
Pagi itu Sigit, Ali, dan Bima langsung menuju Polda. Mereka akan ikut rombongan mengantarkan para tahanan itu menuju rumah baru mereka.
Tapi, sebelumnya mereka harus mengikuti apel pagi terlebih dahulu di Polres. Mereka juga harus mengkoordinasikan tugas mereka pada rekan-rekan mereka.
"Lun, kerjaan yang ini sudah ku tanda tangani. Serahkan ke Kapolres untuk acc akhir. Paham?" perintah Sigit kepada Luna. Ia mengangguk.
"Kalian hati-hati. Jangan lengah" pesan Luna pada rekan-rekannya itu. Mereka mengangguk.
"Itu pesan buat kami, atau cuma buat mas Bima Lun?" goda Ali kepada Luna. Bima melenggang pergi meninggalkan mereka. "Jangankan khawatir bang, dia nanya aku dimana saja gak pernah. Hmm, ternyata capek berjuang tapi hanya dianggap teman"
Luna dan yang lainnya diam membisu. "Tanggung jawab Lun, dia sakit hati noh" kata Sigit. Luna menghela nafasnya. Ia mengejar Bima.
"Mas, Mas Bim, tunggu dong! Kenapa sih? Ha? Kayak anak kecil banget sih!" kata Luna sewot akan sikap Bima. Bima tersenyum kecut mendengarnya.
"Siapa yang kayak anak kecil? Aku? Bukan kebalik? Yang seperti anak kecil itu kamu! Kenapa? Mau nyangkal kalau masih punya perasaan sama Danang? Kalian itu sama-sama bodoh atau sama-sama seperti anak kecil? Kenapa gak duduk berdua tanya hati kalian masing-masing maunya gimana? Yang satu mendam rasa, yang satu hilang entah dimana.
__ADS_1
Aku juga capek Lun, berjuang tapi tak dianggap. Sakit Lun, selalu memberi perhatian tapi tak terbalas. Aku juga bisa marah Lun, karena ada tapi tak dihargai. Hmm, oke, kamu memang sudah menolakku, aku sadar itu. Tapi, aku pikir aku ingin berjuang. Tapi, hari ini aku sadar, bahwa perasaanmu itu memang bukan untukku, perasaanmu masih sama seperti yang dulu. Maaf kalau menyinggungmu. Permisi" Bima hendak meninggalkan Luna, tapi tangannya dicekal.
"Maaf membuatmu kecewa. Tapi,.... hati itu tak bisa dipaksakan Bim, aku hanya menganggapmu sebatas teman. Tidak lebih. Maaf jika itu membuatmu sakit. Tapi, inilah resiko jika kamu jatuh cinta. Itu akan membuatmu lemah. Maaf kalau aku ada salah terhadapmu" Luna mengharapkan permohonan maafnya diterima Bima. Mereka saling diam dan bertatapan.
Bima melihat dalam netra coklat itu. Nampak jelas di dalam sana, tak ada rasa cinta yang terpancar. Ia pasrah, ia menghela nafasnya. Meraih tangan Luna dan mengelusnya. "Maaf berkata seperti itu. Lupakan semuanya. Bisa kita berteman?"
Luna mengulas senyum tulusnya. "Tanpa kamu minta, kita ini tetap teman Bim. Carilah wanita yang bisa mencintaimu, tapi itu bukan aku. Aku masih tak ingin membuka pintu hati ini"
"Iya! itu karena kamu masih cinta dan sayang sama Danang. Temui dia, ajak ngobrol. Stop sakiti hatimu Lun" Bima mengacak-acak rambut Luna. "Ya sudah, aku mau ambil perlengkapan dulu. Dah...." Bima melenggang pergi meninggalkan Luna dan hilang dibalik belokan depan.
"Hmmm, sudah Bim, sudah, dia tak mencintaimu. Sampai kapanpun. Mending lupain dan cari yang mau menerima kamu" Kata Bima sambil bersandar di tembok.
Di tengah perjalanan menuju Polda, mereka diikuti oleh para pemotor. Ada sekitar 4 motor mengikuti mobil Sigit. Bima merasa ada sesuatu yang aneh. Ia yang mengemudikan mobil Sigit mencari jalan sepi.
"Bim! Kok kesini?" kata Sigit sewot. "Kita diikuti Ndan" Sigit dan Ali segera melibat keadaan sekitar. "Siapa mereka?" kata Ali.
__ADS_1
Bima mengangkat bahunya. Ia menepikan mobil Sigit. Mereka bertiga turun dari mobil. "Kenapa mengikuti kami?" tanya Bima tak sabar menghadapi para pemotor itu. Mereka tersenyuk kecut mendengar pertanyaan Bima.
"Apa lagi? Pastilah kami ingin membunuh kalian!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Nanti lagi yes, othor super duper sibuk. Dikit2 tp tetep up kok. Jangan khawatir