
Muti dan Sigit sama-sama diam dalam mobil. Sigit mencoba mencairkan suasana. Ia memutar lagu yang ada di flasdisk miliknya. Lagu yang tepat mewakili perasaan mereka. Judika, putus atau terus. Muti berdecak mendengar lagu itu. Akhirnya Sigit mematikannya.
"Ehm, kamu sudah makan?" tanya Sigit. Muti memejamkan matanya. Sigit mencoba menahan emosinya. "Makan dulu mau gak?"
Muti masih tak menjawab. Air matanya mengalir begitu saja. Sigit menoleh sebentar ke arahnya. Hatinya sakit melihat air mata Muti. Tapi ia juga sakit mengingat kejadian tadi.
Kenapa perih banget siih? Ya Allah, apa yang sudah aku lalukan kepadanya? Please jangan nangis lagi marmutkuu, ingin menghapus air matanya, tapi takut dia makin marah. Batin Sigit dalam hati.
Akhirnya ia tak jadi makan. Ia hanya berhenti di pom bensin, itu pun hanya untuk mengisi bensin. Perjalanan dari Semarang hingga Jakarta biasanya memakan waktu 8 jam. Tapi, Sigit bisa memangkasnya menjadi 6 jam.
Tepat pukul 4 mereka tiba di rumah sakit. Muti terlelap. Sigit membangunkannya. Tapi seperti biasa, Muti susah untuk dibangunkan. Akhirnya Sigit menggendong Muti. Mereka menjadi pusat perhatian.
Seorang perawat mengira Muti kenapa-napa. Sigit menuju tempat pendaftaran. "Pasiennya dibawa ke IGD dulu gak papa pak" kata perawat itu. Membuat Sigit kebingungan.
"Ha?" jawabnya. "Ha?" perawat itu ganti menjawab Sigit. "Lhah, kok malah Ha ha ha ki piye sih mbak? Ini, saya mau tanya, ruangan pasien atas nama Indrajaya dimana ya?"
"Itu istrinya dibawa ke IGD dulu pak, biar dapat penanganan"
Sigit melihat ke arah Muti. "Oh, dia gak papa mbak, dia kecapekan gak tega banguninnya makanya saya gendong"
"Oohh" kata perawat itu mengangguk. "Jadi?" tanya Sigit lagi.
"Ha?" jawab perawat itu lagi. "Kok Ha lagi sih mbak? Saya kan tanya, ruangan pak Indrajaya sebelah mana?"
"Ooh, sebentar saya carikan dulu" perawat itu mengetik nama Indrajaya. Lalu keluar daftar resum medisnya. "Pasien atas nama Indrajaya ada di ruang ICU, bed nomor 3"
"Oke terima kasih" Sigit segera menuju ICU berbekal arah yang ditempel di tembok. Ia melihat seseorang sedang tertidur di kursi tunggu. Handoko mendengar langkah kaki mendekat. Matanya segera terbuka.
"Oh, Sigit dan Muti to? Saya Handoko, ajudannya bapak. Ini Muti pasti gak bisa dibangunkan ya?" tanya Handoko.
Sigit mengangguk. "Iya om, saya titip Muti sebentar om, mau ke kamar mandi dulu" Handoko mengangguk. Sigit segera mencari toilet. Sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
Bagas keluar karena subuh sebentar lagi berkumandang. Ia melihat Muti terbaring. "Dia sama Sigit. Anakmu lagi di toilet" Bagas mengangguk. Muti menggeliat dan jatuh terjerembab.
Matanya terbuka dan dilihatnya Bagas dan Handoko menahan tawa akibat ulahnya. "Eh, sudah sampai sini ternyata. Ayah gimana om?" tanya Muti kepada Handoko.
Sigit kembali. Handoko menjelaskan kejadian yang ia lihat. "Apa yang kamu katakan sehingga calon mertuamu menjadi seperti ini?" tanya Bagas mencoba menstabilkan emosinya.
Sigit tertunduk. Takut terjadi apa-apa dengan Indra. "Maaf pah, Sigit kehilangan kendali. Sigit menelpon Ayah Indra dan mengatakan bahwa Sigit dan Muti tidak bisa menikah karena Muti suka bergonta ganti pasangan"
Bagas mengepalkan tangannya dan... plak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Muti tak percaya dengan yang dilihatnya.
Ia merasakan sakit saat Sigit dipukul seperti itu. Handoko menengahi Bagas dan Sigit. "Tahan emosimu, ini rumah sakit. Tenanglah. Ini pasti hanya kesalahpahaman"
"Lepaskan aku Ko, dia perlu diberi pelajaran agar sadar! Kamu ini keterlaluan! Kamu hampir menghilangkan nyawa seseorang!" Bentak Bagas kepada Sigit.
"Pelankan suaramuuu, ini ICU" Handoko mengingatkan Bagas. "Kalian, masuklah sebentar, jenguk Ayah kalian. Aku akan menenangkan papah kalian" Adzan sudah menandakan iqomah, Bagas berlalu ke musholla rumah sakit. Handoko memberikan sajadah serta mukena yang ia pinjam dari salah satu perawat kepada Muti dan Sigit.
"Kalian sholat disini, jaga papah kalian sebentar. Kami mau jama'ah di musholla. Sigit dan Muti mengangguk. Mereka masuk dan melihat keadaan Indra. Sigit merasa sesak melihat keadaan itu. Tak menyangka akibat ucapannya membuat Indra sampai masuk ICU. Sigit mengambil wudhu, Muti mengikutinya. Mereka sholat berjamaah bersama.
.
Sedang di luar sana, Anin baru saja tiba di rumah sakit. Ia membawakan makanan untuk suaminya dan Handoko. "Sigit dan Muti sudah datang. Mereka sedang menemui bang Indra. Anakmu itu keterlaluan, dia bilang sama bang Indra kalau dia dan Muti tidak bisa menikah karena Muti bergonta ganti pasangan"
Anin mencerna setiap penuturan Bagas. "Apa Muti masih jadi playgirl Pah?" Bagas menggeleng. "Entahlah, Papah juga gak tahu. Papah hilang kendali dan memukul Sigit"
Anin kesal dengan pernyataan Bagas barusan. Bagas tak pernah kasar pada anaknya. Tapi baru ini, baru kali ini ia menyakiti anaknya. "Kok Papah tega sih?"
"Papah emosi Mah, sudah lah. Suruh mereka pulang, kamu juga pulang. Biar Handoko yang menjaga disini sebentar. Papah ingin mendengar penjelasan mereka. Katamu Sigit yang main perempuan. Ini Sigit bilang berbeda. Semuanya harus diluruskan" Anin mengangguk dan memanggil Muti dan Sigit.
"Ko, titip bang Indra sebentar. Aku perlu meluruskan sesuatu sama anak-anak" kata Bagas. Handoko mengangguk.
.
__ADS_1
Di ruang ICU, Sigit dan Muti melihat Indra perlahan membuka mata. "Ayaaahhh.... Ayah, Ayah bisa dengar suara Muti? Ini Muti Yah...."
Muti mendekatkan wajahnya pada wajah Ayahnya. Sigit memencet bel agar dokter datang. Anin yang melintas hendak ke kamar Indra melihat dokter dan perawat berlari.
Ia takut sesuatu terjadi pada Indra. Ia berlari. Sigit dan Muti dipersilahkan keluar oleh perawat. Dokter memeriksa keadaan Indra. Anin menghampiri mereka.
"Ada apa nak?" tanya Anin khawatir. Muti menangis dan memeluk Anin. "Ayah sudah sadar Mah, huhuhu, hiks, Muti takuuutt... Muti takut kalau gak bisa ketemu Ayah lagi..... hikss huhuhuhu"
Anin membelai rambut Muti. "Tenang ya sayaaang, Ayah gak papa kok. Sekarang kita pulang dulu, Papah mau bicara sama kalian"
"Tapi Ayah, Mah...."
"Ayah dijaga sama om Handoko. Bisa-bisa Ayah ngedrop lagi lihat putrinya nangis begini. Yuk pulang dulu, kalian pasti belum mandi dan sarapan kan?" Mereka menggeleng. "Ya sudah, sekarang pulang dulu"
Mereka akhirnya pulang ke kediaman Indra. Mereka satu mobil. Bagas di depan bersama putranya. "Muti, minta izin beberapa hari dari kantor. Kamu juga Git, Papah sama Mamah gak bisa lama di Jakarta, besok kami harus sudah berada di Bandung untuk acara pelepasan prajurit yang akan Satgas di Papua"
"Muti nanti telpon kantor saja Pah, ponsel Muti rusak" kata Muti.
"Rusak kenapa?" tanya Anin
"Nyium tembok gara-gara ada cowok nelponin bikin telinga Muti pengang Mah!" ucap Muti sambil melirik tajam ke Sigit.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip