
Bima mengetuk pintu rumah Jihan. Seorang wanita paruh baya membuka pintu untuknya. Ia tersenyum pada wanita itu. "Jihan! Kamu kenapa nak?" tanya Mamah Jihan.
"Bawa masuk dulu ya mas" imbuhnya lagi. Bima masuk dan mendudukkan Jihan di sofa. "Kenapa bisa begini?" tanyanya lagi.
"Sabar dulu dong mah, Jihan jatuh di kamar mandi, kesleo, hmm, jadi deh begini" terang Jihan.
"Mah, kenalkan ini Mas Bima, Mas Bim, ini mamah aku" Bima menyalami mamah Jihan. "Makasih ya nak Bima sudah antar Jihan pulang"
"Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi dulu"
"Lhoh buru-buru, minum dulu. Capek kan gendong Jihan?"
Bima menggeleng. "Gak usah bu, saya masih ada urusan. Lain kali saja. Heheh"
"Benar ya lain kali? Ya sudah, hati-hati ya pulangnya. Sekali lagi terima kasih banyak"
"Sama-sama bu, saya permisi dulu. Assalamualaikum" Bima menyalami mamah Jihan dan pulang.
"Waalaikum salam"
Saat di pertigaan jalan, ia bertemu dengan Ali dan Hana yang baru pulang dari masjid. "Assalamualaikum bang" sapanya.
"Eh, waalaikum salam. Bima?" sahut kedua pasutri itu. Bima hanya menyengir. "Nganterin temen"
Ali menautkan alisnya. "Teman?"
"Cewek apa cowok? Rumahnya sebelah mana? Kok kamu jalan kaki?" Hana tak sabar dan langsung mencecar pertanyaan pada Bima. Ali ikut mengangguk. "Ya Allah, keponya pasangan ini, cewek, aku sengaja gak bawa motor ataupun mobil. Tuh rumahnya nomor 3 dari ujung. Namanya Jihan. Sudah puas?"
"Jihan? Ooohhh Jihan temannya mbak Muti?" sahut Hana lagi. Bima mengangguk. Ali menatapnya penuh selidik. "Apaan bang? Ngeri ih ditatap begitu" kata Bima.
"Gak papa, mampir yuk?" Bima menggeleng. "Lain kali saja bang, aku mau ke butik mamah, ambil baju kalian berempat. Besok aku bawa di polres"
"Ooh, ya sudah lah. Hati-hati lu" Bima mengangguk. Akhirnya mereka berpisah di pertigaan itu.
Ali merogoh ponselnya. Mengirim pesan pada Luna. Yang menyuruh Luna untuk membuka grup. Tak berapa lama, grup itupun terbuka.
Ali : Ehem ehem ehem.... bahan ghibah, ayo merapat!
Luna : Ah elah, ketularan Sisi nih, sekarang cowok di grup ini pada doyan ghibah.
Hamka : Apaan tuh??
Sigit : Luna sama Danang lagi?
Maryam : Ramene cah..... nyimak bos
Ali : 🤣 kalian kalau ada gosip langsung.... patas! Bima tadi habis dari rumah siapa Bim? Cewek namanya Jihan katanya
Sigit : 🤫 biarkan mereka pendekatan dulu, jangan diganggu
Luna : Alhamdulillah Bima sudah bisa move on, selamat Bim
Muti : Bima..... Jihan barusan minta nomermu, cie.... ada yang sudah move on beneran nih. Mbak Lun, jangan sedih ya? Danang masih stay tune kok buat kamu
__ADS_1
Luna : 😑 Aku seneng Muti, seriusan gak papa malahan. Cie.... Bim, semburan cinta Jihan di kaosmu berhasil ya.... Ahahah
Bima : Ramenyaa.... Aku cuma nganterin dia pulang yo.... Gak lebih
Maryam : Hilih, gak lebih kan sekarang mas Bim. Besok? Lusa? seminggu lagi? Ihir.... dapat cewek baru dapat cewek baru... makan makan makan makan 💃💃
Sigit : Aciaciacia..... Lun, tabahkan hatimu Lun, Bima telah memilih yang lain
Luna : Mbuh Si, karepmuh! 🤐
Damar : Mulutmu kenapa mbak Lun? dipakein resleting? 😅
Hamka : Iya dipakaikan resleting biar gak banyak ngomong ya Lun. Tenang Lun, anak buah abang banyak noh... belajar dari Maryam biar bisa digodain satu kompi
Maryam : Bang Hamka lucknut banget sih mulutnyaaa.... Aib jangan diumbar dong. Fokus ke mas Bima....
Bima : Lun, ubah setelan grup Lun
Luna : Maaf Bim, tombolnya lagi eror, pengennya ngebuli kamyuuuu.... hahaha. Gak enak kan dibully di grup?
Sigit : Kaki Jihan kamu apain Bim? Difoto yang dia kirim ke Muti kok bengkak banget
Ali : Lu ci*pok ya Bim? Wah.... bahaya iki!
Bima : 🙉🙉🙉
Muti : 🤣🤣🤣, Bima, kamu so sweet banget gendong Jihan tadi....
Bima : Ya Allah, ember banget mulut itu bocah! 😭😭 cukup gaes, aku gak kuat. 😂😂
Luna : Baru juga sehari kenal, jos Bim! Lanjutkan!
Muti : Aduuuhhh.....sholat jadi imam pula buat Jihan.... 😂😂 Mbak Lun, gak nyesel melepaskan Bima? Cowok super sweet lho mbak
Luna : Uwaw.... gaget aku! Beneran Bima jadi imamnya Jihan?? Aku gak suka yang kemanisan, bikin punya penyakit gula 😅
Bima : Sumpah! Jihan mulutnya ember bin bocor! Awas saja besok kalau ketemu! 😤😤
Sigit : Emang mau kamu apain?? Kamu serang pakai gaya apa??
Hamka : Wah iki! Senior pergayaan beraksi! Memang ada berapa gaya? Ajarin dong!
Damar : 🤣🤣🤣
Sigit : Noh Ali yang lebih senior! Al, gaya apaan Al?
Ali : bebas lepas! 🏃♂🏃♂ bojoku ndi mau? Eh lupa, disuruh puasa lagi sama dokter kandungannya. 😌
Muti : 🤣🤣🤣
Maryam : Pada ngomongin apa sih? Ada anak kecil lho disini... 😜
Luna : 🙉🙉🙉
__ADS_1
Bima : Gaya suka-suka! Puas kalian semua?? Sumpah! Abeesss aku di bully. Aku klarifikasi yah pemirsa semuanyah... jadi sore tadi dia ke rumahku, mengantar baju dan ngasih makanan. Eh maghrib, sholat dong pasti. Ada aku masa iya sholat sendiri-sendiri? Kan lebih baik jama'ah? Habis itu dia mules ke kamar mandi, jatuh, kesleo, tak antar pulang. Gitu lhoooo.... gak ada apa-apa yooooo
Muti : Oh gitu.... kalau ada apa-apa juga gak papa. Setuju semua?
Sigit : Setuju sayang
Maryam : Setuju
Luna : Setuju bangettt
Obrolan di grup tak Bima pedulikan lagi. Tapi dalam perjalanan Bima senyan senyum sendiri. Ia sampai di butik mamahnya. Mengambil baju resepsi Sigit dan Muti, Hana dan Ali.
"Mah, Bima langsung pulang ya?" pamitnya pada Mamahnya. Mamah Renita memasang wajah sedih. "Mamah kan masih kangen... Jarang pulang lagi setelah lamarannya ditolak Luna. Mau mamah carikan yang lain?"
Bima tersenyum. "Gak usah repot-repot mamah sayang... Bima masih ada kerjaan"
"Apa?" tanya Mamah Renita.
"Tidur! Hahahaha" Mamah Renita mencubit pipi Bima. "Dasar! Ya sudah hati-hati" Bima mengangguk dan segera pulang.
Sampai di rumah dinasnya ia ingat belum sholat isya' akhirnya ia mengambil wudhu. "Lhah, mukena dia ketinggalan pula! Dasar cewek ember! Bisa... dia ngomong sama mbak Muti begitu. Aiiihhh..."
Sholat telah ia tunaikan. Ia membereskan perlengkapannya dan menuju ranjang. Ponselnya berdering. Nomor baru mengiriminya pesan.
Jihan : Makasih sudah mau direpotin. Tolong simpankan mukena aku dulu. Lain kali aku ambil. ☺. Jihan
Bima tersenyum. Ia menyimpan kembali ponselnya dan memejamkan matanya.
.
Akad telah terjadi, Ayah Indra resmi mempersunting Bu Amira. Shanum hampir saja melewatkan acara itu karena pesawatnya mundur dari jadwal keberangkatan. "SAH!" seru semuanya.
Papah Bagas dan Papi Raka menjadi saksi dalam acara sakral itu. "Habis ini gak haus belaian lagi dong ya?" goda Papi Raka. "Berbukalah dengan yang manis-manis" timpal Papah Bagas.
"Gak anak gak bapaknya, semuanya sama saja. Tapi memang betul kata kalian sih, gak akan haus belaian dan akan selalu disambut dengan yang manis-manis. Hahahah" jawab Ayah Indra.
"Resepsi sekalian?" tanya Mamah Anin. Ayah Indra dan Bu Amira menggeleng. "Gak perlu, cukup akad saja"
Mereka mengangguk. "Tinggal 2 minggu lagi nih acara resepsi anak-anak kita. Persiapan gimana ya?" tanya Papah Bagas. Ia memanggil Sigit.
"Persiapan resepsi sampai mana?" tanya Papah Bagas. "Sudah 85 persen pah"
Mereka mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip