
Sigit merebahkan dirinya di ranjang. Badannya lelah, ditambah dengan luka yang mulai menimbulkan rasa nyeri, membuatnya tak bisa terpejam.
"Aiiihhh, sakit sekali sekarang. Tadi sepertinya gak papa" Dia meraba perutnya dan tersenyum girang. "Ih, apaan sih? Cuma karena pegangan doang makanya dia peluk aku" Katanya pada diri sendiri.
Ponselnya berbunyi. Dari Ali. Dia segera meraih ponsel itu dan mengangkatnya. Ali menjelaskan bahwa pelaku yang menyerang Sigit dan Muti itu sudah membuntuti sejak mereka masuk ke Ungaran. Mereka terekam cctv yang ada di jalanan.
Mereka akan berhenti saat Sigit dan Muti juga berhenti entah itu di pom bensin atau masjid. Sayangnya, para pelaku yang sudah tertangkap itu masih diam membisu. Tak ingin membuka suara apa motif mereka melakukan penyerangan tadi.
"Mereka orang mana?" tanya Sigit.
Mereka dari wilayah yang sama. Bandarharjo. jawab Ali di seberang panggilan.
Sigit mulai mengambil pulpen dan buku. "Sebutkan satu per satu identitas mereka. Itu masuk wilayah polres ku"
Ali mulai membacakan satu per satu identitas para pelaku itu. Sigit mencatatnya. Saat itu ia ingat yang menyerangnya adalah 6 orang. Tapi identitas yang disebutkan Ali hanya 5 orang.
"Bentar, ini kenapa cuma 5 orang tok? Yang nyerang kami 6 orang lho Al" Kata Sigit heran dan menghitung lagi jumlah identitas itu. Ali menyebutkan kembali dan memang hanya 5 jumlahnya.
Itu artinya, ada 1 orang yang berhasil lolos alias kabur
"Hmm, betul. Aku minta tolong lakukan penyisiran dan kupas tuntas kasus ini. Aku rasa bukan begal. Motif kejahatan mereka pasti lebih dari sekedar itu. Mereka membuntuti kami, jika mereka begal mereka akan langsung menghabisi kami. Atau mereka akan melepaskan kami karena kami beberapa kali istirahat"
Aku setuju dengan analisamu. Pasti ini lebih dari sekedar begal. Oke, aku hanya ingin memberitahu itu dulu untuk sementara ini
"Baiklah, terima kasih ya Al, kabari aku perkembangannya"
Siap! 86 Ndan!
Panggilan berakhir. Sigit menjadi gusar karena salah satu dari penjahat yang menyerang mereka lolos 1. Dia memikirkan keselamatan Muti.
Dia meraih ponselnya kembali dan melakukan chat dengan Muti.
Me : Marmut
Marmut playgirl : Hmmm, kamu sudah sampai rumah?
Me : Syudah dooong, kamu belum tidur?
Marmut playgirl : Mau tidur si bapak komandan galak ngajakin chat an. Kenapa? Mulai kangen ya? Ya kan? Iya pasti, ngaku aja deeehhh 😜
Sigit tersenyum senang. Dia membalas Muti lagi.
__ADS_1
Me : Kalau mas ada libur lagi mau kencan lagi gak sama mas? 🤭😁
Marmut playgirl : 🤣🤣🤣. Sepertinya memang kamu mulai bucin sama aku. Iya kan??
Me : Gak, biasa aja. Ya kan namanya juga orang pendekatan
Marmut playgirl : Bukannya kita sama-sama gak ingin perjodohan ini terjadi? Tapi kenapa kita malah melakukan pendekatan ya mas?
Me : Iya juga ya? Ayo main jujur-jujuran. Kamu senang apa tidak pergi sama mas? Kalau aku ya, senang ngajak kamu kencan. Kamu orangnya asyik. Humble, gak ribet lah kalau diajak jalan
Marmut playgirl : Senang, aku senang pergi sama kamu. Dibalik sikap nyebelin kamu ternyata kamu orangnya perhatian
Me : Cie cie cie
Marmut playgirl : 🙈🙈
Me : Aku mau telpon seseorang dulu. Lagi pengen dengar suaranya. Dah marmuuuuut, bobok ya
Marmut playgirl : Hayo! Telpon siapa? Awas saja kalau cewek lain, aku aduin sama mamah kamu!
Sigit tertawa membaca chat terakhir dari Muti. Sepertinya ada rasa yang berbeda di hati Sigit. "Mungkinkah ini cinta?"
Sigit melakukan panggilan video kepada Muti. Tampak wajah kesal Muti mengangkat panggilan itu.
"Waalaikum salam, apa??!" jawab Muti judas. Sigit tertawa melihatnya.
"Galak amat sih? Pasti mikirnya aku nelpon cewek lain kan?" Muti mengangguk. "Ini lho orangnya, dia menggemaskan kalau lagi marah karena cemburu begini. Mas cuma pengen lihat wajah dan suara kamu"
Pipi Muti semerah kepiting rebus. Dia benar-benar senang mendengar Sigit mencarinya.
"Yang ngajarin kamu menggombal siapa mas? Dasar!" Sigit tertawa
"Beneran! Lukaku sakit nih" Sigit mulai merasakan nyeri lukanya kembali.
Muti menunjukkan wajah memelas kasihannya. "Mau diantar ke rumah sakit atau gimana mas? Tadi katanya gak sakit"
"Gak usah, nanti juga hilang sendiri kok sakitnya. Mmm, Mut, orang yang menyerang kita lolos 1. Aku khawatir sama kamu yang dirumah cuma sendirian. Aku takut kalau mereka menyerangmu" tutur Sigit.
Muti tersenyum. Sigit mengkhawatirkannya. Dia senang dengan segudang perhatian Sigit. "Terus maunya kamu?"
"Bagaimana jika aku suruh salah satu bodyguard andalan milik Luna untuk berjaga disekitaran rumahmu? Hanya berjaga. Dia tak akan membuatmu tak nyaman. Meskipun kamu bisa beladiri, tetap saja, aku khawatir"
__ADS_1
Muti tampak berpikir. "Ya sudahlah aku mau, hanya 1 orang saja ya. Dan hanya untuk berjaga"
Sigit mengangguk. "Iya, dia hanya akan berjaga. Ya sudah bobok gih, sudah bisa tidur nih aku kalau begini"
Muti mengangguk. Mereka mengakhiri panggilan video itu dan memejamkan mata. Masuk ke dimensi mimpi mereka masing-masing.
.
Sedang di tempat lain, seseorang datang dengan perasaan takut. Seorang laki-laki melemparkan gelas kepadanya. Dia marah. Sebut saja dia Tuan Muda.
"Maaf tuan muda, kami gagal" ucap pria yang masih menggunakan masker itu. "Tapi kami berhasil melukai yang laki-laki"
Tuan muda itu maju menghampirinya dan menonjoknya. "Bangun kamu! Kalian melawan 2 orang saja gagal? Hahahahahahaha. Dasar bajingan bodoh!"
Pria itu berdiri lagi. Tuan muda mengitarinya. "Kamu memang tak bisa diandalkan" Tuan muda menodongkan pistol ke kepala pria itu. Membuat pria itu semakin ketakutan.
"Ampun tuan, saya berjanji akan membawakan mayat kedua orang itu ke hdapan tuan jika masih diberi kesempatan" Tuan muda tertawa mendengarnya. Ya, si tuan muda tak akan memberikan kesempatan lagi bagi mereka yang gagal melakukan tugasnta.
Dor. Satu peluru panas melesat menembus pelipis pria itu. Membuatnya tak bernyawa seketika. "Buang mayatnya, aku tak mau dia membuat kita diselidiki para seragam coklat itu. Pastikan yang di penjara juga mati seperti mereka" kata tuan muda kepada salah satu pria yang ada disana.
"Tapi kak, bukankah ini keterlaluan?" jawab pria itu.
Tuan muda menodongkan pistol ke arah pria itu. "Jangan menyebutku kakak jika kamu belum berhasil melaksanakan tugas yang aku berikan padamu!"
Pria itu ketakutan. "Oke, tenanglah, aku akan melakukan keinginanmu"
Tuan muda itu pergi dari sana. Pria yang tadi dibunuh di buang ke dalam hutan. Ditimbun dengan gurukan tanah. Berharap semoga mayat itu segera mengurai bersama tanah dan tak meninggalkan jejak perbuatan biadab itu.
"Berikan racun di makanan para tahanan itu. Aku tak mau tahu bagaimana caranya, tapi lakukan dengan hati-hati dan jangan sampai gagal" perintah pria yang memanggil tuan muda dengan sebutan kak itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Maaf ya, kemarin gak up. Othor sibuuuuk