
"Kamu resign saja dari kantormu. Mas gak suka cara Galang natap kamu. Risih!" Sigit sudah uring-uringan di dalam mobil sambil menyetir.
Muti kaget bukan main. "Ada apa sih? Coba tenang dulu sayang, aku PNS yank, gak gampang main resign begitu. Kamu tahu sendiri kan?"
"Si Galang itu masih mencintai kamu yank! Dia masih mendambakanmu!" Muti menautkan alisnya bingung dengan perkataan suaminya.
"Kamu anak indihom ya? Kok bisa nebak-nebak begitu?" Muti mencoba mencairkan suasana.
"Indigo! Indihom! Kamu kira mau pasang wifi?? Hish jangan bercanda! Mas lagi serius ini.... Heran aku ada laki model begitu. Selesai ya selesai! Masih aja mengharapkan istri orang!"
Muti paham jika suaminya sedang cemburu. Ia bingung harus berbuat apa. "Memang tadi pak Galang kenapa sih mas? Coba bicara pelan-pelan jangan pakai emosi. Karena kalau kamu minta aku untuk resign urusannya panjang dan belibet mas"
Sigit menghela nafasnya. Muti memberikan air untuknya. Meminumnya sampai habis. "Gini ya yank, dari awal mas datang tadi, dia itu curi-curi pandang ke kamu. Tatapannya tuh beda, tatapan orang yang mendambakan kamu. Terlihat jelas itu di matanya. Risih mas melihatnya menatap kamu seperti itu"
Muti manggut-manggut. "Kamu sedang cemburu sayang?"
"Jelas lah!" Muti tersenyum. "Atau kalau memang resign berat, pindah tugas deh. Nanti mas minta bantuan Ayah biar itu orang dipindah tugaskan dari kota ini! Gak jera sama omonganku yang pertama, eh ini diulangi lagi! Dasar Galang sinting! Bisa ya Jihan jatuh cinta sama orang kayak gitu!"
Muti mengusap-usap lengan Sigit. "Sabar, terserah kamu kalau mau minta bantuan dari Ayah. Tapi, kok malah terkesan kita manja dan gak bisa menyelesaikan urusan rumah tangga kita sendiri ya mas?" Sigit mencerna kata-kata Muti. Ia berpikir kembali tentang niatannya itu. Memang benar yang dikatakan Muti.
__ADS_1
"Iya juga ya? Tapi, gimana dong? Sumpah mas gak rela kamu dipandang-pandangi sama si kampret itu!"
"Sabar mas, aku sudah sebisa mungkin menghindari dia lho ya? Sekarang gini deh, misal aku pindah tugas, apa gak bakalan mungkin ada yang godain aku lagi? Secara istri kamu ini kan cantik.... Heheheh"
Sigit tersenyum tipis mendengarnya. "Pede amat!"
"Ooo.... itu artinya aku gak cantik? Hmmmm??" Muti berkacak pinggang kepada suaminya.
"Bukan gitu, cantik lah, masa gak cantik. Cantik banget malah. Buktinya banyak yang nglirak nglirik. Ya sudah lah, biarkan saja untuk sekarang. Jangan pernah kamu temui dia sendirian. Ajak Jihan atau yang lain"
"Nggih Komandan galak ku" Sigit tersenyum. Mereka telah sampai di depan rumah. Segera turun dan masuk ke dalam rumah.
"Mau masak lah, lapar. Tadi gak jadi makan"
Sigit menarik tangan istrinya, menyuruhnya duduk. "Biar mas yang masak. Kamu capek kan?" Muti tersenyum. Ia menangkup wajah suaminya. "Makasih cinta...."
"Sama-sama" Sigit mengambil bahan paling simpel. Jamur, ayam, telur, dan daun bawang. Ia mulai mencuci semua bahan itu. Memotongnya kecil-kecil, lalu menumisnya bersama irisan bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Menambahkan sedikit garam dan gula. Menambahkan air kecap manis dan saus tiram. Menunggu hingga matang dan siap dihidangkan.
"Cepat sekali" kata Muti tak sabar untuk segera melahapnya. Sigit tersenyum. "Ayo makan"
__ADS_1
Mereka makan dengan nikmat. Di sela-sela makan itu, Sigit berbicara pada Muti. "Pokoknya mas gak rela kamu dilihati. melulu sama itu orang"
Muti menelan makanannya. "Itu lagi yang dibahas. Iya mas iya. Kalau perlu laporan aku biar aku titipkan saja ke Jihan. Begitu kan maunya kamu?"
"Setuju!"
Muti gelng kepala melihat tingkah suaminya jika sedang cemburu. Persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. "Dasar bucin!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip