Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 37


__ADS_3

Sigit mencari keberadaan Muti. Pikirannya kalut. Tak bisa berpikir lagi. Ia menghubungi ponsel Muti, tersambung tapi tak diangkat. Ia mencobanya lagi dan sekarang sudah tak aktif. "Ya Allah marmuuut, kamu dimana sayaaaang, mas khawatiiiir"


Sigit mencengkeram kuat setir mobil dan berteriak dengan keras dalam mobil itu. "Aaaaaarrrrrrgggggghhhhhhh, Bella sialan!"


Sedang di dalam apartemen Danang, Muti membaringkan dirinya di sofa dan menangis. Ia melempar ponselnya ke tembok hingga hancur berantakan.


"Dasar kadal buaya biawak!!! Dia yang nuduh dan curiga kepadaku, dia sendiri yang berselingkuh dengan si Belek!! Gak punya moral!! Di kantor lagi!! Huhuhuhu hiksss huhuhu. Sigit jahaaaaaatttt!!!


Ya Allah, kenapa rasanya sakit banget siiih? Apa ini karma untukku yang selalu saja mempermainkan hati lelaki?? Sesakit ini?? Huhuhuhu, Ayaaaahhhh, aku kangen Ayaaaah. Hanya Ayah satu-satunya lelaki yang tulus sayang sama aku"


.


Luna menerima kabar dari orang suruhan Ayahnya, bahwa Ali dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, kemarin Ali mengalami penyerangan oleh dua orang bertubuh kekar. Kaca di rumahnya dipecahkan oleh orang tak dikenal. Lebih tepatnya ia mengalami teror. Ponselnya pun dicuri oleh orang. Hingga ia tak bisa menghubungi siapapun.


"Pakdhe masih di polsek?" tanya Luna terhadap bodyguard itu.


Ya, aku masih disini. Kamu ingin bicara dengan Ali?


"Ya pakdhe, tolong berikan ponsel pakdhe kepadanya" Luna menunggu sesaat.


Assalamualaikum


"Waalaikum salam, mas Ali beneran gak papa? Kok bisa diserang sih maaas?"


Heheheh, aku gak papa, cuma ponselku hilang. Makanya aku kirim surat berserta analisa palsu itu. Oh ya, catatlah nomorku yang baru. Nomorku yang kemarin sudah kusuruh blokir oleh orang jaringannya.


"Oke, sebutkanlah. Akan aku catat" Luna mendengarkan dan mencatat di ponselnya. "Oke sudah aku simpan. Sigit lagi gak ada di tempat. Lagi memperjuangkan cintanya. Biasalah. Oke mas Ali, baik-baik disana"


Luna mengakhiri panggilannya. Dia agak lega setelah mendengar kabar dari Ali. Dia menghubungi Sigit, tapi tak diangkat. "Kemana ini bocah? Apa belum ketemu si marmut? Tau ah, mending menyelesaikan laporan"


Luna berkutat dengan dokumen di depannya. Sigit berjalan lesu ke arahnya. Dan mengembalikan kunci mobil Luna. "Belum ketemu?" tanya Luna melihat raut wajah Sigit yang sangat lesu itu.


Sigit hanya menggeleng. Ia menyunggi kepalanya dengan satu tangan. "Di kantor tidak ada, di rumah tidak ada, aku tanya Jihan dia tak tahu. Kemana dia? Mamah menelpon, orang butik menunggu kami. Aku cerita kejadiannya malah aku yang dimarahi"


Luna menghentikan aktivitasnya memeriksa dokumen itu. "Sebenarnya tadi gimana sih Si?"


"Bella mengambil paksa ponselku, lalu aku ingin mengambilnya, dia malah menarik bajuku hingga lepas nih kancingnya. Aku jatuh pada posisi begitu. Pas kalian masuk. Udah itu. Ancur sudaaah. Mana aku gak tahu dia bakal semarah ini lagi. Biasanya kalau marah bukan perkara begini, tinggal datang, ngomong baik-baik juga udaaah selesai. Ini kok sampai kabur-kaburan begini"


Luna mendengarkan penjelasan Sigit dengan seksama. "Cctv mu pas mati lagi, jadi gak bisa deh nunjukin bukti ke Muti. Oh ya, aku menemukan barang itu, ditempel di lensa cctvmu. Makanya kita cari gak ketemu. Sudah aku buang juga. Kira-kira dia kemana ya?"

__ADS_1


Mereka diam tak tahu harus menjawab apa. Pikiran mereka tak bisa fokus untuk mencari tahu keberadaan Muti. "Aku kembali ke ruanganku saja lah. Nanti pulang antarkan aku ke rumahnya, ambil mobil dulu. Nanti malam operasi lagi?"


Luna mengangguk. "Ambil wudhu sanaa, biar gak kusut seperti itu. Siapa tahu nanti dapat petunjuk. Atau kamu mau aku lacak mobil dan ponsel Muti?"


Sigit menggeleng. "Dia meninggalkan mobilnya di kantor. Ponselnya sudah tidak aktif lagi"


"Koordinat terakhirnya?"


"Mbuh Lun, aku wes pusing" Sigit melenggang pergi meninggalkan ruangan Luna. "Orang kalau bucin apa begitu ya? Ruwet banget sih Si. Hhhmm, mbuh ah"


Luna kembali berkutat dengan dokumen di depannya.


.


Malam menjelang, operasi digelar kembali. Operasi bar dilakukan mendadak untuk mengetahui ada atau tidaknya penyelewengan lagi. Bar milik Danang menjadi tempat operasi malam ini.


Sigit membawa surat jalan itu dan menunjukkanya kepada Danang. Sedangkan yang lainnya berpencar. Seperti biasa, bar milik Danang minim pelanggaran.


Danang tak ingin lagi kecolongam seperti yang lalu. Ia juga ingin bisnisnya ini berjalan dengan bersih. Luna menghampirinya dan memberikan hasil pemeriksaan itu.


"Terus seperti ini, biar gak ada pelanggaran" kata Luna. Danang tersenyum "Oooww, aku kalau ada pelanggaran senaaang, kan ketemu kamu lagi"


Luna tertawa. "Gombal!"


Luna mengingat jadwalnya. "Kenapa?"


"Jalan yuk!"


Luna menahan tawanya. "Kamu ngajak aku kencan?" Danang mengangguk. "Kemana?"


"Taman KB. Jajan cilok, jajan roti bakar, jagung bakar. Mau kan?"


Luna mengangguk. "Boleh, kamu yang bayarin lho ya"


"Yes! Iya lah aku yang bayarin. Kan aku yang ngajak pergi Lun" Luna tertawa. "Ya sudah, aku pamit dulu"


Danang mengangguk. "Hati-hati. Nanti aku chat" Luna mengangguk dan melempar senyum ke arah Danang. Sigit masuk ke ruangan Danang. "Eh, ngapain Si?"


Sigit tak menanggapi pertanyaan Luna. "Muti ada di apartemen kamu?"

__ADS_1


Danang mengangguk. "Iya, tadi siang dia bilang pusing. Mau pulang ke rumah kejauhan, makanya minta kunci apartemen aku. Kenapa mas Sigit?"


Sigit menghela nafasnya lega. Dia mengikuti saran Luna untuk mencari koordinat terakhir ponsel Muti berada. Ia meminta bantuan om Tompel untuk mengetahui pemilik apartemen itu. Dan ternyata adalah Danang.


"Kenapa aku gak kepikiran kalau dia kabur ke tempatmu? Syukurlah kalau dia disana. Aku akan menjemputnya. Sebenarnya dia ada sedikit salah pahan denganku" Danang mengangguk.


"Tolong antarkan Luna pulang, dia juga belum makan" Sigit berlalu meninggalkan Luna yang melotot. Danang tersenyum.


"Kenapa gak bilang sih kalau belum makan? Ha? Duduk sini, sebentar lagi aku pulang, aku pesankan makanan dari kafe dulu" Danang keluar menuju kafe.


"Gak usaah"


"Gak usah nolak! Duduk sana" Danang menutup pintu ruangannya. Luna kembali duduk di kursi tamu.


.


Sigit sudah berada di kawasan apartemen Danang. Dia mencari apartemen Danang. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, matanya membaca nomor yang tertera di tengah pintu.


"53, 52, 54,.... berarti 57 di ujung sana" gumamnya pada diri sendiri. Matanya tertuju pada dua orang yang sedang berpelukan di ujung lorong dekat dengan lift itu.


Ia seperti mengenali sosok sang perempuan. Pacu jantungnya menjadi tak karuan. Tangannya dingin, tapi hatinya perih dan panas.


Deg deg deg deg deg deg deg


Matanya menangkap sosok itu. Sang calon istri sedang memeluk pria lain. Langkahnya terhenti. Dia tersenyum kecut menyaksikan adegan itu. Tangannya bertepuk tangan.


Muti sedang bersama Humam. Pria itu memakai pakaian serba hitam dan bermasker. Membuat Sigit sulit mengenalinya. Humam melepaskan pelukan itu dan meninggalkan Muti lewat tangga darurat.


Sigit mencegah pria itu. Pikirnya mereka sedang selingkuh dan perlu diadili. Muti hanya diam mematung tak tahu harus berbuat apa.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2