ia menoleh pada Shanum. "Bagaimana nak?" tanya Bu Amira. Shanum membalas senyum. Ia merangkul Bu Amira. "Mi, semuanya tergantung Mimi, kalau Mimi bersedia silahkan diterima pinangan dari panglima. Shan senang dan bahagia kalau Mimi juga senang"
Bu Amira tersenyum. "Muti?" tanyanya. "Muti ingin Ibu jadi Ibu sambungnya Muti, biar Ayah gak kesepian lagi Bu, biar Muti juga bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ibu"
Ayah Indra mengusap-usap punggung anaknya. Bu Amira kembali tersenyum. "Bismillahirrahmanirrahim, saya.... saya terima pinangan dari abang" jawabnya.
"Alhamdulillah" ucap semuanya. Muti memeluk Ayahnya dan memeluk Bu Amira. "Makasih ya Bu".ucapnya terharu. Ia juga memeluk Shanum. "Kita jadi saudara ya Shan, panggil aku Muti saja"
Shanum mengangguk dalam pelukan itu. "Iya Muti" Acara dilanjutkan dengan sholat berjama'ah. Lalu makan siang bersama. Ayah Indra dan Bu Amira mengenalkan Hamka pada Shanum.
"Ini namanya nak Hamka, seniornya Sigit suami Muti. Dia datang kemari untuk berkenalan dengan kamu Shan. Ayah tidak memaksa kamu untuk mau menikah dengannya, tapi cobalah berkenalan terlebih dahulu" tutur Ayah Indra. Shanum tersenyum dan menyodorkan tangannya pada Hamka.
Hamka meraihnya dan menciumbya persis seperti mencium tangan orang tua. Membuat Shanum terkejut. Sigit dan Ali yang mengintip dari balik tembok tertawa terpingkal-pingkal.
"Sstt, bang! Bukan disalami, tapi dikecup. Bego!" ledek Sigit. Hamka hanya nyengir.
"Ya sudah, silahkan kalian kenalan sendiri. Ayah sama Mimi mau makan dulu" kata Bu Amira meninggalkan Shanum dan Hamka. Suasana berubah menjadi canggung. Hamka benar-benar tak tahu harus bicara apa. Ia memandangi langit-langit rumah Shanum.
"Bagus ya lampu gantungnya? Haha, warnanya emas" Shanum menahan tawanya. Menurutnya ucapan Hamka sama sekali tak penting. Sigit dan Ali yang masih mengintip semakin tertawa melihat ulah Hamka.
"Ya Allah bang bang, badan gede, sekalinya ketemu cewek beneran kayak orang pekok!" kata Ali. Sigit mengangguk. "Makan lah Si, lapar. Dari tadi ketawa mulu"
"Bang" panggil Shanum. "Iya?" jawab Hamka.
"Abang mau jalan-jalan ke taman samping rumah gak?" Shanum mencoba mencairkan suasana. Hamka mengangguk. Mereka menuju taman samping rumah. Disana ada sebuah bangku dari kayu yang terlindung dari terik matahari karena berada di bawah pohon mangga.
"Adem disini" kata Shanum. Ia duduk dan mempersilahkan Hamka duduk di sampingnya. Mereka kembali diam. "Bang. Ngomong kek, diam saja dari tadi"
"Ha? Ngomong apa? Abang gugup" Shanum tertawa dengan penuturan Hamka. "Jangan tertawa dong Shan, beneran deh, Abang gak pernah dekat dengan perempuan. Memang biasanya yang diobrolin apa saja sih?"
__ADS_1
Shanum semakin tertawa. Hamka terpesona oleh tawa bahagia Shanum. "Bahagia banget sih?"
"Ehmm.... maaf, sebelumnya Shan minta maaf ya bang gegara Shan ceroboh siku Abang kena luka. Abang lucu, tanyakan yang ingin abang tanyakan lah"
"Kamu mau jadi istri aku?" tanya Hamka langsung pada intinya membuat Shanum kembali menggelar tawanya. "Ih, ditertawakan lagi. Salah ya?"
Shanum menggeleng. "Bukan salah Abang, tapi terlalu cepat. Memang apa yang membuat Abang yakin ingin aku menikah dengan abang?"
Hamka berpikir. "Karena kamu begitu bahagia di samping Abang". Shanum terdiam. Mereka saling tatap. "Umur Abang sudah sangat matang Shan. Abang datang kemari bukan untuk main-main. Tapi, ingin mencari wanita yang bisa diajak serius sama hubungan ini nantinya"
Shanum tersenyum. "Abang asli mana?" tanya Shanum. "Aceh"
Shanum mengangguk. "Besok tiga hari ke depan Shan bisa ambil cuti. Kita temui orang tua Abang. Mungkin abang ingin Shan jadi istri Abang, tapi bagaimana orang tua Abang?"
Hamka tersenyum bahagia. "Benar Shan? Kamu mau ikut pulang ke Aceh?" Shanum mengangguk. "Alhamdulillah Ya Allah, Amak Apak, Hamka pulang bawa calon mantu untuk kalian!" teriak Hamka. Sungguh, Shanum senang melihat tingkah konyol Hamka yang bertolak belakang dengan wajah garangnya.
"Abang berapa saudara?"
"Tiga, Abang anak tengah. Kakak Abang perempuan sudah punya anak 3, ibu rumah tangga. Adik Abang perempuan juga guru di pedalaman. Ini Abang gak mimpi kan kamu mau ikut pulang ke Aceh?" Hamka meyakinkan Shanum kembali. Shanum menggeleng.
"O iya, lupa! Saking groginya Shan, jadi buyar semua. Heheh. Boleh minta nomornya?" Shanum mengangguk. Hamka memberikan ponselnya pada Shanum.
Shanum mengambil foto dirinya. Lalu mengetikkan nomor ponselnya. "Fotonya buat dipandangi kalau lagi kangen. Jangan buat nakut-nakutin tikus lho ya"
"Hahaha, ya gak lah. Makasih ya? Abang chat kamu" Shanum mengangguk.
Hamka : Assalamualaikum ini abang 😁
Shanum membaca chat itu dan tersenyum. "Waalaikum salam, ini Shanum. Abang lucu ih"
"Hahaha, pantas jadi intel atau pelawak?" tanya Hamka lebih santai.
"Pelawak!"
"Hahaha, bisa saja kamu Shan. Sini hapemu, Abang mau foto juga" Shanum memberikan ponselnya. Hamka berfoto dengan gaya cool. Membuat Shanum tersihir oleh pesonanya.
__ADS_1
"Cakepnya...." puji Shanum. Hamka menutup wajahnya dan bergaya centil. "Malu...."
Shanum semakin tertawa dengan tingkah Hamka. "Besok Abang jemput kamu kesini"
Shanum menggeleng. "Gak usah bang, Shan ikut ke Semarang kok. Mau main sama Maryam. Abang pesankan tiket saja untuk kita ke Aceh"
"Besok Abang dinas dulu ya? Penerbangan biasanya malam. Besok abang jemput di rumah Maryam"
"Terserah abang saja. Abang gak lapar?"
"Lapar lah. Apalagi tadi habis dijahit. Haduuh... nafsu makan abang makin meningkat"
Shanum menautkan alisnya. "Gak nyambung bang"
"Nyambung, kalau kita stress itu membuat cadangan glukosa dalam tubuh kita dipakai lebih banyak dan membuat kita sering lapar"
Shanum bertepuk tangan "Encer juga otaknya bang"
Hamka hanya tertawa. Sungguh, ia senanh berada di dekat Shanum. Begitu pula dengan Shanum. Yang selali tertawa dengan tingkah Hamka.
Terkadang, mencintai seseorang itu tak perlu alasan klise. Hanya cukup dia yang mampu membuatmu selalu bahagia berada disampingnya juga merupakan definisi dari cinta.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Lunas ya triple up kali ini.... selamat istirahat semua. Jangan luoa sahuuuurrr.... love you all 😘😘😘