
Luna membawakan berkas keinginan Sigit. Sigit memeriksanya satu per satu. "Dilimpahkan ke polda?" tanya Sigit. Luna mengangguk.
"Kapolda yang minta. Kita bisa apa? Ya sudah lah. Si, aku mau curhat. Tapi janji jangan bilang siapapun ya?" kata Luna lesu. Sigit mengangguk dan mulai memasang wajah serius.
"Aku.... aku ngerasa ada yang aneh sama Danang. Gak tahu kenapa, tiap dia di dekatku bawaannya tuh meloww..... terus. Sediiihhhh.... terus. Aku tanya jawabannya gak papa terus. Kemarin pas pulang dari Ambarawa, dia tuh minta maaf ke aku, tapi posisi aku waktu itu lagi pura-pura tidur" terang Luna. Sigit mencoba mencerna kata per kata cerita Luna.
"Memang dia ada salah sama kamu? Sampai harus minta maaf?" tanya Sigit terfokus pada kalimat Luna yang itu. Luna menggeleng.
"Aneh kan Si? Aku juga merasa aneh akan hal itu. Janggal banget, orang gak ada salah, dan gak ada masalah kok ujug-ujug mak bedunduk minta maaf"
Sigit mengangguk paham. "Kita coba cari tahu Lun"
"Masalahnya, kalau aku minta bodyguard Ayah menyelidiki Danang, pasti Ayah akan tahu duluan Si"
Sigit memutar otaknya untuk membantu Luna memecahkan masalahnya. "Kita selidiki sendiri Lun, kita harus sering-sering main ke bar nya. Ya.... pikiran aku, mungkin gak sih Danang selingkuh Lun? Masih kemungkinan lho. Jangan sedih"
Luna diam dan berpikir. Pasalnya, ia terlalu lama bersikap dingin terhadap Danang. Mungkin Danang memiliki gebetan baru? Pikirnya. "Oke, aku setuju. Lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Kita datang ke barnya, sadap ruangan yang biasa Danang gunakan untuk menerima tamu, misalnya keluarga, tamu, investor, atau apapin itu. Kita butuh informasi dari sana. Usahakan penyadap kita bisa dengan jelas memberikan kita informasi. Pantau sampai kita menemukan titik terang dari sikap aneh Danang. Muti perlu tahu ya? Soalnya kan ini masalah sepupunya. Siapa tahu dia bisa membantu"
Luna mengangguk setuju. "Kapan kita mulai? Kita gak bisa tiap malam nongkrong disana Si, jadwal kita padat"
"Suruh om Tompel memata-matai Danang. Muti akan aku suruh ke rumah kakek untuk sementara waktu. Hanya ini yang bisa lakukan. Semoga ada jalan keluar Lun. Aku kira hubungan kalian adem ayem, enak seperti kami dan Hana. Maaf ya Lun, aku gak tahu kalau kamu lagi bimbang" Luna tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah, makasih atas solusinya Si, aku balik ke ruangan dulu" Sigit mengangguk.
.
"Tuan, adik anda sudah tiada. Tangan kanan anda juga tertangkap. Lalu apa strategi anda selanjutnya?" tanya seorang pengawal kepada orang yang disebutnya tuan muda.
Sang tuan muda memejamkan matanya. "Apa tidak ada yang bisa kamu pikirkan?? Cari cara agar Mia bisa bebas. Biarkan Humam mendekam di penjara. Aku lebih butuh Mia sekarang. Dia akan banyak membantu kita untuk bisnis ini"
__ADS_1
Pengawal itu membungkukkan badannya. "Baik tuan. Akan segera saya laksanakan, butuh waktu yang lama karena saya dengar, kasus mereka ditangani sendiri oleh Polda"
Tuan Muda berputar-putar di kursinya sambil masih terpejam. Ia semakin memutar-mutar kursi itu dan membuatnya jatuh ambruk. Pengawal itu menahan tawanya. Sang tuan muda malu bukan main.
"Tertawa aku gorok kamu! Ganti kursi itu dengan yang lebih mahal dan canggih!" Lalu tuan muda itu pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal bercampur malu.
.
Ali melakukan patroli bersama Bima menyusuri jalanan kota Semarang. "Bang, Luna sudah punya kekasih belum?"
Ali menautkan alisnya. "Kenapa? Kamu suka sama Luna? Mendingan lupain deh, dia akan segera menikah dengan kekasihnya" jelas Ali membuat kecewa Bima.
"Belum juga dekat bang, sudah patah hati saja aku. Hahahah" Ali tertawa mendengarnya. "Cari yang lainnya saja lah Bim, itu sih saran aku. Kalau kamu gak ingin sakit hati"
"Iya ah, gampang itu mah" tak terasa waktu patroli usai. Jam makan siang pun menjelang. Ali memutuskan langsung menemui Hana di rumah sakit. "Lu balik sendiri ke polres deh, gue mau nemuin calon bini" kata Ali tersenyum senang sambil menaik turunkan alisnya.
"Siap! Nanti pulang ke polresnya gimana bang?"
Ali nyengir senang kepada Bima. Membuat Bima hanya geleng-geleng kepala dan pergi meninggalkan Ali di RST.
Ali bertanya kepada satpam rumah sakit dimana letak poli paru. Satpam itu memberikan arahan kepada Ali. "Terima kasih pak" Ali berjalan menuju poli paru. Dilihatnya masih ada 5 orang pasien yang menunggu disana. Akhirnya ia memesan makanan terlebih dahulu lewat aplikasi.
Tak lama makanan pesanan Ali pun datang. Kurir itu mengantarkan langsung ke poli paru sesuai pesanan Ali. Tinggal 1 pasien. Asisten Hana bernama Jenna mendatangi Ali. Menanyakan apakah sudah mendaftar atau belum.
"Saya.... calon suaminya dokter Hana mbak" jelas Ali tampak malu-malu. "Oh, maaf pak, saya tidak tahu. Biar saya beri tahu dokter Hana"
"Eh jangan-jangan mbak, saya mau memberi kejutan sama dokter Hana. Biar nanti saya masuk sendiri. Oh ya, ini makanan untuk mbak nya"
Jenna menerima makanan itu dan berterima kasih kepada Ali. Pasien terakhir keluar. Jenna berpura-pura bilang kepada dokter Hana bahwa dirinya akan ke kantin. Hana yang masih menyelesaikan status pasien hanya mengangguk.
Pintu diketuk. tok tok tok. Hana masih sibuk dengan tulisannya. Mengira bahwa Jenna yang masuk. "Kenapa Jen? Ada yang kelupaan?" tanya Hana tanpa melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Assalamualaikum dek" Seketika Hana mendongak melihat Ali di depannya. Sungguh senang dia. "Abang?? Kok bisa disini?? Abang gak kerja?" cerocos Hana senang.
Ali tersenyum. "Abang gak disuruh duduk nih?" Hana mengangguk. "Duduk bang" Ali meletakkan makanan itu di meja Hana.
"Makan siang bareng yuk dek. Abang.... kangen sama kamu" kata Ali malu. Hana pun tersipu malu karena ucapan Ali.
"Abang gak kerja?" tanya Hana.
"Kerja dek, abang dipindah tugaskan kesini. Semalam, surat tugas itu turun dan Abang tadi malam langsung beberes. Abang belum dapat kontrakan nih. Rumah dinas ada yang kosong satu, tapi nunggu penghuninya keluar dulu dari sana"
"Nanti malam abang tidur mana?" tanya Hana khawatir. Ali tersenyum. "Tidur hatimu boleh?" goda Ali membuat Hana menutup wajahnya dengan tangan.
"Abang ih! jangan gombal dong"
"Hahahah, kok gombal sih? Sekarang abang tanya, Abang calon suami adek bukan?" Hana mengangguk. "Terus tempat Abang dimana? Di hatimu atau yang lain?"
Hana mengangguk. "Abang bukan hanya di hati Adek, Abang juga ada di pikiran Adek" jawab Hana membalas gombalan Ali. Membungkam Ali. Mereka saling lempar senyum.
"Yuk lah makan, lapar nih" kata Ali kemudian membuka makanan itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip