Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 38


__ADS_3

Sigit memegang pundak Humam dan membalikkan tubuhnya. Humam mengelak, dia mencoba memukul Sigit. Pikiran Sigit yang dipenuhi oleh cemburu dan curiga membuatnya tak bisa fokus, sehingga, saat Humam menendangnya tepat mengenai perutnya hingga ia tersungkur.


Humam berhasil lolos. Sigit hendak mengejarnya tapi Muti memanggilnya. "Mas Sigit! Kamu tidak apa-apa?" Muti mencoba membantunya bangun, tapi ditepis oleh Sigit.


"Jangan sentuh! Apa?! Mau jelaskan apa?! Kamu mau bilang kalau kamu gak selingkuh??! Kamu mau bilang kalau kamu tidak melakukan hal itu??"


Plak


Muti menampar pipi kiri Sigit. "Siapa yang selingkuh?? Apa kamu lupa kejadian tadi siang?? Kamu melakukan apa dengan gadis ituuu!?"


"Aku tidak melakukan apapun padanya! Itu hanya kesalahpahaman! Tapi kamu?? Kamu memeluknya?? Siapa dia? Mantanmu??! Beginikah caramu lari dari masalah?? Dengan datang ke pria lain??!" Sigit meneriaki Muti.


Muti menutup telinganya ketakutan. "Cukuuuup!" Teriak Muti lalu berlari keluar dari tangga darurat itu, Sigit mencengkeram pergelangan tangannya kuat. "Aku mau kita batalkan pernikahan kita!" ucap Sigit kehilangan akal.


Deg. Jantung Muti serasa berhenti berdetak. Nafasnya tercekat di tenggorokan. "Aku akan bilang kepada Ayahmu dan kedua orang tuaku, bahwa kita tak akan menikah. Aku tidak bisa menikah dengan seorang wanita yang hobinya bergonta ganti pria"


Plak. Muti kembali menampar Sigit. "Aku tidak peduli lagi dengan itu! Silahkan! Silahkan bilang sama semuanya pernikahan kita batal!"


Muti berjalan meninggalkan Sigit dan masuk kembali ke apartemen Danang. Sigit memukul tembok berkali-kali hingga ruas jarinya berdarah.


Ia menelpon Ayah Indra. Memberitahukan bahwa ia tidak akan menikahi Muti. "Maaf Yah, Sigit tidak bisa menerima mandat itu. Sigit tidak bisa menikahi wanita yang hobinya gonta ganti pasangan. Assalamualaikum"


.


Telepon dari Sigit membuat Indra shock. Ditambah lagi dengan pernyataan Sigit yang menyalahkan Muti, berkata bahwa Muti bergonta ganti pasangan. Membuat hatinya sakit dan remuk mendengar anak semata wayangnya itu bersikap begitu.


Indra tak bisa membendung emosinya malam itu. Ia melemparkan vas bunga ke tembok. Dan ia memegang dada kirinya. Mendengar ada bunyi sesuatu yang pecah, ajudan Indra mencoba mencari tahu keadaan.


Saat sang ajudan masuk, dilihatnya sang Panglima sudah tak sadarkan diri dengan memegang dada sebelah kiri. Dengan cepat ia membawa Indra ke rumah sakit milik TNI. Ia dimasukkan ICU, dokter mendiagnosa bahwa Indra terkena stroke.


Ajudan itu menghubungi Bagas. Membuat Bagas dan Anin langsung bertolak ke Jakarta. Ajudan itu menghubungi Muti, tapi tak bisa. Ponsel Muti mati.


Hingga ajudan itu mengutus Komandan Kodim mencari tahu keberadaan Muti. Karena tak ditemukan di rumahnya, Komandan Kodim itu mencari di rumah Sigit. Kebetulan kakek Umang yang menerima tamu itu.

__ADS_1


Komandan Kodim menjelaskan maksud kedatangannya dan menceritakan berita yang terjadi. Ia menghubungi Sigit, tapi ponsel cucunya pun tak aktif. "Kemana mereka? Han, telpon Luna, tanyakan keberadaan mereka"


Hana segera menghubungi Luna dan memberitahukan bahwa keadaan genting sedang terjadi. Luna dan Danang menemui Muti di apartemen.


Danang melihat ponsel Muti hancur. Muti menangis sesenggukan di atas ranjang. Luna mencoba menenangkannya. Luna memberitahukan keadaan Ayah Muti kepadanya. Membuat Muti semakin bersedih.


"Aku harus pulang, aku gak mau Ayah kenapa-napa" ucapnya sambil menghapus air matanya. Luna dan Danang mencegahnya.


"Kita antar kamu ke Jakarta. Kamu tenang dulu, pulang dulu ke rumahmu, persiapkan yang perlu dibawa" Luna mencoba mengulur waktu. Dia menarik Danang agar lebih jauh dari posisi Muti.


"Tahan dia sampai aku berhasil bawa Sigit kemari. Ini pasti ada hubungannya dengan masalah mereka" Danang mengangguk. "Hati-hati Lun"


Luna tersenyum dan bergegas meninggalkan mereka. Danang bertanya kepada Muti, keperluan apa saja yang perlu ia bawa. Muti menggeleng. "Aku tak perlu apa-apa. Ayo sekarang kita berangkat ke Jakarta"


Danang mengangguk. "Tunggu Luna sebentar, ia sedang mengambil barangnya" Muti menurut apa kata Danang.


.


"Apa yang sedang kamu luapkan? Kamu tahu? Semua orang sedang mencarimu! Jadi cowok jangan lemah! Om Indra masuk rumah sakit. Muti memaksa pulang ke Jakarta. Apa ini ada hubungannya dengan masalah kalian?" tanya Luna.


Sigit kaget mendengar berita itu. "Kamu gak lagi bohong kan Lun?" Luna menggeleng. "Antarkan Muti, tanggung jawab atas perbuatanmu. Aku yakin kamu kehilangan akal sehatmu tadi"


Sigit segera berlari ke mobilnya meninggalkan Luna. Ia bergegas kembali ke apartemen Danang. Disana Danang sedang mencegah Muti untuk berangkat sendirian.


Sigit berdiri di depan Muti. Air mata Muti kembali tumpah. "Apa yang kamu katakan sama Ayah?? Kamu gak punya otak?? Jawab!"


Sigit gelagapan. Hatinya semakin hancur melihat calon istrinya menangis seperti itu. "Maafkan Mas, ayo masuk. Mas antar pulang ke Jakarta"


Muti menggeleng. "Gak sudi!" Sigit mengusap wajahnya kasar. Danang membuka pintu mobil Sigit. Dengan cepat Muti hendak kabur, tapi Sigit sudah menangkapnya dan menggendongnya seperti memanggul beras.


Setelah berhasil, ia segera masuk ke mobil dan melaju menuju Jakarta. Muti memilih diam tak bersuara. Ia melihat ke arah luar jendela. Sigit mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Mengejar waktu, berharap bisa bertemu dengan Indra. Dan meminta maaf atas kejadian yang ia sebabkan.


.

__ADS_1


Bagas dan Anin sudah sampai di rumah sakit. Ia meminta ajudan Indra untuk tak menerima tamu kecuali dari keluarga Indra. "Ada apa sebenarnya Ko?" tanya Bagas kepada Handoko, ajudan Indra.


Handoko menggeleng "Panggilan terakhir di ponselnya adalah dengan calon mantunya, yakni anakmu. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi ia sempat membanting vas bunga di meja kerjanya"


Bagas mengepalkan tangannya. Menahan emosinya. Anin menenangkan suaminya. "Kamu benar tidak tahu apa yang terjadi?" Selidik Bagas terhadap Anin.


Anin menghela nafasnya. "Aku hanya tahu tadi siang mereka tidak jadi fitting baju karena Muti marah melihat Sigit berduaan dengan Bella"


Bagas menggelengkan kepalanya. "Mau jadi playboy atau apa anakmu itu? Sudah tahu punya calon istri, malah berduaan dengan yang lain"


"Entahlah pah, kita tunggu kabar dari Ayah. Karena mamah dari tadi menghubungi Sigit ponselnya mati"


Dokter mengawasi pergerakan Indra, tak lama, Indra menunjukkan pergerakan. Jemarinya bergerak. "Huft, syukur alhamdulillah bapak sadar" kata dokter itu.


Ia memberitahukan kepada keluarga yang menunggu, mereka juga bersyukur seperti dokter itu. Bagas menyuruh Handoko mengantarkan istrinya ke rumah Indra, agar ia bisa beristirahat.


"Biar papah yang jaga disini mah. Mamah istirahat, besok pagi kita gantian jaga" Anin mengangguk setuju dengan suaminya.


"Ya sudah pah, mamah pulang dulu. Assalamualaikum" Anin menyalami suaminya. "Waalaikum salam" jawab Bagas.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2