
Keesokan harinya, Ayah Tristan secara diam-diam pergi dari rumah. Bubda Tari yang sedang mempersiapkan sarapan segera mamanggilnya karena sarapan sebentar lagi akan siap.
"Yah.... Ayaahhh..... Sarapannya bentar lagi siap nih.... Ini kopi Ayah kalau gak cepetan diminun bisa adem nanti" Bunda Tari heran kenapa tak ada sahutan dari Ayah. Ia merasa curiga. Segera ia mencari keberadaan suaminya.
"Lun, tahu Ayah dimana?" tanya Bunda Tari kepada Luna yang sedang bersiap di kamar. Luna hanya menggeleng pelan. "Kamu yakin sayang, mau berangkat kerja? Gak izin saja?"
Luna kembali menggeleng. Bunda Tari sedih melihat anaknya. "Sarapannya sudah siap nak. Yuk keluar dan sarapan. Bunda cari Ayah dulu"
"Luna langsung berangkat saja bun, Luna lagi gak selera makan" kata Luna menyahut tasnya dan bergegas keluar dari kamar. Ia menyalami bundanya. "Assalamualaikum"
Bunda Tari berkaca-kaca melihat anaknya yang ia yakini hatinya sangat hancur. "Waalaikum salam, yang kuat ya sayang. Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu" Bunda Tari mencium kening anaknya.
Luna segera berangkat. Ia memilih menggunakan taksi ojek online daripada mobilnya. Ia sungguh tak bertenaga. Bunda Tari masih mencari-cari suaminya, saat melewati garasi mobil Ayah Tristan tak ada di tempat.
Bunda Tari segera berlari mengambil ponselnya dan segera menghubungi Mamah Anin. "Nin! Bang Tris ilang! Aku yakin dia ke rumah Ana. Please bantuin aku? Aku gak mau sampai ada keributan dan Bang Tris kehilangan kendalinya"
Bunda Tari segera menutup ponselnya. Lalu dengan cepat mengenakan hijabnya dan menyahut kunci mobil Luna yang memang tak sedang dipakai. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
.
Ayah Tristan menggedor pintu rumah keluarga papah Arka dengan sangat keras. "Ana! Keluar lu! Wanita ular! Keluar!" Dor dor dor dor dor dor.
Papah Arka dan Mamah Ana yang sedang sarapan sampai terjengkit kaget mendengar ketukan yang begitu keras itu. "Siapa sih? Gak sopan banget??!" Kesal Mamah Ana. Asisten rumah tangga mamah Ana membukakan pintu untuk tamu itu.
"Mana majikanmu!? Bilang padanya Tristam datang!" Asisten rumah tangga itu mengangguk ketakutan. Ia segera berlari ke dalam dan memberitahukan majikannya bahwa ada orang bernama Tristan datang.
"Nyo-nyonya, di luar ada o-orang bernama Tris-Tristan" kata Asisten itu dengan sangat terbata-bata karena takut.
__ADS_1
Papah Arka menghentikan sarapannya dan menatap tajam pada istrinya. Mamah Ana segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu utama.
Ayah Tristan mondar mandir tak sabar. Ia mengusap wajahnya kasar. Mengepalkan tangannya. Mamah Ana berhenti sejenak melihat ekspresi wajah Ayah Tristan yang sudah sangat merah padam menahan emosi.
Ia menghela nafasnya dan mendongakkan kepalanya. "Ada apa?" tanya Mamah Ana terbodoh. Ayah Tristan menoleh dan berjalan dengan tangan mengepal. Mereka beradu pandang. "Kenapa? Anakmu mengadu padamu? Dasar tukang adu!" kata Mamah Ana semakin menyulut emosi Ayah Tristan.
Nafas Ayab Tristan semakin menderu. Ia sudah tak kuasa lagi anaknya dihina oleh Mamah Ana. "Dasar wanita licik!!!" Ayah Tristan mengangkat tangannya hendak menampar Mamah Ana.
"Tristan!" seru Papah Bagas dan Papi Raka segera berlari dan mencegah hal yang akan dilakukan Ayah Tristan. "Lepaskan! Wanita ini perlu diberi pelajaran!" ucapnya dengan sangat marah.
Papah Arka semakin mendengar keributan itu. Akhirnya ia pun ikut keluar. Ia melihat sahabatnya benar-benar sedang kalap. "Hei! Sabar bro! Kenapa kamu semarah ini terhadp istriku???"
Para tetua itu pun tersenyum kecut mendengar ucapan bodoh dari papah Arka. Bunda Tari datang dan mencoba menenangkan suaminya. "Ada apa ini??! Mah!" tanya papah Arka kepada istrinya.
Mamah Ana masih bersikap santai. "Lu tanya sama istri lu! Istri lu gila! Dia menggunakan anaknya sendiri sebagai alat untuk balas dendam kepada kami!" jelas Ayah Tristan.
"Ceraikan istrimu! Biar kujadikan maduku! Biar aku puas balas dendam kepadanya atas sakit hatinya putriku! Dasar wanita licik!" kata Ayah Tristan.
Papah Arka tersulut emosi saat mendengar ucapan Ayah Tristan yang tak masuk akal. Ia hendak memukul Ayah Tristan tapi ditangkis oleh Papah Bagas. "Jangan pakai kekerasan jika kalian tidam ingin bermasalah dengan hukum!" tegas Papah Bagas.
"Mas Bagas, Bang Raka, tolong bawa Ayahnya Luna pulang. Biar aku yang selesaikan dengan keluarganya Danang" ucap Bunda Tari. Akhirnya dengan paksaan yang sangat kuat, Papah Bagas dan Papi Raka memboyong Ayah Tristan kembali pulang.
Bunda Tari bersidekap dan memandang wajah Ana. "Kamu masih ada dendam padaku? Hingga Luna yang kamu sakiti seperti itu? Kamu pikir hanya anak ku yang akan sakit hati atas perbuatanmu? Ibu macam apa kamu? Tega memperalat anakmu sendiri untuk kelancaran misimu? Apa Mas Arka tidak tahu yang Ana lakukan?" tanya Bunda Tari.
Papah Arka menggeleng. "Dia menggunakan Danang untuk mengambil hati kami. Setelahnya dia akan mencampakan Luna. Itu semua adalah permintaan istrimu. Hmm, aku sangat yakin, Danang yang akan menderita. Dan nantinya kamu sungguh akan membenci dirimu sendiri" jelas Bunda Tari.
Mamah Ana mengusir Bunda Tari untuk segera pergi dari rumahnya. "Sudah? Sudah puas menyampaikan unek-uneknya? Sana minggat!" usir Mamah Ana tak sopan. Bunda Tari tertawa. Ia berbalik, baru dua langkah ia kembali berbalik menuju pintu itu.
__ADS_1
Juh. Bunda Tari meludahi Mamah Ana. "Wanita licik sepertimu pantas diludahi, bukan hanya ditampar ataupun di caci maki. Itu baru permulaan, jika kamu berani menyakiti hati semua keluargaku, bukan hanya ludahan yang akan kamu terima. Akan aku paksa kamu untuk membasuh wajahmu dengan kotoran anjing. Karena derajatmu setara dengan itu. Hahahaha"
Bunda Tari pergi meninggalkan rumah itu. Sedangkan Mamah Ana menggeram dan mengepalkan tangannya tak terima dengan perlakuan Bunda Tari. "Kurang ajar kamu Tari! Aku tidam akan kalah! Aku yang menang! Aku sudah menang!"
Papah Arka membanting pintu dengan keras. "Apa yang dikatakan Tari semuanya benar?" tanya Papah Arka dengan tatapan sangat tajam. "Apa sih pah??" Mamah Ana masih mengelak dan meninggalkan suaminya. Papah Arka mengusap wajahnya kasar karena kesal.dengan tingkah istrinya.
Ia segera menghampiri Danang. Saat tiba di apartemen anaknya, dia kaget bukan main. "Astaghfirullah nak, siapa yang melakukan ini??"
Dananh tersenyum tipis. "Danang pantas menerimanya Pah, Danang telah menghancurkan hati seorang perempuan pah. Huhuhuhu" tutur Danang tak kuasa untuk menahan tangisnya.
Papah Arka benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan istrinya. Selesai menenangkan anaknya ia kembali ke rumah. Ia memanggil istrinya dengan marah-marah.
"Kemasi barang-barangmu!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1